Jumat, 30 Oktober 2015

#YouthCamp2015



For two straight weekends gue nginep diluar rumah dengan tajuk “camping tapi sebenernya ngga camping-camping amat – kan tidurnya di hotel”. Minggu pertama gue adalah OC yang kisahnya udah gue ceritain minggu lalu. Minggu ini adalah minggu kedua gue in which gue ikutan camp keagamaan dengan judul “Youth Camp: Masterpiece”.
Gue agak beda ceritanya kenapa gue bisa ujuk-ujuk ikutan YC 2015. Kalo kakak-kakak kelas pada stereotyping kita “diajak temen” ato “disuruh orangtua” dan sejuta alasan lainnya yang bisa mereka pikir, cuman ada satu kalimat sederhana untuk ngejelasin kenapa gue ikutan: Tuhan yang nyuruh. Gimana gue tau Tuhan yang nyuruh? Hati gue ngedesek gue untuk ikutan walopun sebenernya kedaginan gue bilang gue kepengen dugem. Gue tertarik banget dalam pertama kalinya kehidupan bebas pilihan ini untuk mencari sesuatu yang “rohani” selain daripada melayani.
Sampai hari akhirnya YouthCamp tiba, gue sebenernya agak kesel-kesel sendiri dan bahkan sebelom berangkat gue udah kepengen pulang lagi. Gue kesel karna begitu banyak hal teknis yang ngga sesempurna yang gue inginkan terjadi. Gue males ikut karna gue hari itu masih ngga enak badan dan kepengen istirahat. Gue ngga seneng karna mentor gue seolah ngga peduli dan kita berujung macet dijalan sebelom sampe ke tempat tujuan. Bahkan dihari pertama gue ngga dapet apa-apa sampe gue sendiri doa gini dalam hati:
“Tuhan, mendingan gue dipaksa orang ikut tapi begitu ikut dapet banyak banget berkat deh daripada gue haus begini tapi ternyata ngga ada apa-apa.”
Gue ngga ngerasa dapet apa-apa karna gue udah tau gue ini adalah sebuah vas rusak yang mau diapain pun bakalan tetep rusak kecuali gue terima Tuhan sebagai juruslamat. Gue ngerasa ngga dapet karna gue bukan merindukan sesi-sesi seperti itu – gue udah tau doktrinnya gue rusak; dan ngga perlu lagi gue dipulihin karna dari dulu gue udah sadar gue ngga layak untuk dapetin keselamatan itu kalo bukan karna anugrah. Gue berharap dengan dateng ke YouthCamp gue ngerasain sesuatu yang berbeda – gue berharap encounter worship sessh yang gila-gilaan sampe nangis kejer. Masalahnya hal itu ngga gue dapetin di sehari setengah gue ikutan acara ini.
Gue sendiri sempet doa juga sama Tuhan:
“Tuhan, gue ngga mau dateng youthcamp sia-sia. Gue udah ngelawan kedagingan gue untuk ngga jadi ngga ikut tapi kalo gue ngga dapet apa-apa trus apa gunanya?”
Akhirnya malam kedua tiba dan malam pujian penyembahan yang gue tunggu-tunggu tiba. Akhirnya, pertama kali dalam 24 jam terakhir itu gue bersyukur gue ikutan youthcamp karna gue bener-bener lompat sampe puas dan nyanyi bareng orang-orang yang mungkin punya kerinduan yang sama sama gue untuk ngerasain lagi hadirat Tuhan kaya gitu. I am in a deeper level of craving of God’s presence.
Besokannya, the next big things that I didn’t expect happen happened. Pertama. Maju didoain untuk panggilan melayani. Tuhan yang gerakin gue untuk maju – dan bahkan sebelom sempet cicinya ada yang ngedoain gue, air mata gue udah mulai ngucur duluan. Pas gue nangis itu gue sadar gue nanya Tuhan satu hal:
“Tuhan, kalo gue ngelakuin ini sebenernya Engkau bangga ngga sih sama gue? Apakah dengan gue begini gue bikin Engkau bangga?”
Tau ga: didoa cicinya, si cici bilang bahwa Tuhan bangga sama gue dan apa yang akan gue lakukan. Disitu air mata gue ngucur deres dan gue ngerasa dijamah. BANGET.
Hal kedua adalah setelah gue didoain. Kita disuru doa buat fakultas kita masing-masing. Kalo ini sih gue fully sadar gue doa buat dosen-dosen gue, temen-temen seangkatan gue yang banyakan living a life yang ngerusak gitu, dan supaya kita dimenangin buat Kristus. Abis itu biasa lah, nangis kejer lagi buat Indonesia.
Hal ketiga dan terakhir adalah mengenai mentor gue.
Ada beberapa orang yang udah tau bahwa gue sedikit ngga seneng sama mentor pertama gue karna menurut gue dia secuek banyak anak kuliahan lainnya untuk nanganin anak baru kayak kita ketika apa yang kita butuhkan adalah sedikit lebih banyak perhatian. Sejak itu, gue agak skeptis sama mentor baru manapun yang bakal bimbing gue – termasuk dari OC kemaren dan sekarang. Tapi ternyata both mentor gue yang belakangan ini adalah orang-orang yang luarbiasa rendah hati untuk sabar banget sama kita dan perhatian kaya gue anak bebek yang bandel. Terutama dari mentor YouthCamp gue Gita, gue untuk pertama kalinya kenal sama orang yang luarbiasa pemberi. Awalnya gue cuman mau minjem snowman dia – eh malah dibeliin. Coba. Trus dihari ketiga pake acara dikasi goodybag segala yang isinya buku-bukuan, gantungan kunci, bolpen. Baru pertama kali gue dapet beginian – and she have just set a higher standard of someone so humble yet so much fun to talk to.
Finally, I learned more than I should di YouthCamp. Gue belajar untuk lebih berapi-api dalam spreading the Word dan pelayanan – gue ada mau mengubah beberapa hal dalam PW karna gue bisa bawa perubahan dari situ. Gue belajar untuk rendah hati dan ngasih tanpa pamrih segimana Gita udah ngasi contoh buat gue. Some people like her are just more life changing than those yang jago bacot tapi ga nunjukkin apa-apa dari kehidupannya secara nyata. Ternyata gue ngga nyesel ikut YouthCamp. Sampe kapanpun ngga bakalan pernah –red

Who am I?



Kadang, gue takut menjadi diri gue sendiri
Gue takut karna gue ngga tau apa yang gue inginkan
Gue takut karna gue ngga yakin bahwa pilihan gue benar
Gue takut karna gue sendiri ngga yakin gue tau siapa diri gue sebenarnya
I’m afraid to see what I am really like inside when I don’t know anything of me that is real.
...
I often tell myself that I missed being a real person
But what is a real person? I’ve never remembered being one
For so long I’ve been wary of myself
I can’t remember being one wholeful person lest I be one.
For most of the time, I don’t even know what I am anymore
I’ve tried to be someone – but I’ve also failed
I never have felt the ability to be someone; whether someone nice, someone important, someone bad, or someone who seemed to know who they really are because I’ve been searching someone that I feel like being – and I fell so hard because nobody is as ideal as I pictured to be and as perfect as I needed them to be
When everybody else looked like they know who they are being, I am crumbling down inside; I am as raw as a dead meat ready to burn in the barbecue – too easily molded and burned
...
And then, even before I can even find who I am, I wonder again
Will people trust me if I don’t even trust myself?
Will they perceive me as a good person, even when I don’t feel like one?
Will they accept me for whatever abstract absurdity I am?
Will they tell me I’m a good person when I feel low?
I need acceptance – but no matter how much acceptance never felt enough for me.
I always want more; I always long for more; I always need more; I always beg for more.
And yet, no acceptance is as high as the acceptance of God almighty and the acceptance of the person’s one self beforehand.
...
Hopefully as time goes I’d accept myself just as the way my friends seemed to accept of themselves
Hopefully I don’t only dead-walk around the pavement roads act as if I knew what I’m doing when all I did was only trying to keep breathing
Hopefully I’d be able to embody what I’ve always wanted to be in my idealist mind one day; on the day when everything comes crumbling down –red

A Cry of A Broken Hearted Girl



There is just too much to say when your heart is broken by something you never thought would hurt you. This made me questioned my system: “was the high ever worth the pain?”
There is just too much to remember; to remember that time when you realized that you too are in fact as fragile as others. This made me almost believed that there is nothing good in this world – because all it has plan for you was never anything but broken heartedness.
There is just too much pain when you are not heart broken by actions but merely by thoughts. And then I wondered if it’s better to sleep forever rather than waking up with pain.
...
I have had my moments where I’d wish that I wouldn’t break my dear heart anymore. It is already into pieces as what it is right now. But who am I to dictate what the heart wants? It does what it wants at the time it desires. My heart desires things my brain can’t even control.
I kept asking myself these:
‘What is cold that it numbs you;
What is fire that it burns you;
And what is love; that it has power to do just both?’
Can I ever recover?
Will the heart ever intend to not fall?
Will my heart ever be tired of falling?
Will it actually stop breaking itself?
Will it actually stay humble enough to tell my brain “God’s got something better. Stop craving for him”?
What if I am too tired to understand that I stopped listening? What will happen then?
What if my heart never intends to stop?
...
If I were to speak honestly, I wouldn’t want any of this anymore.
In moments like this, I easily wished my heart to leave so that I wouldn’t have to feel anything anymore.
My heart is severely damaged. It is broken. I want someone to be worthy of all these little pieces my heart had come up with.
I hope someone will come and tell me I’m alright; that these damages meant the whole world for him to be able to pick them up piece by piece and replace them with new ones he’s got.
But who am I to hope, if my heart keeps doing what it wants to do? –red

Minggu, 25 Oktober 2015

Kamus Jomblo



Iya gais, cukup mujizat juga Gloria hari ini masih jomblo. Bukan, bukan karna gue ngga mau mengakhiri masa jomblo ini, tapi lebih kepada “belom ada ikan yang mau sama gue”. IYA, ikan ganteng sih banyak. Tapi IYA juga, GUE EMANG SEMIRIS ITU. PFT.
Tapi eits, jangan kasianin gue dulu. Justru sebagai jomblo yang baik dan berpendidikan, hari ini gue akan sedikit berbagi mengenai kosa kata yang kita orang jomblo suka pakai dalam kamus sehari-hari kita. Belom pernah ada kan lu diceritain tentang kamus jomblo? NAAH, bagus kalo begitu. Langsung aja kita mulai.
1)      Galau (n): sebuah perasaan kosong atau sedih dalam hati seseorang yang hanya dapat diisi hanya oleh satu orang yang (entah kenapa) selalu mem-PHP kita.
Contoh kalimat: Bro, anying bro! Masa gue minta telor setengah mateng dikasihnya mateng! Galau gue bro!
2)       PHP (adj; sing.): “Pemberi Harapan Palsu”; kegiatan di/mem-bohongi orang lain; terutama kaum jomblo yang kemana-mana selalu bawa-bawa perasaan
Contoh kalimat: Gue barusan saja diPHP-in tukang kopi: dia bilang kopinya manis padahal kopinya pahit; sepahit hubungan cinta gue sama dia
3)      Baper (v; sing.): “bawa-bawa perasaan”; sebuah kegiatan menyedihkan yang rutin dilakukan kaum jomblo sankingan jomblonya dan seringkali jadi menyulitkan orang lain.
Contoh kalimat: Anjir bro, gue baper nih. Gue masa barusan diliatin kaya itu orang tau gue lagi jomblo gini. Kan gue jadi sedih.
4)      Move-on (v): ketidak mungkinan yang selalu diharapkan mampu dilakukan oleh orang-orang gila yang disebut “jomblo”
Contoh Kalimat: Ah, gue udah harus move on nih! Ngga mungkin gue begini terus, cinta sama sekali ngga bertepuk!
5)      Jomblo (n): orang-orang gila yang tidak memiliki pasangan sehingga selalu galau dan sulit move-on. Orang-orang yang dikutuk menjadi jomblo adalah orang-orang yang memang tidak punya pilihan lain
Contoh Kalimat: Duh bro, kenapa gue jomblo banget yah; giliran cewe yang dari 5 taon lalu gue tembak malah udah punya pacar?
6)      Curcol (v; sing.): “curhat colongan”; kerjaan manusia-manusia jomblo seperti gue yang senang membagi perasaan miris pada waktu-waktu yang salah
Contoh kalimat: Eh gais; gue mau curcol dong. Masa yah, kemaren si itu ngeliatin gue loh pas lagi jalan depan taman. Terus yah...
7)      Miris (n): perasaan teriris piso yang dirasakan oleh kaum jomblo karna melihat orang sudah memiliki pasangan terutama dalam hal percintaan atau dalam hal lainnya
Contoh kalimat: Aduh, gue kenapa gue jomblo banget sih, main gundu aja masih sendiri terus dari 10 taon lalu...
8)      “Hayati Lelah” (adv) : sebuah ungkapan, teriakan jomblo bagi para manusia karena lelah kelamaan sendirian
Contoh kaliamat: BANG! HAYATI LELAH BANG! Abang kapan sih mau nembak Hayati biar Hayati mati aja? Hayati ngga mau lagi hidup sesendiri ini bang... Hayati butuh kehangatan abang...
9)      Single (n): sebuah hinaan bagi para jomblo karna katanya jomblo itu nasib sementara single itu pilihan. Lah, bro, jomblo juga pilihan kok kalo kata bang Ernest Prakasa: PILIHAN TERAKHIR!”
Contoh kalimat: mbak, es krimnya single aja ya; jangan jomblo.
10)  Pacaran (n): Kegiatan peng-kacungan pria oleh kaum wanita; atau kegiatan ; atau kegiatan yang membuat kaum jomblo dan jadi sering mandi hujan dibawah shower air dingin karna ngga punya heater.
Contoh kalimat: Eh lo pacaran sama dia? ADUH selamat dibabuin ya weh! HAHAHA *pulang, terus mandi dibawah shower meratapi nasib*
Udah ah, sekian dulu aja dari gue kamus jomblonya hari ini. Intinya dari post kali ini hargailah kaum jomblo seperti kalian menghargai diri kalian sendiri; terutama kalo kalian juga saat ini belom punya pasangan – kita berada disisi yang sama mau elu jomblo ataupun single.
Ingat, post ini hanyalah hasil pemikiran gue semata – bukan penjelasan yang paling benar maupun paling logis yang pernah ada. Yang paling geblek dan bego sih iya bro. HAHAHHA. Yaudahlahya, cabut dulu eke. –red