Jumat, 31 Agustus 2012

Jakarta, Jumat 13 Juli 2012 16:35

Jakarta, Jumat 13 Juli 2012 16:35
Jakarta itu seperti kota yang ngga pernah mati. Semuanya selalu berputar; makin cepat dan makin cepat. Sementara gue menyusuri jalan raya kota Jakarta sore itu setelah 2 minggu lebih tidak berkutat dengan kota kelahiran gue itu, gue merhatiin gedung-gedung & plang iklan yang gue lewati dengan seksama. Jakarta sore itu tampak sangat berkabut & kelabu, ngga seperti biasanya. Rasanya, kota tempat gue bernaung selama hampir 16 tahun itu ngga gue kenalin sama sekali. Walaupun sepertinya ngga ada yang berubah, gue ngerasa aneh.
Kesempatan gue berpikir mengenai Jakarta berawal saat gue melewati sebuah gedung universitas di Jakarta yang memiliki sebuah tulisan yang menarik untuk gue baca di gerbangnya: "kampus pahlawan reformasi". Seketika itu juga, pikiran gue langsung melayang ke masa kerusuhan 1998. Gue inget semua cerita guru sejarah gue mengenai Jakarta gue yang pernah bersatu melawan pemerintah & meminta presiden kita untuk turun. Akhirnya berhasil, dengan bayaran nyawa 3 orang mahasiswa universitas tersebut. Gue ngga tau apa rasanya kalo gue kuliah di tempat itu nanti & tajuk di depan gerbang itu hanya akan berakhir menjadi tajuk saja. Betapa sia-sia rasanya jika sekarang anak muda Indonesia ngga punya semangat reformasi itu lagi.
Kemudian, dari atas jalan layang, gue sempat melihat kearah jalan layang lain yang macet. Gue kembali terpikir, apakah akhirnya masalah ini dapat diatasi dengan semakin bertambahnya jumlah manusia yang tinggal di ibukota ini. Gue cuman bisa berdoa, supaya siapapun gubernur & presiden kita yang akan terpilih nanti bisa memperbaiki ini; setidaknya; supaya persepsi orang bisa berubah -sedikit- bahwa Jakarta itu adalah kota yang sebenernya ngga buruk buruk amat seperti yang udah ada di dalam otak mereka selama ini.
Hal yang ketiga sekaligus hal terakhir yang sempet kepikir adalah bahwa Jakarta ini emang aneh. Semua orang berlomba-lomba untuk datang kesini dari desa; sementara orang-orang kaya disini berbondong-bondong pergi ke luar negri. Keduanya sama-sama beralasan pengen punya kehidupan lebih baik, entah kesampean ato engga. Kalo mau dibahas satu-satu, begitu banyak hal yang gue suka dari ibukota ini walopun menurut gue hal itu tuh sebenernya absurd banget. Tapi gue pikir daripada gue nyesel gue lahir disini tapi ngga berbuat apa-apa, mending gue ngerasa bangga aja. Semakin bahagia semakin baik, itu prinsip gue dalam mencintai.
Contoh hal absurd yang gue demen dari Jakarta adalah dunia perfilman-nya. Perfilman disini maksudnya dalam dunia sinetron. Pernah perhatiin ga kalo sinteron di Indonesia itu judulnya aneh-aneh, mulai dari mawar melati, melati mas, putri yang ditukar, cahaya, matahari, cintaku bertepuk sebelah tangan, cinta cenat cenut, & masih banyak lainnya? Nah itu dia yang gue omongin. Walaupun emang alurnya pasti begitu-begitu aja, tapi harus gue akui bahwa orang-orang yang membuat film ini ga pernah menyerah, karena mereka berusaha untuk selalu mencari ide untuk judul sinetron mereka yang baru, supaya perfilman Indonesia tetap ramai dengan sesuatu. Contoh nyata keALAYan ide orang Indonesia adalah judul sinetron yang baru tadi gue lihat akan segera di tayangkan di salah satu stasiun televisi swasta dalam negri: TUKANG BUBUR NAIK HAJI. Beuuuuh, gokil abis bro!!
Bukan cuman plang untuk sinetron yang bisa alay begitu ternyata, tapi juga plang iklan lainnya. Dengan sotoy, salah satu plang iklan pulsa menuliskan tajuk: "OMG: Ogah Mati Gaya". Sumpah, sotoy abis. Harus gue akui pada akhirnya bahwa tajuk tersebut sangat kreatif, tapi oh Tuhan, kenapa harus sesotoy itu. Tarik nafas dalam, buang.
Intinya, hari ini gue belajar sesuatu lagi mengenai Jakarta gue ini; bahwa sejelek, seabsurd, atau se-menjengkelkan apapun kota ini buat gue, gue akan tetap bangga sama kota kelahiran gue. Gue akan tetap mencintai Jakarta gue ini dengan segala kebaikannya & kejelekannya. Karena gue tau, bahwa gue berani mencintai & gue harus mencintai dengan berani. -red •glow13productions•
 
"Love someone for what he is, not for what he should be" -unknown

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog