Jumat, 29 November 2013

CINDERELLA

-->
"Oh, I will dance with Cinderella, I don't want to miss even one song
'Cause all too soon the clock will strike midnight and she'll be gone"

Dengerin lagu itu untuk kesekian kalinya masih sanggup bikin gue galau. Gue sadar bahwa waktu ngga tersisa banyak untuk gue habiskan sama bokap gue. Yes, my dad. One second he'll be there and the other second gone. Even tho lagu Cinderella ini didedicate oleh penulisnya untuk anak perempuannya, gue mau ngededicate cerita ini buat bokap gue.
Gue ceritain dulu meaning asli lagu ini dulu, biar ngerti. Namanya Steven Curtis Champman, ayah 3 anak perempuan. Sebelum ia menulis lagu ini, ia sedang mengurus kedua anak perempuan kecilnya yang masih berusia 4 dan 5 tahun kala itu. Karena sedang sibuk hendak menulis lagu dan mengatur aransemen, ia berusaha melakukan segalanya secepatnya - memandikan mereka, memakaikan baju tidur, dan mengajak mereka berdoa. Ketika semuanya sudah ia anggap selesai, ia keluar dari kamar putrinya dan menutup pintu dibelakangnya. Beberapa detik kemudian, terbesit dipikirannya mengenai anaknya yang sudah berumur 17 tahun dan ia sadar bahwa jika momen ini tidak ia gunakan dengan baik akan lewat dengan begitu saja tanpa ada apapun yang tersisa dari kedua putri ciliknya – sama seperti dalam kisah Cinderella. Ketika waktu itu sudah habis dan jam sudah berdentang 12 kali, maka mereka sudah tak kan ada lagi.
Dalam kehidupan gue yang sebenernya bersama bokap gue dan gue masih jomblo begini, the only thing I can do is reversing a bit of the song’s meaning and put my dad in the “Cinderella” part and I in the “dad” part. Maksud gue begini: gue ngga berusaha untuk mengajak bokap gue dansa whatsoever karna gue juga ngga bisa nari. Tapi untuk cherish setiap momen yang bisa gue habiskan sama bokap gue, that’s the thing I know I can do as a daughter right now. Karna dari kecil, role model gue yang pertama adalah bokap dan nyokap gue. Tapi darah bokap gue-lah yang mengalir dalam tubuh gue yang fana ini, yang mewariskan sebagian besar aksi-reaksi otaknya dan perilakunya. Let me tell you a little bit about my old man.
Bokap gue bukanlah bokap yang diidam-idamkan oleh anak kecil; bukan tipe-tipe bokap yang sempurna secara fisik dan mental seperti Bapa kita yang di surga atopun yang dicerita buaian tidur anak-anak. Tapi bokap gue yang ini adalah bokap yang gue tau ada bersama gue melalui masa kecil gue. Dari dulu gue sebenernya jarang ngobrol sama bokap karena bokap adalah tipe orang yang lebih suka kerja daripada suka ada dirumah. Rumah buat dia adalah bener-bener cuman tempat untuk ngistirahatin kepala – cuman akhir-akhir ini aja dia betah di rumah karena usia juga. Entah apa yang dia pikirin selama ini, tapi gue tau bahwa beberapa sifatnya adalah sifat yang gue miliki juga.
Gue pernah punya bokap yang gue anggap sebagai bokap asli gue juga ketika gue bertandang ke Australia belum lama ini. Ia, hampir sama seperti sosok bokap di rumah, di Indonesia. Ia jarang ngobrol sama gue, dan ia jarang membuka pembicaraan untuk mengenal gue lebih jauh. Namun entah darimana, dalam kesunyian tutur katanya, gue bisa belajar 2 hal paling penting dari dirinya yang membuat gue mengubah segala persepsi mengenai sosok bokap dirumah:
1.    Sejarang apapun ia membuka mulut, sebenarnya ayah pasti akan selalu menyayangi anak-anaknya. Ia pasti memiliki sisi hati yang sangat lemah lembut yang hanya bisa ia berikan kepada anaknya.
2.    Sebagai anak, gue harus puas dengan seperti apapun bokap kita di rumah karena merekalah orang-orang yang paling bertanggung jawab atas jiwa kita – mau kita anggap senyebelin apapun mereka.
Valuable lesson semacem insight ini ngga akan gue dapetin kalo aja gue ngga dateng ke Australia dan diijinkan Tuhan untuk tinggal di rumah yang seperti ini.
Jujur aja, udah sejak setengah taun terakhir ini gue sadar bahwa gue ngga bisa sia-siain waktu ini begitu aja. Gue takut kalo gue semakin tua nanti seiring dengan semakin ngerasa benarnya gue, gue ngga mau lagi dengerin apa kata bokap gue seperti ketika gue kecil dulu. Gue takut kalo gue gak punya waktu lagi untuk dilalui bersama sosok ini, yang sayang sama gue. Gue takut, kalo gue ngga akan bisa lagi meluk cium dan gandeng tangan orang yang selama gue kecil gue tau suka banget meluk gue dan nganggap gue putri kecilnya. Gue hanya ngga bisa membiarkan waktu ini lewat begitu aja, membiarkannya ngambil bokap gue seenaknya dari gue.
Yang menjadi penghalang terbesar buat gue untuk balik jadi kayak “daddy’s little girl” adalah penundukkan diri yang makin kesini makin sulit. Gue udah mulai ngerti yang namanya punya pendirian sendiri dan punya landasan kehidupan sendiri semata-mata membuat gue jadi males dengerin ceramahan bokap karena alasan klasik anak remaja: ‘bodo amat, I’ll get through it myself’. Itu sih susah loh serius.
Gue tau gue masih harus belajar untuk menjadi anak yang baik sebagaimana selama ini bokap gue juga masih belajar jadi ayah yang baik buat gue. Tapi dari bokap, gue belajar untuk memberikan waktu untuk mendengarkan orang lain karna bisa menjadi pendengar yang baik adalah pemberian yang tak ternilai harganya – yang belum tentu semua orang bisa kuasai dengan baik. Menurut gue, itulah hadiah terbaik yang bokap gue bisa turunkan buat gue sebagai Cinderella kecilnya. –red
“Always spend some time to listen to people. It is as indescribable gift not everyone is able to posses or to master”  -GOD

A Flashback


The Last Note In My 16th Years.
Gue lagi baca diary gue pas SD ketika sebuah statement berbentuk paragraf hits me. Gak tau kenapa, tiba-tiba gue kangen masa SD gue dimana gue ngga ngerti segala penderitaan jadi manusia yang udah dewasa dan otaknya berkembang. Sometimes I wish I was still back then enjoying all my childhood moments – tapi gue sadar bahwa kalo dulu gue ngga pengen cepet gede, gue ngga akan dianggap normal sama temen-temen gue. Trust me, every little girl used to dream untuk jadi cepet gede dan pakek high heels segala macem.
Isi diary gue pas SD ga pernah muluk-muluk kayak sekarang. Sekarang isi pararaf gue lebih penjang-panjang; walaupun masih ngga berbobot juga, sih. Ada cerita unik dibelakang buku diary pertama gue yang gue tulis pas kelas 3 SD dulu.
Gue itu dulu ngga berani ada orang yang tau kalo gue nulis diary. Malu aja gitu kayaknya kalo ketawan punya diary (HEHEHE). Makanya, kalo nulis diary pasti gue melakukannya setelah embak gue pergi ninggalin gue untuk tidur siang. Tau kan, anak SD jaman dulu masih disuruh tidur siang – bukan disuru les matematik kayak anak sekarang. Tiap kali gue udah denger pintu depan kekunci dan yakin embak gue udah ngga ada, gue langsung ngibrit ngambil buku diary gue yang gue sembunyikan entah dimana dan mulai menulis satu lembar kertasnya. Isinya ngga banyak, cuman “Hari ini aku sekolah, Terus aku pulang digonceng naik sepeda sama mbak Surti. Hari ini aku seneng banget. Terus aku latihan kibord. Terus aku tidur siang” As simple as that.
Satu hal yang I found interesting sekarang adalah: gue ngga pernah inget dimana gue nyimpen diary gue sewaktu gue SD dulu. SUMPAH. Wkwkwkwk.
Gue kangen gimana gue kayaknya bahagia banget disuruh latian piano doang (which is a pain now), ke sekolah dan pulang bisa tidur (which is sekarang gak bisa lagi), gimana kalo diajak bonyok ke mall itu adalah macem sebuah hiburan ke dufan (padahal gue dulu takut sama badutnya dan paling cuman bisa main komidi putar), gimana gue kalo mau nulis satu kalimat dan kalimat lainnya ngga nyambung itu ngga apa-apa, gimana grammar nazi itu normal untuk anak SD (sementara sekarang salah grammar aja jadi dikurangin nilai) dan terutama gimana dulu gue bisa bahagia atas segala hal kecil yang gue lakukan – termasuk ketika bonyok gue pulang dari kantor dan gue bisa tiduran diantara mereka berdua walaupun gue ngga ngerti mereka nonton apa ato ngomongin apa. I just felt secure about all that.
The funny thing is, ketika sekarang gue lagi flashback mengenai diary ini gue malah jadi mentok ke momen gue sadar when I exactly started my writing career and ending up dreaming big. I started my writing sejak kelas 3 SD dengan kalimat-kalimat unyu ala anak cewek SD, ngelola blog sendiri, sampe akhirnya kepengen punya buku fisik yang gue kasih judul BBEO di umur gue yang ke-17 tahun. Entah, it somehow doesn’t make sense (which is the exact same way of how our God works). It has been 9 years since then and it is TRUE if people say cara gue nulis ngga pernah berubah jauh sejak gue SD dulu: cerita tentang bego-begoannya gue dalam mengelola kehidupan.
Di malam terakhir gue 16 tahun, turning 17 tomorrow, I felt a bit sad bahwa umur 16 ini akan berakhir begitu aja tanpa meninggalkan jejak apapun. Yep, it doesn’t leave me anything but all of that labil writings of mine dan foto-foto diberbagai tempat yang ngga mungkin bisa terjadi kayak begitu lagi. IDK about anyone else that have turned 17 before me, but this feels forever ketika lu sadar bahwa besok lu udah harus ada memakai gaun itu dan diharapkan untuk bertingkah lebih dewasa seterusnya – bukan kayak bocah monyet gelantungan dilantai lagi.
            Oh well. LET’S LOOK AT THE BRIGHT SIDE. Mulai besok, Gloria akan dibikinin papi SIM. Mulai besok, Gloria akan menjadi setingkat lebih dewasa: bukan kayak monyet kena herpes. Mulai besok, Gloria akan ngerjain bentuk buku fisik yang Gloria udah idam-idamkan sejak SMP kelas 1. Mulai besok, langkah baru hidup Gloria untuk bikin komitmen sama Tuhan akan diperbaharui lagi. Dan mulai besok, gue akan lebih banyak berusaha dan siap dipermalukan. -red

“Kenapa ya, kita harus kehilangan semua kesederhanaan ketika kita masih kecil itu? All of those “full stops” in a sentence, huruf besar huruf kecil ngga penting, ngga peduli nyambung apa engga, alasan sederhana dari tulisan sederhana seorang anak kecil. Ngga harus ada alasan aja kenapa gue sayang papa mama gue, kenapa gue harus ke sekolah, kenapa gue harus tidur siang, kenapa gue suka dia, dan terlebih lagi: kenapa dunia harus sebulat ini. Terlebih, gue bersyukur karena gue sadar bahwa Tuhan udah bawa kebiasaan nulis gue dari kelas 3 SD itu.”
AND TO THE 17th YEARS OF LIFE, I’D SAY: COME AT ME BRO. I’M ON.

Jumat, 22 November 2013

Meilissa Ong



Namanya Meilissa Ong, cewek jangkung agak tomboy pindahan dari Jubilee Kelapa Gading. Gue ngga pernah nyangka bahwa gue akan bisa nemplok sedeket ini sama dia, tapi kenyataannya hari ini adalah gue termasuk salah satu orang yang paling bisa ngeledekin Mei dan adalah yang paling malu kalo ditanyain Meilissa dulu suka ngapain gue pas SMA kelas 1. Iya, dulu dia malu-maluin banget emang.
Biasanya sih dipanggil Mei. Tapi kalo buat gue, gue manggil dia SAHABAT. She’s one of those people that can be with you and still be by your side when you do something stupid and embarassing. Kalo orang lain mah seneng sedih bareng, kita berdua mah malu-maluin bareng dan kita masih mikir bahwa hal malu-maluin ini sehat. Emang gitu kok, otak kita berdua sungsel waktu kita lahir #eh.
What makes me feel inferior kalo jalan sama Meilissa cuman satu. EH WAIT. 2 deh. 1: dia tinggi banget untuk ukuran cewek. Jadi dia menimbulkan kesan gue pendek amat kalo lagi jalan bareng. 2: dia belom punya cowok juga. Jadi seandaikan Mei punya cowok nanti, mungkin gue akan ngiri sama Mei karena Mei itu kayak cowok buat gue. Semoga nanti gue ngga seposesif sekarang (HAHAHA).
Kalo ibarat aplikasi PATH®, moments yang udah gue share bareng Meilissa itu ngga terhitung banyaknya. Kita sering ngegila bareng (terutama dulu pas kelas 10), ngegalau bareng (baca: jones), merhatiin betis orang bareng (ya yang ini ngga penting gitu sih), suka orang bareng (bukan rebutan cowok bareng kok), sampe ke toilet bareng (YAIYALAH! #eh). Dan bukan cuman itu. Seberapapun memalukannya gue, Meilissa tetap memilih untuk bertahan malu dan tetap menjadi sahabat yang berdiri disamping gue. Malah lebih ironisnya, dia seringkali ikutan ngetawain gue juga #sial.
Kualitas yang paling gue sukain dari seorang Meilissa adalah fakta bahwa dia adalah seorang counselor yang baik. Kalo diantara temen sekelas, dia sih yang paling asik kalo diajak tuker pikiran dan dimintain pendapat serius karena dia udah setingkat lebih mature (dan lebih TUA) daripada gue dan yang lain. Terus Mei itu cinta Tuhannya ngga nahan. Makanya gue pernah bilang sama dia bahwa kalo seandainya dia itu cowok, mungkin dia udah gue pacarin dari dulu kali. Duuuhhh, I could always use a boyfie yang cinta Tuhannya segila dia dong. Kan pergaulan yang baik pasti membawa diri kita menjadi pribadi yang lebih baik juga, hehehe.
Yang paling gue kangenin dari seorang Meilissa kelas 10 dulu pasti sama dengan apa yang dia kangenin dari gue juga. In fact, we’ve talked about this far before I’ve got the wits to do this writing. Kita kangen deketnya kita dulu di kelas 10 semester 1. Yes we did. Gue sadar bahwa as time goes, kita makin cuman jadi sekedar “temen” walaupun kalo dikasih waktu me-time juga pasti obrolannya jadi ngolor ngidul kemana-mana ketek pantat rendang hatiku senang. Entah apakah seharusnya bagian ini ada dalam bab buku persahabatan yang baik, tapi yang jelas gue somewhat kangen environment dimana gue bisa ketawa gila sama Mei gara-gara hal yang lebih absurd daripada cuman sekedar haha-hihi biasa. I want to make some more memories last. UDAH AH. Gloria jadi galau ngebahas beginian. MOVE ON YA, MBLO.
Yet the best thing about entering and experiencing year 11 is this: gue sama Mei jadi ngga berduaan mulu kemana-mana kayak jomblo ngenes forever alone sampe monyet tumbuh jakun di pantat. Kita sekarang jadi very VERY social. Gaul sama temen-temen lain, ngga berorientasi sama betis orang lagi kalo mau menentukan dia cowok baik atau bukan, dan yang paling penting; ngga pernah diserempet gajah dengan bulu ketek berlebihan lagi. Ngeliat Meilissa senyum aja ibaratnya udah ngeliat malaikat surga menari India (oke itu berlebihan, sih). Tapi sekarang gara-gara akuntansi kayaknya temen gue ini otaknya mulai ada tanda-tanda ngga sehat. Dia jadi sering ketawa tanpa alasan yang jelas. MEH.
But oh well, kalo inilah kehidupan then inilah kehidupan. Kadang kita di genteng, kadang kita jadi tiang pancang (parabel yang sangat aneh sekali, Glor. Jenius). How ever and what ever Meilissa will be and have become is the proof that this kind of friendship between human beings DO EXIST.

“The friend who can be silent with us in a moment of despair or confusion, who can stay with us in an hour of grief and bereavement, who can tolerate not knowing... not healing, not curing... that is a friend who cares.” –Henri Nouwen

Jumat, 15 November 2013

HeartBreak

-->
Lucu ya, bagaimana orang yang paling kita harapin malah adalah orang yang paling nyakitin kita. Awalnya semua seperti begitu biasa namun waktu berkonspirasi lebih cepat diatas kita dan malah membiarkan bintang itu redup tiba-tiba. Dan walaupun kita udah tau mengenai hal semacam ini, seringkali kita masih menolak bahwa kenyataan itu benar-benar ada; bahwa pada suatu titik emang kita pasti tersakiti atau menyakiti orang lain. Kita masih berharap bahwa orang yang sekarang datang adalah orang yang lebih baik daripada sebelumnya, dan kita dengan tulus memberikannya kesempatan untuk memberikan perasaan lain pada hati yang sudah tak sempurna. Siklus seperti ini selalu terjadi – dan entah kenapa, selalu kita yang kena.
            Dia nangis. Dia bilang ini sakit banget. Bahkan lebih sakit daripada ditusuk dari belakang – ini lebih daripada sekedar cuman ditusuk. To be honest, gue belom pernah denger sahabat gue nangis gara-gara cowok yang bukan pacarnya sendiri. Yang gue tau, dia adalah sosok yang selalu lebih kuat daripada apa yang dia pikirkan. Tapi entah kenapa, malem ini dia begitu hancur dan sedih. Gue ngga kuat ngeliat perubahan drastis sahabat gue. Dia yang biasanya senyum dan ketawa malah jadi kayak kambing ilang gini kalo udah nangis.
Seseorang pernah bilang sama gue bahwa orang nangis itu sebenernya bukan karena dia sok kuat, tapi karena udah bertahan cukup lama. Awalnya gue ngga percaya sama kalimat barusan; tapi untuk detik ini, gue ngerasain esensinya.
            Hati gue juga lagi sakit sebenernya, dan bisa pas banget dengan pain sahabat gue. I’ve been hurt so many times because I expected too much when I know I shouldn’t. Susah emang jadi cewek, mau nutupin perasaan kayak gimanapun pasti akhirnya kejerat juga. Tapi gue rasa gue udah belajar banyak dari mantan-mantan gue untuk ngga toleransi sama keputusan yang udah gue buat. Mau dia ngemis kayak apapun pada akhirnya, lebih baik untuk mempertahankan apa yang lu percayakan pada diri lu sendiri untuk lakukan daripada labil dan goyang. Gue ga sebego ketika gue masih sama mantan gue. I’ve learnt since then.
            Gue ngomong sama sahabat gue bahwa gue udah pengen sensi sama orang ini dan ngata-ngatain dia sejadi-jadinya. Atau at least, gue kepengen potong lehernya biar ga usah ada cewe lain yang ngerasain sakitnya diginiin sama orang yang sama. Sakit banget. Tapi kemudian gue tanya sama diri gue sendiri: kalo gue melakukan semua hal yang gue sebutkan, lalu apa faedahnya gue sekolah di sekolah Kristen selama 4,5 tahun cuman buat ngata-ngatain orang yang ga bermaksud untuk nyakitin gue? Makanya walaupun rasanya kayak apapun hati gue, gue masih ngasih batasan perkataan dan cara penyampaian gue. Gue masih mikirin perasaan orang. Toh, pada kenyataannya gue masih cewek.
            There’s a burning flame inside of me to be honest. Sebagai cewek yang paling ga bisa nunjukkin emosi apapun selain seneng dan bete, gue ngerasa lucu bahwa gue akhirnya bisa “jahat” beneran sama orang di chat. I hoped that this is the only time I have to do this to someone. Walaupun gue tau hati gue sedih banget dan sejujurnya ga tega, tapi gue udah cukup tau labil dan ga punya pendirian itu bagai cewek ga tau value dia apa sebagai wanita. Prinsipnya begini: secepat apa lu tertarik sama orang kayak gini, secepat itu jugalah lu akan ngerasa engga nyaman. Despite gue emang orangnya bosenan, I would rather speak truth and jadi jauh gara-gara kejujuran daripada harus boong-boongan dan hancur lebih parah. I told you, I’ve learnt my lesson.
            Pertanyaannya kini muncul: kenapa sih dulu gue ngga pernah berani mutusin cowo? Kenapa mereka selalu berani? Kenapa sekarang gue berani? Gue masih ngga ngerti. Was it because gue nganggap yang ini sahabat? Wait. Apa itu dulu berarti mereja nganggap gue sahabat? Ngga, ngga mungkin. Suddenly everything just doesn’t make sense anymore.
            Iya yah, people won’t appreciate the things they have until they lost it. Dan emang bener, bahwa di dunia ini cuman ada 2 tipe cowo: kalo bukan homo ya dia bajingan – as simple as that.
            Dan as in bajingan includes Douchebag. The term “DOUCHEBAG” generally refers to a male with certain combination of obnoxious characteristics related to attitude, social ineptude, public behaviour or outward presentation. Though the common douchebag thinks he is accepted by the people around him, most of his peer dislike him. He has an inflated sense of self-worth, compounded by a lack of social grace and self-awareness. He behaves inappropiately in public, yet is completely ignorant to how pathetic he appears to others.
            And the thing I realized again adalah, bagaimana kehadiran sosok yang gue anggap spesial itu bisa merubah segala persepsi gue dan ajaran bonyok gue for 16 years. Makanya emak gue suka sewot kalo gue udah punya cowok, soalnya gue bakal ngga dengerin dia ngomong. Lagipula hati gue juga belom siap komitmen gini. Mending leha-leha dulu deh. HAHAHAHA. Masa sebulan doang bisa ngerubah gaya hidup lu selama ini sih? And that made no sense the most. -red
 “Don’t raise your intonation; raise the quality of your argument”
“Love is like sand in the hand. The more you keep it the more you lose it”

Why Not?


“Udah Glo, lu mah jadi penulis aja! Cocok banget!” | “Nah iya, penulis aja! kamu bagus nulisnya...” | “Lu kenapa ga jadi penulis aja Glo, kalo udah tau suka dan enjoy?” | “Udah deh Glo, lu nulis aja mendingan kalo udah gede nanti, gausah kerja yang lain!”
            Semua manusia di dunia jagad unyu ini berbeda. Ada sih beberapa kesamaan yang akhirnya menjadi daya tarik persahabatan, tapi sebagian besar terbentuk karena perbedaan. Eh tapi ngga jadi deh; gue cabut perkataan gue. Buat gue, mereka semua sama: sama-sama selalu nyuruh gue nulis kalo gue udah nyinggung hal semacem ginian didepan mereka.
            Waktu gue chat sama salah satu sahabat gue dan nyinggung hal ini, dia nanya ke gue “why not jadi penulis dan ambil resiko?”. Gue yang sejujurnya udah agak capek ditanyain begituan jawab aja seenak jidat gue “kenapa harus ‘why not’? kenapa ga not ‘why’?” Daann dia ngga ngerti pola pikir gue mengenai pertanyaan dia yang cuman gue balik itu.
            Gue udah sering sebenernya consider mengenai pekerjaan tulis-menulis ini segitu gue dewasa nanti – malah gue udah sempet memikirkan outcome kasarnya alias bikin buku. Namun dibalik semua consideration yang gue anggap “sudah matang” ini, gue merasa lebih takut akan resikonya kebanding usaha gue dalam berkecimpung di dunia seni tulis. Analogi menulis buat gue, adalah seperti sebuah rumah, rumah yang penuh memori...
            Rumah yang terletak diseberang gue sudah kosong untuk sekitar setahun – terdiam bersama waktu; tak berpenghuni. Sebelum hari itu dimana sang pemilik berkeputusan untuk pindah, rumah ini selalu terisi dengan kehidupan sebuah keluarga kecil yang bahagia. Tawa, canda, dan kehidupan seperti kebanyakan keluarga lainnya di negara ini. Entah sudah berapa lama mereka merencanakan perpindahan, gue sebagai pengamat hanya bisa menebak-nembak apa yang akan terjadi ketika sebuah mobil angkut datang ke rumah tersebut dan membawa pergi barang mereka entah kemana. Hingga suatu hari, rumah yang sudah siap ditinggalkan dibiarkan begitu saja dengan taman dan perabotan yang masih utuh; namun kini sudah siap ditinggalkan. Berarti tak akan pernah ada lagi canda dan tawa seperti dulu.
            Seiring berjalannya waktu, gue kembali menyadari sebuah perubahan: atap rumah seberang mulai dihancurkan oleh tukang-tukang. Entah untuk apa. Hari demi hari rumah yang dahulu dibangun dengan susah payah kini juga dihancurkan seiring dengan mengalirnya peluh anak manusia yang bekerja keras demi rejeki. Gue terdiam memandang dari kejauhan rumah gue, mengawang-awang akan apa yang terjadi setelah rumah ini seutuhnya rata dengan tanah. Akankan sebuah cerita keluarga baru dibangun diatas lembaran baru ini? Atau, apakah ada pemikiran lain sang pemilik tanah? Gue hanya bisa menebak-nebak tanpa kepastian.
            Menulis itu sama dengan rumah seberang ini; yang dibangun - diisi - ditinggalkan - dilupakan - dihancurkan - dan akhirnya dibangun kembali. Ada sebuah siklus yang sama ketika seseorang mengambil keputusan untuk mencintai sesuatu sampai akhirnya membuat sebuah komitmen dan membangun fondasi baru diatasnya. Setelah diisi dengan cerita, cenderung kita bosan dengan rutinitas kebiasaan kita ini lalu meninggalkannya begitu saja; melupakan komitmen yang pernah dibuat untuk senantiasa menjaga dan mengembangkan potensi kita. Setelah sekian lama, kita kemudian mengambil keputusan untuk menghancurkan segala sesuatu dan berharap dapat membangun sesuatu yang lebih baru dan lebih menyenangkan.
            Kita boleh dan sangat bisa mengganti kebiasaan dan komitmen lama itu dengan sesuatu yang baru, namun kita tidak kan pernah bisa melupakan apa yang telah menjadi kebiasaan lama kita seutuhnya. Mau sudah terbiasa apapun kita dengan kebiasaan baru, diatas tanah yang tak pernah berubah itu kita menyisakan bibit-bibit kebiasaan kita. Pasti ada suatu saat dimana kita kan secara tak sadar datang kembali ke ruang nostalgia rumah itu dan mengenang segala sesuatu yang pernah terjadi dalam kehidupan ini.
            Rumah dan segala kisah didalamnya, hidup yang sudah dianugrahkan sang Maha Kuasa, cinta yang senantiasa kita rasakan, tawa yang selalu menyertai, sebenarnya tak akan terhapus atau hilang dalam unsur fondasi komitmen yang pernah kita buat. Gue tidak akan meninggalkan menulis atau sedetikpun memikirkan untuk melupakannya; namun juka gue bisa tetap menjadikan kebiasaan ini terbangun berdampingan dengan sebuah taman yang luas untuk gue jelajahi potensi gue yang lain, lalu mengapa tidak?

Sabtu, 09 November 2013

W h a t H U R T S


Gimana rasanya kalo lu gak bisa manggil orangtua lu dengan sebutan “PAPA” dan “MAMA” lagi? Atau simpelnya, gimana deh perasaan lu ketika lu tau bahwa lu ngga pernah diinginkan dari awal? Gimana rasanya, kalo kasih sayang yang lu terima itu bukan kasih sayang yang orang lain dapetin, yang SEHARUSNYA lu dapetin juga? Gimana kalo faktanya adalah lu nggak akan pernah ngerasain kasih sayang itu selama-lamanya?
Air langit membasahi bumi pertiwi Indonesia sementara kelas IPS TBCS Gading Serpong termakan dalam kesunyian saat 16 orang lainnya tidak berada didalam kelas siang itu. Pelajaran musik yang hanya bergiliran latihan untuk ujian praktek menyisakan waktu yang cukup banyak untuk gue menyendiri; menulis  lagi. Indra pembau gue terbawa jauh kembali ke Australia, dimana hari itu hujan dan dingin; – namun gue ga pernah sempat bermain dengan airnya. Hujan mereka tak melimpah seperti kita dan baunya tak seperti bau rumah.
Sembari berdiri didepan toilet lantai 5 gue memandang jauh kedepan; mencoba melihat dan membayangkan Australia lagi. Adik gue ada disana; adik yang berbeda ibu tapi gue anggap sebagai adik gue sendiri. Bau hujan bercampur tanah basah memenuhi indra penciuman gue, membawa tetes-tetes air naik untuk diteteskan dari konjungtiva gue.
Gue selalu cerita sama orang mengenai adik gue ini – gimana dia ngga akan pernah bisa manggil papa dan mamanya yang sekarang dengan sebutan yang patut mereka sebut lagi. Gue selalu bilang sama orang untuk belajar bersyukur untuk orangtua mereka – karena gue belajar sendiri dari adik gue bahwa mereka udah ngga akan pernah bisa lagi merasakan apa yang kita rasakan. Walaupun mungkin keluarga kita sudah tidak lengkap, setidaknya kita pernah merasakan kasih sayang orangtua kita yang sebenarnya. Sementara mereka? Mungkin mereka tidak pernah mengetahui kenapa mereka bisa berakhir di rumah ini.
Gue ngga pernah kebayang gimana kalo itu adalah gue yang ada diposisi mereka –harus ngiri sama orang lain karena dapet kasih sayang yang utuh dari orangtua kandung mereka ditambah rasa pedih akibat harus memaksakan diri untuk melupakan orang-orang yang seharusnya ingin ada dihidup mereka. Segalaya semakin berat ketika mereka masih harus mengejar zaman dan melanjutkan sekolah.
Nama mereka adalah Trent, Tanesha, dan Jensae –tiga adik baru yang gue dapatkan di rumah sementara gue di Australia. Adik kesayangan gue adalah Jensae, bocah imut kelas 5 SD yang bersekolah di HCC, sekolah yang menjadi sekolah gue selama 2 minggu. Trent, Tanesha, dan Jensae datang dari keluarga yang sebenarnya sama. Fakta ini membuat gue mempertanyakan apa tujuan orangtua mereka mendapatkan mereka lalu menyia-nyiakannya begitu saja dikehidupan orang lain. Egois.
Jensae selalu terlihat tersenyum atau paling tidak mencoba terlihat bahagia didepan gue – dia selalu menjadi alasan gue untuk bertahan 2 minggu di Australia. Faktanya, kehidupan sehari-hari Jensae tak semenyengangkan senyumannya atau tawa candanya itu ketika ia berada disamping gue. Entah untuk keberapa kalinya dan seakan tak pernah bosan aku mendengar ibu tirinya memarahi dirinya atas hal sepele yang seharusnya bisa saja diperingatkan kepadanya – tak perlu sampai menarik urat. Setiap kali teriakan “JENSAAEEEE!” mulai terdengar dirumah, detik itu pula gue mulai mencoba tutup kuping -walau sebenarnya tak sanggup- supaya tak perlu merasa ingin ikut campur dan membela dirinya. Namun tetap saja, perasaan sedih dan ingin membela itu muncul.
Makanya, sejak 3 hari pertama kehadiran kita dirumah dan gue sudah mulai memberanikan diri untuk memeluk adik-adik dan kakak gue, gue selalu memastikan bahwa Jensae ada diurutan pertama pelukan gue. Kedua kakaknya yang sudah lebih besar gue yakin sudah mulai mengerti alasan mereka diperlakukan seperti ini. Namun untuk bocah umur 10 tahun, apa semua ini masuk akal?
Dihari-hari yang gue temukan diri gue ada dirumah, gue selalu memeluk Jensae minimal 2x sehari: sekali setelah makan pagi, sekali sepulang sekolah. Gue selalu ingin melihat dia tersenyum; at least agar dia mengetahui bahwa ada yang sayang sama dia. Dan ketika gue lagi ngga bisa ada dirumah sama dia, it just kills me inside on how much I want to be with him and hug him. I know I can do nothing and that just felt horrible.
Seminggu pasca kepulangan gue dari Australia, gue ngga pernah lepas kangen meluk Jensae. Gue selalu galau dan pengen nangis ketika namanya dan posturnya terlintas dipusat pengontrol tubuh gue. Walaupun dia sudah kelas 5 SD, terselip keinginan gue untuk dia selalu tetap pada ukuran itu – tidak ingin dia menjadi dewasa. Jensae yang lucu, manis, friendly, gentle, dan selalu mudah diajak selfie menjadi alasan kenapa gue menginginkan semuanya yang gue sebutkan. Dia terlalu menyenangkan untuk bertumbuh dewasa dan menjalani hidupnya sendiri.
“galauu woy, in no time kita bakal ada di posisi dia lagi kan -_-“
“Iyaaa, sekarang gue baru berasa cepet banget waktu itu...”
“bangetbangetbanget glo. Gue ngga nyangka makin cepet aja weh. Bentar lagi udah mau semester 2 gaakan berasa kita udah graduation. Sad to ear that tapi trust me, it’s true. Sedihnya lagi, THERE’S NOTHING TO DO TO SLOW IT DOWN”
            Gue mungkin ngga pernah janjiin Jensae untuk menjadi pribadi yang kuat untuk dia secara langsung, tapi ketika temen gue ngomong ini, gue semakin sadar gue ngga akan pernah memiliki waktu lagi untuk melihat Jensae yang sekarang, yang masih kelas 5 SD. Dan mungkin, waktu sudah melompat terlalu jauh ketika gue bertemu lagi dengannya suatu hari nanti. Dan hari ini, gue melanggar janji gue sendiri dengan menangis terisak karena penyesalan... -red
“Becasue having a family that choose to not care hurts.” –GloriaErnita

Friendship

-->
Above all things that I could’ve written about tonight, entah kenapa I chose this topic to write on. Seriously, gue aja nggak tau kenapa because it just clicks and happens like that.
So, pertama-tama, what is “Friendship”? Kalo menurut wikipedia sih ini:

“Friendship is a relationship of mutual affection between two or more people. Friendship is a stronger form of interpersonal bond than an association. A World Happiness Database study found that people with close friendships are happier.
Although there are many forms of friendship, some of which may vary from place to place, certain characteristics are present in many types of friendship. Such characteristics include affection, sympathy, empathy, honesty, alturism, mutual understanding and compassion, enjoyment of each other’s company, trust, and the ability to be oneself, express one’s feelings, and make mistakes without fear of judgement from the friend.
While there is no practical limit on what types of people can form a friendship, friends tend to share common backgrounds, occupations or interests, and have similar demographics.”

Tapi karena wikipedia sendiri adalah buatan manusia dimana banyak orang menuangkan idealisme persahabatan mereka masing-masing, orang-orang disekeliling gue juga boleh dong punya perspektif mereka sendiri mengenai persahabatan?
Salah satu temen gue yang gue kebetulan tanyain bilang bahwa persahabatan berarti bisa menjadi diri kita sendiri – nunjukkin seberapa ‘gila’nya kita, rasa sayang kita, peduli, dan masih banyak lagi. Rings a bell? Exactly. Dia juga bilang, bahwa kita bisa jadi tempat curhat mereka dan bantuin mereka kalo ada masalah. Masalahnya, apa kita bisa ngelakuin semua itu tanpa pamrih?
Temen gue yang idealis beneran malah ngejawab bahwa persahabatan yang baik adalah persahabatan yang ketika kita ngebutuhin seseorang dan dia ada buat kita dan kita ada buat dia dan orang itu bawa kita ke arah yang lebih positif (TUH KAN, IDEAL BANGET!)
And then suddenly, everything hits me again: semua orang memimpikan sebuah persahabatan yang ideal, betul? Gue rasa ide “persahabatan” itu sendiri udah bukan cuman sebuah stereotyping lagi –malah memburuk- menjadi sesuatu yang semua orang coba raih dalam kehidupan duniawi mereka. Everybody (and that includes me) is trying so hard to make up what their perfect friendship would be until they did not realize that the relation-friend-ship that they are having now MAY BE the best friendship they could’ve ask for in their entire life.
Pertanyaan gue adalah: gimana jadinya kalo semua orang udah terlalu sibuk membayangkan persahabatan yang sempurnanya masing-masing sampe ngga ada lagi yang perduli untuk mengambil langkah pertama dan mewujudkan cita-cita tersebut?

Friendship itu adalah sesuatu yang emang gila. Dan emang bener – kita bisa beneran gila tanpa kehadiran orang lain disisi kita. Dari semua manusia jomblo yang ngaku hina, orang tanpa sahabat adalah orang yang lebih hina daripada jomblo. Hinanya itu macem jomblo akut ngenes kuadrat pangkat -10 dikali 10.000 malem minggu sendirian (oke sebenernya gue ngga tau lagi ngomongin apa terus kenapa tiba-tiba muncul istilah matematika yang menyesatkan seperti ini. YAUDAH MOVEON AJA KENAPA SIH). Artinya mereka beneran bisa mati gara-gara ngga punya temen. Silahkan coba sendiri kalo berani. Ga ada yang bisa gantiin sahabat, ga akan pernah ada.
Kalo gue disuruh milih mati muda ato mati ga punya temen, gue akan lebih milih mati ngga punya temen. Haha, lucu ya? Tapi maksud gue gini: kalo gue mati muda tapi punya temen-temen yang ga
But now, after all those things, if you ask me what friendship means,  I would rather say in my own words, that it is the arrival of a new life journey – because different people leave different life journey for us to take and learn. However they are or whoever they shall be depends on how you live the moment and keep it rolling on.
If they ask me about what would I do without friendship, I’d say I’d die of being forever alone. Because no friendship means no sharing whatever you love with the world. -red
           

"Each friend represents a world in us, a world possibly not born until they arrive, and it is only by this meeting that a new world is born." –Anais Nin