Minggu, 15 September 2013

Mungkin



Karena cinta datang terlalu cepat baginya, sehingga tak ada ruang lagi untuknya membuat keputusan. Waktu seakan berjalan begitu saja tanpa meninggalkan bukti nyata bahwa ia pernah datang. Dia datang kepadaku dengan muka sayu dan mata bengkaknya – langsung kutebak dia habis menangis deras. Namun bahkan sebelum dia bisa berbicara untuk menjelaskan keadaannya, dia menangis lagi dalam pelukanku...
            Crystal namanya, sahabat gue sejak kecil. Hari ini adalah hari yang besar untuknya karena gue tau dia telah lama menyukai salah satu lawan mainnya di sekolahnya dan dia telah mengambil keputusan untuk berpidah hati kepada cinta baru yang tiba-tiba datang menghampirinya.
“Dia bilang apaan Tal?” tanya gue tak lama setelah tangisnya reda dan kami pergi untuk mendapatkan segelas es teh manis di warung dekat sekolah.
“Ternyata kemaren tuh nangisnya cuman nangis buaya, Dit, padahal mah emang dari dasarnya hobi PHP-in cewek”
“Lah?? Bukannya dia semacam anak berandal hati malaikat gitu ya lu bilang?”
“ah ya kalo lu liat gini apa lu ga jadi kesel sama dia? Males lah, gue jadi benci banget sama dia”
            Sosok pria yang Crystal suka kali ini memang keluar dari zona nyaman tipe pria idaman Crystal yang biasanya: power forward playboy yang seringkali ngisengin dia dan nyebelin tapi giliran udah berduaan bisa gentle setengah mati. Gue emang ngga pernah bisa ngerti ato jadi seperti Crystal, si tipe cewe dengan segudang koneksi tapi hancur ketika tahu sifat aslinya yang terlalu impulsif terbuka yang terkadang terlalu terbuka terhadap siapapun.
Gimanapun, dari semua pria yang selama ini didekati oleh Crystal ga pernah membuat dia nangis dan kesel sederas ini. Biasanya Crystal adalah panutan gue yang menuntut kekuatan hati sebagai kaum Hawa untuk menghadapi setan berjenis kelamin pria tanpa buntut semacam pria yang dekat dengannya sekarang. Namun hanya untuk kali ini, gue melihat sahabat gue rapuh dan harus menelan pil pahit bahwa cinta ngga selalu berjalan mulus.
            Gue sendiri selama ngikutin perkembangan demi perkembangan Crystal sejujurnya bingung harus merasakan apa; karena Crystal sendiri adalah seseorang yang jatuh tanpa diinginkan oleh pihak lawan jenisnya -- senang sebagai seorang teman yang mendukung penuh sahabatnya, atau iri karena tidak pernah merasakan apa yang Crystal rasakan selama ini. Entah.
            Omong-omong, nama gue Dita. Gue temen lama yang paling tau Crystal sejak kecil dan pindah sekolah karena beasiswa aksel di sebuah sekolah internasional Jakarta. Gue pernah pacaran sekali dan bertahan cukup lama, tapi gue ngga pernah bisa kayak sahabat gue yang punya relasi segudang sama cowok-cowok sekolahannya. Sampe hari ini, Crystal sama gue selalu tuker cerita mengenai cowok dikalangan masing-masing.
“Dit, gue berubah pikiran deh. Gue mau minta maaf aja sama dia kalo gue ada salah, soalnya gue gamau kehilangan dia, kehilangan lagi itu capek.”
“tapi kan kita cewek, Tal?”
“Kalo cewek emang sekarang dituntut untuk bikin gerak pertama karena pihak cowok terlalu pecundang untuk memulai, terus kenapa? It may sound absurd, but don’t be naive”
“.....”
Hari itu, betapa besarnya dia telah dikecewakan oleh seseorang yang ia cintai, hati kecilnya berniat untuk bangkit kembali dan mengalahkan kecaman dunia bahwa wanita tidak berhak memberikan cinta yang lebih bagi orang yang ia pedulikan. Mungkin, cinta tidak begitu cepatnya. Mungkin inilah waktunya. Mungkin.