Rabu, 14 November 2012

SOEKARNO

Hand Writter on Wednesday, 14.11.12

Hari ini gue harus ngebahas mengenai orang yang namanya terpampang sebagai judul tulisan personal gue. Latar belakang dari tulisan ini jelas, gue baru kelar belajar sejarah lagi di kelas dan gue baru mendapatkan pencerahan gila mengenai sosok beliau yang selama ini mungkin sebenernya udah gue ketahui, tapi ngga pernah keluar sebagai kata-kata dari mulut gue. Terus juga mengenai seorang dari masyarakat Indonesia yang sudah berkontribusi besar untuk Indonesia melalui karyanya atas patung "Selamat Datang" (bunderan HI) dan "Patung Dirgantara" (tugu Pancoran). Intinya, gue terusik kalo sampe gue ngga nyelesaiin satu tulisan spesifik ini. Gue harus nulis. Gue harus nyalurin apa yang gue dapet. Gue ga bisa diem-diem belaga ga belajar apa-apa kalo faktanya gue belajar banyak. Inilah pencerdasan eklips di hati gue.
Tugu Pancoran dan Patung Selamat Datang dibangun artas 2 dasar dari Soekarno: kepercayaan dan nasionalisme. Gue salut banget sama sosok seorang Soekarno, diatas fakta bahwa beliau adalah "orang besar" yang melihat sesuatu yang orang lain ga bisa lihat dari rakyatnya sendiri. Beliau percaya bahwa mereka bisa lakukan apapun -- dan hal terakhir yang mereka butuhkan adalah motivasi dari seorang pemimpin yang selama ini sudah berdiri untuk membimbing mereka. Cerita dibalik pembangunan Patung Dhirgantara menyimpan kisah tersendiri dihati gue, apalagi tagline terakhir di artikel 2008 koran kompas yang gue baca bilang kalo pada saat seorang Edhi Sunarso sedang berada di ketinggian patung Dirgantara, ambulans pembawa jenazah Soekarno melintas dibawahnya..
Berarti, Soekarno ngga pernah ngeliat secara fisik apa hasil patung Dirgantara yang lahir dari buah pikirinya untuk menjadi ikon Jakarta dan yang hari ini adalah saksi dari gatir pahitnya perjalanan anak bangsa untuk berdiri dan berjuang dimata internasional, kebayang gimana KEPERCAYAAN seorang Soekarno kepada rakyatnya sendiri untuk membawa perubahan... BESAR BANGET BRO. Gila. Gue ga nyangka, seorang seperti Presiden kita zaman itu... It's a crazy thing to do! Amazing banget. Bagi gue, itu sesuatu yang berbeda.
Terus, Soekarno pernah nyuruh bawahannya untuk jual salah satu mobil miliknya yang akhirnya menutupi biaya anggaran untuk membuat sebuah patung setinggi 9 meter yang berlapis perunggu, yang akhirnya hari ini dikenal dengan nama Patung Selamat Datang. Entah gimana cara bekerja otaknya seorang Soekarno, bisa sampe visioner banget buat bangsanya.
Dibalik segala kelemahan beliau yang diceritain banyak orang kepada gue, gue seperti enggan menguak lebih lanjut; cukup tau sebagai pro kontra sebuah/sesuatu yang emang ngga ada yang sempurna. Alasan gue adalah karena gue percaya sama beliau, sebagaimana beliau pernah memberikan rasa percaya dan tanggung jawab itu kepada orang-orang yang dianyominya sehingga dihasilkan begitu banyak anak bangsa yang luar biasa hari ini. Bagi gue, beliau udah berhasi: berhasil menciptakan perubahan dan sejarah yang ngga mungkin dilupain sama sebuah bangsa besar kayak Indonesia. Terdapat sebuah visi besar untuk bangsa yang dipimpinnya, itu yang bikin gue ngga berhenti merinding -- bahkan sampe di saat gue nulis karya tulis ini. Hasrat dan panggilan itu... Dibawah tanggungan yang besar untuk memimpin dan mengubah bangsa, siapa bilang itu sebuah perkara mudah bagi seorang tokoh seperti Soekarno? Beliau juga masih manusia, bukan semacem dewa yang sempurna gitu.
Seriousl, kalo lu juga baca apa yang gue baca, tau apa yang gue tau tentang kontribusi Soekarno bagi bangsa kita, dan mau buka hati untuk belajar, gue tau apa yang gue tangkep akan lu tangkep juga mengenai sosok Soekarno.
There is something special about this one man, his interests and passion. Bro, this guy isn't just a brilliant -- he, in fact -- is a genius.
Jujur, kalo mau, masih banyak yang harus gue ceritain tentang beliau, tapi cukuplah untuk sehari ini dulu. Gue akan masukkin sebuah puisi kecil yang gue buat untuk mengenang apa yang gue bener-bener rasa bangga dari seorang Soekarno, bapak Proklamasi kita.

SEORANG SOEKARNO
...
Yang melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain
Yang percaya akan kemampuan masyarakat bangsanya
Yang rela menjual mobilnya demi pembuatan ikon besar Jakarta
Yang dibalik segala kelemahannya,
Terdapat visi besar untuk bangsa yang dipimpinnya

Yang berkata,
"Ed, kamu punya rasa bangga berkebangsaan dan berkenegaraan tidak??"
Yang mengetahui,
Bahwa setiap orang pasti memiliki sebuah potensi
Yang selamanya percaya,
Bahwa Indonesia mempunyai semangat perjuangan itu

Terimakasih, Soekarno
Jasamu takkan pernah terlupakan sampai kapanpun.

Jumat, 09 November 2012

BOOK REVIEW


The book I spent my nose on was a book called Matilda, written by Roald Dahl. I decided to pick this book out simply because Matilda’s story goes right through to the space of my heart and it is a lovable story to be retold. So here goes Matilda.
Matilda Wormwood is another regular 5 year old girl in the town of England; with weird parents to live with. Her dad is a wicked secondhand car dealer which happens to use his wickedness to gain a lot of profits while her mother is just a housewife who plays bingo every afternoon two blocks away from their house. Matilda also has an older brother which her parents adore; but there aren’t so much exciting things about Matilda’s brother to be told about. Now here’s the thing that differs Matilda from the other kids around: her parents seem to not care about her so much.
She went to school at her age of five and a half, that’s the first proof of her parents’ uncaring attention for their smallest daughter. Matilda is quite extraordinary; to be very honest; due to her age which is still so young. She knew the times table by heart, she taught herself to read books and newspapers, and she even do some things grownups did. Her parents did not see how potential their daughter was, and never were they. Until comes the day of school. She went to Miss Honey’s class, and eventually Miss Honey is the first to notice that this little girl is a genius. Still, there were obstacles that were waiting to be finished.
Their school’s headmistress was the most feared lady in town, named Miss Agatha Trunchbull. But everybody knows her as Miss Trunchbull. She used to be an athlete and she is the first victim of every parent bullying their children. But they can eventually do nothing about this one Miss Trunchbull because as much as power she have, she also have the most honor around. One word that is most describing for Miss Trunchbull would be DEVASTATING.
The connection between Miss Trunchbull and Matilda was that Miss Trunchbull bought a secondhand car from Mr. Wormwood, Matilda’s father and he told Miss Trunchbull about how stinky his daughter could be while she wasn’t. So, the devastating Miss Trunchbull accused that Matilda was the one who put a newt in her jug of water when she first came into the first grade’s classroom while Matilda’s homeroom Miss Honey was begging Miss Trunchbull to move Matilda to a higher grade because she was too brilliant to just sit there in the first grade room.
Finally, because Matilda’s father’s work has been busted to cheat, the Wormwood family was taking the move to Spain. But Matilda, who have fallen in love with old England, her school, her friends, and Miss Honey finally asked her parents if she could stay with Miss Honey forever. What can you expect much if you have such an ignorant parents like Matilda’s? In the end, Matilda was permitted to live with Miss Honey and like any other good fiction stories, Matilda lived happily under the care of Miss Honey.
THE END