"Oh, I will dance
with Cinderella, I don't want to miss even one song
'Cause all too soon the clock will strike midnight and she'll be gone"
'Cause all too soon the clock will strike midnight and she'll be gone"
Dengerin lagu itu untuk kesekian kalinya masih sanggup bikin gue galau. Gue sadar bahwa waktu ngga tersisa banyak untuk gue habiskan sama bokap gue. Yes, my dad. One
second he'll be there and the other second gone. Even tho lagu Cinderella ini didedicate oleh penulisnya untuk anak perempuannya, gue mau ngededicate cerita ini buat bokap gue.
Gue ceritain dulu meaning asli lagu ini dulu, biar ngerti. Namanya Steven
Curtis Champman, ayah 3 anak perempuan. Sebelum ia menulis lagu ini, ia sedang
mengurus kedua anak perempuan kecilnya yang masih berusia 4 dan 5 tahun kala
itu. Karena sedang sibuk hendak menulis lagu dan mengatur aransemen, ia
berusaha melakukan segalanya secepatnya - memandikan mereka, memakaikan baju
tidur, dan mengajak mereka berdoa. Ketika semuanya sudah ia anggap selesai, ia
keluar dari kamar putrinya dan menutup pintu dibelakangnya. Beberapa detik
kemudian, terbesit dipikirannya mengenai anaknya yang sudah berumur 17 tahun
dan ia sadar bahwa jika momen ini tidak ia gunakan dengan baik akan lewat
dengan begitu saja tanpa ada apapun yang tersisa dari kedua putri ciliknya –
sama seperti dalam kisah Cinderella. Ketika waktu itu sudah habis dan jam sudah
berdentang 12 kali, maka mereka sudah tak kan ada lagi.
Dalam kehidupan gue yang sebenernya bersama bokap gue dan gue masih jomblo
begini, the only thing I can do is reversing a bit of the song’s meaning and
put my dad in the “Cinderella” part and I in the “dad” part. Maksud gue begini:
gue ngga berusaha untuk mengajak bokap gue dansa whatsoever karna gue juga ngga
bisa nari. Tapi untuk cherish setiap momen yang bisa gue habiskan sama bokap
gue, that’s the thing I know I can do as a daughter right now. Karna dari
kecil, role model gue yang pertama adalah bokap dan nyokap gue. Tapi darah
bokap gue-lah yang mengalir dalam tubuh gue yang fana ini, yang mewariskan
sebagian besar aksi-reaksi otaknya dan perilakunya. Let me tell you a little
bit about my old man.
Bokap gue bukanlah bokap yang diidam-idamkan oleh anak kecil; bukan
tipe-tipe bokap yang sempurna secara fisik dan mental seperti Bapa kita yang di
surga atopun yang dicerita buaian tidur anak-anak. Tapi bokap gue yang ini
adalah bokap yang gue tau ada bersama gue melalui masa kecil gue. Dari dulu gue
sebenernya jarang ngobrol sama bokap karena bokap adalah tipe orang yang lebih
suka kerja daripada suka ada dirumah. Rumah buat dia adalah bener-bener cuman
tempat untuk ngistirahatin kepala – cuman akhir-akhir ini aja dia betah di
rumah karena usia juga. Entah apa yang dia pikirin selama ini, tapi gue tau bahwa beberapa sifatnya adalah sifat yang
gue miliki juga.
Gue pernah punya bokap yang gue anggap sebagai bokap asli gue juga ketika
gue bertandang ke Australia belum lama ini. Ia, hampir sama seperti sosok bokap
di rumah, di Indonesia. Ia jarang ngobrol sama gue, dan ia jarang membuka
pembicaraan untuk mengenal gue lebih jauh. Namun entah darimana, dalam
kesunyian tutur katanya, gue bisa belajar 2 hal paling penting dari dirinya
yang membuat gue mengubah segala persepsi mengenai sosok bokap dirumah:
1. Sejarang apapun ia membuka mulut, sebenarnya ayah pasti akan selalu
menyayangi anak-anaknya. Ia pasti memiliki sisi hati yang sangat lemah lembut
yang hanya bisa ia berikan kepada anaknya.
2. Sebagai anak, gue harus puas dengan seperti apapun bokap kita di rumah
karena merekalah orang-orang yang paling bertanggung jawab atas jiwa kita – mau
kita anggap senyebelin apapun mereka.
Valuable lesson semacem insight ini ngga akan gue dapetin kalo aja gue ngga
dateng ke Australia dan diijinkan Tuhan untuk tinggal di rumah yang seperti
ini.
Jujur aja, udah sejak setengah taun terakhir ini gue sadar bahwa gue ngga
bisa sia-siain waktu ini begitu aja. Gue takut kalo gue semakin tua nanti
seiring dengan semakin ngerasa benarnya gue, gue ngga mau lagi dengerin apa
kata bokap gue seperti ketika gue kecil dulu. Gue takut kalo gue gak punya
waktu lagi untuk dilalui bersama sosok ini, yang sayang sama gue. Gue takut,
kalo gue ngga akan bisa lagi meluk cium dan gandeng tangan orang yang selama
gue kecil gue tau suka banget meluk gue dan nganggap gue putri kecilnya. Gue
hanya ngga bisa membiarkan waktu ini lewat begitu aja, membiarkannya ngambil
bokap gue seenaknya dari gue.
Yang menjadi penghalang terbesar buat gue untuk balik jadi kayak “daddy’s
little girl” adalah penundukkan diri yang makin kesini makin sulit. Gue udah
mulai ngerti yang namanya punya pendirian sendiri dan punya landasan kehidupan
sendiri semata-mata membuat gue jadi males dengerin ceramahan bokap karena
alasan klasik anak remaja: ‘bodo amat, I’ll get through it myself’. Itu sih
susah loh serius.
Gue tau gue masih harus belajar untuk menjadi anak yang baik sebagaimana
selama ini bokap gue juga masih belajar jadi ayah yang baik buat gue. Tapi dari
bokap, gue belajar untuk memberikan waktu untuk mendengarkan orang lain karna
bisa menjadi pendengar yang baik adalah pemberian yang tak ternilai harganya –
yang belum tentu semua orang bisa kuasai dengan baik. Menurut gue, itulah
hadiah terbaik yang bokap gue bisa turunkan buat gue sebagai Cinderella
kecilnya. –red
“Always
spend some time to listen to people. It is as indescribable gift not everyone
is able to posses or to master” -GOD