Sabtu, 27 September 2014

Left Unsaid.



As 17 years of life has almost passed completely, I have had thousands of things in my mind that are left unsaid. Dan sejujurnya it will take weeks to make me finally have the courage to stand up and take another step in life in order to move on from this one particular guy we’ve all known in the past week.
Baru seneng lagi sama dia seminggu, eh ditinggal pergi. Nyes deh.
...
Untuk kali ini gue benci harus ada weekend sebelum minggu mid-test.
Untuk kali ini gue benci harus ada kesendirian tanpa ada temen belajar.
Dan untuk kali ini juga gue sebenernya benci memiliki perasaan seneng sama seseorang.
...
Those sentences of my real thoughts when I went to Palembang for the first time and saw another different setting of life?
Those alayness that lies inside every person that we never let out because we are too scared of what the world will think about us?
Those feelings that were never let out to touch the soul of whom receives?
Yes, all of those things are left unsaid. And maybe to some, they were left untouched. –red

– Pictures I’m living through for now trying to remember all the good times. Our life was cutting through so loud; memories are playing in my dull mind. I hate this part paper hearts and I’ll hold a piece of yours. Hoping that you won’t forget about it –

Kamis, 25 September 2014

Lion



To, my one beloved, Lion.
Accepting the fact sucks.
Being away on full time from you fucks all the good facts today brings.
Having to finally realize that there’s no more sounds to hear from your breathnig makes me want to cry.
Having no more eyelashes to beat; having no more multitalented guy I’ve grown very fond of; no more of your athletic body appearance; no more anything left of you.
I’m sorry I sound so selfish. But what should I say when all that was left is sadness washing over your gone? No one could imagine how serious the pain is nor the devastation caused.
But oh boy; how should I describe this to you: this pain I felt?
As if it bled by the sword that was once stabbed unto my heart is finally forced to be taken, that’s how it felt. Does it not hurt to see someone bled in pain of the only sword you stabbed with?
No way, Lion. I cannot ever want you being gone in my life.
I’ll never move on.
Your smile has taken my breaths away.
...
Oh my God.
Why do I ever have to feel this kind of care in such hours?
Why does everyone in your room have to look as if they’ve moved on and as if you were never there?
Why?
Why do we have to say goodbye so soon?
Why do you have to leave us?
Why can’t you live up the rest of the 8 months here?
Why do you grow up so fast?!
...
And it has been 2 years, isn’t it? The only year we spent mutually in a class; the only year I’ve had to know you better. The only class, where you have proven me what worth you were made up of. And to say least, boy, you had done me proud even though my heart still ache of your ‘being away’ thing. 2 years since I first liked your first impression. 2 years since we won the last fight with 10A. 2 years since I knew what having a mentor meant to me as much as having someone to look up to feels like. You are one of them who made moving on so hard. And yes, you are also one of those younger people who have inspired me in your days here. I still loved you the way I did in 10A, but with the slight difference that I want to treat you as a bestfriend rather than just ‘kiddy crush’.
Honestly, I have had a bad time going over today’s final word of yours that you will have to go on Monday. I still won’t believe that you are going to be away. And that “going away” is no longer for “a day” away because you were sick or anything – but because you are going away for good. A day away in time and space – a whole way around the world. I don’t want to believe you for this time if I ever could. But how else I couldn’t?
I don’t want to believe that I was just an inch away from your smile just last Tuesday. That I was just steps away from your loud breaths, looks, and smile when we share our thoughts on that last class meeting together. That I was just moments away from you on independence day celebration. It was just. Months. Away. From just being another memory of yours.
Dear Lion, you would’t have guessed how much I wish you wouldn’t leave. How much I wished that you would realize how much I am into you. How much I don’t want me – the school and everyone else – to ever forget your belonging and your presence. I hate seeing you leave; but how can I prevent you from going now? I will miss you. I will miss your smile. I will miss your presence. I will miss your touch. I will miss your being wrapped up in such talents. I won’t believe that this day is ever coming. But if I have my dreams to pursue, then you have yours too. But Lion, I promise that I will never forget you no matter how much it hurts. I never will.
Now every love song I sing out is given unto you.
Now every pain felt is caused by the scar you left me.
And boy, how can I move on when I’m still in love with you...

Best regards, your tigress.
–red

Sabtu, 20 September 2014

Anonim



“Tapi gue bingung deh sama cewe Kyu.” Kata gue ngga nyambung ketika gue sedang dalam perjalanan pulang dengan dia, salah satu teman yang paling gue segani untuk urusan bertukar pikiran.
“Ya, maksud gue, gue masih cewe sih, tapi gimana sih. Kenapa cewe-cewe kita tuh masih harus risih banget bawa pembalut doang dari kelas ke kamar mandi. Takut banget ketawan bawa pembalut kaya pembalut tuh apaan aja. Kan lu pada juga udah tau lah masalah menstruasi gitu-gitu, ga bakalan kaya diledekin ato diapain aja kan kalo ketawan bawa.” Lanjut gue nyerocos.
Dia cuman nanggepin dengan cerita waktu dia ke gunung dan salah satu cewe yang ikut lagi ‘dapet’ trus yang lain disuruh keluar pas dia ganti dan mereka juga ngga masalah sama itu.
Ya gitu deh. Manusia emang suka aneh. Dan sebagai salah satu bagian dari kata “manusia” itu gue harus mengakui bahwa gue juga memiliki keanehan gue sendiri – sebagaimana gue merasa paling nyaman kalo lagi belajar dikamar gue sendiri dan bukan ditempat lain, ato gimana gue berpikir bahwa seseorang itu terlalu risihan sama sesuatu yang emang semua orang udah tau tentang perbedaan antara cewe sama cowo. Coba gini deh: apa bedanya lu di kelas bawa-bawa pembalut sama lu bilang ke salah satu cowo kalo dia lagi dapet? Messagenya sama aja kan? Bedanya cuman tersurat sama tersirat. Yaudah, terus? Kenapa harus risih?
Itu adalah salah satu kegelisahan ngga penting yang gue pengen bahas karna gue temukan aneh aja.
Next on topic was life purpose. Well, bukan life purpose juga sih. Tapi gue memiliki satu keanehan ini dimana gue suka banget mengetahui definisi kehidupan seseorang – faedah kehidupan masing-masing orang yang berbeda. Cara mereka mandang gaya hidup yang harus mereka jalani saat ini sebagai anak muda maupun orang tua, sih lebih tepatnya.
Ada temen gue yang nganggap bahwa semuanya itu possible sampe tempurung lulut dia geser dan dia ngga bisa pursue cita-cita dia sebagai pemain bola profesional.
Ada temen gue yang mau cepet-cepet dewasa supaya bisa kawin dan punya keluarga bahagianya sendiri.
Ada temen gue yang mau memaksimalkan masa muda dia dengan yang rusak-rusaknya supaya nanti kalo dia ngga jatoh separah itu lagi ketika dia udah punya keluarga.
Ada yang pasrah aja sama kehidupan ini karna ya emang cara berpikir dia begitu – ngga perlulah masa depan dipikirin jauh-jauh toh yang harus dihidupi juga masa sekarang.
Ada temen gue yang yang sankingan udah menagalami the thinnest thin of life jadi ngga merasa bahwa dalam hidup ini ada yang perlu dijaga terlalu over lagi jadi ya kalo bukan karna bokap dan sahabatnya mungkin dia bakal udah free sex dan attempt buat bunuh diri. Dan dia sendiri ngga nutupin fakta itu mengenai dia.
Gue ngga bisa bilang bener atau salah tentang cara pandang temen-temen gue ini mengenai hidup. Mereka berhak atas hidup mereka dan gue juga bukan yang paling bener – malah gue harus mengakui bahwa guelah yang paling masih labil diantara mereka semua. Gue belom nemuin apa yang menjadi pandangan tentang apa yang gue ingin lakukan. Nantinya semua akan balik lagi kepada soal sudut pandang orang lain terhadap hidup kita – mau searah atau engga. Gue masih belajar dari mereka-mereka ini dan ngambil alternatif terbaik dari setiap jawaban mereka.
Tapi inilah gue. Gue yang cinta banget sama Indonesia karna ditularin oleh Bang Pandji Pragiwaksono melalui buku dan lagunya; yang pernah ngerasain sakitnya ngeliat anak muda bangsa ngga kasih yang terbaik ketika pujian penyembahan di gereja; yang pengen ngerusakin diri sendiri tapi masih lebih menjunjung tinggi aturan dan norma; yang mikirin secara berlebihan apa pandangan orang lain tentang gue; yang pengen jadi orang yang membawa perubahan tapi entah perubahan apa yang harus dijalani; yang sebenernya takut ngeliat perubahan zaman yang terlalu jahat tapi selalu merencanakan masa depan seakan dunia ini bertambah baik. It’s weird that I can see through people’s mask so easily but I had a hard time discovering myself. Dan kalo bukan waktu itu salah satu mami angkat gue yang bilang bahwa gue punya satu hal ini, gue ngga akan sadar bahwa gue memiliki karisma yang seringkali gue agung-agungkan dari sosok seorang Soekarno. Ternyata gue memiliki salah satu pembuluh darah yang mengalir dalam tubuhnya. Gue memang bukan orang yang seberani ataupun sesosialis itu – tapi gue pengen mencoba.
Ketika orang lain menimpali kisah teman-teman gue dengan kalimat-kalimat himbauan, gue hanya akan mendengarkan dahulu sampai kisah mereka selesai dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan selipan diantara kisah mereka. Gue lebih tertarik ketika mereka dapat mendapatkan sendiri jawaban mereka dari bercerita dengan gue. Gue senang mendengarkan kisah mereka – karena kisah mereka berarti sebuah pengorbanan yang harus mereka lakukan untuk terus bernafas. Gue senang mendengarkan mereka, karena gue merasa bisa percaya bahwa keberadaan gue diperhitungkan. Gue senang mendengarkan kisah mereka karna gue yakin bahwa suatu hari nanti mereka dapat membaca kembali kisah dalam entri ini dan mengetahui betapa kisah mereka telah membawa dampak bagi gue dan dampak tersebut adalah dampak yang patut gue perhitungkan sebagai pembawa perubahan signifikan ketika gue menemukan tujuan masa muda gue. –red

Kamis, 18 September 2014

The Cinta Lama Belom Kelar Thing



Bukan, sebenernya ini bukan tentang cinta yang belom kelar. It’s more of the crush lama belom kelar type of thing – about the moment you thought that this feeling for this one particular guy is long over finished but then it surprisingly come again to you with the same excitement all over again. About the person who once made you lose every breath – that he’s taking your breaths again.
Yes, he was and is still my friend. We call him as ass-guy of my grade for now. No, no. Not because he has lost one or both of his asses, but because his ass was so dead attractive eversince he gained some weight. Not to mention other physical appearances that would help you to easily notify this guy, I would just say that one little incident ignites that feeling all over again. And honestly, he didn’t kinda actually made it so hard to fall for. He wasn’t kinda like my mental guyfriend whose presence and absence felt so close and recognize-able. He didn’t talk to me much lately unless for those moments we share when we had independence day celebration about a month ago. But then, it was a whole different story of how I grab his image once I am in this state now.
Even though then, this guy had always been sweet to me. Attentive; caring; leader-typed; attractive; multi-talented; understanding. He is nothing but mostly about being the perfect boyfriend I could imagine of. Dan perlu sekali lagi gue katakan bahwa semuanya itu gara-gara obrolan doang. Kayaknya rasa suka itu emang masih ada; tapi kependem aja selama sekian belas bulan sampe sekarang baru ada lagi embel-embelnya. Capek tau ga suka sama orang yang ga suka lu balik. Macem lu punya cuman satu sirip tapi berharap lu bisa berenang seimbang seperti ketika lu punya 2 sirip (wets hacep. Wth is hacep). Udah ah. Gue ngga berharap jadi pacar dia juga.
Waktu kita ngobrol pas 17an itu tentang kepergiannya dan ketika gue ngobrolin apa gue lupa sama my other guy friend, gue ngerasa begitu dekat sama dia – ngerasain lagi hembusan kencang nafasnya dari dekat, menatap lagi matanya lekat-lekat mungkin untuk terakhir kalinya, mendengarkan kedewasaanya dalam membawa sebuah obrolan yang menambah ilmu pengetahuan. Waktu itu derap jantung gue normal (yah well kemaren juga sih), tapi gue ngerasa ada yang beda. Kenapa? Gue juga ngga tau. Yang jelas he ignites certain happy spray in my brain that other crushes could not do. Gue masih kesengsem sama dia. Sama senyum manisnya. Ternyata dia masih the same guy I once knew.
He may not be like Kobra, Fankhui, ato si Bebeb yang gue bisa ngobrol lepas tanpa boundaries ketika ketemu (well semua dengan batasnya masing-masing juga sih), tapi whenever I found him near me I could hear myself being so confient and brave. Betul, rasa suka gue ke dia boleh aja berbeda dari 2 tahun lalu, tapi gue masih mengenal perasaan yang datang ini. It seems very familiar. Gue ngga mungkin jadiin dia pacar karna gue masih mau ngaku jomblo tulen sampe kelas SMA. But as a best friend? OFKORS. Lowongan best friend masih terbuka lebar saudara-saudara. I know that I would have to understand that nobody’s that sincere best friend. But for one second of life I’ve got to want to have some guy like him to admire and to lock in to because when I’ve lost the grip on my mentor’s, his most likely descendant is the only thing left I have to believe.
Because before or after that, we did not talk for a long time. –red

“Now I’ve got you in my space I won’t let go of you. Got you shackled in my embrace. I’m latching on to you”

Sabtu, 13 September 2014

Intahviewh Pt.2

Kemarin ketika akhirnya gue masuk kedalam ruangan itu, gue sedang ditanyakan pertanyaan kedua gue. Gue ditanyain oleh penguji kira-kira konsentrasi gue di ilkom nanti mau apa dari antara IMC, PR, atau broadcast; apakah gue sudah memiliki bayangan atau belum mengenai hal tersebut. Yang keluar dari bahasa tubuh dan mulut gue adalah sebuah anggukan cepat dan senyuman yang disertai kalimat yang cukup formal dari “iya, udah tau kok. Pengen konsentrasi di bidang broadcasting journalism” padahal dalam hati gue udah teriak kesenengan karena gue lagi-lagi bisa ngejawab pertanyaan yang dilemparkan oleh penguji.
Namanya entah kak Dian atau Diana gue lupa; seorang wanita usia 30an dengan make up natural dan kostum lazim penginterview dengan atasan putih formal dan rok span pendek. Rambutnya ikal pertanda dirinya menyiapkan diri hampir sekitar satu jam setiap pagi – entah kategori ‘pagi’ itu pukul berapa baginya.
Dapat gue pastikan sekarang bahwa semua anak yang diinterview akan memiliki jawaban berbeda sebagaimana penguji yang berbeda memberikan pertanyaan berbeda walaupun outline pertanyaan mereka mungkin sama sebagian besar waktu. Dan bahkan dengan penguji yang sama pun ia dapat memberikan pertanyaan yang bebeda untuk tiap siswa berbeda. Sebagaimana untuk gue, pertanyaan-pertanyaan dari penguji gue adalah pertanyaan-pertanyaan yang menurut gue dapat gue jawab dengan sangat percaya diri dan nyaman karena gue mengetahui seluruh jawaban dari pertanyaannya dengan hati gue.
Jika kalian menanyakan mengenai adakah penyesalan dari jawaban-jawaban yang gue berikan ketika interview tersebut berjalan, gue akan menjawab ya karena ada 2 jawaban yang menurut gue gue kurang berhasil dalam segi penyampaian maupun jawaban dari pertanyaan itu sendiri. Pertanyaan tersebut adalah mengenai mengapa gue memilih untuk masuk jurusan ilkom (motivasi dasar gue sebagai mahasiswi prospektif) dan juga apakah gue merasa nyaman dan percaya diri dengan bahasa Inggris gue jika gue harus menggunakannya untuk berbicara. Namun jikalau harus, gue mungkin akan meminta perputaran waktu agar gue dapat mengulang interview gue kembali. Namun jika tidak, yah, gue dapat mengatakan bahwa sebenarnya gue sudah puas dengan hasil wawancara gue sendiri. Gue bisa cukup berbangga menjadi salah satu earliest prospective students yang dipanggil untuk interview.
Sekarang hal harus gue lakukan hanyalah menunggu lagi hingga waktu pengumuman kelulusan interview gue dan awal karier gue didunia perkuliahan nanti. Tau kapan? Oktober 2014. 1 bulan dari sekarang. Yah, gue rasa dunia ini memang senang membuat yang hidup didalamnya menunggu sesuatu yang sebenarnya tidak pasti. Yah, apalah yang dapat gue lakukan juga kan selain menunggu, berdoa, dan melakukan kehidupan sehari-hari sembari mengisi waktu. Sama seperti ketika gue masih harus menunggu satu bulan untuk keterlibatan gue pada camp dan bertemu dengan dirinya adalah sama dengan penantian ini yang mengharuskan gue mengalihkan pikiran kepada hal-hal lain.
Gue memiliki sedikit keuntungan dengan personality gue yang mudah untuk memberikan impresi yang baik pada awal setiap tahapan perkenalan gue dengan orang lain disekitar komunitas gue serta fakta bahwa nyokap bokap gue bisa membantu gue banyak karena komunitas gereja keluarga gue serta pengalaman kerja nyokap gue 20 tahun di grup. Namun untuk urusan interview ini, gue rasa bagian terbaik gue adalah hanya untuk menyebutkan sebagian dari keseluruhan fakta yang ada seperti nama sebuah majas dengan arti yang sama: pars pro toto.
Gue berharap hari kemarin akan membawa faedah yang baik untuk penerimaan beasiswa gue sementara gue hanya dapat menunggu dengan kegelisahan yang tidak dapat gue pungkiri gue rasakan. Dan untuk itu, sampai menunggu hasilnya bulan depan. –red