Gue lupa pernah baca kutipan itu dimana atau siapa yang mengutipnya. Tapi gue baru dapet pencerahan lagi buat fisik buku "Big Brand Evolution" gue. Ide penting ini. Setelah tidur jam 3 pagi demi nyelesaiin sebuah tulisan semalem, gue lagi duduk kelaperan di sebuah pusat perbelanjaan sembari nungguin nyokap gue ngajak gue makan di pusat perbelanjaan tersebut. Kenapa gue nunggu? Pertanyaan bagus. Nyokap gue lagi ngantri di bank dan faktanya sekarang gue lagi duduk di food court pusat perbelanjaan tersebut mikirin konsep buku serta segala macemnya. Krusial bagi gue untuk memiliki semua yan sempurna di bagian mana gue ingin mengeksplorasi dunia gue. Sebelom di tempat ini, gue sempet bercokol di sebuah toko buku terkenal untuk nyari inspirasi mengenai penerbit buku (yang membuat gue sadar ada banyak banget ye bu penerbit buku itu), trus ada gak buku yang sama ajaibnya kayak punya gue nanti (jawabannya adalah engga ada), trus gue kesenengan nanti orang-orang yang kenal sama gue bakal bangga gue udah publikasi sebuah buku fisik (ngayal), baca buku stand up comedy dan mendapat inspirasi besar mengenai mimpi, usaha dan kerja keras (ini keren banget, sumpah!), terus berujung pada kebingungan kenapa gue ngga pernah bisa terlalu tertarik sama novel fiksi dan jarang bisa ngerti lelucon di buku lawakan. Entah karena "taste" gue yang udah terlalu tinggi, atau gue yang kurang referensi aja. Ide aslinya begini: gue lagi mempertanyakan dengan tajam apakah buku gue akan "worth it" kalo gue kasih judul BIG BRAND EVOLUTION. Nanti orang akan salah tangkep inti buku gue gak? Apakah intisari buku ini harus gue jadikan "kejutan" buat para pembaca yang nantinya mengambil keputusan untuk membeli buku gue? Setelah nanyain ke beberapa orang terdekat gue mengenai kata "big brand evolution" tanpa memberi tahu mereka bahwa itu akan menjadi judul buku karya gue, gue berhasil mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa kalo orang lain aja boleh punya persepsi yang berbeda mengenai big brand evolution, begitupun juga gue. Kalo begitu, gue boleh bikin judul buku gue big brand evolution ini. Yang penting kan nanti orang akan tau esensi dari judul buku gue dan mereka ga perlu menebak dan berujung salah. Ide kedua berasal dari judul tulisan gue hari ini: a man of hope is a man of dreams. Gue dari kemaren-kemaren juga lagi mempertanyakan orang di sekeliling gue mengenai apa itu "harapan" buat mereka, dan jawabannya bener-bener beragam. Sekali lagi, kuisioner dadakan seperti membuat gue sadar betapa rumit dan indahnya kemampuan berpikir manusia. Gue menyimpulkan sendiri dari semua jawaban yang gue dapet bahwa manusia yang berharap adalah manusia yang mempunyai mimpi. Kenapa? Karena setiap orang yang mempunyai mimpi otomatis akan memiliki sebuah harapan untuk bangun lagi besok pagi dengan sesuatu yang baru, untuk mengetahui bahwa masih ada kesempatan buat dia untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat untuk sekelilingnya, atau sekedar untuk berusaha menjadi lebih baik. Orang-orang boleh punya passion di berbagai bidang, seperti kalo misalnya mereka hobi nyanyi terus akhirnya membuat album. But that's not mine. Gue boleh suka nyanyi, but that's not it. And some have theirs on drawing; dan itu gila banget karena karya mreka banyak yang keren-keren dan ends up dibayar oleh pagelaran dunia. But once more, its not mine. Nah gue, bidang gue adalah di nulis: where it all started. Even though semuanya berbeda, selama masih dibawah naugan arts, semua orang boleh berkreasi. Semua orang boleh menuangkan buah pikir mereka bagaimanapun, kemanapun, dan berapapun pikiran mereka membawa mereka. Tinggal apakah mimpi itu akan mereka bawa kepada kenyataan ato ngga, itu urusan belakang lagi. Yang gue tau adalah bahwa gue sendiri punya mimpi dan harapan itu, yang akan gue jadikan kenyataan. Awalnya bermula dari buku ini, the big brand evolution. As I have ever said once that there is happiness in recognition, this is the place where I started my impersonation of being recognized and "the man of hope is the man of dreams" I wanted to be. -red •glowßproductions•
Cinta Segi Ketek - the series
Kamis, 27 Desember 2012
A Man of Hope is A Man Of Dreams.....
Mind To Read?
This is for you who have lost your faith and started doubting how you would've longly exist in the world of people with the hard reality, which were realer than reality show. There eventually comes this day that you thought wouldn't have to come but come anyways. Yup. Woken up until late night, and then thinking: "why aren't I good enough for someone until finally I'd have to broke them anyways?" Only one possible answer came up to my mind: "imperfections". Riiiigghhhtt, my mind is probably right. Rigidly, pops another question: "what if I don't want to grow up? What if college wasn't as good as they promise? What if I want to be just where I am right now? Why should I ever leave that good God puts me in? Whyy?!?!". Another one sentence answer my brain gave me: "to let you get out of your comfort zone and grow up, kid!". Oh seriously, does my mind have to know everything about the "real life" man? Right, it knows everything. It have to. Then what if, what if then my brain gets to know everything and I doubt the existence of God? What if I soon loose my commonsense of believing and finally ends up in having meaningless religious events? Why should my brain knows everything in the first place? I would rather be stupid enough to know that I have my trust in God for a hundred percent than some uncertain feelings like this. Worried, I turned up the lights in my room and went to my study table. I wrote: "if then someday I found I do not have my hope and trust on God, maybe then I only need to ask myself whether am I good enough to give my life back to Him soon." Some people helped me learn thoroughly, I realized. They became those who inspire me in the dark, then preferring to light up the lamp for me to write and give me all the faith I need; giving me the courage to listen and let me from their lives. Regaining my faith wasn't as easy, I'll have to admit. They say it was; because they were there -- somewhat forgetting what it felt like to feel that way. But when you were there yourself, well yes it wouldn't be as easy as laying your flattened ass on the chair. It was a great pain in time, having to force yourself to believe in what you used to be, what you think you were in the oldened days. How things used to be, how they were so good. One song helped me in this darkest hours of my life. "aftermath" by hillsong. It said, "lifted out of the ashes I am found in the aftermath". My soul shakened. I couldn't bear the shiver in my soul; begging me to believe me that God STILL CARES. Sometimes, all we have to do is admit that at one point we have doubted everything that we used to think was certain. And even though the fact that the urban changes suck, we have to force ourselves and especially our brain to understand that life is no longer what we expect them to be, that life is now not as good as what you have make up your past to be. As what others have said to make me believe in millions of time: "God have prepared you with a better future!", I somewhat doubted that in just a second and then moving to the sentence of "yes, I do still be believe in that" today. I found what faith I used to grow in; in fact, God found me in the dark night when I was all alone --not knowing what to expect for tomorrow. If now I had almost regain everything I needed to have, have you too found something in this after-christmas dawn? -red •glowßproductions•
Hap Happy Mother's Day!!
Iyaaa, hari ini hari ibu. Bagus yaaa, Gloria lupa. Gloria ngga tau ya? Haha baguuusss, baguusss sekali nak! Dan sampe di detik gue kelar nulis note ini, gue sepertinya belom ngucapin juga ke nyokap gue deh. Okesip fine, telat abis ga sih gue ini -____- ngga update gitu. Gue-pun bingung kenapa hari ini bisa disebut hari ibu, padahal sebenernya hari ini kayak hari-hari lainnya, masih hari sabtu di bulan Desember sebelum natalan. Entah, mungkin ada seluk belukya tersendiri kali ya. Buat gue, nyokap itu sosok yang kece banget; karna makin kesini nyokap bukan sekedar "nyokap" doang buat gue, tapi juga sesosok sahabat buat gue yang seru diajak curhat. Sampe siapa yang gue suka aja nyokap tau. Haha! Ho iya dong, nyokap emang satu dari sejuta manusia yang selalu ada buat kita, terutama anaknya. That's our mom: nemenin hangout bareng, traktir ini itu, segalamacem bareng, kecuali buat yang ekstrim-ekstrim gitulah yaa. Yeaps, nyokap yang ini, nyokap yang itu... Banyak banget cerita mengenai sosok "ibu" dari seluruh belahan dunia yang pernah gue denger. Kata mereka sih, kalo orangnya udah ngga ada baru deh berasa kehilangannya kayak apa; & gue udah cukup ngerasain kalo ngga punya nyokap itu kayak gimana. Nyesek. Banyak juga cerita orang yang lucu-lucu serta kenangan mereka sama orangtua terutama nyokap mereka which I notice to become very elegant & ga bakal bisa dilupain. Setuju, nyokap emang seseorang yang spesial buat keluarga. Nyokap gue sendiri aja sering bilang ke gue, kalo wanita itu tiang doa keluarga. Jadi intinya wanita-pun (ga cuman ibu-ibu doang) penting di keluarga. Tanpa mereka, ngga ada kita bleh. Kalo diinget-inget, nyokap gue juga yang pertama kali ngajarin gue nyanyi, makan sendiri.. Hehehe Lebih banyak lagi, cerita mereka tentang kita sih anak-anaknya, sewaktu kita lagi lucu-lucunya dulu, bertumbuh dulu. Semua cerita yang mungkin kita ngga pernah inget selagi kita jalanin semua itu; dulu. Kata-kata pertama kita, langkah pertama kita, doa kita, tangisan mama kita, ada yang pernah inget kecuali nyokap kita masing-masing? Nothing less, my mom taught me a lot of lessons in my life, yang ngga mungkin gue pelajarin dari orang lain yang bukan nyokap gue sendiri. Salah satunya yang paling gue inget adalah tanggung jawab. Haha, iya kan? Jujur deh, siapa yang nyokapnya ngga ngajarin tanggung jawab? Yang bilang engga berarti belom pernah tau seberapa susahnya jaga tanggung jawab sebagai istri untuk ngurus rumah, suami, anak, kerjaan, pelayanan, ini, itu.. All in one broh! That's how tough your mommy can be! Dan kalo lo bilang nyokap lo ngga ngajarin tanggung jawab itu dari contoh sehari-hari yang beliau kasih liat, you mustn't have seen that. Entah apa yang nyokap lo lakuin diluar itu dirumah. Nyapu? Lah ya nyapu juga bagian dari pelayanannya kali, jangan salah. Sebenernya gue ngga tau laginau ngebahas apa lagi soal nyokap gue atau ngasih apaan buat nyokap gue selain dari doa karena ngga mungkin rasanya bisa ngebales semua yan udah dilakuin nyokap lo selama lo hidup ini. Udah banyak banget kali lo bikin dia gondok tingkat akut dan banyak lain hal ga penting lainnya yang ngga perlu gue sebutin sekarang. Tapi yah, yang namanya nyokap tetaplah nyokap, malaikat yang udah dititipin masing-masing buat kita. Gue mungkin telat ngucapin "selamat hari ibu" buat nyokap gue, tapi itu ngga membuat gue kehilangan rasa terimakasih gue sama nyokap gue sendiri. Last but not the least, buat semua ibu diluar sana, makasih ya udah selalu percaya sama anak-anak kalian ini. Mama yang ngga pernah nyerah sama kita, yang selalu percaya kalo kita bisa, & terutama yang ga pernah bosen ngingetin untuk doa & percaya senantiasa sama Tuhan! Love you mommy! -red •glowßproductions•
To be, or not to be!
I've been through a lot of feelings these past few months, a lot of pressures and challenges as well. AsIi was reading some of my old notes in this iPod while listening to some songs in a restaurant, I realized of how I can flashback some things that I really extremely learn back then. Some of them were actually shocking as in the things I never thought of seeing in myself at such an early phase of my youth life but was really there that time. There were moments I thought these notes were useless, but it was worthed now. I am very blessed to write acutally; it has never bore me to make myself to review my life, to learn, and especially to be better at those things I can see. Those stuff were... One: don't seek for appreciation; give appreciation to them yourself. That's my key! But saying was easy -- it could get any harder to do in real life. Uh-huh, I admit it. Two: God has given me the "vision" of what I see now as 'vizualize your ideas' in my sketch book. How great is our God? I was like, wow. Three: I can make a change through the appreciation I can give for people. I know that I'm capable of this and I'll be okay if I can do this. I believe that God will make a way for me for my idea of giving other people "what they need". Four: Some of my writings can be so sympathetic and touch people's lives. Yep; my dream book is still alive, but I haven't found my strategy to actually make it happen in the format of a physical book. I hope I can have it sooner or later after what I have written today. Five: I am OBSESSED with certain stuffs that continually amaze me. It was an epic feeling to understand such stuffs, truly. Like Adam Lambert and Pentatonix -- who would've guessed I can be such huge fan of those great and epic musicians? But it is both for the good things that I am addicted with their music, not for anything nuts. So, the question now is only what Martin Luther King. Jr asked back then in time: "to be, or not to be!" Whether I am going to keep the movement of my dreams to stay alive or just sitting there like a total idiot waiting for someone to make the change for you. Yep, it's have to be. -red •glowßproductions•
Hope
"Hope is the greatest weapon of all" Ada apaan sih sama yang namanya "pengharapan"? Kenapa pengharapan itu begitu penting sampe semua orang harus punya sendiri-sendiri, ga bisa sharing? Apa sih artinya? Apa maksudnya pengharapan? Apa efeknya buat orang yang punya dan yang ngga punya harapan? Ato, apa yang Tuhan lagi mau ajarin ke gue tentang harapan? Gue cuman bisa tanya, apaa Tuhan??? Kemaren gue sempet 2x baca quote yang berbeda tentang hope dari film yang cukup berkelas, dan gue finally ends up kepikiran mengenai pengharapan. Kayaknya ada yang ngga beres kalo sampe film-film besar aja ngomongin tentang pengharapan. Gue tanya otak gue, apa esensi pengharapan buat gue; dia cuman bilang "hal yang membuat kita hidup". Kurang kres dah. Gue. Ngga puas sama jawaban otak gue, nor berasa apapun di dalam hati gue. Apa yang salah, gue tanya diri gue. Blank, ngga ada apa-apa. Gue kemudian nanya nyokap supaya nutupin rasa penasaran gue; apa itu pengharapan. Nyokap bilang sama, "sebuah hal yang baik yang mama tau akan mama dapetin di masa depan, hal yang membuat apa ya, membuat mama masih hidup hari ini. Susah dijelasinnya sebenernya. Life goal kita sama hope itu jalan berdampingan, Glo. Kalo orang punya life goal tapi engga punya pengharapan, dia ngga akan dapetin cita-cita dia, gitu aja. Simple as that". Yep, berarti otak gue sebenernya ngga salah ngomong kayak tadi; tapi kenapa ngomongin esensi/arti "hope" itu rasanya ngga ngena ya? Is there... Possibly something wrong with me? I'll have to find it out myself. Harapan; I found it out later bahwa kalo orang ga punya pengharapan, he will soon die -- sama kayak seorang bayi yang ngga pernah diajak ngobrol sejak lahir. Hope is the thing that keeps you alive, that is the word that makes you look to tomorrow; kenapa semua orang bangun pagi tadi dan melanjutkan hidup. Rasa-rasanya belum gue temukan hal lain yang membuat gue merasa "lebih hidup" daripada kata ada sebuah harapan buat gue di esok hari. Makanya kenapa quote diatas bilang, harapan itu adalah kuncinya. Gue belajar (in the harsh way) of hope. Kalo orang ngga punya pengharapan, mati. Itu aja. Rasanya ngga punya harapan itu... Kayak hidup ga berarti. Pupus. Its like, there's nothing left to live life for. That's probably it. Gue udah ngerasain namanya "kehilagan harapan" dan feels numb sampe detik gue nulis note ini. Beneran. Kalo orang punya harapan, of course mimpi itu akan jalan. Mungkin belom bisa gue jamin 100% sih kebenarannya, tapi seharusnya begitu. A man of dreams is a man of hope, someone have said to me once and I happen to believe that somehow. Pertanyaan gue diawal tulisan ini mungkin ga akan pernah gue dapetin jawabannya secara spesifik karena berbagai hal yang ngga mungkin gue sebutin, tapi kalo gue tau gue akan dapetin balik harapan gue untuk kehidupan gue kedepannya, well I guess it's worth the learn and worth the wait for now. -red •glowßproductions• "Above all, never loose hope" -Life of Pi
Futsal Putri Makin Bergengsi
Akhir-akhir ini, bukan hanya olahraga bola basket saja yang semakin diminati oleh para remaja Indonesia, tetapi juga futsal untuk putri. Ya, futsal putri. Jika kita lihat kronoligis waktunya, olahraga futsal untuk putri melesat di Indonesia sendiri dalam kurun waktu yang cukup singkat, yakni dalam waktu kurang dari 3 tahun saja! Berbagai ajang perlombaan untuk futsal putri didalam dan diluar tanah air mulai digelar mulai dari perlombaan dalam sekolah seperti 'class meeting', perlombaan antar sekolah, hingga sea games sekalipun! Apa sih sebenarnya futsal putri itu? Futsal sendiri sebenarnya adalah versi "yang lebih kecil" dari sepak bola. Jika sepak bola hanya diikuti oleh laki-laki, futsal dapat diikuti baik oleh laki-laki maupun perempuan. Perbedaan sepak bola dan futsal secara garis besar hanya terletak pada sepatu yang digunakan, ukuran lapangan, dan perlombaan yang diselenggarakan saja. Apa yang membuat futsal putri kian menarik perhatian remaja putri Indonesia? Pertama, pandangan bahwa "hanya laki-laki yang boleh bermain bola" sudah mulai pudar seiring dengan berjalannya waktu serta majunya teknologi dan majunya pola pikir dari masyarakat Indonesia sendiri. Persepsi tersebut sedikit-sedikit terkalahkan semenjak emansipasi wanita yang diperjuangkan Raden Ajeng Kartini puluhan tahun lalu berlaku dan 'meledak' di seluruh belahan tanah air. Kedua, karena wanita juga ingin bisa melakukan apa yang dilakukan oleh kaum laki-laki. Bukan hanya dalam bidang olahraga seperti futsal, tetapi juga dalam berbagai aspek didalam olahraga maupun diluar olahraga. Aspek didalam olahraga adalah dalam cabang olahraga yang lainnya seperti basket, lari, dan berenang sementara aspek diluar olahraga antara lain seperti menjadi pemimpin sebuah negara atau organisasi, perdana menteri sebuah negara, polisi, pilot, menjadi sopir bus, dan masih banyak lagi. Mengikuti tren yang sedang berlangsung adalah alasan yang ketiga. Karena banyaknya putri yang mengikuti ajang olahraga ini, banyak putri lain yang ingin mengikuti olahraga ini. Mereka penasaran bagaimana rasanya dapat bermain bola juga ataupun karena diajak oleh teman disekolah. Seperti Christie salah satunya, siswi kelas 1 SMA Tunas Bangsa. Beliau mengaku mengikuti kegiatan ekstrakulikuler futsal disekolahnya karena ajakkan temannya sewaktu SMP dulu. Christie sudah mengikuti kegiatan ini sejak duduk di bangku SMP kelas 2 semester 2 dan kini sangat menikmati aktivitasnya di futsal sebagai "back". Keempat, karena banyaknya putri Indonesia yang ternyata memiliki bakat dibidang olahraga kaki yang disebut futsal. Jadi, mereka ingin mengembangkan bakat mereka tersebut. Selain mengembangkan bakat, bermain futsal dapat pula membantu memberi kebugaran pada tubuh sebagai sebuah olahraga yang membutuhkan tenaga untuk berlari dan menendang bola sehingga mengeluarkan keringat. Alasan terakhir atas pertanyaan mengapa futsal putri di Indonesia makin menarik adalah karena futsal untuk putri ini mudah dilaksanakan. Waktu untuk bermain dan berlatih futsal dapat disesuaikan dengan waktu setiap sekolah yang berbeda. Guru olahraga masing-masing sekolah-pun biasanya dapat menjadi pelatih olahraga futsal. Perlengkapan yang dibutuhkan pada saat seseorang bermain futsal juga tergolong mudah untuk didapatkan dengan harga yang terjangkau. Peralatan yang dibutukan seperti baju futsal, kaus kaki panjang untuk pemain futsal, dan dekker. Perlengkapan dasar untuk bermain futsal juga tidak terlalu banyak, yakni lapangan dan 2 buah gawang. Lapangan yang digunakan tidak perlu terlalu besar seperti pada lapangan untuk sepak bola umumnya yang sangat luas dan tentunya olahraga futsal dapat dilakukan indoor maupun outdoor; sehingga mobilitas pemain futsal putri tidak tergantung pada cuaca. Demikianlah beberapa alasan mengapa futsal putri makin bergengsi terutama di Indonesia. Bagi putri belum mengikuti olahraga ini, apakah kalian tertarik untuk mengikutinya sekarang? -red •glowßproductions•
5cm. The Movie
This movie was epic. Ngga bisa gue deskripsiin. I LOVE THIS! Sore ini, di tanggal 12.12.12, di premiere film 5cm The Movie, gue beserta beribu-ribu orang lainnya di Indonesia diberi kesempatan untuk menyaksikan sebuah perjalanan hati yang luar biasa dari gunung Semeru. This story represents us and the beauty of our nature. This is the story of life and friendship and love. This is the story of how Indonesia should also have a dream. Indonesia memang HARUS punya mimpi. Udah saatnya. Gila. Gue ngga nyangka film sekeren ini ternyata bisa ada di dunia gue, di Indonesia gue sendiri. Ada orang bertalenta yang bisa membawa perubahan seperti ini. Ga kebayang, bahwa inilah hasil dari sebuah bangsa: bangsa Indonesia yang selama ini di "under-estimate" sama orang-orang. Maaaannn, gue bangga banget bro sumpah. Bangga banget. Ngga ada kata-kata lagi yang mampu menggambarkan betapa bangganya gue, bisa memiliki kehormatan nonton pada hari pertama of 5cm's premiere. Film ini, secara ngga langsung, menumbuhkan kerinduan gue terus untuk berbuat sesuatu bagi negri gue. Gue gak bisa ceritain ceritanya karena ada bukunya & terlalu panjang. Tapi inilah film produksi dalam negri yang pertama kali banget berhasil bikin gue bangga (asli bangga), speechless, gemeteran, ga bisa ngomong, nangis di tengah perempat film sekaligus senyum sampe akhirnya (yap, setelah 16 tahun & 1 bulan lamanya). Sumpah, Tuhan, filmnya membuat gue seneng ga ketara. Merinding gue kalo inget betapa film ini dibuat dari perjalanan hati seorang anak manusia bangsa. Rasa-rasanya sih gue kepengen nonton lagi kalo boleh sama nyokap. Salah satu scene favorit gue (malah kayaknya cuman scene ini yang paling melekat di otak gue & ini yang terbaik) adalah saat mereka "power rangers" udah ada di mahameru dan mengucapkan janji cinta mereka kepada bangsa. Line yang diucapkan Zafran yang bikin gue nangis. Abis itu dipiterin lagu Indonesia tanah air beta; & gue nangis lagi. Ada suatu perasaan yang bikin gue pengen nangis, & ngerasa begitu bahagia atas semuanya -- bukan cuman filmnya. Gue ga bisa gambarin perasaan itu waktu gue pengen nangis, tapi kalo lo nonton juga, mungkin lu juga akan ngerti & ngerasain perasaan yang sama. No words could ever describe this feeling I had after I watched 5cm. Nothing. Baru kelar nonton, gue bilang dalam hati sama Tuhan: "Tuhan, Indonesia keren baget! Plis Tuhan, jangan bawa aku untuk tidak mencintai negri ini!! Indonesia tuh kaya banget Tuhan, ngga mungkin Tuhan ga lebih cinta Indonesia daripada aku!". Gue berdoa terus. Gue ga pengen ngerti apa perasaan campur aduk yang lagi gue rasain ini, tapi gue minta Tuhan bikin gue untuk ngerasa cinta sama Indonesia yang uda ngelahirin gue. Gue gak mau jadi orang yang gak tau diri buat bangsa gue kalo bangsa gue udah begitu baik sama gue; sama kayak Tuhan udah baik banget dengan menempatkan gue di bumi Indonesia gue. Lain kali, kalo luar negri bisa bangga sama film-film mereka, kita juga bisa. Kita udah punya apa yang menjadi hasil dari buah usaha kita. Kita bisa bilang, kita punya film yang lebih penting daripada sekedar film action & perang-perangan senjata; lebih penting dari keren-kerenan teknologi; & semua hal tersebut kembali pada kebanggaan anak bangsa terhadap bangsanya sendiri, Indonesia, apa yang udah tanah ini berikan kepada kita dengan semua kebaikannya. Kita juga bisa bangga. -red •glowßproductions• "And those, are words unspeakable to the mind"
Life of Pi
I got a little bit offended when we first watch this movie because it mentions Christianity. My soul get sensitive when they suddenly change the storyline into a bit of religion-ish-tic movie. But after I finished the movie, I'll have to agree that this is another must-watch movie to be seen by a nation. I was there with at least 4 members of my bestfriends on Tuesday December 11th 2012. Time shows 16.00 when we entered the studio. We have just had lunch together at pizza hut on my pay and 4 other people from the band also watched with us. Karen, me, Christie, Saskia, Meilissa were together while Johanes, Kevin, Justin and Cindy were on the other line. Now, the movie. It was a good movie. I remembered Pi's father said: "When you stare into a tiger's eye, you will only see the reflection of yourself staring back at you". This story especially teach me to surrender totally to God. Because when we surrender, we will learn to believe HIM wholeheartedly without being distracted to anything else. We don't need to be lost in the sea first like Pi did and loose everything in his life, but we can certainly learn from his story stranded with Richard Parker. Anyway, Richard Parker was the fully grown Bengal tiger which took journey with Pi until they both survied at land. Because Pi was trained to be afraid of those kind of animals, he tend to separate himself from the life-saving boat in order to avoid Richard Parker. But in the end, he overcome his fear by "training" Richard Parker himself with a stick and meat. I also learn that before it's too late, we should say thankyou to those who have given so much to you even when you didn't feel like they have given any contribution in your life. It is better to be sooner than late. Seriously, if people didn't appriciate movies enough, they're just gonna say good and dot. Story finishes. But as a good writer, thinker, appriciater and advisor as well, I would love to inspire people to learn about this story even deeper than just knowing who's who and who did what. -red "Above all, don't loose hope" •glowßproductions•
Bear of Color: 15 May
Kemaren sore, tepatnya tanggal 6 Desember 2012 kesampean-lah keinginan gue untuk beli boneka beruang coklat kecil yang kayak temen gue si Oribel punya. Punya Oribel itu tanggal 12 Oktober; yang menurut dia adalah hasil jumlah dari tanggal & bulan kelahirannya sendiri dan yang adalah juga tanggal jadiannya dia sama si pacar. Keren. Gue? Gue jomblo, makasih. Oke. Kenapa 15 Mei? Ceritanya begini... Berawal dari gue kepengen punya boneka beruang itu. Pengennya pake BANGET. Akhirnya, pas gue lagi di mal sendiri, keliling-keliling berhubung nyokap lagi belanja, datanglah ide untuk mikir tanggal bagus buat bonekanya (sankingan gue udah kepengen banget tuh). Gue udah berniat banget untuk beli boneka itu yang harganya Rp 79.800 di sebuah toko di mal tersebut. Gue dihadapkan pada beberapa opsi tanggal dan bulan yang membuat gue pura-pura keliling tokonya dulu buat liat-liat barang lain (kurang jenius apa sih gue?) Opsi pertama: 30 November. Tanggal ulangtahun gue. Ah mainstream. Gak jadi. Opsi kedua: tanggal 13. Bulan: gak tau. Kenapa 13? Angka favorit gue dari 3 taun yang lalu. Tapi gak jadi lagi soalnya abis dipikir-pikir kombinasi tanggalnya jelek. Opsi ketiga: tanggal 18 Juni. Ah gak jadi juga. Ada unsur masa lalu yang bikin nyesek (padahal sebenernya udah nemu yang cocok gitu. Awalnya). Penting banget. Opsi keempat: tanggal 15. Ah, sempurna! 15 itu angka manis yang adalah angka bagus favorit gue di masa SMA. Kenangan. Bulannya? Nah loh. Gue sebut satu-satu dari Januari sampe Desember; kenapa yang ngena tuh Mei ya? Oke, gue mulai mikir. Ada apaan tuh di 15 Mei? Oh! Ulangtahun orang yang pernah gue sukai waktu SMP! Widih, apa-apaan nih?! By the time gue sadar hal tersebut, otak gue udah ga jalan sehat lagi. Gue udah kebelet beli. Akhirnya, jadilah 15 Mei bear of color itu punya gue. Bajunya warna kuning; cocok banget. Gue ngga nyesel kok, jujur deh. Terus dibalik ini, gue mikir: kalo gue beli beruang ini for no purpose, gue ga bakalan beli dari awal. So what was my purpose? Setelah nentuin tanggal, gue berdoa sama Tuhan. Tuhan taro di hati gue sesuatu, yang bikin berdoa sendiri kepada-Nya: "Tuhan, kalo boleh gue minta, gue pengen setelah gue beli boneka ini, yang tanggalnya 15 Mei, akan jadi sebuah penggenapan kalo nanti gue punya pacar. Teserah Tuhan deh orangnya mau kayak apa, tapi kalo emang dia dari Engkau, dia akan nembak aku tanggal segitu. Tanggal yang udah tertera di baju beruang kecil gue. Boleh ya Tuhan?" Atas dasar tersebutlah, gue beli Bear of Color yang gue ga kasih nama itu -- yang namanya nanti akan ditentuin kita berdua, gue dan pacar. Emang sempet nyesek sih begitu tau ada yang sama persis tapi harganya lebih murah; tapi yaudahlah. This is for the best. December 6 2012 have remain a history in my own heart. -red •glowßproductions•
Batman: The Dark Knight Rises
Desember 2, 15:08 Semalem, kira-kira jam 9 lewat 5 adalah waktu yang cukup berkesan buat gue. Inilah pertama kalinya gue sama nyokap nonton film Batman: The Dark Knight Rises. Iya, betul. Lu ga salah baca. Ketawa aja gih, sebelum lu ketawa dan gue bacok. Iya gue ngaku, gue malu sebenernya untuk menyatakan bahwa gue telat banget nonton satu film ini. Tapi gue nonton ini gratis kok di puncak sambil refreshing, hehehe. Jadi buat gue ngga telat-telat amat, yang penting kan masih nonton. Kita ngomong makro aja deh ya: bahwa nonton malem jam 9 malem tuh sebenernya bukanlah sebuah hal yang aneh bagi sebagian besar orang Indonesia karena pasti belom pada ngantuk dan kalo udah libur gini pasti bawaannya pada mau begadang semua. Tapi bagi gue yang capek setengah mampus gara-gara abis berenang siangnya, nonton jam segitu bukanlah sebuah pilihan yang tepat. Tapi akhinya gue ikutin kemauan nyokap juga eniwei karena campuran dari rasa penasaran belom pernah nonton dan nemenin nyokap juga. Kebetulan malem kemaren teaternya kaga ada yang nonton, jadi rasanya kayak privat punya gue sendiri. Pertarungan pertama gue sesaat film dimulai adalah pertarungan "mau tidur aja" ato "paksain melek". Akhirnya sih gue tetep nonton walaupun gue usaha mati-matian untuk fokus sama filmnya supaya gue dapet sesuatu setelah filmnya kelar. Apa yang gue pelajari dalam studi kasus batman ini? Tentu, banyak. #penting. 1. Motornya batman itu keren!!! Iya, iya, emang ga ada educational values-nya sih buat siapapun kalo gue bilang bahwa motornya batman itu keren, tapi bagaimanapun juga fakta ga bisa ditutupi. Kalo gue bilang motornya batman itu kampungan, itu antara gue yang buta ato belom pada nonton aja. 2. Sutradaranya itu jenius kelas kakap. Ceritanya bisa dibikin ngga ketebak banget sampe gue aja dari yang ngantuk banget sampe bisa melek penuh untuk konsen ke filmnya buat mikir dan menebak. Bayangkan! Bahkan gue sampe ngga napsu tidur untuk beberapa waktu setelah film selesai (waktu itu udah hampir tengah malem lewat). Padahal, ga biasanya gue begitu. Di dunia, baru ada 2 filem yang bisa bikin gue mikir begitu: sherlock holmes versi modern yang waktu itu diputerin guru PKN gue disekolah dan film batman ini. Ekstrim. 3. Aktornya jago. Tanpa mereka, ini film gabakal ada nyalinya buat gue. 4. Intisari dari film batman yang adalah persahabatan itu penting banget dan ngga ada yang ngalahin rasa kepahlawanan seseorang (bahkan seorang superhero sekalipun) selain daripada kecintaan pada kota kelahiran. Ato kalo buat gue, setidaknya, bangsa yang udah ngelahirin gue. Hal tersebut adalah hal terpenting yang bisa gue dapetin selain daripada selalu munculnya peran detrimental pada semua film bagus. 5. Di ceritanya, yang jadi batman itu orang kaya tapi udah lama "ngga berkarya" buat kebaikan sekelilingnya. Dari pernyataan gue aja, kalian uda bisa tebak dong apa kira-kira? Yaaa, gue belajar kalo kita harus selalu berbuat sesuatu yang keluar dari comfort zone kita untuk melakukan sesuatu untuk kiri kanan kita. Kalo ngga, apa namanya buat diri seseorang yang gak mau berbuat apa-apa untuk sebuah perubahan positif? Masih banyak banget kalo mau dipikirin apa yang gue pelajari dari sosok batman dan kawan-kawan. Tapi sekian aja dulu ya note gue tentang mr Batman. Kalo ngga, nanti gue ngga mau nonton lagi. Ada 1 hal sih yang masih mengusik gue: waktu itu kan James Holmes dari Amerika nembak-nembak gajelas di ruang teaternya, apa masalah utamanya dia adalah ngga bisa bedain mana yang baik mana yang jahatnya ya? Kan di film ini si "joker"nya emang kece juga walaupun gue tetep setuju kalo batman lebih ganteng darimanapun. Sekian terimakasih -red •glowßproductions•
The Galau Day
Lu kira move on gampang? It was never, really. Tanya sama orang yang pernah pacaran trus putus setelah dua-duanya commit untuk ngga lanjutin hubungan itu lagi. Apa perasaan itu, kehilangan sosok yang pernah begitu berarti di hati lu, yang pernah menyisakan kesan indah, waktu-waktu yang dijalanin bareng dengan beragam acara khusus bagi kalian berdua... Itu galau banget. The moment you thought that you've mend your heart without his love and affection, then it was the moment your heart was so fragile and break easy when someone else gives too much attention to you. Itu yang terjadi sama gue, lebih tepatnya. Bagus, bagus banget. Yap, hari ini gue galau. Keingetan masa lalu lah, biasa. Gimana sih namanya cewe kan. Tapi serius loh, kadang kalo keingetan memori yang tergolong manis dan indah buat gue, yang orang bilang sebagai sesuatu yang "ngga bisa berubah" kayak gini malah rasanya tuh pengen gue tonjok memori itu sendiri; karena ingatan itu membawa gue kepada suatu dimensi yang terasa manis sekaligus nyesek di dada soalnya waktu itu yang udah membawa perubahan terhadap gue secara permanen. Beneran, ya Tuhan, rasanya itu pengen bikin gue ngais tanah. Ceritanya berawal dari sharing gue kemaren sama cici angkat gue mengenai "pembulatan move on" dan berakhir pada berenang gue hari ini yang berakibat pada perefleksian diri serta peng-galau-an massal, yang jarang banget nepa gue kecuali kalo abis putus (liat twitter gue kalo ga percaya gue jarang galau deh, beneran bener). And as I said, kita semua cenderung punya kebiasaan untuk mikir bahwa kita udah bisa bener-bener move-on dari masa lalu setiap pribadi kita dan udah siap cari pengganti yang baru; padahal, seringkali, sebenernya "pengganti" itu adalah peretak hati kita yang lebih parah daripada sebelumnya. Entah apa tujuan penulisan gue hari ini, gue cuman tau feeling kayak gini tuh ga permanen. Akan ada waktunya lagi buat gue untuk merasa bahagia sama keadaan gue sekarang -- ngga ada kata penyesalan dibelakangnya. To be happy is a choice, eventhough sometimes it is good when we have something to doubt. -red •glowßproductions• "It's his loss. He can hurt you no more" -Lotso (Toy Story 3)
Mein Descendants
I've been thinking, as far as I'm concerned. For as long as I've been living, It does not bug me any bit if people judge me by my thinking because it's what I want; it's what I believe and it's a part of my perception as well. No one could interfere with that. Gue mendadak pengen punya pacar di masa depan nanti yang cinta Tuhan, mukanya cina-cina lumayan lah (jangan yang ganteng-ganteng amat ntar repot), suka olahraga tapi ngga sampe freak gitu, "agak" berotot, bisa musik, cocok sama gue, tanggung jawab, karakter oke, anak basket (mantan), dan masih banyak banget sampe akhirnya Tuhan ngasih statement di otak gue: "kenapa lu yang jadi bikin kualifikasi lu sendiri buat future hubby lu ya?? Siapa Gue??" hehe, gue langsung minta ampun. Gue sadar, it's not my own destiny then to choose which guy to date; even though bukan berarti juga gue cuek soal cowo. Ya okelah, gue admit selama ini kalo nerima cowo belom pernah tanya Tuhan dulu iya ato engga, tapi itu membuat gue cukup belajar bro, belajar banyak banget. Gue tuh tipe pemikir yang kalo abis ada sesuatu yang rada rumit tapi menyenangkan bisa boost gue untuk mikir yang rada melenceng (bukan hal gajelas juga lah ya. Liat aja, hasil pemikiran gue adalah note ini. Kece kan?) Sampe-sampe ade sepupu gue bilang: "lu mikir mulu sih ce!" halaaah, dalem hati gue bilang dia aja yang belom tau esensinya mikir. Yaudahlah ya, gue bawa enjoy aja. Lagian, itulah yang gue rasa adalah kualitas gue yang pengen gue turunin ke anak gue nanti kalo gue udah nikah. Pemikiran gue itu berangkat dari alasan milih cowo yang "tepat" itu. Wkwkw that's what on my mind bro. Gue sih jujur aja belom kepikiran pengen punya anak berapa ato jenis kelaminnya apa ato suami gue kerjanya apa; yang jelas, yang gue tau adalah bahwa ada beberapa kualitas yang gue pengen turunin ke anak gue selain tipe gue yang pemikir ini. 1. Gue pengen anak gue cinta Tuhan dan radikal buat Tuhan. Jelas, kalo emaknya begini anaknya mau ga mau harus punya cinta yang sama buat Penciptanya. Enak aja kalo ga. 2. Gue pengen dia punya hasrat yang sama kayak gue soal bangsa. Istilah kerennya, keturunan pengubah bangsa. Hehe gokil lah gue. Kenapa bangsa? Yah jelas, ngga ada penghargaan tertinggi selain menangin jiwa buat Tuhan melalui bangsa yang udah ngebesarin kita sendiri. Gue ga mau, mentang-mentang nanti jaman udah berubah passion buat bangsa juga jadi berubah. Ga lah, ga bisa di toleransi itu. It's the cycle of life, a choice to be made. 3. Mengingat sejarah dan bertumbuh untuk belajar mencintainya. Ga tau gimana lah, gue hidup dari kecintaan gue terhadap sejarah bangsa-bangsa dan akhirnya bertumbuh kepada fakta bahwa gue kepengen jadi pengubah dunia melalui apa yang bisa gue lakukan. Especially buat Indonesia, gue cinta sejarah bangsa ini dan perjuangannya. Gue ga bisa lepas dari fakta itu. Entah nantinya gue menjadi bagian sejarah atau pembuat sejarah itu sendiri, gue belom yakin. Tapi kalo gue diberi kehormatan untuk menciptakannya, gue dengan sangat senang hati akan melakukannya. Hasrat broh. It lives in me. 4. Talenta di nulis. Inilah yang buat gue faktor paling penting dari seorang gue. Karena gue tau inilah sisi kuat gue yang gue banggain. Mungkin Tuhan akan numbuhin sesuatu yang lebih WOW di anak gue lebih daripada nulis; tapi kalo gue boleh minta, ini yang gue mau: anak gue jago nulis. Lebih dari gue pun gue akan support. Dari sinilah keluar segala perasaan gue: either important ato engga. People live under writing. They just don't realize it sometimes. Selebihnya, gue mau Tuhan aja yang bekerja di dalam diri gue dan kehidupan gue kedepannya. Gue ga mau Gue jadi pendiktenya Tuhan buat apa yang gue mau doang; gue mau nerima semua yang Tuhan terapin di hidup gue sebagai sebuah tahap pendewasaan. Sekian aja sih ulasan buah pikir gue. Entah apakah berapa taun lagi gue ngeliat ini sebagai sesuatu yang seperti apa; entah sotoy, entah gahoel, entah gembel, ato entah iman banget. Gue ngga akan penah ngerti sebelom beberapa tahun kedepan itu bener-bener kejadian. Yep, beberapa tahun kedepan. -red •glowßproductions• "Who knew we would end up like this? Who could guess?" gloriaernita.2012
"What do you expect, an exploding pen?" -Q (assistant agent)
Baru kemaren gue nonton Skyfall sama nyokap gue, film terbarunya James Bond yang katanya specially made untuk memperbaiki citra James Bond yang selama ini "playboy". Tapi karena gue gak pernah nonton film Jems Bond sama nyokap sebelomnya karena banyak "adegan yang tidak cocok" untuk anak kecil (kata nyokap), jelas lah gue ngga tau apa-apa. Jadi buat gue tetep aja ada beberapa adegannya yang parah.
Jelas, alasan utama gue adalah karena temen-temen gue 95% nonton skyfall semua, dan sebagian besar mereka bilang ke gue kalo film skyfall itu keren (efek hasutan temen yang bikin gue penasaran plus ngiri). Pahahal ratenya buat dewasa sih hehhee (XD). Yaudahlah, udah gue tonton yang penting. Alasan kedua adalah karena lagu utamanya skyfall ini adalah ciptaannya si Adele which usually appears to be bagus. Jadi itu membuat consideration gue naik untuk nonton skyfall secara langsung dengan mata kepala gue sendiri. Jujur aja, gue belom pernah baca reviewnya sebelom gue nonton film ini sebagaimana biasanya gue lakuin kalo gue mau nonton film-film lain; tapi ga berarti gue ngga bisa enjoy filmnya secara langsung.
Secara spesifik, note gue hari ini mau nge-bahas soal review atas film James Bond pertama yang gue bisa gue inget gue tonton. Satu kata: KEREN. Sebagai pencinta film yang jarang nonton film action ato detektif-detektifan kecuali film kungfunya Jackie Chan kesukaan bokap, gue suka mulai ngerasa cocok sama film kayak beginian (kecuali waktu itu gue ditraktir temen SMP gue nonton SherlockHolmes yang si Robert Downey Jr main? Nah itu gue ngga ngerti apa-apa deh sampe hari ini).
Gue kemudian baru ngerti bahwa emang film se-epic Skyfall sekalipun pasti ada message yang mau disampein. Pada dasarnya, semakin kemari, gue semakin menghargai karya orang-orang yang bisa bikin sesuatu seperti ini karena jujur, bikin ceritanya trus dijadiin script aja bukan sebuah proses non-idiotik yang semacem orang biasa bisa kerjain. Terus budgeting-nya, pemilihan pemainnya, terus juga gurantee terakhir bahwa film ini akan sukses? Bro, kalo boleh jujur mana ada gurantee akhir atas kesuksesan sebuah film? Resiko aja sih kalo gue boleh bilang; resiko yang seharusnya diambil sama manusia kalo salah satu tuntutannya adalah mencoba sesuatu yang baru.
Sebagai sebuah film peradaban di era globalisasi, gue sangat menghargai setiap ide kreatif penulis dan aktor serta trik komputer yang mereka tawarkan. Di sektor perfilman layar lebar industri besar apalagi kayak Amerika, perjuangan (struggle) pihak produser juga pasti keren karena ngga mungkin bisa dapet license untuk produksi sebesar filmnya James Bond tanpa diketahui kualitasnya yang bener-bener. Nah, salah satu kelebihan film ini adalah quotesnya yang banyak ngena buat gue. Dari semua yang ditawarkan, gue punya 3 personal favourites: satu yang diawal tadi, kedua adalah "If the modern way didn't work, it's good to do the old fashion way" -Kincade (penjaga rumah tua-nya James Bond). Yang ketiga... Kasih tau ga yaaa? Hahaha.
Move on. Skyfall. Kalo yang udah nonton pasti ngerti kenapa judulnya skyfall: rumah masa kecilnya Bond. Sebagai natural oberserving lover, gue bisa nangkep sesuatu diluar apa yang mereka tend to tell the audience. Bahwa Bond kecil yang bertumbuh sebagai yatim piatu kabur dari rumahnya melalui tunnel yang ada di rumah tua itu dan bertumbuh sebagai Bond yang kita kenal: Bond yang adalah detektif nomor 1 England masanya (ceritanya). He chooses his destiny to change: bukan cuman jadi orang pemberontak dan bertumbuh tanpa mimpi, tapi beliau bekerja keras untuk hidup dan menjadi yang terbaik. Gue inget, salah satu quotenya dia bilang: "everyone have got to have a hobby" dan hobbynya adalah "ressurection". Dia bangkit dari keterpurukkan, berusaha lagi; coba lagi; jadi yang lebih baik lagi. Bisa dibilang, ngga ada kata nyerah dalam kamus seorang Bond di film yang gue tonton ini. Salut gue. Walaupun dia benci masa kecilnya atas fakta beliau kehilangan orangtuanya, gue masih salut. Kemungkinan Bond untuk jadi rusak dan malah ngga bikin apa-apa buat bangsanya itu mungkin banget, malah lebih mungkin rusak daripada membuat perubahan. Tapi beliau "memilih" panggilannya. Keren kan. ("When he went in there he was a boy. When he came back, he was not a boy anymore -Kincade).
Sama seperti banyak film lainnya, sebuah film bagus bukan di-rate "bagus" dari banyaknya orang yang menonton, tapi dari seberapa banyak esensi yang bisa ditangkep oleh yang nonton. Kesalahan banyak masyarakat yang gue observe adalah mereka ngga menggali makna sebuah film sampe ke akarnya -- mereka cuman nonton, bilang keren, rekomen orang lain untuk nonton juga tanpa bisa kasih masukkan, trus udah. Lupa. Selesai. Filmnya ga beresensi apa-apa seperti seharusnya. Gue gak kayak gitu; gue milih untuk "membedah" sedikit apa yang pengen gue "lihat", apa yang pengen gue "pelajari" lebih and this is the result. I've learnt more than something :) -red
•glowßproductions•
"The two survivors. This is what she made us." -Raoul Silva
Another time
Sumpah; ga pake boong, hati gue berasa ketampar keras lagi. Sebuah kejadian yang berlangsung sangat singkat ini membuat gue berpikir lagi, apa wajar sesuatu seperti ini terjadi pada sebuah bangsa; terutama bangsa gue. Sampe-sampe gue nge-tweet di twitter gue: "ngeliat mas-mas pake blush-on kenapa gue berasa ketampar banget kali :|" (@gloria_1307) Gue lagi di ace hardware sama nyokap gue sekitar jam 4 sore tadi; lagi nyari jas hujan buat bokap gue kalo lagi naik motor. Karena rame banget, nyokap akhirnya nanya ke petugas ace terdekat yang kita temui supaya lebih cepet. Karena gue lagi sibuk sama BB gue, gue ga terlalu sadar apa-apa sampe gue ngangkat wajah gue dari BB gue itu dan ngeliat sekilas pipi mas-mas yang ngasih tau nyokap gue dimana keberadaan jas hujan tersebut: Ada sekelabat warna pink di pipinya. Seketika itu juga, hati gue serasa berhenti berdegup. Gue ga bisa percaya apa yang gue liat. "Gila, ni mas-mas cewe banget!" kirim sinyal otak gue. Yaampun! Gue ngga berkuasa berkutik kecuali ngikutin nyokap gue dalam diam yang saat itu meliputi gue; sebab gue gabisa ngomong. Hati gue berat, otak gue berputar. Sesaat kemudian, gue duduk di sebuah stall dan mengambil keputusan untuk mendengarkan lagu "I look to You" versi glee dan mengambil sarana utama gue biasa nge-note. Gue buru-buru nge-note; karena gue ga mau kehilangan momen itu dimana gue ngerasain kesedihan akibat apa yang mas-mas tersebut tunjukkan buat gue. Gue jadi makin yakin, panggilan gue terhadap psikologi sosial makin kenceng. Alasannya: gue ngga rela ngeliat mereka begitu; yang seharusnya "bener" tapi malah jadi begitu gara-gara sesuatu yang seharusnya ngga terjadi sama mereka. Jujur aja ya, 2 kelompok sosial tujuan utama gue kedepannya dibidang ini adalah gay/lesbian dan banci. Gue pengen banget bisa berkontribusi sesuatu buat bangsa gue, bawa perubahan buat Indonesia melalui sesuatu yang gue bisa, mungkin ga sebesar itu: tapi setidaknya sesuatu. Bawa nyawa buat Tuhan, itu yang nomer satu buat gue. Satu-satunya hal yang bisa gue lakuin saat iniadalah berdoa dalam hati gue, supaya cita-cita gue kesampean. Gue pengen membawa perubahan. Hati gue selalu miris, ketancep, setiap kali keinget masih banyak banget orang-orang diluar sana yang butuh seseorang seperti gue. Gue pengen sosok seorang Soekarno hidup didalam gue, sosok yang bisa percaya bahwa rakyatnya mampu, seorang besar yang berhati besar serta visioner. Gue ngga ngerti, gue cuman ngga tega ngeliat mereka punya kehidupan seperti itu kalo sebenernya mereka bisa punya hidup normal kayak orang-orang lain. Mungkin mereka juga mau kayak gitu. Entah. Sepanjang waktu setelah kejadian barusan, hati gue ngulang-ngulang terus sebuah kalimat sembari ke-playback di otak ini apa yang baru aja gue liat: "Gila! Masa mas-mas pake blush-on.. Oh Tuhan..." gue cuman ga pengen ngeliat akhir dari kehancuran negri ini adalah karena orang-orang seperti mereka. Gue sadar banget mereka butuh yang namanya pemulihan. Itu dia. As songs goes on, keputerlah lagu Adam Lambert "If I Had You". Mendadak otak gue mikir lagi "ehbuset, jangan-jangan mas-mas tadi gay lagi" (berdasarkan fakta yang gue tau kalo Adam Lambert itu gay) Waduh. Gue mulai stress. Gue ngga bisa ngapa-ngapain selain doa saat ini, gue bener-bener kepengen pake BANGET menjangkau mereka; membawa perubahan, dan menangin mereka bagi Kristus. Ngga ada penghargaan lebih tinggi daripada menyelamatkan satu jiwa buat Tuhan. Serius. Gue ngga begitu berharap kedepannya gue akan jadi tenar seperti siapalah orang penting di Indonesia trus gue jadi ga berkarya lagi gara-gara sibuk talkshow; tapi asal orang Indonesia tau bahwa ada orang seperti gue yang menghargai sekelompok manusia yang hari ini ga dihargai, mereka bisa mulai ngerti juga apa yang gue ngerti, ngeliat apa yang gue liat, dan rasain apa yang gue rasain. Toh, buat gue kita masih sebangsa setanah air. Ngga ada yang ngebeda-bedain. Gue rasa Bhinneka Tunggal Ika udah cukup menjelaskan. Lain waktu, gue akan membawa perubahan itu. Lain waktu, dunia akan ingat; bahwa di Indonesia, di sebuah negara maritim nun jauh di Asia Tenggara, telah terjadi sebuah revival besar-besaran akan orang-orang yang selama ini dikucilkan. Mereka akan bangkit menjadi pemimpin, sama kayak yang lain. Kalo gue aja percaya, kenapa mereka engga? -red •glowßproductions• "Selama bendera itu masih berkibar, gue ngga akan pernah nyerah"
The Difference Between
Ada perbedaan yang cukup jelas antara kelas 10a & 10b di Tunas Bangsa 2012-2013. Perbedaan yang udah ngga di tutup-tutupin lagi sama guru mata pelajaran yang bener-bener ngerasain & ngeliat sendiri apa yang terjadi di tahun ajaran yang baru berjalan hampir setengah tahun ini. Gue pun ngerasa juga. Berhubung seangkatan gue adalah angkatan pertama yang 2 kelas di saat SMA ini, bukan ngga mungkin juga akhirnya gue iseng kepikiran pengen menganalisis perbedaan itu. Pertama. Ukuran kelasnya. Jumlah muridnya sih sama, 22. Tapi 10a lebih lebar (jauh) daripada 10b. Kita bisa lari-larian gajelas di dalem jelas tanpa harus mikir susah ketangkep karena pada dasarnya hukum itu ngga berlaku buat 10a. Semua yang dikejar pasti cepet ketangkep karena larinya ke pojok semua (yaudahlah. Penting banget). Terus teriak-teriak pun ga berasa kenceng kalo dibandingin sama ukuran kelas. Istilahnya, yang teriaknya kenceng banget pun terkesan kecil. Mulai kebayang besarnya kelas kita? Bagus, bayangkan terus. Kedua. AC-nya. Kelas kita cenderung panas, kecuali tempat dimana cowo-cowo duduk deket AC. Nah itu lumayan dingin deh. Ngga susah. Kompartemen AC kita baru diganti beberapa minggu lalu (yang adalah berita bagus buat kita semua soalnya sakit banget kalo belajar sambil panas-panasan itu. Tertekan) plus pernah galat gara-gara di naik-turunin vane-nya setiap kepanasan sama cowo-cowo. Ketiga, wali-kelasnya. Mr Lucas, walikelas 10a "ngelepas" kita supaya pendewasaan kita sedikit lebih cepat. "Supaya ntar kalo kuliah ngga kayak anjing lepas.." kata beliau. Banyak kebebasan yang mr Lucas berikan membuat kita semakin menghormati beliau & melakukan rutinitas dengan lebih eksak serta kreatif dalam cara yang sedikit banyak berbeda dari kelas 10b. Ibu Nelly adalah walikelas kelas sebelah. Di 10a, terlalu banyak pelajaran pendewasaan yang bisa gue sebutin kecuali lebih menghargai ketepatan waktu (karena kita tau mr Lucas ga suka banget kalo disuruh nunggu), ijin yang ekstra tepat gaboleh "tanpa seiya mr Lucas" & juga duduk bebas bertanggung jawab. Intinya itu deh: bebas bertanggung jawab; dimanapun, gimanapun caranya. Pikirin sendiri. Keempat. 10a sama 10b beda dalam kesenjangan pelajaran. Di beberapa mata pelajaran penting, 10a lebih rata kepintarannya daripada 10b. Seringkali mr Lucas pun ikutan compliment kita dengan ini. Beliau membandingkan beberapa nilai kita dengan mereka. Lumayan bangga sih sebenernya, sebagai pencapaian bersama. Kalo di 10b katanya ada yang pinter ya pinter banget; yang "bodoh" ya bodoh banget. Sisanya ditengah-tengah antara iya & tidak. Banyak kali yang redo dikelas tetangga lebih banyak daripada dikelas kita. Bukan mr Lucas doang yang ngomong begitu, jadi ini bukan semacam penilaian subyektif, karena terbukti juga sama guru-guru yang lain; bahkan guru kimia biologi kita. Terlepas dari perbedaan, kita punya kesamaan. Sama-sama sekolah di TB (yaiyalah). Terus sama-sama nyaman dikelas masing-masing walopun ada yang sering nebeng ke kelas tetangga alias nenangga juga. Sama-sama tertekan kalo kerjaan udah mulai banyak, & masih banyak deh! Serinya sih, sama-sama kesel sama beberapa pribadi yang berbeda soalnya mereka nyesek di personalitynya ato gimana; pokonya nyebelin gitu deh. Barengan. Kurang sehati macem apa sih? Sesuai kata bang Pandji di bukunya bahwa perbedaan harusnya membuat kita belajar lebih banyak daripada aspek lain, gue bersyukur gue mendaratkan kaki gue diangkatan ini, lebih spesifiknya kelas 10a. Dari sini, gue ngerasa bertumbuh banget. Gue bisa jadi siapa diri gue dengan penilaian yang keras tapi menyenangkan. Di judge tapi gue belajar banyak banget dari temen-temen gue ngga pake pilih-pilih. Semua berkontribusi. Terakhir, gue mau berterimakasih bahwa di era globalisasi, perbedaan itu masih berlaku untuk dipersatukan. Karna kalo ngga, gue ngga tau gimana gue harus belajar untuk memperbaiki diri gue sendiri. Kita semua saling memperkuat, memperkaya satu sama lain. I love you 10a, you guys are the best. -red •glowßproductions•
The 10a
Inilah keluarga baru gue: yang udah gue habiskan waktu kurang lebih setengah taun bareng-bareng. Entah kenapa buat gue this year feels a little different dari tahun-tahun sekolah gue sebelumnya. Menurut gue, dulu ada yang bikin kita jadi rada "canggung" satu sama lain even though sekelas. Mungkin karena dulu kita masih terlalu polos kali ya, belom tau cara ekspresiin kekesalan itu ato masih terlalu ambil ati kalo temen ngomong apa. Tapi sekarang 10a ngga begitu. Itu yang bikin beda. It feels like home. Everybody belongs here. Kalo dulu year 9 ada sedikit kesenjangan antara satu kelas sama kelas lainnya, agak ngga berbaur -- dan dulu kita agak bersaing sama kelas sebelah. Bagusnya sih; itu ngga terjadi lagi sekarang. Semuanya berasa satu keluarga besar yang emang pada dasarnya lagi ababil aja; berusaha ngelewatin masa putih abu-abu dengan kekuatan persahabatan. Secara spesifik, satu kelas dibawah asuhan pendewasaan non-protokoler dari Mr. Lucas ini dikenal sebagai kelas 10a. Kita dikasih duduk bebas & tanggung jawab+pendewasaan sendiri yang bikin kita tau malu & tau diri biar ga jelek-jelekkin nama walikelas kita. Kita semua respect Mr. Lucas tanpa ngarepin apa-apa lebih dari beliau karena mendapatkan kehormatan beliau jadi walikelas aja udah bikin bahagia banget (beneran deh). Tapi beliau terus memberikan penghargaan buat kita dengan sedikit 'perbandingan' nilai dengan kelas sebelah (yang puji Tuhan-nya kelas kita lebih bagus daripada sebelah dengan segala "kebebasan" yang diberikan), compliment buat anak-anak basket menjelang & selama melewati TB CUP kemaren, prinsip-prinsip baru, cerita pengalaman hidup, & masih banyak lainnya deh. Entah gimana taun depan balik ke di"duduk"in sama walikelas lagi kalo kebiasaan kita udah dikasih kebebasan kayak gini. Entah pembiasaannya bakal ngambil waktu permanen ato sementara. Kalo lagi gimana, kita bisa saling cela tanpa belas kasian. Tapi kalo udah punya mau harus kejadian walopun biasanya sih dadakan juga akhirnya. Bisa jaga nama baik demi kepentingan bersama walopun (lagi) harus bisa diancem dulu biar kecekok. Gimanapun juga, teknik walikelas kita ini selalu berhasil di kelas gue, kayaknya sih sama sebelom-sebelomnya juga. Intinya, 10a itu kelas yang vokal, cerdas, lengkap, dan itulah. Everytime I think of how we formed again earlier, gue makin berasa ngga pengen pisah sama temen-temen gue yang uda gue anggap saudara; bukan sekedar sahabat lagi. I feel that I belong here and I have always remember them as my family where I grow up. So shall I say, thankyou school for making us together for the whole academic study. We love being here together; as a family, bestfriends, students, classmates, and above all as a well-known street fighter of the year. We love you 10a. "Tapi skarang, mreka bareng-bareng, ngebela satu tim yang sama dibawah naugan satu sekolah yang sama" -red •glowßproductions•
A Passion, A Favor
Aha! Ngomongin passion sama favor; kayaknya bakal jadi topik yang panjang banget. To be very honest sama lo semua, ini adalah topik yang super menarik buat gue. Kenapa? Gampang aja: gue suka banget sama dua buah kata sifat diatas. Haha, iya emang kayaknya bodoh jawaban gue itu. Tapi jelas gue punya alasan. Alasan gue adalah ini: Buat gue, kedua tersebut adalah dasar motivasi gue untuk melanjutkan hidup di dunia sampai hari ini; gue percaya sama yang namanya passion & gue yakin sama yang namanya favor. Tapi bukan, bukan nama binatang peliharaan gue dirumah. Gue percaya semua orang punya panggilan hidupnya masing-masing & mereka juga adalah hasil dari perkenanan Allah. Percaya ngga? Gini deh kalo ngga ngerti ato ngga percaya, mari gue berikan contoh serta bukti nyatanya supaya kelar baca ini, lu semua bisa dapet sesuatu juga & ngerti kenapa gue bilang kayak tadi. Mari kita mulai dengan panggilan hidup. Ada orang yang bercita-cita jadi dokter, tapi pas dewasa malah berakhir jadi tukang baso paling terkenal di Jakarta. Ada juga yang pengen jadi psikiater, eh malah jadi pilot. Orang boleh punya cita-cita sob, mereka juga boleh bilang "oh gue suka banget sama pekerjaan yang lagi gue kerjain ini!" Tapi pada dasarnya, dalam hati terkecil mereka, gue bisa pastiin kalo mereka ga begitu bahagia; karna mereka ga berhasil mencapai apa yang mereka inginkan. Gue ga memungkiri bahwa sebuah cita-cita & panggilan itu ada "hubungan batin"nya, & kalo cita-cita seseorang itu udah berdasakan apa yang mereka senengin, pada dasarnya hal yang mereka inginkan itu akan menjadi kenyataan ASAL mereka mau usaha untuk mencapainya. Masalah sebagian besar orang saat ini adalah mereka hanya puas dengan apa yang mereka uda capai recently; jadi mereka pikir 'oh yaudah deh, yang penting udah kesampean'. Nah kan kalo begitu kita salah lagi; seharusnya bisa lebih maksimal eh malah jadi cuman "opportunity cost" gara-gara "yang penting kesampean". Contoh paling deket adalah sodara gue. Beliau adalah seorang dokter. Beliau seneng jadi dokter. Dokter adalah cita-cita beliau & udah kesampean. Tapi apa selesai sampe ke "jadi dokter" aja? Dokter yang biasa-biasa? Ngga! Beliau sadar kalo beliau seneng sama kejiwaan, jadi cocok lah beliau menjadi seorang dokter-psikiater yang melayani bangsa kita ini di daerah pedalaman. Bayarannya ngga besar, betul. Tapi seperti kata beliau, ada kepuasan tersendiri kalo beliau bisa bantuin orang-orang tersebut; lebih bahagia kebanding kerja & menuh-menuhin Jakarta + dapet bayaran besar tapi di dalem hatinya tertekan. Kerja seperti itu pasti bukan keinginan orang banyak juga tentunya. But she survived to fulfill her calling; she got her passion; she's there when it counts. But most of all, beliau berhasil. Bukan berhasil secara finansial mungkin, tapi yang jelas berhasil untuk mencapai both cita-cita & passionnya. Ga sia-sia usaha beliau sekolah dokter lebih dari 7 tahun sejak lulus SMA. Pertanyaannya sekarang adalah apa cita-cita kita cuman sekedar cita-cita aja, ato apakah cita-cita itu udah sekaligus menjadi panggilan hidup kita yang mendarah daging? Lanjut ke perkenanan. Seperti yang udah gue bilang, perkenanan sama panggilan hidup itu ada hubungannya karena tanpa perkenanan, panggilan hidup itu ngga akan berhasil. Contohnya gini. Kalo misalnya pacaran; mau kawin; ga dapet restu orangtua; gimana? Ada pasangan yang nekat kawin lari, tapi ada yang nunggu restu orangtua mereka. Nah perkenanan itu ibarat restu orangtua kita; tanpa satu 'senjata' mematikan itu, banyak yang akhirnya ngga jadi. Kayak begitu lah yang bisa gue analogikan dalam sebuah perkenanan. Panggilan hidup kita sama "perkenanan" yan diberikan Tuhan bisa beda, bisa sama. Banyak kali kasus kedua hal tersebut cuman beda dikit, paling nyerempet-nyerempet lah. Yang jelas beda orang beda perkenanan; beda panggilan hidup. Bisa aja ada yang sama mungkin, tapi sektor pekerjaannya pasti beda meski kembar sekalipun. Biasanya sih, panggilan hidup kita ngga akan jauh dari hobi kita & hal apa yang membuat kita bahagia melakukannya. Tapi kalo Tuhan punya rencana lain kan, siapa yang tau? "It's funny how passion & favor can walk alongside of each other; and we'll never run out of it eventually" -red •glowßproductions•
Big Brand Evolution
Bang Dji dah punya "nasional.is.me" sama "MDB"; Bang Soleh dah punya "Celoteh Soleh"; Bang Ramon dah punya "Kitab Suci"; Koh Ernest baru ada "DMKM"-nya; Bang Dikung dah punya banyak -- lah gue? Gue punya apaa?? Sama kayak di buku Merdeka Dalam Bercanda karya bang Pandji Pragiwaksono (yang gue panggil sok akrab jadi "bang") bahwa stand-up comedian udah pada punya stand up specials sendiri & akhirnya beliau juga punya stand-up specials Bhinneka Tunggal Ika miliknya, gue membandingkan diri gue yang ga ada apa-apanya ini dengan para stand up-writer-comedian ini atas buku-buku karya mereka. Curcol aja nih ya, buku-buku mereka tersebut gue temukan sangat inspiratif dan itu semua berdasarkan rilis secara fisik. Sumpah, untuk peminat buku komedi & pencinta semangat #IndonesiaUnite, gue sangat menyarankan bagi yang baca untuk baca buku-buku yang gue sebutin diatas. Nah, bedanya sama gue adalah sampe saat ini gue belom punya ide apa-apa soal bentuk fisik buku gue. Makanya, gue belom berhasil sanpe ke detik ini. Buktinya, gue cuman bisa bilang ke orang-orang bahwa gue akan bikin sebuah buku; belum sampai kepada beneran pembuatan aslinya. Isinya, aslinya, semua bagaikan hanya mimpi. Cita-cita dangkal-yang sekarang dalem- mengenai keinginan "bikin buku" ini sebenernya udah ada sejak gue duduk di bangku SMP; tapi entah kenapa sampe hari ini belom aja kesampean. Tadinya mau bikin buku tentang perjalanan gue kelas 1 SMP --sekarang udah keburu lupa; terus tentang psikologi --gue belom ada pengalamannya. Yang ada cuman teori-teori ababil yang masih dipertanyakan pengaruhnya. Kebanyakan sih, teorinya ngga penting gitu. Terus gue liat lagi; kemungkinan terbesar yang membuat gue gagal bikin buku adalah mengetahui buku gue ga lulus sensor pas dicek sama badan yang berwenang. Atau, ga laku pada akhirnya. Sebenernya sih itu ngga se-menyeramkan kalo pada akhirnya orang banyak yang nge-spam twitter gue gara-gara buku gue jelek & ga ngajarin apa-apa. Ah bacot. Banyak aje penghalangnya. Tapi akhirnya, gue-pun ngga mengurungkan niat gue. Gue berniat akan tetep bikin buku; yang adalah kumpulan dari cerita gue di blog selama ini & tulisan-tulisan yang mungkin belom pernah gue publikasikan di media manapun. Pastinya akan gue revisi ulang sampe menetas dengan sempurna dulu semua hasil karya gue yang super kece dengan judul buku yang sumpah keren abis (menurut gue): BIG BRAND EVOLUTION. Atas dasar persahabatan, gue buatlah judul ide big brand ini supaya jadi judul buku gue dalam konteks pencarian jati diri. Even, gue berpikir untuk memasukkan tulisan gue yang satu ini untuk menjadi pengantarnya ato pembukanya gitu (kan ga mungkin buat terima kasihnya juga). Gila kali; tapi bodoh amat deh. If it's meant to be, it will be anyway. Isi buku gue BIG BRAND bakal berisi tentang hidup gue sabagai cewe rada "normal" yang sebenernya sangat amat kompleks. Banyak suka & ga sukanya dan kepengen berbagi cerita pengalaman, hidup, dan hasil observasi bodohnya sejak dini. Soalnya pas lagi masa keemasan begini kan masih sama sama usia gue sekarang yang masih ababil. Kalo gue udah ketuaan kan, rating buku gue bisa merosot. Hahaha bener ga sih; yaudah ga penting. Apalagi sekarang kan waktu "generasi y" kan yang adalah masa percepatan, serba instan; jadi gue pengen aja bikin sesuatu di masa ini untuk mengenangnya; sama seperti maksud dan tujuan awal sebagian besar tulisan gue. However, evolusi berarti perubahan lambat yang terjadi yang melingkupi daerah yang luas. Big brand sendiri adalah pergeseran makna kata "big bang" teori Charles Darwin. Kalo si oom Charles aja bisa masukin teori kalo manusia itu adalah evolusi dari monyet, berarti gue juga boleh masukin teori gue mengenai segala macem hal. Malah, gue ngerasa lebih pinter daripada Charles Darwin karena gue berhasil menemukan lebih banyak teori daripada beliau (ketawa jahat banget). Kurang keren macem apa sih gue, walopun teori gue gapernah diketahui siapapun dan belom diakui siapapun? Intinya, hidup itu beragam sobat. Semuanya balik lagi ke soal kepercayaan, pilihan, dan persepsi. Orang-orang boleh punya sudut pandang mereka masing-masing, tapi jangan sampe kepercayaan kita itu terlengserkan cuman gara-gara kita ngerasa kepercayaan temen kita lebih baik daripada punya kita sendiri -red •glowßproductions•
Langganan:
Postingan (Atom)
Arsip Blog
-
▼
2012
(110)
-
▼
Desember
(18)
- A Man of Hope is A Man Of Dreams.....
- Mind To Read?
- Hap Happy Mother's Day!!
- To be, or not to be!
- Hope
- Futsal Putri Makin Bergengsi
- 5cm. The Movie
- Life of Pi
- Bear of Color: 15 May
- Batman: The Dark Knight Rises
- The Galau Day
- Mein Descendants
- "What do you expect, an exploding pen?" -Q (assist...
- Another time
- The Difference Between
- The 10a
- A Passion, A Favor
- Big Brand Evolution
-
▼
Desember
(18)