Jumat, 28 November 2014

The Truth About Me


Okay. First, I’m gonna have to make sure you are in a good position when you’re reading this because it might take a while to read. Second of all, I haven’t decide whether I will put this into two separate posts or just all in one. Even if we finished in just one, I hope you can cope with me and my story. With that being said, here’s the truth about the Gloria you thought you knew.
My name is Gloria Ernita – the regular girl growing up in a middle class family born in the capital city of Indonesia, Jakarta. I consider myself lucky to be born at such great city and growing up in a great hometown with my super loving and attentive parents. But underneath those things, honestly, I am actually this girl who is so far away from perfection. There’s a lot of things I dislike about myself which starts from my name.
Yes, my name. I know, I know, there are a lot people who get bullied more than what I get because of their names; but still, I disliked mine. As I was growing up, people associate my name as that “gloria in excelsis deo” christmas thing as if my second name didn’t matter. Secondly, I have a weird nickname my parents used to call me when I was a kid with in which I am ashamed of. Third, people mostly never spelled my name right. From the starbucks barista to the librarian. I thought I’ve made it clear enough but to some it sounds more like “Doria” “Jloria” or other typos kind of Gloria. See, you didn’t even care about how I write my middle name, right?
I didn’t actually enjoyed myself growing up as that regular “good girl”. Spending 12 years of study in a Christian based school, private middle classed school, and a good environment does not always satisfy me. I wanted to go to public schools and try all odds. I want to feel more pain this nation can cause me because I wanted to be ”one” with all those primitives – I don’t want them to continue holding ourselves back from each other just because I’m Chinese whatsoever. I never get to break anything, though. I’m still here in this condusive reality. And to be honest, I absorb most negativity people affect me with. Even though I had this beautiful positive-thinker mind, whenever I tried to write some nice warning to someone I thought I had some right to talk to is actually really hurtful. On the other side, I also tend to think things over and finally I ended up never saying anything I wanted to say in the first place. A coward, they say. Yes, I might be that coward – but I’m more afraid of the fact that I hurt your feelings rather than telling you the whole truth.
I also suck at being a person because I can’t just seem to do anything right. I’ll stumble and fall when I can actually kick the soccer ball during a big match. I’ll press the wrong key when I was supposed to be perfect in the piano test room. I’ll never be able to be brave enough to talk about my feelings to those I was supposed to be honest to. I’ll try to be accepted by the famous school girls when I know I can’t cope with anything like that. I’ll break down even at the very beginning of teamworks and go “they’ll go on so much better without me. They seemed to have so much more fun without me”. Yes, what you don’t know about me is that I feel so bad for myself everytime I finished interacting with someone which involves me having to deal with something.
Anyways. People who only knew me by my name must have thought that I am that extrovert type because I can get attached to strangers easily. You know what, I just got you wrong again. I am the most introverted person I know; living that trait for almost 18 years now. But that is not the thing. The thing is what trait this introverism mixed with some turbulent NFJ ending to my personality trait: I felt wronged by my feelings when I plan to make something big with some people which mostly ended up failing; I have trust issues when someone let me down in any case of what obstacle life brings; I did not develop great self-confidence; I fail to push my days to it’s limit when I really know that I can do so much better; I kept what I felt most of the time so that I tire my own soul without anyone knowing but my scribblings; I fail to let people grow as a natural-leader emerging in ‘no leader teamworks’; I didn’t lie when I say I hated to be the driving force of the team and ending up being the most let down person in the group. I hate having to force myself to give people second chances; and mostly, for not being those cool kids I thought were cool. I tried to be like them – and I failed.
I’ve tried to reduce my turbulent introverism at some point by telling more stories to some other friends, but I ended up being sick of myself. I thought I am upsetting people for them my problems then and make them hate me because of what I told them. Such high standards most people fail to keep up to.
But most of all, I am tired of being so introverted; that I will easily feel mentally tired when I have too much interaction with other human beings. I am tired of trying too hard to make people like me when I know all we have in this world is hate. Yeah, I guess life won’t be as easy as what you see on the surface, right? –red

Life


I guess we all realize what life had gotten us.
Time; it got us worried about our existence.
Gravity; it took all weights under the pressure that shouldn’t have been there anyway.
Society; it obesse us with the acceptance we didn’t need.
And heads, oh our heads. What did our brains got us that all we have time for is thinking about our majestic death? The fact that we are all dying in inevitable yet we still took time in thinking about where shall we go when we have to rights to choose unless we started moving.
We know that we have no rights to judge; but our minds and soul pushes itself to the mouth of the cliff and find the faults in our stars.
Is there any way out of the labyrinth anyway? Ye knows the answer.

Well,
I guess we’re just tired, aren’t we?
All we ever long for is a small house filled with coziness when all we’ve got is a big one with such little reasons to call “home” instead. –red

Jumat, 21 November 2014

KETEK PANTAT RENDANG HATIKU SENANG Hatiku Senang



Sahabat yang gue kira hanya akan menjadi sekedar sahabat yang lewat ternyata dapat berubah menjadi lovers for life.
Sahabat yang awalnya pula gue kira sudah gue perlakukan secara jahat dengan menempatkannya pada lingkaran “Best Friend – Zone” malah kini menjadi orang yang ga bisa gue pungkiri adalah teman terbaik yang gue akan selalu dambakan seumur hidup gue.
Akhirnya sore itu didepan papan pengumuman kelulusan mahasiswa Magister Para Jomblo Sedih gue berdiri sebagai lulusan non-beasiswa terbaik seangkatan. Walaupun lulus dengan tambahan predikat MPJS dibelakang nama gue, gue rasa 2 kata terakhir dalam predikat itu sudah tidak berlaku untuk gue yang ketika wisuda nanti akan disambut oleh peluk hangat papa, mama, dan dia – dia yang sudah menemaniku selama beberapa bulan terakhir ini.
“Kak, kak. Maaf kak, boleh minta waktunya sebentar gak?”
Tiba-tiba saja datang sapaan itu disertai dengan sebuah colekan halus dari belakang gue.
“Iya? Siapa ya?” Tanya gue.
“Um, saya Jessica dari jurusan tempe bacem abcz. Saya adik kelas kakak. Uh, saya cuman mau ngasih kakak ini sih...” Kata-katanya sedikit terbata namun begitu jelas.
“Wah, ada apa nih kok tiba-tiba ngasih gue beginian?” Tanya gue sembari tersenyum salah tingkah.
“Uh, itu kak. Saya mau bilang terima kasih aja sih sama kakak. Waktu itu ujan deras dan udah malem banget. Pas itu kakak ketemu saya luar udah pingsan. Trus setelah itu kakak sama pacar kakak bawa saya ke rumah sakit dan nungguin saya sampe saya siuman. Saya inget banget senyumnya kakak yang sejak hari itu menginsipirasi saya untuk tetep hidup...”
“OOOH iya iya gue inget! Eh, sambil nongkrong dimana yuk! Gue pengen denger cerita lu lebih banyak. Lagi ngga keburu-buru, kan?” Desak gue.
Tidak, sebenernya gue ngga pernah ingat pernah membantu seorang perempuan cilik bernama Jessica. Ya, dia udah ngga cilik-cilik amat sih. Ya tapi cilik lah untuk ukuran wanita Asia yang berpenerawakkan medium. Gue juga ngga inget, kalo ketika itu gue udah jadian sama Brandon ketika ini terjadi. Yang gue tahu ketika itu adalah bahwa Brandon dan gue pernah tidak pulang semalam entah melakukan apa seakan ingatan itu terhapuskan dalam memori gue.
Sore itu, gue mengajak Jessica untuk duduk minum secangkir kopi disebuah kedai yang cukup bergengsi didekat rumah Jessica yang gue tahu tak akan dia sanggup bayar. Brandon udah ngajarin gue cukup banyak untuk tidak mengharapkan kebaikan dari orang lain ketika kita sudah rela berkorban untuknya. Kenangan mereka akan kita sudah cukup, Brandon selalu bilang. Jessica awalnya menolak; tetapi setelah beberapa saat dia langsung setuju dan kemudian kisah hidupnya kembali dibagikannya hanya dan hanya untuk gue seorang. Semua cerita kehidupannya sebenarnya menggetarkan hati gue karna Jessica ternyata hidup lebih pahit daripada yang dapat gue bayangkan.
Gue semakin kaget dibuatnya ketika berkata bahwa sebenarnya malam ketika gue dan Brandon ‘menyelamatkannya’ itu, ia sedang mengalami stress berat dan akhirnya memutuskan untuk kembali menyuntikkan cairan narkoba yang selama 2 bulan sudah ia tinggalkan. Namun malang tak bisa ditolak, ia OD dan tiba-tiba saja menggelepar dijalanan. Betul sekali – gue dan Brandon baru saja menyelamatkan sebuah jiwa yang tidak ingin diselamatkan – jiwa yang ditinggalakan dalam derasnya tangisan air mata bumi dan gelapnya malam. Dan engga, gue ngga berharap untuk satu kisahpun ia percayakan kepada gue.
Akhir pekannya ketika gue ceritakan kisah Jessica kepada Brandon dan membagi dua hadiah yang diberikan Jessica, gue tak sengaja menangkap air mata yang dititikkan Brandon dari ujung matanya. Selang satu menit kemudian, Brandon mengajak gue berdoa dan bersyukur bahwa satu jiwa lagi sudah menyampaikan dendangan bahagianya kepada Yang Maha Kuasa. Betul, di kedai kopi itulah Jessica menyerahkan dirinya sebagai seorang percaya.
Waktu awal kisah ini ditulis, gue bilang bahwa gue begitu merindukan sebuah senyuman tulus dari seseorang buat gue. Kalian mau jawaban jujur dari gue? Gue sebenernya belum mendapatkan apa yang gue inginkan itu ketika kisah ini  berakhir. Setelah gue pikir-pikir, semakin gue menginginkan sesuatu maka semakin jauh pula kenyataan dari terjadinya keinginan itu dalam hidup gue. Toh setidaknya ketika gue selesai bercerita gue sudah memiliki Brandon disisi gue sebagai pelengkap.
Untuk menutup kisah, sekali lagi Brandon menyadarkan gue malam itu bahwa senyuman tulus dari seseorang bukanlah sesuatu yang paten sehingga  harus gue miliki agar bisa hidup bahagia. Namun senyum tulus itu, jika diberikan kepada orang yang tepat seperti Jessica, akan berdampak lebih besar kebanding dengan jika senyum itu harus diberikan kepada gue. Malam itu gue membuat janji lagi dengan kekasih gue bahwa kita berdua akan memberikan senyuman tulus bagi siapapun orang disekeliling kita.
Oh iya, satu lagi.
Ternyata rumus hati bahagia bukanlah sekedar rumus yang terjadi ketika seseorang memiliki pacar. Ternyata kalian kaum jomblo juga dapat menikmati rumus P à Q / ~P ʌ Q.
Variabel P berarti menolong dan variabel Q tetap masa sulit.
Kalian memiliki hak untuk memilih untuk menolong atau tidak ketika kalian memiliki kesempatan untuk menolong. Siku-siku ketek, benturan pantat dan pedasnya rendang kehidupan akan membentuk sebuah gugusan sempurna ketika kita, sebagai manusia, memilih untuk peduli serta memperhatikan.
Ya, seorang pacar telah membuat gue semakin sadar akan makna yang gue tinggalkan bagi dunia dibelakang gue. –red

Pantat Ketek Rendang Hatiku Senang P Implikasi Q, Tidak P dan Q



“Hey.” Sapa gue ketika dia akhirnya muncul diambang kursi seberang meja yang gue duduki untuk 2.
“Hey. Udah pesen?”
“Udah. Pilih dulu gih” Kata gue sembari menyodorkan menu.
Selang beberapa waktu, akhirnya makanan kita datang dan gue akhirnya harus memberitahukan jawaban gue.
“Um, Bot”
“Ya?”
“Jadi... gue cuman mau bilang... Iya Bot. Kamu, aku, maksud aku, kita” Balas gue terbata-bata.
Seulas senyum lebar menenangkan yang sudah lama aku kenal itu terpampang lebar darinya seolah senyum itu hanya bagiku untuk nikmati sepanjang malam.
“Tapi Bot, entah kenapa gue ga bisa yakin kita bisa langgeng Bot...”
“Gapapa kok Sel, kita coba dulu aja ya?” Sebuah tangan hangat tiba-tiba mendarat diatas tangan gue yang kaku.
“Aku punya rencana yang panjang buat kita berdua kalo kita sampe sejauh itu.” Lanjutnya.
Aku luluh seketika itu juga dibuatnya.
Oh, inikah rasanya cinta? Sejuta bunga seakan berterbangan diatas awan-awan langit ini.
Seiring dengan berjalannya detik, hari, minggu dan bulan, gue dan Bot menjalani hari-hari LDR layaknya pasangan-pasangan lain. Harus bisa bertahan tidak bertemu atau mendengar kabar satu sama lain selama hari-hari kerja, menulis semacam buku harian untuk saling bertukar kata dalam balutan cinta, Sibuk dengan tugas, sibuk dengan halaman lembar-lembar buku, dan sibuk dengan pekerjaan. Kita berdua menjadi terbiasa dengan hari-hari tanpa hubungan. Seringkali gue datang ke rumahnya dan menyempatkan diri untuk ngobrol ringan dengan orangtua Bot dan adik-adiknya – berusaha mendekatkan diri dengan anggota keluarganya sembari menanti kepulangannya.
Hari Jumat itu ketika gue sedang berada di rumah Bot dan bermain PS4 dengan adiknya yang sulung, tiba-tiba gue ingin bertanya sesuatu yang telah lama ingin gue tanyakan.
“Eh Dek. Koko lu tuh kaya apa sih kalo udah ngambek?”
“Dia? HAHAHHA. Dia lagi lu tanya Kak. Pokoknya dia orang yang paling keras kepala setelah si Nathan. Lu ngga bakal mau punya 3 bocah di rumah kalo bikin anak nanti”
“Heh sial. Emang jenis kelamin anak gue nanti gue yang nentuin? Serius tapi, sekeras apaan? Kan selama gue jalan sama dia kaga ada pernah berantem”
“Si Koko tuh kalo udah ngga mau dengerin ya ngga mau dengerin. Asal lewat doang. Tapi ada juga sih kadang dibales sampe si mami nangis”
“Mami? Nangis? Gila dia”
“Ya gitu lah.”
“Terus? Pernah ada cewe lain?”
“Hahaha, ngga ada sih setau gue Kak. Dia setia nungguin orang yang dia dapetin sekarang”
Jawaban dia sanggup membungkam gue sepanjang sisa permainan kecuali teriakan-teriakan kekalahan yang gue katakan ketika dia berhasil mengalahkan gue pada hampir tiap permainan.
Tiba-tiba pintu kamar adik Brandon terbuka tanpa didahului ketukan. Disitulah berdiri sosok Brandon yang kusut dan berantakan. Gue sebenarnya sudah bisa membaca gelagatnya yang berantakan hari itu – namun gue mengabaikan hati nurani gue untuk hanya diam dan bukan melawan.
Hari itu adalah kali pertama gue dan Brandon bersitegang di kamar tidurnya. Gue menangis – satu sisi karena gue tidak pernah bisa melawan siapapun ketika bertengar serta sisi lain karena gue benci harus dipersalahkan dalam kasus-kasus tinggi seperti itu. Bertengkar karna alasan bodoh yang semua bullshitnya diketahui pasangan LDR manapun. Bertengkar, karena sikap bersikukuhnya yang terlalu dipaksakan walaupun gue mengalah. Bertengkar, karena dia menganggap gue ngga setia ketika kita berdua sedang tidak bersama. Ya, kami bertengkar.
‘P à Q  // ~P ʌ Q’ itulah bunyi persamaan gue yang baru.
Variabel P melambangkan masa sulit dan Q melambangkan pertengkaran kita.
Jika masa sulit maka bertengkar, atau tidak bertengkar dan masa sulit.
Gue sejujurnya lebih menginginkan tidak bertengkar walaupun harus ada masa sulit – tapi plis deh – siapa juga sih yang mau harus ada pertengkaran? Gue ngga bisa memilih hidup gue seperti apa ketika bersama dia ataupun orang lain.  Lagipula jika kita hendak serius untuk masa depan, kita toh harus diperlengkapi dengan persiapan seperti ini juga kan?
Kata Brandon, dia lelah dengan semua drama percintaan ini. Tapi kemarin siapa yang bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja dan diusahakan? Dia.
Kata Brandon, dia tak tahu lagi bagaimana cara menghadapi gue ketika sudah melihat dia dalam situasi buruk seperti ini. Kalau baru bertemu setiap akhir pekan saja dia sudah begini, bagaimana dengan bertemu setiap hari dan harus mengurus anak nanti? Siapa yang hendak bertanggung jawab? Tentu, dia.
Kata Brandon, gue terlalu protektif dan mencari muka terhadap keluarganya. Kalau nanti gue harus menghadapi perseteruan dengan orangtuanya, orangtua siapa itu juga? Dia, tentu saja.
Tapi ah masa bodohlah.
Mungkin hari itu dia lelah dan hanya membutuhkan gue untuk mendengar, mengerti, dan bersimpati.
Mungkin hari itu dia mendapatkan nilai yang kurang baik sehingga ketika dia pulang kebetulan ada gue dan gue menjadi pelampiasannya.
Mungkin hari itu bukanlah hari terbaiknya.
Setelah pertengkaran itu, gue ngga berhubungan dengan Brandon selama 1 minggu penuh. Semua jurus pendekatannya gue abaikan – termasuk ketika ia datang ke rumah untuk meminta maaf. Seminggu itu gue sering pergi ke daerah Kemang bersama Vicky dan membahas permasalahan pertengkaran ini seperti tiada ujungnya. Iya, kali ini gue ngambek seperti anak kecil. Tetapi tidak, gue tidak akan mengakhirinya secepat itu.
“Halo?”
“Halo?! Selin! Jangan matiin telepon aku, please”
“Ada apa?”
“Aku mau minta maaf, Sel... Kita bisa ketemuan ga? Aku mau ngomong langsung aja seperti gentleman. Sumpah Sel, you got me worried all week long”
“Siapa suruh ngajak berantem banget. Tau aku ngga suka kan?”
“Iya, iya. Maaf ya Sel. Maafin ga nih?”
“Maafin kok. Tapi besok malem dateng dong ke rumah bawa es krim mint chocolate chip 2 liter buat tebusan”
“Ih kayak anak kecil banget sih ngambeknya minta dibayar pake eskrim”
“MAU AKU NGAMBEK LAGI NIH?” Canda gue.
“Eits eits, iya besok ya. Jam brapa di rumah?”
“Jam 3 aja oke?”
“Oke. Bye bocah”
“FINE YA BYE.”
“HEHEHEHE.”
Ternyata penyelesaian dari masalah pertengkaran penting maupun yang tidak penting itu hanya membutuhkan satu jalan keluar: jawaban telepon gue untuk berunding. –red

Jumat, 14 November 2014

PANTAT KETEK RENDANG HATIKU SENANG Variabel Rendang Dimata Dekat Dihati

Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya Brandon dan gue nyambung lebih klop daripada gue pernah klop sama pria manapun. Dengan segala kesibukan dia dan kesibukan gue, gue rasa kita berdua sama-sama udah ngerti bahwa ngga bisa kita terlalu saling mengharapkan satu sama lain untuk terlalu sering kontak. Pokoknya setiap kali dia lagi ngga disibukin segala macem tugas suntikan anehnya dan pulang ke Jakarta dia pasti langsung ngehubungin gue dan kita berdua saling sediain waktu untuk ngobrol.
Semua itu berlangsung selama 6 bulan sampe akhirnya sampe suatu hari, Brandon ngajak gue ke sebuah restoran Padang andalan keluarganya didaerah Gading Serpong. Kita berdua ngobrol panjang lebar, seperti biasa. Anehnya, gue ngga bisa dikatakan jatuh cinta pada Brandon – seakan hati gue cukup nyaman dengan status ‘bersahabat kental’ dengannya. Gue tau perasaan macem ini pernah gue rasain ketika ada seorang sahabat pria lain semasa SMA dulu berhubungan juga dengan gue. Walaupun gue udah tau busuk-busuknya dia sampai ke tulang, kita ngga kepengen aja dipaksa untuk pacaran.
Entah deh, yang ini sepertinya beda entah dari sisi mana. Sepertinya sesuatu mungkin terjadi.
“Bot” Panggil gue ke Brandon.
“Hm?” Jawabnya singkat sambil terus asik mengunyah rendangnya.
“Reaksi tubuh kita kalo lagi oksitoksinnya tinggi gimana sih? Penyebabnya apaan?”
“Ya gejolak sih. Ngga ada obvious physical changes ato apa kecuali dia kayak reaksinya jadi makin bahagia macem dicekokin kebanyakan permen karet gitu”
“Anjrit. Keselek mati dong dicekokin permen karet” jawab gue asal.
“Kan ibarat. Penyebabnya karna orang yang dia suka lagi ada sama dia; itu sih yang paling menonjol. Ato kalo buat yang berkeluarga ya anaknya kali. Belom pernah research sampe spesifik sih” balas dia lagi.
“Ooh. Kalo meningkat gara-gara makanan bisa ga? Err, semacem lu kalo udah ketemu rendang gitu” Gue lanjut nyerocos.
“Bisa. Kenapa engga juga? Bentar lagi muka gue jadi kayak rendang nih... pedes-pedes ngangenin. HAHA”
“Apaandeh Bot. Ada juga rendang dimata dekat dihati”
Jleb. Tiba-tiba teori itu begitu dekat dengan diri gue. Dengan tangan kotor, gue ambil buku dan segera mencoret-coret sebaris kertas kosong dihadapan gue.
“Apaan tuh?” tanya Brandon penasaran.
“Ini, gue lagi nyari persamaan buat thesis gue. P x rendang = Q. P = oksitoksin dan Q = elu. Tapi gue kayanya ngga bisa masukkin teori ini. Gue masih harus nambahin variabel ‘hati bahagia’ kedalamnya soalnya oksitoksin cuman hormon, bukan sesuatu yang riil. Trus juga kan harus universal – ga bisa cuman buat elu doang berlakunya”
“Mm! Gue tau. Kenapa ga P + rendang x Q = hati bahagia? Gue ngga selalu perlu variabel rendang untuk ningkatin okstitoksin sih sebenernya. Bisa belajar, bisa bola... bisa elu *batuk* ngomong-ngomong, itu dia alasan gue kemari, sih. I actually want to ask you to go on a date” Lanjut Brandon.
“Hah? Gimana-gimana? P + rendang x Q = hati bahagia?” Otak gue tiba-tiba kalut.
Akhirnya Brandon ngaku. Dia emang selama ini nyimpen perasaan suka terhadap gue. Senyum gue adalah senyum tulus yang ia cari tahun-tahun belakangan ini. Beberapa bulan lalu ketika ia mendatangi rumah gue untuk ngomong, dia ngga memiliki keberanian itu untuk jujur sampai detik ini. Menurut dia semuanya terlalu cepet sampe hari ini, direstoran padang  kesukaannya. Restoran padang dan gue adalah 2 hal favoritnya diluar kecintaannya terhadap kariernya dan sepak bola. Dan dia rela nunggu jawaban gue walaupun membutuhkan bertahun-tahun karna gue bagaikan rendang yang walaupun jauh dimata, namun selalu dekat dihati. Eh ngga juga sih. Dia bilang deket kampus ada restoran padang; tapi katanya aja rendangnya yang ngga seenak disini. Bah.
Gue hanya terdiam sesisa waktu menunggu dia menghabiskan potongan rendang terakhirnya sembari memikirkan apa yang betul-betul gue inginkan untuk hubungan gue dan dia kedepannya. Dia juga hanya terdiam dan meminta bon sembari mengajak gue keluar dari restoran padang tersebut.
“VIK. Anjir” Kata gue setengah berteriak ditelepon genggam gue ketika gue sampai du=i rumah.
“Eh, why?” Sahut Vicky.
Vicky sudah hafal dengan gelagat gue yang kalo nelfon dimulai dengan frasa kasar berarti antara ada sesuatu yang sangat menarik terjadi atau sesuatu yang sangat kacau.
“Barusan si Brandon nembak gue.” Napas gue mulai tersengal.
“Terus?”
“Ya, gue belom kasih jawaban”
“Eh gila lo! Lo gantung dia disitu?! Rule nomer 1 ya Sel, dilarang keras nggantung cowo (TERUTAMA YANG UDAH DEKET DAN PASTI SAYANG BANGET SAMA LO) begitu aja. Apalagi abis ditraktir makan padang kesukaan dia. 2, lu ngerasa nyaman kan sama dia? Yaudah, GO FOR IT BEIBEH!” Teriak Vicky dispeaker handphone.
“Ya, well. Gimana abisnya dong Viik... Gue ngga mau pacaran sama cowo yang adalah sahabat juga buat gue. Lu tau kan, macem kita berdua sama si Kambing? Biar kata dia tau persis busuknya kita kan ya lu tau laah: terlalu nyaman!”
“Senyum dia memenuhi hasrat senyuman seseorang itu ngga Sel?”
“Uh, iya sih. Tiap gue liat dia gue tenang. Gue tau dia bakal jaga. Dia bilang gue juga adalah senyum yang memenuhi persamaan senyuman tulus dia” Jawab gue jujur namun agak ragu.
“EUREKA. Tuh kan! You had what you want. Every incy wincy bit of it. All you need to do now is just go for it!” kata Vicky makin semangat.
“Tapi kalo mas kawin gue dia tuker sama rendang gimanaa?!?!”
“ITU GA PENTING! Terima aja dulu! Call me when you had him. Kita double date ke Bandung to celebrate. PJ ditanggung yang baru jadian. BYE”
Setelah itu hening; tidak ada suara.
Malam itu, gue menanyakan Brandon sebuah pertanyaan melalui pesan singkat. Dari jawabannya, gue merasa makin yakin akan keputusan yang gue ambil saat ini. Gue janji Bot, gue kasih tau lu jawabannya ketika kita bertemu dititik yang kita berdua janjikan lusa. Datang tepat waktu, ya?  –red

KETEK PANTAT RENDANG HATIKU SENANG Variabel Pantat Yang Berbeda


“Eh, Brandon?”
“Eh, Selin?! Hai, Hai! Apa kabar? Gila sori nih ngga bisa salaman; tangan gue kotor!” Gue dengar antusiasme dalam suara khas miliknya.
“HEEEYY! Gila baik baik! Lu gimaana? Eh gue duduk sama lu ya! Penuh nih”
“Iya sini aja! Kita ngobrol! Udah lama banget ya ga ketemu... Gimana lu sekarang? Masih kuliah?”
Akhirnya dua minggu yang lalu gue bertemu lagi dengannya secara tiba-tiba. Kita bertemu disebuah restoran cepat saji pada pusat perbelanjaan dekat rumah. Iya dia, dia yang dulu adalah salah seorang teman dekat gue semasa SMA namun kehilangan kontak sejak dia melanjutkan kuliahnya di universitas negri ternama Indonesia sementara gue hanya melanjutkan pendidikan disebuah universitas swasta dekat rumah. Kami ngobrol sejuta satu hal dan kemudian berlanjut pada chatting yang cukup sering sehingga gue merasa bahwa bahkan hanya dalam 2 minggu gue sudah mengenal lagi dirinya yang sudah lama terhilang. Ternyata tabiat-tabiatnya tidak banyak yang berubah kecuali menjadi kamus kedokteran berjalan karena keinginannya yang begitu mendalam untuk menjadi seorang dokter bedah ternama.
Namanya Brandon; teman SMA gue yang dulu sering berbagi suka duka bersama gue. Ia adalah salah satu dari segelintir sahabat yang bisa begitu menyenangkan buat gue bahkan diwaktu diam gue sekalipun. Lagipula, tiap kali kita berbicara gue akan merasa sangat nyaman tanpa harus berusaha terlalu sulit. Brandon sebenarnya tidak terlalu berubah – beberapa hal masih sama seperti dulu: tinggi, berkacamata, cerdas nan mempesona. Sekarang dia sudah lebih berisi dan tampan, sih. Pemikirannya kini yang begitu matang dalam menghadapi masalah karna sudah terbiasa dengan pekerjaannya sekarang makin membuat gue merasa sebuah kebahagiaan lain yang belum pernah gue rasakan sebelumnya.
Inti dari pembicaraan kita siang itu adalah bahwa menurut riset, cowok kalo udah suka sama satu cewek itu bakal merelakan pemikiran mereka yang sangat keras kepala – seakan lemak yang terdapat pada pantat mereka tiba-tiba melebur begitu saja. Kalaupun tidak pernah saling menatap, pada hakikatnya pantat mengetahui permainannya secara taktis. Entah sisi kebenarannya sisi sebelah mana sehingga gue langsung menceritakan tentang pertemuan gue ini kepada sahabat setia gue Vicky yang sudah memiliki pacar esok paginya. Vikcy tiba-tiba ngajak gue ketemuan dan ngobrolin secara langsung mengenai pertemuan gue dan Brandon. Ngga asik kalo cuman lewat sosmed, dia bilang.
Sore itu, gue kemudian dijadikan istilah ‘nyamuk’ bagi para kaum pacaran sialan di Indonesia yang melibatkan sahabat gue yang masih setia Vicky Adelin dan pacar barunya yang ganteng-ganteng  buaya itu. Eh, pacarnya Vicky masih orang deng – bukan buaya.
“Nih ya Sel ya, gue kasi tau lo”
“Yah jangan mulai lagi dong, please” celetuk gue kepada cowonya si Vicky yang selalu ceramahin gue tiap kali kita ngobrol serius tentang gebet-menggebet.
 “Lo kalo dianya udah ngasi kode ngajak ngobrol gini terus lo harus catch the moment dong trus ngomong heart to heart. Kan udah jaman banget nih cewek nembak cowok”
“IH! Emang lu masih mau sama dia Sel?!?! HAHAHHA” selak Vicky.
“Heh sial lo. Ya tapi kalo dia emang the one ya mau gimana? Toh kenyamanan itu kan yang kita kejar as jomblos pursuing love?” Kata gue sok teoritis.
“Iya dong; kaya kita kan ya beb?” Kata cowonya Vicky, sengaja manas-manasin gue.
“Kampret. Third wheel banget gue” dengus gue.
“IH JEJE” balas Vicky kesal.
“Lagian apa gunanya sih lo udah searching susah-susah tentang ketek pantat rendang kalo lo ga aplikasiin dalam kehidupan cinta lo? Takut gagal lagi? EH COY, gue kasi tau lo ya kenapa orang yang start dari miskin ketika dia udah kaya ngga takut miskin lagi: karna dia udah tau rasanya miskin dan miskin ngga bikin dia mati!”
Dan alur obrolan gue sama Vicky dan pacarnya di kafe dapat ditebak oleh siapapun: isinya hanya antara mereka ngeledekin gue yang jomblo ato makin bikin gue ngerasa inferior jadi nyamuk diantara mereka. Ato ngga ya, ceramahan si pacarnya Vicky buat gue ngejar cowok yang lagi deket sama gue ini.
Sore itu disela-sela obrolan kita yang ngga jelas dan bikin gue miris, gue sempet bengong. Bukan, bukan bengong jorok kok. Tapi beneran mind blown mengenai ketek pantat rendang – sebuah variabel yang semenjak gue masuk kuliah perketek-terong-duren-rendang hatiku senang menjadi sebuah sesuatu yang sangat tidak masuk akal. Dulu, Ketek adalah seseorang yang membentuk variabel siku-siku ketek imajiner yang entah pembuktiannya apa. Dulu, pantat dan pantat beradu dan membentuk kegagalan hubungan cinta ketek gue.
Namun variabel ketek kini berubah sejak gue melanjutkan kuliah lagi karena ketek – pada hakikat kemanusiaannya – ternyata memiliki kesamaan absolut dengan pantat – yang dahulu gue anggap sangat berbeda – yakni “rambut” yang tumbuh pada bagiannya. Pantat juga berubah karena sekarang, gue begitu nyaman berada dekat dengan pantatnya.
Dia, dia yang akhir-akhir ini banyak bertukar cerita dengan gue dalam balutan kata-kata tulang, syaraf, dan organ tubuh manusia lainnya malah menjadi dunia gue sebulan terakhir ini. Kita berdua emang udah temenan dari SMA, tapi kita malah baru beneran deket selepas masa itu dan kita saling sama-sama perlu seseorang untuk menjadi teman dalam diam. Betul, gue tidak memiliki kompetensi apapun untuk mengerti dunianya maupun dia untuk mengerti bidang yang sedang gue tekuni, tapi kita berdua selalu mendapat tempat dan waktu untuk berbagi.
Tapi tetap aja – gue memerlukan sebuah rumus absolut tentang bagaimana ketek, pantat, dan rendang memenuhi fungsi persamaan hatiku senang itu. Lagipula, bagaimana gue mengetahui pantat yang ini adalah pantat yang benar untuk gue habiskan sisa hidup gue?
“This is how we doctors break it down for patients tho: kita suntik dipantat karna pantat itu macem bampernya manusia. Kenapa lu bisa nahan duduk lama, kenapa lu ngga berasa terlalu sakit kalo disuntik dipantat, kenapa kalo jatoh pantat duluan itu cenderung lebih aman? Ya karna lemak sebagian besar disimpen dipantat. Kalo secara bego-begoan sih, pantat itu macem defense terakhir lu kalo udah diputusin pacar. Enak, ngga perlu ngerasain sakit; terus bisa didudukin sampe engap pula” –red

Sabtu, 08 November 2014

PANTAT KETEK RENDANG HATIKU SENANG: Variabel Ketek Yang Telah Hilang

Udah lama banget gue ngga merasakan sebuah senyum tulus tersungging dari bibir seseorang buat gue. Seriusan deh; apalagi karna gue jomblo begini (ketawa deh kalian sana yang udah punya pacar. Ketawa).
Sebenernya kerinduan gue barusan bukan tanpa alasan. Setelah gue putus sama Ketek 7 tahun lalu, gue berniat untuk nyari cowok yang pada akhirnya bisa gue ajak komitmen ke jenjang pernikahan. Udah lama juga, ya 7 tahun? Ga berasa loh kebablasan gini (Ketawa lagi aja sana. Seneng amat gue menderita).
Ngomong-ngomong, masih inget sama gue, kan? Joselin Mariska SJJ MPJS dari teori Cinta Segi Ketek? Eh, apa? Kalian belom tau teori itu? Produser skripsi gue mana sih, kok bisa sampe kalian belom tau gitu?
Okelah sini gue kenalin diri gue sendiri lagi ke kalian plus kenalin sama teori sejuta kembang gue ini.
Seperti yang kalian tahu, nama gue Joselin Mariska SJJ MPJS. “SJJ” sebenernya ngga bakalan masuk dalam deretan nama gue kalo bukan karna gue menyelesaikan tingkat sarjana jomblo miris disebuah institusi yang gue jamin kalian belom pernah denger dimanapun (well, kecuali gue dan sahabat gue Vicky yang sudah terlebih dulu meraih gelar martabaknya sankingan jomblo). Cinta Segi Ketek adalah teori macem gaul dimana ketek, jika tidak diartikan secara harafiah adalah sebuah siku-siku yang membangun ruang segitiga tangan ini. Setelah lulus S1 dulu, gue sempet kerja beberapa tahun dalam ke-jomblo-an sebagai pengamat kaum jomblo. Honornya sih lumayan loh. Ya lumayan buat bangun comberan depan rumah lah ya.
Seharusnya tahun ini gue akan mendapat gelar baru yakni “MPJS” (walopun belom dapet tapi gue masukin dulu lah ya biar keren dikit) yang merupakan magister dari jurusan “Para Jomblo Sedih” karna setelah pacaran yang terakhir belom ada yang minat lagi. Nah, teori ketek pantat rendang hatiku senang adalah thesis S2 yang sedang gue kerjakan mengenai bagaimana ketek, pantat, dan rendang jika digunakan dengan baik dalam sebuah persamaan akan somehow dapat memenuhi hasil kali dan hasil tambah sebuah persamaan dan berujung pada hati bahagia. Masalahnya sekarang adalah sebenernya gue bingung mau masukin rumus itu ke persamaan yang mana. Semua persamaan matematis cinta seakan ngga kepengen ngeliat gue berhasil setelah lima setengah tahun yang lalu lulus dari S1 Cinta Segi Ketek. Ngga ada yang masuk akal ketek. Miris? You can totally say that again.
Tapi serius. Let me ask you these questions:
Inget ga sih gimana dulu waktu kecil kita pengen semua orang senyum dan main sama kita?
Inget ga sih gimana rasanya semua senyum yang orang lain berikan itu setulus yang senyuman kita?
Inget ga gimana rasanya menemukan seseorang lain itu yang bisa kita ajak ngobrol serius dan bercanda pada waktunya?
Inget ga dengan malam-malam sendiri menunggu kepastian dari hatinya?
Atau ketika kalian berantem dan ngga berhasil melewati malam sulit itu?
Pernah ada ga sih sebenernya senyuman tulus dari seseorang buat kita?
Iya, gue inget semuanya. Rasanya itu udah bertahun-tahun yang lalu ketika gue terakhir mendapatkan senyum yang setidaknya gue anggap tulus dari Ketek – sebuah variabel yang kini telah hilang dan variabel yang tidak pernah gue temukan lagi dalam diri orang lain semenjak kepergiannya; sejak gue terakhir memegang tangannya dan meminta dia untuk tetap tinggal. Gue merasa gue jahat, sedih, dan tidak pernah mendapat senyum tulus dari siapapun lagi sejak malam itu. Dan tahu apa? Waktu sudah berjalan 84 bulan penuh setelahnya.
Selain ingatan itu, timbul perasaan miris. Miris, karena temen gue yang dulu selalu gue ledekin jomblo berkepanjagan aja udah memiliki cowo dalam 7 tahun penantian gue. Iya, temen gue Vicky yang kalian kenal dari Cinta Segi Ketek. Miris juga karena sekarang dia udah memiliki kuasa itu untuk ngolok-olok gue in return of what I’ve done of not being there with her in the long jomblo run.
And as I’ve said sahabat-sahabat gue yang jomblo dimanapun kalian bersedih, bahwa waktu sudah berjalan jauh sejak hari itu. Gue masih gue yang sama, Joselin Mariska SJJ walaupun seharusnya sudah sedari tahun lalu gelar dibelakang nama gue bertambah variabel “MPJS” dari jurusan yang gue pilih. Gue juga mungkin masih pengamat jomblo yang sama, tapi kesibukan gue sekarang bukan berfokus pada lulus S2 gue lagi, tapi bekerja dan mencari senyuman itu yang sudah lama gue nantikan. Pokoknya udah banyak banget yang berubah, deh. Senyum gue aja udah ngga secemerlang gigi pepsoden dulu.
Gue jadi ngga tahu apa itu ketek jika tidak diartikan secara harafiah.
Gue jadi ngga bersemangat menyelasikan thesis gue karna pada dasarnya walaupun ketek dan pantat ternyata tidak sebeda itu tidak dapat gue temukan korelasinya untuk sebuah persamaan.
Lagian, kapan sih kita bisa bahagia dengan cuman ngeliat sebuah senyuman? Gila aja ya gue. “Ngimpi kamu nak” kalo kata nenek gue sedari lama menganggap gue gila. –red