Jumat, 31 Agustus 2012

BI. GAY.

Gue ngga kebayang apa jadinya kalo misalnya gue itu seorang lesbian. Gimana rasanya, gue harus ngaku sama keluarga gue & temen-temen yang bergaul sama gue KALO GUE SEBENERNYA NGGA NORMAL.
Gimana kalo mereka ngga nerima gue? Gimana kalo mereka jadi nge-bully gue gara-gara apa yang gue tunjukkan kepada mereka? Mungkin, ngga ada yang ngerti gue, ngga ada yang mau nerima gue sebagai siapa gue sebenernya karena gue beda dari mereka. Mungkin gue ngga mau jadi lesbian, tapi gimana kalo misalnya itu yang terjadi?
Atau kalo misalnya gue gay. Sama lah keadaannya kayak saat gue lesbi, who's gonna accept me for who I am? Siapa yang mau temenan sama orang yang beda life perceptionsnya dari mereka yang 99% normal? Anomali pasti.
Perasaan itu lah yang gue mau ceritain hari ini. Ngga, bukan karena gue tertarik sama cewe. Tapi gue ngerasain ketakutan yang sama dirasain kaum mereka di saat-saat mereka ngga tau siapa diri mereka & apa arti kehadiran mereka di dunia ini.
Gue ngerasa gue pengen bebas jadi siapa diri gue; gue pengen teriak kenceng-kenceng, proclaim to the world. Tapi tekanan sosial bikin gue sedikit banyak menahan diri gue dari apa yang ingin gue lakukan & menjadi siapa gue sebenernya.
Gue ngga tau banyak soal lesbi & gay saat ini karena gue belum pernah nemu orang yang verbally admit who they mentally like. Gue juga belum pernah 'mempelajari' mereka secara spesifik. But, lu tau lah gue mau jadi seorang psikologh yang punya komunitas gay & lesbian & specialize with them (selain dari anak-anak muda juga). Dengan kata lain, gue pengen bantu mereka.
Lu mungkin mikir, "gila lu, Glor! Lu ga mikir apa, jadi temen sama mereka means ada kemungkinan mereka akan narik lu ke dunia mereka yang suram itu?! Gimana kalo lu jadi lesbi juga?? Apa lu akan bisa memaafkan diri lu sendiri kalo udah kejadian?" Man, I gotta admit bahwa sesuatu seperti itu juga yang terlintas di otak gue; itu yang jadi keresahan gue dari awal.
Tapi apa, gue punya alasan yang lebih kuat bagi diri gue sehingga gue yakin atas pilihan gue untuk jadi pakar dalam gay & lesbian. Gue yakin gue ngga akan punya banyak pilihan lain.
1. Gue pernah rasain gimana rasanya ngga diterima karena siapa gue. Gue pengen bisa diandalin jadi seorang sahabat buat orang-orang yang 'aneh' karena siapa mereka. Gue pengen jadi terang melalui satu hal ini. Gue belom kepikiran yang lain atau siapa lagi yang mau gue jangkau.
2. Gue tau rasanya jadi anomali ditengah yang lain saat lu pengen berekspresi tapi lu di kekang dari luar jadi lu ga berani ambil keputusan radikal untuk marah & membangkang. Padahal dari dalem diri lu sendiri lu pengen bisa bebasin suatu perasaan itu & kalo sampe lu mendarat di komunitas yang salah, tamatlah riwayat lu.
C'mon man, it's just... Frustrating if we always felt the way we don't wanna feel. It's probably just devastating. But that's it my friend; I wanna make a change in this, I wanna be there when it counts. I'd love to be there for someone else other than myself. Gue mau mereka tau, bahwa ngga selamanya orang normal didunia ini jahat dan ngga mau ngertiin mereka.. Gue mau membuktikan bahwa teori itu salah. Gue mau mereka tau kalo mereka tuh berharga, sebagaimana adanya; walaupun akan selalu lebih baik kalo mereka berubah. Itu yang ga akan bisa gue paksain dari mereka selama mereka masih mau ada di tempat mereka berada.
Or maybe, they're the ones who are afraid to face the real world of normal people. Maybe, just maybe; I may have never known, just yet. Hmmmm -red •glowßproductions•

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog