Mau tau rumah masa depan gue kayak apa? Nah. Nengok sebelah kiri, liat rumah minimalis warna kuning dengan graffiti cat tangan sendiri? Ya, itu akan jadi rumah gue. Ngga ada kan? Ya iyalah ngga ada, orang belom dibangun kok hahaha. Rumah masa depan gue isinya ngga bakal banyak, cukup buat diri gue sendiri dengan banyak buku pajangan di dindingnya, ngga pake lupa poster idola seumur hidup gue. Sepatu gue mungkin ngga berjejer dengan spatu mahal, tapi setidaknya gue punya beberapa sepatu yang gue suka pake; jadi ngga worthless deh intinya. Gue akan punya sebuah player yang gila buat gue kalo mau dugem sendiri pake lampu 5 watt dirumah. Efeknya? Jelas buat ngilangin stress & have fun. Depan rumah gue akan ada sebuah taman kecil dengan 2 pohon rindang buat gue kalo mau nyantai, trus disebelahnya akan ada karport buat mobil Nissan X-trail warna vintage berplat nomer B 1307 GB. Mobil gue pun akan ada graffiti yang biasa gue sebut sebagai grafitti jalanan, yang hanya akan timbul saat gue menyalakan mesin mobil. Bannya? Velg kuning yang bentuknya layaknya mainan naruto & di belakangnya ada lampu neon semi LED yang akan sangat keren kalo gue nyalain malem-malem & ga akan nyala di siang hari; karena khusus lampu ban itu ada kontrol yang gue bikin di dalem mobil gue. Interior mobil? Ngga ada yang beda kecuali tape-nya bakal gue bikin ababil tingkat kronis. Lu mungkin bertanya kenapa kuning & graffiti di rumah gue. Pertanyaan bagus, karena sebenernya gue suka aja warna kuning & bentuk rumah gue seperti itu. Gue pengen punya rumah yang bikin gue ngerasa nyaman pas gue pulang dari kerja; bisa ngelepas segala penat. Gue punya prinsip rumah gue tuh even from the first look harus bikin gue ngerasa bisa langsung nyaman; jadi gue ngga perlu escape kemana-mana cuman buat dapetin tempat yang nyaman di hati gue. Kalo adapun tempat itu, itu hanya akan menjadi rumah gue yang gue desain sesuka udel. Apalagi ya? Diri gue sendiri? Selepas SMA, gue pengen berontak, set free. Bukan, bukan gue jadi orang yang turun ke jalan & teriak-teriak gajelas. Tapi gue akan jadi anak psikologi UI yang ga pacaran sampe gue dapetin gelar anak Psikologi UI itu sendiri & bisa bebasin diri gue dari apa yang selama ini gue anggap ngga bisa gue keluarin dari diri gue: gue pengen BEREKSPRESI sebebas yang gue mau. Dengan memikirkan segala hal buruk yang dapat terjadi pada dunia pekerjaan gue nantinya, serusak apapun yang akan terjadi pada diri gue gue hanya akan ke dugem, ngecat rambut gue, & ke taman lawang. Kalo sampe lebih, it's not gonna get over the limit; kayak ngobat ato sesuatu sekitarnya. Pakaian gue akan ikut ngalir dengan era, tapi sesuai dengan diri gue. Pokoknya eksentrik. Gue mau keluar dari zona biasa gue yang begini-begini aja tapi tetep bisa dipercaya. Siapa tau aja kan, dari gue yang begitu gue bisa menangin jiwa? Gue ngga mau lewat batas terlalu jauh, tapi gue juga pengen tau apa rasanya menjadi seseorang yang bener-bener beda dari orang lain, entah gue nantinya berani atau engga itu urusan belakang. Yang penting, sekarang gue udah tau apa yang mau gue lakukan pada kehidupan gue saat kesempatan "membuka diri" itu datang. Gue masih pengen memenangkan jiwa buat Tuhan gimanapun caranya, gue masih mau radikal buat negara gue, gereja dimana gue akan berkembang, memaksimalkan potensi gue & memiliki komunitas sebanyak-banyaknya. Mulai dari komunitas lesbian, gay, apa deh terserah yang penting saat gue gabung sama mereka, gue bisa ngerasa diterima atas siapa gue sebenernya & gue bisa nerima mereka for who they are juga. Gue akan memiliki orang-orang di sekeliling gue yang gue sendiri ngga ngerti kondisinya, tapi mereka akan memiliki gue untuk diandalkan. Gue mau punya komunitas yang bisa bikin gue bertumbuh dari berbagai segi, punya banyak temen baru. Lesbi, sekong, everything that maybe normal people around me have never dreamt of. Gue masih waras emang, tapi gue 'gila' untuk sesuatu yang gue inginkan. Gue tau, rumah masa depan gue akan datang, hidup gue juga ngga akan sia-sia dengan komunitas yang gue pilih. Gue tau menjadi orang yang gue ga bisa deskripsikan secara spesifik. Setidaknya, gue udah tau apa yang akan gue lakukan dengan kebebasan yang gue peroleh. Bagi gue, masa SMA adalah masih masa penundukkan diri gue dari apa yang gue inginkan. Gue masih harus bisa tahan diri dulu. Tetapi selepasnya itu terjadi, gue akan menjadi siapa gue seutuhnya. Bebas berekspresi; membangkang; melewati batas. Ada bagian dari gue yang ingin gue tunjukkan pada dunia saat waktunya datang. Selagi itu positif, kata 'anak tunggal' ngga akan jadi masalah buat gue. -red •glow13productions• "Life is all about taking risk to get what you want" - Adam Lambert
Cinta Segi Ketek - the series
Jumat, 31 Agustus 2012
REBELLING -CORE-
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Arsip Blog
-
▼
2012
(110)
-
▼
Agustus
(46)
- Tomorrow's expectations
- CITRA SETIANA, THE SONYA CARSON OF MY LIFE
- WHAT I WOULD LIKE TO GIVE PEOPLE FOR CHRISTMAS
- HOW IMPORTANT ARE HANDPHONES/SMARTPHONES FOR YOU? ...
- MY PASSION
- THE BEST HOLIDAY I’VE EVER HAD
- 9
- Selasa, 28 Agustus 2012
- Dari A Sampai Z
- The Writer's Diary
- Bersyukur Selalu
- Garudaku
- Power Of Freedom
- Dear Future Boyfriend...
- Nissan; The Hand Blodded Car
- BI. GAY.
- GLAM.GLAM.GLAM
- REBELLING -CORE-
- Trespassing Deluxe Edition
- Hot Chocolate w/ Caramel Base Syrup
- Less Is More
- Bromance
- Matured!
- Inspirasi Semangkuk Sup
- Name Of The Heroes
- "Halo Selamat Sore.."
- Drive Safe
- Reborn!
- Sejarah
- The Thirteenth
- My Father
- Jakarta, Jumat 13 Juli 2012 16:35
- Describe Yourself in 100 Words
- Live, Love Laugh
- The Day I...
- 500 ml
- The Boyfriend
- The Wanted
- c^pdase
- Boys Before Flowers
- Coke: Your True Coca-Cola Drink
- The Reason For Jerusalem
- A New Gay Best Friend
- It's About To Change (2.38 a.m.)
- Why Argue?
- DEAR BLOG
-
▼
Agustus
(46)
nice share gan , kerennnnn
BalasHapusApartemen High Point Siwalankerto