Reminiscing of what
it was, 2 years ago
Apa sih Cinta Segi Ketek? Memang ada yang namanya cinta segi ketek? Kalau ada,
apakah cinta segi ketek itu nyata? Apa bukti keberadaannya di dunia ini?
Namaku Selin, tapi teman-temanku yang
jomblo lebih mengenalku sebagai Joselin Mariska, SJJ. Istilah SJJ adalah
istilah baru saat seseorang lulus S4 dari jurusan Jomblo, sehingga SJJ adalah
singkatan dari Sarjana Jomblo (iya, menyedihkan sekali memang). Ini adalah
Cinta Segi Ketek, sebuah anomali baru dibawah naungan teori besar cinta
segitiga. Semua ini berawal dari obrolan penuh pasrah antara diriku dengan
sahabat jombloku Vicky Adelin mengenai cinta segitiga.Vicky sendiri juga sudah
memiliki gelar jomblo, tetapi jomblo tingkat akut alias Vicky Adelin, MeMar.
MeMar adalah singkatan dari orang-orang yang berhasil lulus dari jurusan
Magister perMartabakan. Karena Vicky terlalu jomblo, maka martbak menjadi
pacarnya. Sore tiga tahun lalu itu didepan twitter,
aku dan Vicky sedang membicarakan tentang sesuatu dan menyinggung soal gebetan
dan ketek.
“Emang ada ya cinta segi ketek, Sel?”
tanya Vicky dengan antusias.
“Ya ada, orang barusan gue sebutin
kok.” Jawabku PeDe.
“Kalo misalnya cinta segi ketek itu
beneran ada, kita-kira dia kayak apa ya?”
“Hah? Dia apaan? Ketek? Kan keteknya
benda mati.”
“Ya, siapa tau ketek itu sebenernya
bukan cuman benda mati yang berfungsi ketika kita hidup doang. Gimana kalo
ketek itu sebenernya seseorang, yang kalo kehadirannya nyata didekat kita akan
sangat membuat kita menjadi diri kita apa adanya....”
Ketek; sebuah elemen tubuh yang tidak
pernah asing bagi manusia karena semua manusia pernah –atau setidaknya masih
memiliki ketek serta sari-sarinya. Aku sendiri tidak pernah mengerti esensi
ketek sejak hari dimana aku mengambil keputusan untuk duduk dibangku kelas
ketek-mengketek. Tetapi entah mengapa, hanya ada satu pertanyaan yang selalu
melekat dipikiran ini mengenai cinta segi ketek: ada cerita apa yang tidak pernah
kita ketahui tentang ketek. Kalimat Vicky masih menempel di keningku bahwa
“ketek” mungkin saja bukan hanya sebuah benda mati. Ia bisa saja seorang
manusia yang ternyata keberadaannya sangat dekat denganku.
Saat akhirnya aku sedang jalan keesokan
harinya di sebuah pusat perbelanjaan bersama ibuku, tiba-tiba kita bertemu
begitu saja. Dia, dia yang ternyata adalah anak teman ibuku. Entah apakah
takdir memang nyata, tetapi begitu pertama kali kita bertemu aku sudah tahu
bahwa ada sesuatu yang berbeda dengannya. Tak berapa lama setelah kedua ibu
kami berbincang, ia mengulurkan tangannya untuk berkenelan. Aku gugup, tapi
cukup untuk tidak membuat malu diriku sendiri. Jika cinta begitu kuat, kemudian
pertanyaanku adalah apa hubungan perkenalan ini dengan ketek? Aku masih belum
sepenuhnya mengerti. Obrolan pertama kami hari itu tidak jauh dari suatu topik
yang sangat mendunia saat ini dan perbincangan tersebut kian menarik karakter
setiap pribadi untuk keluar.
Entah bagaimana, pertemuan pertama itu
rasanya seperti sudah begitu lama mengenal satu sama lain. Kami bertukar nomor
telpon dan berjanji untuk saling menghubungi secepatnya. Ternyata ia adalah
sosok yang sangat empuk dan menarik untuk diajak bertukar pikiran.
Hari-hari berlalu, tak terasa sudah
setahun lebih kami berdua menjalani semuanya. Kami berdua sudah seperti macan
dan daging makanannya, tidak bisa dipisahkan. Bahkan Vikcy sampai berkata bahwa
tidak ada seorangpun yang pernah mampu mengambil alih perhatianku sebesar Ketek.
Terlalu banyak yang bisa aku ceritakan tentang Ketek kalau kalian mau. Sosok
tampan nan serius miliknya membuatku betah duduk berjam-jam hanya untuk
memperhatikannya menggambar tampilan sebuah rumah yang sedang dirancangnya atau
dengan peralatannya untuk membuat sebuah mesin dibengkel tua sebelah rumahnya.
Sebenarnya Ketek adalah seorang mahasiswa teknik lulusan Jerman yang bekerja disebuah
perusahaan swasta asing. Untuk saat ini, ia sedang ditugaskan di Indonesia
dengan waktu yang fleksibel untuk menemukan jalan keluar terhadap sebuah desain
mesin. Disela-sela waktu padatnya dengan tang dan bor, Ketek masih sering menyempatkan
waktu untuk keluar berdua denganku sekedar untuk menghirup secangkir kopi panas.
Dalam waktu-waktu itu, aku sering menulis sambil sesekali memperhatikannya
menggambar.
Sampai
satu hari setelah 2,5 tahun hubungan itu, perbincangan kami memanas dan
mencapai titik dimana kami terlalu lelah untuk terus memperjuangkan. Itulah
pertama kalinya aku menangis terisak didepannya. Siang itu, kami berdua sedang
makan siang disebuah restoran di Jakarta. Aku sama sekali tidak menyangka dia
akan memulai lagi semuanya. Ketek sebentar lagi akan kembali ke Jerman. Dia
hendak melanjutkan kuliahnya sembari bekerja dengan hasil yang sangat menjamin
dengan satu kondisi: pekerjaannya yang baru tersebut menuntut kontrak untuk
tidak kembali ke tanah air selama 10 tahun. Siapa yang tidak tergiur dengan
gaji yang besar dalam pekerjaannya yang bisa dilakukan separuh waktu sembari
menuntut ilmu? Aku sama sekali mendukung Ketek dalam hal ini; tapi bukan dengan
“tidak bertemu selama 10 tahun” itu. Sebenarnya aku tidak terlalu masalah
dengan LDR; malah aku tidak keberatan sama sekali. Tapi cara dia mengajukan ide
LDR itu tidak pernah sesuai dengan harapanku yang tersirat dalam nada
bicaranya. Maksudku, ayolah, kita sudah saling mengenal cukup lama bukan? Mengapa
dia masih tidak bisa membaca cara bicara yang aku suka dan yang aku tidak suka?
Satu hal yang aku sadari adalah bahwa
kita memang sudah menjalani semua ini semakin lama semakin tidak ada kata
sepakat; terutama beberapa minggu terakhir. Sifat keras kepalanya yang dahulu
dia pakai untuk menjagaku dari ancaman luar malah dipakainya untuk
menghancurkan kita. Kita sudah bukan seperti ketek yang menyambung lagi: tetapi
pantat dengan pantat beradu. Pantat tidak pernah saling melihat – hanya saling
membelakangi kita. Dia bukan lagi Ketek yang kukenal.
Dua malam sebelum kita putus itu, aku
sempat berbicara dengan Vicky mengenai sebuah teori yang aku temukan. Entah,
apakah teori ini akan bisa sejalan dengan realitanya. Teori itu kuberi nama “Prinsip
Ketek” yang berkata: “walaupun selalu dijepit, dia tetap bertahan dan terus
bertumbuh”. Iya, itu ketek kita dalam arti yang sebenarnya. Tetapi kalau
‘Ketek’ yang ini? Vicky berhutang padaku karena berhasil membuatku nyaris
percaya pada eksistensi Cinta Segi Ketek yang ia sebut-sebut. Kini, hari libur
yang biasanya aku habiskan bersamanya dikafe untuk sekedar nongkrong dan
melakukan hal yang kita masing-masing suka harus aku jalani sendirian lagi; sama
persis seperti saat aku belum mengenalnya.
Namun inilah dunia kita, dunia dimana
fakta yang diharapkan terjadi seringkali tidak sesuai dengan apa yang kita
harapkan; malah sangat jauh dari cerita “bahagia selama-lamanya” yang selalu
kita temukan pada akhir dongeng sebelum tidur waktu kecil dulu. Rupanya
cerita-cerita tersebut hanyalah sebuah buaian untuk anak-anak yang berangsur
tidak berguna untuk orang dewasa. Bagaimana jika sebenarnya Snow White tidak
sebaik dan sesempurna yang diceritakan? Bagaimana jika yang sebenarnya terjadi
adalah bahwa Cinderella-lah sosok yang jahat dan bukan ibu tirinya? Bagaimana
jika si buruk rupa masih bertabiat buruk setelah menikah dengan Belle? Bagaimana
jika lonceng tidak pernah berdentang 12 kali? Ketika aku kecil, aku tidak tahu
bahwa cinta akan menjadi membingungkan dan menyedihkan seperti ini. Bagiku
dulu, ketika aku mencintai dia dan dia mencintaiku kembali maka kita akan
seperti putri-putri dalam dongeng itu: hidup bahagia selama-lamanya. Yang tidak
aku sadari adalah zaman sudah sepenuhnya berevolusi sejak hari itu.
Lima tahun kemudian, ditemani hujan
deras yang kaku dan dingin di luar jendela, aku masih termenung disebuah kafe
dengan minuman hangat sembari menulis sebuah buku tulis kosong dihadapanku.
Keramaian kafe itu entah mengapa membuatku merasa kesepian dalam kekosongan
absolut. Apa yang aku rasakan seperti tidak nyata - selama ini terasa lengkap
bersamanya. Satu jam.. Dua jam.. Setengah hari. Aku merenung; mencoba mencari
jawaban keluar sementara halaman demi halaman buku kosong itu terisi dengan
rajutan kata-kata indah yang melukiskan perjalanan kisah kita. Aku semakin
mengerti mengapa orang banyak masih tidak percaya bahwa cinta ketek itu nyata. Cinta
segi ketek adalah sebuah cinta yang tidak mungkin dinyatakan keberadaannya
dengan bukti apapun yang dapat dibuktikan manusia – sama halnya dengan
teori-teori lain yang tidak pernah dikonfirmasi dunia kita.
Aku beruntung, dia bukan ketekku yang
sungguhan atau suatu elemen yang membentuk siku-siku ketek ini. Kalau dia
adalah ketentuan yang memenuhi persyaratan ketek, maka aku tidak akan bisa
membayangkan sebesar apa bagian kehilangan yang ditimbulkan dirinya pada bagian
ketekku. Aku tidak dapat berpikir mengenai apapun yang lebih buruk daripada
kehilangan cinta kepada orang yang selama ini telah menjadi seperti bagian dari
diriku. Aku telah kehilangan keinginan untuk mencari arti cinta yang
sesungguhnya.