Minggu, 29 Maret 2015

Brain Games



Regardless of the hours I've spent in deep thoughts and writing, people will never understand how my head is always pretty much trying killing me in late night “I need you to think right now” moments. I am not implying that I hate it, but sometimes these thoughts are popping up at the wrong time and so emotion consuming that I prefer early morning coffees with them (which never happened). But as lives will, the night time had always been the loveliest time to do it.
My thoughts are rascals of their own, as you can see. They can be really troubling - especially when they turn my night sleep into their "experiment hours" so that I would sit here talking to a piece of blank paper rather than sleeping right now. Not only my night hours are turned into nightmares but also they drag me into this world of maturity an 18 year old teenage girl shouldn't have been going through (oblivion, for instance). But no matter how hard I tried to dislike my late night thoughts, I couldn't say I hate them for making me do this because in the end I truly know that this will be an advantage to me - a point where I realized ideas can't ever be squared by anything. But then again, my sleeping hours? NO.
Just earlier last night I was going through an in-depth talk with one of my teachers at a friend's birthday party. We were talking about dozens of stuff when these thoughts hit me. Therefore, my midnight was scattered with inaccurately said to be deep thoughts as follows:
I wonder if we will ever find our place in-between these people who are loved widely but not deeply - if we are those people who are different in the outcome of our thoughts.
I wondered as well whether this vague universe is also a place to belong to them; those who find it so easy to feel connected in the party life.
The fact that we won't be able to befriend everyone because what we will get is what we deserve exhausts me like **c*. But again, I would prefer being loved deeply rather than widely when the question pops out.
It is also about how we are merely humans that fearing oblivion is just plain bullshit that we can't help thinking about it ourselves. Well, at one point, it's still good to be remembered, though. But not about being “not forgotten forever”.
Jumping from one idea to another made me realize in the end that my thoughts were right most of the time when they told me that doing the right thing is what this world really wants; that no matter how loud the world is, I am going to be that person who notice - a gift of nature to others; that I, for once, is capable of making someone whose been lost for so long feel accepted again.
I believe you know who you are. Thank you for making me stayed up late tonight. I am beyond grateful. -red

Kamis, 26 Maret 2015

A Birthday Letter



Supposedly hari ini udah tanggal 27 Maret dan entah gimana temen gue yang satu ini berhasil palakin gue untuk bikinin dia semacem birthday letter gitu sejak Agustus tahun lalu. Bayangin, gue udah di reserve buat bikin beginian sejak setengah tahun lalu! Gila, gue mulai terkenal nih kayaknya.
Entah gimana pula gue setuju sama permintaan dia ini tahun lalu. What’s a better way to celebrate someone special’s birthday with a publicized birthday letter from your bestie, right?
Buat sahabat 5,5 tahun gue, Lea Karen
Hai Keran!
Setelah menanti selama 2 tahun sejak ulang tahun gue, akhirnya lu 17 juga. DAN ENTAH KENAPA SETELAH DUA TAHUN ITU-PUN ELU MASIH JOMBLO. Kecewa gue Ran (serius bercanda). Asumsi gue adalah dengan segudang koneksi lu dari Depok sampe Tangerang tapi elu masih jomblo adalah elu ansos makanya ngga dapet cowo. Makaya jangan ansos ah Ran. Malu gue sama lu. HAHAHA.
Anyways, tentang elu dan ulangtahun lu yang cetar ini.
Akhirnya kita makan-makan ditraktir lagi sama elu ya Ran.
Akhirnya bentar lagi kita pisah kuliah beda nasib (yah, partially karna elu tau gue masuk uni mana).
Akhirnya udah mau lulus SMA dan akhir-akhir ini pokok bahasan kita selalu galauin SMA.
Akhirnya elu bakal deket ke kampus dan ke tempat les ballet elu tapi jauh dari gue.
AKHIRNYA RAN lu punya SIM sendiri biar bisa nyetir ke Lippo dan makan-makan cantik bareng gue sama Cindy abis kelar kuliah.
Akhirnya Keran yang kece ini bakal dapet cowok cakep di tempat kuliahannya trus traktir gue lagi karna pajak jadian, guys! MUAHAHAHAHAHAHAHA!
Udah ah. Capek.

What to say about you, though.
Elu adalah sahabat pertama buat gue yang bertahan sampe selama ini sahabatannya. Bisa gue sebut sahabat karena most of my high school story is spent with you. Elu tau banyak banget hal tentang gue more than anyone could in 5 years time – mulai dari mantan, secrets, family, dan hobi. Banyak deh. Gue sampe terharu gini.
Pas pertama kali kita ketemu dulu, gue ngga nyangka kita bakal temenan sampe kayak gini loh Ran judging by muka elu yang ekstra polos and everything else (KITA PERNAH CULUN RAN. KITA PERNAH CULUN BERSAMA). But I guess ketika gue ngeliat balik ke belakang of how we spent our early friendship days, gue rasa kita berdua bikin rekor “sahabatan gara-gara tugas ketika SMP”. Gila, we started early banget woy. Sejak kapan anak SMP bisa sahabatan gara-gara OSIS coba.
Hal yang bikin gue betah sama elu, the forth and foremost is the fact that elu adalah orang yang ngga itungan kalo udah soal pinjem meminjem barang or duit (asal dibalikin). Dan dari character trait elu yang inilah gue belajar banyak banget karna gue masih lebih pelit dari elu. Pait yah gue ngakunya. HAHAHAHA.
Oiyah, juga soal diet lu itu. Gue jadi inferior soalnya gue makan mulu. Gue admire persistensi lu coy. Kalo gue ada di posisi lu mungkin gue udah naik berapa kilo kali (padahal kalo skolah kita olahraga naik turun tangga tiap hari juga).
Hal lain yang bikin gue betah sama elu adalah elu lemot dalam hal-hal yang tepat (baca: hal per-bokep-an). Gue jadi ngga sempet ngotor-ngotorin otak elu juga jadinya – kan gue jadi ngga dosa.
Taun ini, Ran, elu udah tua (HAHAHA SALAH BANGET). Jangan bikin malu lagi dengan suka jadi monyet-monyetan karet ya kalo dipuji sama si gebetan. Ngga usah lebay. WKAKA. Jangan suka salting lagi kalo ada dia. Kalo ngga dapet dia, nanti di Aussie banyak yang lebih ganteng dan mapan kok dari dia. APALAGI MEMBERI HARAPAN PALSU – ngga ada lagi tuh di Aussie #tsaah.
Sampai bertemu dimakan-makan besok, Ran. Sesi foto-foto kecenya ditunggu #ihiy
Karna gue belom pernah ke bulan dan gue ngga mau PHP, I love you until Jakarta ngga banjir lagi aja deh – which is semacem impossible untuk skala beberapa puluh tahun kedepan. BHAY!
–red

BEHIND THE SCENE



 Hai guys!
Jadi ceritanya Rabu kemaren kita ada kelas jurnalistik di sekolah yang diconduct oleh representatif dari Media Indonesia (yang selalu gue selalu inget sebagai media kawasan -__-).
This was the essay that I made due to the big project they give us pas pelatihan itu dimana kita dikelompokkin sama anak creative design dan disuruh bikin 1 lembar magazine gitu ceritanya.
Biasa deh, kalo udah gitu pasti gue disuruh nulis. Dan beneran, kali ini gue disuruh nulis feature – sebuah berita yang bersifat longlasting. Dan karna gue ngga biasa, jadinya hasil akhir gue adalah novel-ish form of it (seperti kebiasaan gue nulis di blog). Untungnya sih ada back up dari orang lain, jadi gapapa. HUAH.
I still have a long way to learn mate.
Initially pas gue dapet ide, gue udah tau bahwa ide gue won’t work in such feature news karna a) gue mentok banget disuruh nulis berita longlasting dengan gaada fakta yang bisa gue pegang dan b) otak gue ngga bisa nulis kearah sana.Udah maunya maunya deh nulis novel. Susah.
Walaupun begitu, gue masih akan post hasil yang gue bikin dalam waktu kurang lebih 45’ itu ditengah chaos dan kebuntuan otak gue. Judul essaynya adalah “Behind The Scene”.


Apakah yang orang-orang sebut sebagai takdir, jika garis hidupku tidak seberuntung mereka?
Apakah yang disebut takdir, jikalau aku harus terpaksa tenggelam dalam sesuatu yang tidak dapat aku perbaiki, jika pekerjaanku adalah sebuah sesuatu yang tidak diinginkan oleh manusia manapun termasuk diriku?
Adil, kata mereka? Bagaimana denganku? Adilkah katamu jika aku tidak memiliki kemampuan secara finansial untuk melanjutkan pendidikan? Adilkah katamu jika aku tidak memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja disebuah perusahaan dimana orang lain memiliki kesempatan hanya karna aku tidak mencukupi kriteria mereka?

Namun, disinilah aku berdiri; disebuah ruangan sebuah sekolah dipagi buta. Murid-murid belum datang. Lelah – aku lelah. Walaupun hari ini adalah sebuah hari baru dan matahari baru saja bersinar dari tempat peraduan ketika malam tiba, aku sudah merasa tidak sanggup. Setiap hari aku membersihkan kelas mereka, kamar mandi untuk mereka pakai, menyapu, mengepel, semuanya. Tapi apa reaksi mereka? Sama sekali tidak ada rasa terima kasihnya! Mereka hanya lalu lalang dengan senyuman diwajah mereka. Apakah aku harus iri atau merasa senang, aku tidak tahu. Yang aku tahu adalah aku ingin segera pulang dan melepas lelah.
Sudah lima tahun lamanya aku bekerja disini. Awalnya, seperti banyak pekerja lain, aku merasa cukup puas dengan pekerjaan ini. Aku merasa puas karena setelah sekian lama akhirnya aku mampu membiayai diriku sendiri dan sedikit meringankan beban orang tuaku yang usianya sudah menjelang senjanya. Namun setelah setahun lebih dengan kurangnya perhatian dan apresiasi tempat kerja, aku lesu. Aku kian merasa lelah dengan tiap tawa mereka yang seakan ditujukan hanya kepadaku.

Akulah sang petugas kebersihan sekolah. Tugasku, adalah membuat sesi belajar mereka lebih menyenangkan dengan kelas yang bersih dan mengilap walaupun itu berarti mengorbankan kebahagiaanku dan terpaksa menerima dengan lapang dada apapun yang sudah ditakdirkan sang Maha Kuasa untukku. Jika mereka dapat berbahagia dengan apa yang aku kerjakan, maka aku akan turut dalam sukacita mereka. Jika dalam kebisuan dan ketidakperhatian mereka akan menjadi lebih berhasil daripadaku, maka itulah tujuan hidupku; aku berjanji bahwa aku akan puas dengan apa yang aku lakukan. Apalah arti menjadi sesuatu yang dapat dilihat orang lain namun tidak berarti apa-apa? Mungkin, pekerjaankumasih lebih berarti, dibelakang layar. –red