Sabtu, 31 Januari 2015

About Love



I fell in love a few times already in life, falling into cheesy teenage relationships twice that never even lasted for as long as life itself does.
As I grow older, I learned it the harsh way that love is not as easy to find as I thought it would be when I was younger.
I found that gentility caught my eyes more than what matters outside.
I found that inside beauty is prettier than anything else.
Et cetera, et cetera.
So much for finding the right guy, eh?

And for this time that I am falling again for a guy, I thought:
Is it safe to say that I’m really in love with someone? That I am loving every ounce of his presence and absence?
Love made everyone seem to appear stronger for each other, but why do I feel weak?
They say my love will choose me in time, but how am I chosen when I’m all tangled in strings?

Love is a many-splendored thing;
And never is Shakespeare more wrong that having Cassius note:
The fault, dear Brutus/
/is not in the stars; but in ourselves.

Though, I have always been in love with you. I can never tell you why; because my heart just did. I’ve always waited for you to come through that door every class ever possible – just ever to see you smile and laugh. I told you, I have fallen for you and I can never climb back. Once I’ve fallen, I’m never gonna recover. –red

Jumat, 30 Januari 2015

The So Called Writer



“I know I’m screwed when I am locked in a room filled with empty papers, books, and writing utensils but I don’t have anything in mind to put down” –Gloria Ernita
Penulis – itulah kata yang selalu mereka semua asosiasikan untuk gue. Karna gue jago nulis; karna gue cepet banget merangkai beberapa paragraf ketika mereka hanya dapat membuat beberapa kalimat dalam waktu yang sama; karna gue penuh dengan ide-ide yang bisa dengan mudah gue tuangkan dalam rangkaian kata-kata.
Ngga salah kalo kalian juga mau mengasosiasikan diri gue dengan hal itu kalo emang itu adalah apa yang kalian lihat berdasarkan blog gue ini – entah apakah lu dan gue kenal deket ato kalian lagi sekedar iseng baca-baca blog gue aja. Dan ngga salah juga kalo kalian bilang ini adalah sekedar hobi yang seseorang jalanin. Semuanya bisa bener.
Over the years I have decided to accept what strength I have as much as dealing with what weaknesses I need to fix. Dan gue punya teori yang berbunyi begini (ini beneran): salah satu kekuatan, jika digabungkan dengan sebuah kelemahan mematikan, adalah kombinasi yang sangat SANGAT (seriusan sangat) menyakitkan. Suer.
Kekuatan absolut gue, seperti yang barusan gue sebutin adalah menulis. Dan kombinasi maut yang mendampinginya adalah ngeles (mencari-cari alasan untuk tidak melakukan sesuatu). Untuk seorang penulis kece badai halilintar menyambar-nyambar macem gue yang ide menulis udah bukan lagi sebuah kebutuhan utama, yang kemudian harus ada sesuatu yang lain untuk menggantikan kebutuhan utama itu. DAN DISITULAH KESULITAN FATAL GUE SELALU DIMULAI, OH SAUDARA-SAUDARA. Kebutuhan utama yang baru adalah “mencari waktu yang tepat”. Mencari waktu yang tepat ini adalah kelemahan karna cuman bakal ada 2 kemungkinan: 1) gue tunda nulis dengan ngeles bahwa nulis juga sama kayak belajar – bisa nanti lagi – jadi gue sekarang boleh leha-leha dulu ato 2) gue harus belajar dulu baru  boleh nulis. Dua-duanya menghasilkan hal yang sama pada akhirnya: gue ngga nulis.
Selain itu, dalam menulis gue sering menemukan kendala lain yang gue percaya temen-temen semua juga sering rasain sebagai remaja disuruh nulis essay gajelas adalah 1 kata 6 huruf: MENTOK. Iya, mentok alias ngga ada ide alias ngga tau mau nulis apa alias desperate nyari ide dari orang lain padahal sebenernya semua hal yang menarik itu ada pada diri lo sendiri. Permasalahan gue dalam kata “mentok” ini selalu berawal dan berakhir ketika gue mengambil keputusan untuk nulis setidaknya 1 kalimat pada sebuah kertas. Jelas, gue harus ngelawan alesan “mencari waktu yang tepat” gue ini DAN mengentas kebuntuan gue atas topik yang harus gue bawakan. Setelah kalimat yang pertama, semua isi essay gue akan seperti yang pernah gue bilang didepan anak-anak di kelas: “cuman langkah pertamanya doang yang susah. Sisanya abis itu ngalir”.
Mujizat? Not necessarily.
Sama kayak hal-hal yang gue liat orang lain jago banget lakuin tapi gue engga, gue sering ngiri sama mereka. Tapi kemudian kesadaran yang sama selalu datang: usaha yang mereka keluarkan untuk bisa jadi se-jago itu sama banyaknya dengan usaha yang gue keluarkan untuk menulis.
Kenapa temen gue Karen bisa jago banget ballet? Selain karena dia latihan, latihan, dan latihan, dia menemukan kebahagiaan dalam apa yang dia lakukan – walaupun mungkin dia tidak menyadarinya; walaupun ketika latihan sakitnya masih sama seperti ketika awal-awal berlatih.
Kenapa temen gue Cindy bisa jago banget piano? Karna dia latihan, latihan, dan latihan – membangun sebuah kebiasaan berulang sejak usia dini. Dan walaupun dia bilang dia masih ¾ membenci apa yang dia lakukan diatas piano, gue percaya dia seneng bisa menghasilkan sesuatu dari tarian jari-jemarinya.
Dan kenapa gue bisa segampang ini dalam menulis? Karna gue latihan, latihan, dan latihan. Dan gue tau, kesenangan gue dalam menulis ngga akan bisa gue relain mati hanya karena sebuah alasan atau dua – sama seperti kebahagiaan gue ketika ada sama mereka. –red

Sabtu, 24 Januari 2015

This Is It


This is it.
The time has finally come.
This is the last camp in our high school ever.
And yes, this is the thing I hate about things that have started: It will soon end no matter how hard we tried to slow things down because honestly, time will never stop.
And no, we never did grow up.
At one point, I’m excited to end all this pressure I’ve felt in the last few weeks in advance of UN, but I’m not gonna lie that I’m also really not into the whole idea of ending it either. High school had been by far the greatest memory aside of the fact that I still lack things in so many ways.
Still, today I’m having a hard time battling myself. Fuck camp for making my brain so heavy-loaded with work that whatever I try to push myself doing today didn’t work.
So. Camp.
Us Indonesians knew that we are to face a national exams in junior high and senior high; 3 years of study before each stage. And to that, “the national exams” camp is to prepare us for the upcoming national exams. But learning from the previous camp years back, bringing books didn’t help as much because we were mere teenagers with such awesome procrastinating skills. And you can guess exactly what happened.
In those 3 days of camp, I suffice myself with nonstop 72 hours of 12IPS – the longest time I’ve spent around those people who had been my classmates ever since sophomore. Even though the overly introverted part of me tells that I’m too tired for more interactions, this camp was the best one so far in the last 3 years of life. I enjoyed this 3 days at most if I were to tell you the truth.
We had an hour of our teacher’s explanations, and then couple hours to put what we heard to test. It’s a process we undergo in 3 days with 6 tests. Besides that, we slept at dawn and had too much food stuffed into us during the day. What more can we ask for, though?
In these 3 days of camp was the time I also find my reignited love for this one old friend of mine since junior high. I mean, I always find myself naturally stealing a look for him in the everyday school life, but this is different. I can almost see him anytime I want in after tryouts. It’s somehow like I mentally took a personal charge to make sure he’s okay even though I can’t always ask him directly to show my obvious attentions. I note it in my head as “the last 72 whole hours to spend with him”. Over and over it goes as I realized the 2 reasons I did it for: 1) this is the last camp before the 3 months I’ll ever find myself stuck with the presence of him will end. For that reason, I don’t want to lose the last slightest sight of him and 2) he’s always been my mental boyfriend no matter what circumstances we went under. Nothing should’ve made me want to retreat.
But this is it.
The last few months of struggle will be finished.
Finally, high school will be out of the way.
To those people who had been our most supportive supports, thank you.
To our parents for the unending love and tortures to study, our deepest thanks are offered to you.
To our frienemies who has been working with us all these years, thank you to you too for helping us shape the best versions of us we have today. Without you, high school wouldn’t taste as sweet.
And to our teachers/mentors, the greatest thanks are for you. For the passion, the patience (esp if we’re specifically talking about the super talkative 12IPS), the support, and the love. We wouldn’t be able to give back what you have given unless we succeed in the future.
I wouldn’t want to say goodbye. But the closest I could get to not saying that, is to see you soon because this time is it – it wouldn’t turn. –red

Jumat, 23 Januari 2015

“In Other People’s Eyes”



It’s always wrong…
What I wear, how I wear it.
How I look, what I look at,
How I see things, or what I see.

It’s always wrong…
How I laugh, what I laugh at,
How I feel, how I’m feeling towards something.
How I live, or what I’m living for,

It’s always wrong…
How I cry, what I’m crying about.
How I believe, what I believe in.
What I say or how I say it.

Who I love, when I love, and how I love,
It’s always wrong.

Misty L. Unger


(PS. I quoted this poem for this week’s note because I find this poem really deep as what we young adults are going through in our teenage years. Moral of the poem is for us to not always think of what people think about us for it will make us die inside. Instead, remember and believe in how charming you are and that you are the reason for someone’s smile. Don’t waste it.)

Minggu, 18 Januari 2015

VERSACHE (NG): THE VICTOR’S SECRET



Selamat Malam, pembaca-pembaca saya yang setia dan unyu-unyu labil semuanya dimanapun anda tertawa sambil makan ubi bakar!
Kali ini izinkan saya bukan untuk menjelaskan mengenai hasil studi bodoh saya lainnya selama monyet belom tumbuh bulu dipantat mereka namun untuk memperkenalkan kisah sukses produk limited edition keluaran PT. Nation Swaggers yang saya sangat banggakan diantara kaum hawa dan wanita setengah pria yakni VERSACHE(NG): The Victor’s Secret!
Omong-omong, mari saya perkenalkan sedikit mengenai produk yang akan saya tawarkan kepada anda sebelum saya memulai kisah yang mengharukan ini.
Disini kami menjual tas selempang yang datang hanya dalam satu warna dan ukuran, yakni ukuran L dan berwarna biru dongker. Tapi eits, jangan anda pikir jualan kami ini tidak kreatif! Justru itulah kekhasan kami bahwa kami hanya menjual tas ini dalam satu ukuran dan satu warna tersebut untuk memberikan anda kemudahan agar anda tidak perlu galau-galau dalam memilih warna maupun ukuran lagi sehingga harus terjun payung dari kereta-keretaan Timezone!
Lagipula tas ini memberikan kamuflase yang sangat tepat jika anda ingin bepergian dan membawa benda-benda yang kecil dan banyak maupun besar dan berat: tas ini akan sangat bermanfaat serta memberikan kehangatan kepada tubuh karna terbuat dari bahan dasar baju yang kita pakai. Lagi, tas ini dijamin sangat tahan banting dan tahan sobek ketika anda membawa benda berat. Tas unik ini juga dapat dilipat menjadi ukuran kecil yang menggemaskan jika sedang tidak digunakan.
Selain tas, kami juga menjual bra waria. Hanya satu ukuran untuk semua ukuran pria setengah wanita dan wanita-wanita sinting! Jangan takut, produk kami ini halal karna dibuat dengan sepenuh cinta oleh penjahit kelas bawah negri kimchi bibimbap getung samsung oppa gangnam style. Iya, penjahitnya adalah penjahit yang sangat, SANGAT, handal. Dibuat khusus supaya waria kurus, sedang, buncit, berotot, generik, dan bahkan Pretty Asmara bisa muat!
Semua produk-produk yang kami tawarkan ini sudah terpercaya dan diakui baik dalam segi kualitas melalui testimoni pembeli-pembeli kami yang puas didunia instagram. Jangan salah juga saudara-saudara, produk kami ini bahkan sudah kami endorse di OLY untuk memudahkan transaksi! Keren bingits, bukan?
Maka dari itu, mari kita mulai kisahnya.
Alkisah disebuah hutan sinting kelas 12 Swaggers terdapatlah setiap anak diberikan vest dari pihak yang berwenang. Vest tersebut adalah vest yang coak dibagian dada sehingga kalo ngga pake daleman bulu dada kita bisa kelihatan semuanya. Namun karena kelebihan bahan, maka pihak berwenang memutuskan untuk membuat tas selempang dengan kualitas yang sangat buruk.
Ketika dilihat oleh 12 Swaggers, maka mereka memiliki ide yang cetar membahana Syahrini punya bulu dada bahwa mereka akan memperbaiki mutu tas selempang tersebut. Dan setelah maju mundur sekian ratus tahun gagal cantik, terciptalah tas VERSAHE(NG), The Victor’s Secret. Walaupun barang-barang yang dimodifikasi tersebut sempat disita karena belum mendapat izin ‘Halal’, para pendiri dan penjahit tidak menyerah sampai mereka mendapatkan izin tersebut.
Akhirnya, setelah memperbaiki beberapa puluh bungkus tas yang diendorse diakun instagram para komisaris yang berhasil 100%, 12 Swaggers memutuskan untuk menciptakan PT. Nation Swaggers dengan motto “Me-reuse barang tidak berguna” dan memperluas rambahan usaha mereka kepada produk-produk lainnya.
Demikianlah kisah sukses seluk-buluk PT. Nation Swaggers dalam membuat dan mengembangkan usahanya. Saya percaya malam hari ini ada minimal satu dari banyak pembaca saya yang terinspirasi untuk mengikuti jejak membanggakan PT. Nation Swaggers. Jangan lupa dibeli tas dan BeHa-nya ya MbakSist trus diendorse lagi ke temen-temennya diinstagram dengan hestek #sukit (Susah Dikit).
Dengan demikian, saya Doraemon pamit undur diri. Mohon maaf bila ada salah kata atau kata yang emang kurang tepat dari awalnya. Selamat malam dan sampai bertemu di lain kesempatan. CIAO! –red

DISCLAIMER: Ini kejadian sebenernya beneran ada. Tapi demi keselamatan gue beserta teman-teman gue yang sebenernya ngga perlu dilindungi (BERCANDA), gue bikin lah kisah ini dalam bentuk kreatif lain. Tolong jangan dibawa kemana-mana hatimu senang (ini menyangkut hajat hidup banyak manusia yang 3 bulan lagi mau UN soalnya); apalagi kalo sampe diblepotin kemana-mana. Udah cukup kotor nih kelas gue. OKESIP MAKASIH YA GUYS SEKIAN AJA DISCLAIMERNYA.

Jumat, 16 Januari 2015

Sekali Kesempatan

-->
Gue rasa dunia ini emang penuh dengan “sekali coba trus kalo gagal tinggal nanggung malunya”. Bukan ‘gue rasa’ lagi sih seharusnya kalo faktanya bilang bahwa apapun dalam hidup ini hanya memiliki satu kali kesempatan dan kalo gagal ya, yaudah aja: There goes your dream flying in the wind – further away from you.
And then that’s when it hits me:
Udah lama gue lupa apa rasanya kalo gagal harus nanggung malunya sankingan selama hampir 6 tahun belakangan ini gue hidup dengan “kesempatan kedua”. Gue udah terlalu nyaman sama zona yang ini sampe gue sendiri lupa bahwa bener juga kalo kita bilang “you only live once; so live it wisely”. SUMPAH, gue ngga pernah lebih pelupa dapripada ini.
Jujur sih gue takut menghadapi dunia diluar SMA gue ini –entah siapa yang engga juga ya Glor ya– dengan segala kejahatan, penipuan, dan kegelapan apapun yang dikandungnya. Satu sisi karna gue tau ada berjuta-juta kemungkinan untuk gue gagal bertahan dan sisi lain dimana kalo gue bagus gue bakal bisa nembus awan pasar masyarakat entah apa teori yang mendasari tingkat-tingkat itu. Toh, ada orang yang udah bekerja dan berusaha sebaik mungkin masih gagal juga – sama kayak hubungan gue sama ekonomi: selalu dibawah 70 #HIKS.
Mungkin, kata “malu” itu lebih cocok disebut dengan kata “rasa putus asa”.
Maksud gue gini. Kalo misalnya lu mau masuk UI as if it was your only chance dan lu beneran ga apply universitas lain dan lu berusaha mati-matian alias kerja keras setengah mampus tapi eh lu ga berhasil masuk? Apa ngga mau gila rasanya? (Ini kasus ekstrim ngomong-ngomong)
Dan maksud gue iya kan, lu masuk UI cuman dengan SATU KALI kesempatan. Kalo lu mau coba lagi sih bisa, tapi ada konsekuensi lagi. Lu malu iya, berasa desperate banget iya (terutama kalo lu tergolong bocah ingusan yang jenius banget di kelas), musti ngurus macem-macem lagi, dan jangan kasih tau gue lu ngga males belajarnya lagi.
Sekali lagi perlu gue katakan baik buat lu dan buat diri gue sendiri bahwa: a) sekali kesempatan berlaku dalam begitu banyak hal lainnya dalam kehidupan lu dan gue (macem diskon akhir taun yang dateng cuman setaun sekali aja gitu ya kedengerannya. HAHAHA udah cukup Glo) dan b) kalo kita ngga pinter manfaatin kesempatannya maka kesempatan itu bakal ilang. Ambil lah lagi beberapa contoh gue berikut ini.
Ketika kita semua sebenernya ngga layak dapet pengampunan tapi ternyata kita hidup hari demi hari dari pengampunan yang unconditional itu sendiri? Iya, itu adalah sekali kesempatan untuk ambil keputusan yang bener.
Ketika seorang cowok ngambil keputusan untuk nembak seorang cewek yang udah lama digebet? Iya, itu semacem do or die buat kaum cowok ganteng tapi jomblo (ini macem pilihan mati jomblo ato pacaran sama cewek jelek sekalian ya. HAHAHA).
Atau, inget ketika lu pertama kali ketemu sama atasan lu dan berusaha untuk membangun image yang baik supaya keterima di sebuah perusahaan yang elu ngelamar? EXACTLY. You have the idea right there.
Gue juga setuju banget kalo dibilangin bahwa kita ini udah terlalu sering dicekokin slogan “YOLO” and now look at what they brought us: we loose the real essence of the phrase without even understanding it in the first place (wah eek juga ya. Siapa sih yang bikin frasa ini dari awal).
Balik lagi ke soal “sekali coba trus kalo gagal nanggung malunya” thing.
‘Sekali kesempatan’; it’s the short term for the whole sentence.
Sama kayak satu kesempatan yang ingin gue berikan buat cowok yang gue percaya have what it takes buat jadi ‘the husband of your covenant’ #cieileh; atau kayak satu kesempatan untuk ngerjain soal-soal UN dan sisanya bergantung pada sebuah mesin yang bakal ngasih tau gue apakah gue layak lulus dari SMA gue ato engga, gue ingin memberikan semua yang terbaik bisa gue berikan. Apalagi buat calon cowok gue entar. HAHAHA. It damn gives every right for me to do my best deh kalo udah ngomongin buat “the one” nantinya #IHIKIHIK.
Lu harus melewati perasaan ini sendiri baru bakal ngerti esensi omongan gue deh, beneran. Tapi apa semua orang dapet kesempatan kayak begini, gue juga ngga tau karna kalo kita mau ngomong jujur, si yang namanya penyesalan ini selalu datang terlambat; terlambat macem Minkyu, Siti, ato Loli dateng telat ke sekolah: udah langganan.
Lagian udah tau resikonya apa malah sengaja gagal-gagalin. Salah siapa coba kalo udah begitu? –red

Sabtu, 10 Januari 2015

20 Facts About Me


EAK 20 FACTS ABOUT ME. HAHAHAHA. Tapi suer, the first post this week didn’t get me as satisfied as what were in the past.
Therefore, we are gonna play crazy today. I did this challenge about 2 years ago actually trus challenge ini baru booming aja di instagram taun lalu on which I managed to not do because nobody tagged me anynway (kok agak sedih gitu ya. Ah tapi biarin ah. Udah terlanjur jomblo juga kan #ahay). So here it is: The 20 Facts About Me challenge!
Yang bikin challenge ini beda dari sebelom-sebelomnya adalah karena gue bikin ini di blog which is actually against all odds as much as sebenernya trend ini udah lewat juga. But for the new years, Imma start fresh with you guys (yang udah baca dari jaman jebot maupun yang barusan aja buka blog gue yang kece ini).
Cukup aja ya basa basinya guys. Here’s the updated version of 20 facts about me.
1.      Not the idle dreamer type
2.      I am so called the “quiet extrovert” padahal gue introvert sejati (baca personality type gue di http://www.16personalities.com/infj-personality kalo kalian penasaran)
3.      Banyak hal dari diri gue yang gue sadari adalah dari bokap gue – which includes betis indah yang sangat gue cintai ini #IniSerius
4.      Gue dulu kepengen jadi dokter trus guru trus psikolog trus taun depan gue malahan ngambil komunikasi. Iya, gue juga bingung sama cita-cita gue sendiri. Ngga yambung banget gitu.
5.      I have a weird fetish for balance of things; idealnya gue adalah bahwa gue percaya ada beberapa hal – or most of everything is, I guess – bakalan kena karma kalo bandel. I stick with routines gue juga. Rada susah berubah kalo routine gue udah gue anggap “balance”. Mulai bingung? Sama.
6.      I am a huge fan of Pentatonix since 2012 dan baru-baru ini, NigaHiga
7.      Ice cream lives in my blood. It helped me unwind from my stress
8.      I am a writer. Gue bakal selalu update blog ini kok
9.      Shailene Woodley is my female artist crush while Ansel Elgort on the male side. Gila. Untung Ansel bukan ganteng-ganteng srikaya
10.  Charlie and The Chocolate Factory was the first movie I fell in love with. Itu film udah lama banget deh tapi keren maksimal. Disney channel’s The Game Plan is up for my second. Gue nonton itu berkali-kali on DVD. The third love of my life is The Fault In Our Stars. Itu adalah the perfect-realistic love story I adore. Ngga muluk-muluk coy
11.  Kalo ngomongin olahraga, bernafas adalah olahraga yang gue paling bisa. Selain karna gue bertahan hidup dengan bernafas, gue juga jadi ngga ngerasa jomblo-jomblo amat karna gue tau pohon-pohon itu membutuhkan gue. Ngga deng, gue berenang + sepedaan juga occasionally
12.  I have no fashion sense. I repeat: I have no fashion sense
13.  I am right handed. Ga tau kenapa ini jadi penting banget
14.  The most random thought I’ve ever had adalah bahwa gue ini sebenarnya adalah seorang sperma dewasa. Beneran, random banget
15.  Gue pengen banget ke Oia Islands di Mediterranean Sea yang deket Greece itu. Gila keren banget viewnya suer ga pake iler
16.  I stayed quiet when my head is loud. That is when you know I am on top of my butthurt days
17.  Hamartia (n) is my new #WordOfTheDay. Artinya ‘fatal flaw’
18.  Barney, Tom & Jerry, and riding bikes were my earliest childhood memories
19.  The first thing I ever lost was my locker key on the first tri-month into freshman year. Gila, hari gue harus ngomong ke wali kelas gue soal kunci yang ilang itu gue takut banget – takut wali kelas gue marah. Eh, engga deng. Sebenernya lebih kearah gue tau gue ngecewain dia sebagai mentor.
20.  Otak gue lebih cina daripada muka gue. Gue bahagia.
Ini nih bagian yang paling gue bete. Abis begini-beginian pasti gue bingung deh mau nutup post gue gimana. Bukan gimana sih, pasti jadinya garing loh. Eh, kok faktanya jadi ada 21 ya. HEM. #TuhKanGaring –red