Kamis, 31 Juli 2014

HEYOO!!



I AM FREAKING BACK!
See I’ve told someone that in this month and following month in particular I will only be uploading 5 posts oer month due to my own targets to achieve on my blog until December. But who knows if it was to be more than that, right? I do not give false hopes (Baca: gue ga suka PHP yaowoh! PHP itu pahit bro, PAHIT!)
By the way...
The previous week was a massive one. Especially karena libur lebaran cuman seminggu + sepi banget makanya gue ikutan mager. Mager not as in gue mager makan (HAHAHAH jangan harep), tapi mager as in banyak banget procastinating and shits like that. And THAT includes ngga latian piano. Meh.
And yet to complete my procastination, I am going to baffle a little and be cocky for just one freakin’ time in my whole blogging world I swear. Yes – this is going to be about me; and no – you are not going to be able to say anything about it.
Let’s go.
1.      Because of bosen-in-ation, I spent a lot of time on my gadgets and especially to instagram on my phone. I found so much of culinary places in like around West Java – something I never had dealt before in all my freaking instagramming life. And I am proud.
2.      I managed to stalk a whole bunch of people – too on instagram and yet I am privileged to stalk some private blog links people have put up on their bio (personal blogs I would say). Some of them aren’t bad, really. But since I am an active breathing living blogger of my own or somesort, I slightly put a higher stake on their shits they put up and laugh at it when it was too cheesy. So, yeah. They lose bunch of moments because they didn’t update as frequent as I did or been as happy as I always am. And for much once, I’d say I am freaking proud of my being in the blogging world. Watch out for me kids. I REPEAT: watch out.
3.      I can conclude that I am a very happy person. Once hurt like those younger days, I lose almost half of the endurance of writing about sad or galau shits in my blog (blah what was I saying). A lot of girls these days update nothing but useless shits due towards their broken-heartedness no one should know about. Why? Because they use their freaking blog for some dead wrong reasons. Which – also made me feel really victorious because I am freaking not dumped in that sort of devastating moment these days. AND DAMN YEAH EVERYBODY I AM GLAD. LONGLIVE JOMBLO!
4.      Gue makan eskrim. Yes, I should be happy of that achievement because I did it. I didn’t actually eat it like at a higher rate than before or anything, but I enjoyed every prosperous second of life when icecream does it.
5.      As a perilous observant, I could conclude that people at an older age rate usually fills their blog with culinary life photos and those giving advice stuffs to younger kids about stuff. They are so cool they had wordpress or theirname.com thing. I want to have one soon. Now; the kids below my age USUALLY tells stories about their galauness diputusin cowoknya. Yes, those mamma mia lezatos moments. And unless they put their minds into something (like fashion blogs or things like that) for their blogs, they aren’t gonna end up in anything good I swear to God. Both at a very rare upload sessions – up to 2 weeks to every post interval. Yes, sibuk will be the most self-sufficient-reasons to their unstable mental state (even to those yang put their mind up into something). Meanwhile, anak-anak my age usually spent theirs on random shits like I did. And yes, I include myself as ‘the random’ because I just sincerely enjoyed the action of essay writing itself walopun hasil gue lebih jebot daripada mereka punya. Peduli amat – yang penting hepi. HAHAHA
And there does it! Bangga gue bisa nulis gini aja. Sorry for bad grammar tho (sorry ngga sorry sih sebenernya itu juga. Bomat kalo si Keran bilang). See you ‘till the next update kids! Ciao! –red

Jumat, 25 Juli 2014

Kuliah


Kuliah.
Kurang dari setaun lagi gue udah akan ada disana.
Gila cepet banget ya.
Perasaan baru kemaren gue masuk kelas 10 terus ditanyain mau masuk IPA ato IPS.
Perasaan baru setengah taun lalu gue nulis betapa gue semangat mau kuliah dan sekarang gue udah beli formulir yang sebentar lagi harus gue balikin ke UPH.
Iya, kalo lu pada bacain blog gue pasti pada tau entri gue jaman jebot ketika gue bilang prospek cowok ganteng di jurusan yang gue pilih bakal meningkat sampai dengan rata-rata 100%. Itu ngga salah sih, sebenernya. Tapi ternyata cowok cakepnya banyakan di jurusan perhotelan sama teknik industri yang dua-duanya bercokol di 2 gedung yang samasekali berbeda dengan gedung yang bakal jadi homebase gue nanti. Bukan gue bilang di komunikasi ngga ada yang beneran cakep juga ya. Ada, tapi setelah gue teliti lewat camp kemaren gue menyimpulkan bahwa cowo-cowonya flamboyan – rada-rada kayak 1 temen SMP gue dulu. Ah tidak. Mungkin bisa sih dapet cowo cakep dari 2 jurusan yang gue sebutin selain komunikasi, tapi pasti target awal mereka juga cewe-cewe unyu baru lulus SMA yang mereka incer begitu UPH Fest dimulai. HAH. Jadi kapan gue dapet cowo. KAPAN???
HAH. Kenapa gue jadi sedih-sedih galau gini deh.
Ngomongin soal jurusan kuliah, anak-anak seangkatan pasti kaget gue tiba-tiba pindah pilihan dari psikologi ke komunikasi gini. Hahaha ga ah, biasa aja #lol. Soalnya gue dari SMP kayaknya yang udah paling yakin mau ambil jurusan psikologi tapi eh malah mendadak pindah haluan di‘menit-menit’ terakhir. Weelllll, ngga “menit-menit” juga sih wong masih setaunan lebih. Sebenernya ngga ada alasan khusus sih atas perpindahan pilihan gue tapi emang setelah gue tau ada jurusan Broadcasting Journalism di UPH, pilihan gue yang tadinya udah firm langsung goyang. Yang tadinya udah yakin mau psikologi tiba-tiba ada pilihan baru. Udah gitu pilihan barunya lebih cocok pula sama gue. Nah abis camp kemaren gue makin yakin mau ambil komunikasi karna gue jadi bisa bener-bener kerja sesuai passion gue sebagai jurnalis. Seperti yang sebagian besar anak-anak tau, gue ngga pernah berhenti nulis. Tapi eh, entah deh.
Honestly setelah gue beli formulir dan ngeliat sebaris jurusan yang terpampang untuk gue pilih gue jadi rada-rada ngga yakin gue masuk kuliah dengan jurusan yang bener-bener bakalan bisa gue tekunin nantinya sebagai lifetime job gue. Setelah berpikir keras dan bener-bener nyingkirin psikologi dari pilihan jurusan, gue masih ada 3 pilihan lain yang masih jadi pertimbangan tersendiri sembari menghitung hari sampai gue harus balikin formulir ke UPH. Gue ngomong gini buat ngasih liat kalian semua bahwa gue juga walaupun ngepas dalam pelajaran gue masih manusia yang memiliki segudang pilihan seluas teman-teman gue yang lain plus labil-labil ngga menggalaukan. Here they are:
a)      Philosophy school
Walopun gue sama sekali bukan orang yang filosofis (hahaha emang engga kok Glo sante aja), gue demen banget sama filosofi. Segala macem teori filosofisnya plato sama socrates sama aristoteles ya gue demen deh. Gue belom bisa bedain yang mana guru yang mana muridnya, sih tapi. EHE EHE EHEHEHEHEHE.
b)      Komunikasi
Gue pengen kerja dibidang Jurnalis bro, not the whole concept of being a diplomat thingy or anything yang harus ngedesain-desain produk bla bla bla. Sederhana banget deh keinginan gue dengan masuk komunikasi; gue pengen bisa berhasil jadi penyiar profesional dan jurnalis and/or editor buku yang banyak direkrut sama penulis gaul (baca: terkenal) –nya dunia. Udah, gitu doang. Seriuus.
c)      Teacher’s College
Teacher’s College sebenernya sebagai pilihan sampingan aja sih (walopun gue masih consider banget sih), I mean like bisa aja gue dapet pengajaran sebagai guru dari komunitas ato foundation yang berfokus buat ngajar dipelosok-pelosok Indonesia like Indonesia Mengajar ato Rumah Pandai, tapi jadi seorang guru bener-bener gue consider karna selain nulis, gue udah kepengen jadi guru juga dari kelas 3 SD as if it was my calling from the start besides nulis.
Basically, those are the 3 things I’d consider hard dengan presentase 80% on komunikasi. The other majors sih sebenernya rasanya bisa kayak psikologi: gue pelajari sendiri lewat internet. Tapi maksud gue begini loh dengan konsiderasinya: gue menemukan filosofi dan ngajar adalah 2 hal yang sama menariknya dengan komunikasi dan psikologi itu sendiri. 2 hal yang, kalo gue bisa ‘put my head into it’ akan sangat saling mempengaruhi gue dengan angka yang signifikan.
Besides harus akhirnya terpaksa lepas dari dunia SMA, gue sangat-sangat semangat masuk kuliah. Banyak banget hal yang pengen gue kerjain dalam waktu 3 tahun gue kuliah yang salah satunya adalah mencapai cita-cita kerja di Kompas dan jadi salah satu editor muda yang mencapai titik tertinggi dalam usia yang muda. Yeap, gue punya mimpi itu. –red

Rabu, 23 Juli 2014

Bullshits

INFJ’s are the master of written communication, they say. And I would say that I dislike this one very person everyone else also hates. More than they could think of, I suggest myself saying.

“Tapi dia ide-idenya sih bagus Glor... kreatif banget”
“Iya, tapi lu lebih pengalaman sama dia soal tugas kan? Tau sendiri orangnya kayak apa. . .”
“iyasih...”

Gue inget banget pembicaraan gue sama Gwen pagi itu di ruang kantor kepala sekolah kita; hari-hari pertama setelah kita berdua menangin pemilihan OSIS yang baru. Memilih tim yang tepat bukanlah pekerjaan yang gampang – terutama untuk menggabungkan 2 kepala yang  berbeda dibawah satu kesepakatan. Dan untungnya, kita berdua sepakat soal manusia yang satu ini.

“Kalian ga mau pilih dia? Dia orangnya kreatif loh” –tiba-tiba komisaris kami menanyakan tentang satu orang ini yang baru saja kami perbincangkan
“Um, engga deh sir. Kreatif sih orangnya, tapi kita pernah ada masalah ngga enak sama dia pas due-date tugas. Jadi yah... gitu deh sir” bela gue
“Kalo sama saya waktu itu saya minta dia bikin design apa gitu dia on time juga kok”
“Oh iya sir? Kan didepan mr sama didepan kita suka beda” bela gue lagi
“Oooh yaudah. Terserah kalian aja”

Beda. Emang beda banget dedikasi dia didepan kita sebagai temen kalo dibandingin sama didepan Mr Lucas. Didepan guru lain aja masih nunda kok. Tanyain aja deh beberapa guru kita kalo mau tau.
Tapi jujur deh. Sebenernya bukan mau gue juga untuk nolak individu – siapapun dia – untuk ngga ikut OSIS. Semua orang punya potensi masing-masing yang harus kita pertimbangin sebelum langsung ngomong “engga”. Lagian semua orang punya hak untuk memberikan kontribusi yang mereka inginkan, kan? Tapi untuk beberapa kasus seperti dalam kasus dia ini, kita berdua bisa langsung setuju untuk nolak karena adanya 1 hal atau lebih yang kita anggep sangat berpotensi menghambat laju kembang kita sebagai tim. Sebagai kepala, kita berdua juga punya hak untuk merekrut dan menolak – itu juga yang harus mereka pertimbangin sebagai calon anggota.
Itu satu cerita yang membuat gue ngerasa bersalah, sebenernya.
Bersalah, karna pada akhirnya dia jadi ngomongin gue sama Gwen dibalik telinga kita berdua. Dia sakit hati katanya ngga keterima di OSIS.
Tapi emang ternyata ngga cuman orang lain yang bisa gue katain isi omongannya bullshit semua, ya. Hari ini gue sadar gue juga bullshit ketika gue lagi curhat ke nyokap gue tentang dia ini. Bullshit dalam kata artian gue cuman bisa ngomong doang tanpa gue ngelakuin apapun buat “nyelametin” dia. Iya, gue introspeksi diri gue sendiri dan gue mengakui keberadaannya. Kata lainnya adalah gue munafik; sama seperti banyak juga temen-temen didunia ini.
Kalo kata nyokap, sih, ini adalah salah orang tuanya dia yang bikin dia sampe “rusak” begini. Dia jadi nyari pelarian lain, ngga dapet perhatian orang tuanya seperti temen-temen yang lain, dan yang paling parah adalah; ketika rumahnya hanya berfungsi sebagai atap dan bukan sebuah perasaan hangat itu lagi. Dampaknya ya kita – temen-temen dia yang ‘terpaksa’ berkutat sama dia di sekolah.
Balik lagi ke tentang gue dan bullshit-bullshit gue. Sejak Mrs Tina – guru penjaga perpustakaan gue nyinggung soal jadi temen yang baik buat dia, gue masih ngga tau apa-apa. Hari itu gue cuman bisa ngira-ngira – karna gue ngga tau cerita dia. Lama kelamaan setelah mulai kebaca tabiatnya, omongan guru perpus gue ini mulai nusuk hati gue. Mulai masuk akal omongannya. Sampe hari ini, gue masih sebel sama dia. Mungkin gue yang paling sebel dan paling fake didepan dia.
Walaupun begitu, gue menyimpan ketakutan yang paling mendalam. Iya, gue takut. Bukan karena takut dia lebih berhasil dari gue ato apa – tapi gue takut kalo selepas kelas 12 nanti tiba-tiba gue denger berita dia udah pergi dari dunia ini dan gue ngga pernah melakukan apa yang hati gue suruh gue lakukan: kasih tau dia bahwa gue kesel sama dia dan at least menjadi teman buat dia. Teman yang sincere – bukan yang bertopeng buat mencela dia ketika dibelakang gini. Ga bohong, gue takut banget. Gue takut gue ngga bisa kontribusi buat dia padahal hati nurani gue udah ngingetin gue mulu tentang dia ini.
Bilang lah gue bullshit didepan muka gue. Gue bisa terima karena emang begitu kenyataan yang lagi gue hadapin sekarang. Gue bisa terima. Tapi gimana dengan lu? Apa lu berani ngakuin juga bahwa lu lagi sebel sama seseorang? Apa lu berani membuat perubahan? Apa lu mau membuat temen lu lebih baik atau malah menginginkan kematiannya? Jawab lah pertanyaan itu sendiri. –red

Senin, 07 Juli 2014

Beautiful Imperfections



There was once this girl who fell in love with a guy. This guy is nothing more than a slave of his dreams and passion – not once knowing the word love itself. They first met in a park in the spring, when the flowers are blooming and fruits ripe to its sweetness.
Years passed by without him knowing how precious he was to the woman until one day, he painted a panorama showing in contrast a beautiful face he’d seen regularly in the park and then went home; hit by a car while walking.
This girl who fell in love with this man, when she heard he was in an accident took the initiative to care for him; accepting him in all his weakness and unknowing of love under the rough hospital care.
How astounded she was when she came to his house for a regular visit when she finally noticed the panorama painting with her face in contrast hanging above his television set – something she had never any recollection of seeing before. She never knew that this man could actually be in love. And that love, was for her. –red

Written by me on March 24th 2014

Sabtu, 05 Juli 2014

Jomblo: It’s Me VS. The Single Lads



Yak saudara-saudara sejomblo setanah air dimanapun anda berada, inilah momen yang telah kalian tunggu-tunggu, tulisan terbaru gue yang paling dinanti-nantikan oleh semua kaum berstatus maupun tidak berstatus yakni “JOMBLO: It’s me VS. The Single Lads”!!! (kok hening?)
Mungkin kalian selama ini bertanya, ‘kak apa bedanya sih single sama jomblo? Kan sama-sama sendiriaan... #cedih’. Atau kalian juga mungkin menyimpan pertanyaan dalam hati, gimana cara bedain jomblo sama single... Ato mungkin lebih tragis lagi kalian akan bertanya, apakah karna gue (sebagai penulis) jomblo kelamaan jadi gue udah ngga selucu dulu lagi?? Okeh cukup ya saudara-saudara mencelanya. Kini pertanyaan kalian akan gue jawab secara serius. Kangen kan sama gue? Udah deh, ngaku aja #maksa
Let’s dive in to our questions.
1.      Apa bedanya sih, jomblo sama single?
Setelah survey ya teman-teman ya, jomblo sama single itu sama. Yang membedakan hanyalah persepsi orang yang ngomong. Kalo buat gue sih asikan jomblo karna memberi kesan lebih “kuat” aja (baca: kalo single terlalu elegan deh kayaknya buat gue {baca: single itu terlalu ngasih kesan fragile gimana gitu dech}) dalam menjalani kehidupan sendirian menerjang hujan badai dan rintangan #EAK #wets #jeduar
2.      Sebelumnya, jomblo itu apa sih?
Jomblo itu, masbro, adalah keadaan yang maksiat sekali karena kalian akan selalu diejek gara-gara malem mingguan – eh sabtu maleman maksud gue – sendirian terus dipojok teras rumah #EhKokGueJadiCurhatGini. Secara ilmiah, JOMBLO means you are not in a relationship. Not because you cannot, but because you don’t want to be in one. Ato bisa jadi juga gara-gara ngga laku, sih. Tapi itu kasus langka buat para jomblo
3.      Kalo single? Itu apaan?
Single, as in the Indonesian translation is, berarti lu sendirian. Which also means lu sendirian mulu kemana-mana alias juga ANSOS. Jadi selain kalian rapuh seperti yang gue bilang di awal, kaum single itu juga ternyata ansos. Coba aja liat deh teman-teman disekeliling kalian yang ngakunya ‘Single’. Pasti ansos kan??
4.      Teknik bertahan hidup untuk jomblo sama single sama ngga?
Secara overall, teknik bertahan hidup kita sebagai kaum jomblo maupun single sama. Yang membedakan hanyalah tarian musim kawin dan tarian kesedihan kita. Jomblo, seperti yang banyak dari kalian sudah ketahui, akan meratap sampai lebaran monyet dateng supaya cepet dapet jodoh sementara single akan makan eskrim single scoop sendirian mojok sankingan ansos, seperti namanya (oke ini sih jayus Glo. Oke lanjut). Dan as in tarian musim kawinnya, jomblo akan nari ditengah lapangan bola bareng-bareng pas world cup. Jadi instead of nonton bola, akan ada satu malam khusus untuk kaum jomblo ini nari ditengah lapangan di Brazil. Beneran deh. Liat aja nanti. Kalo single, tarian musim kawin mereka jatohnya akan jadi kayak lagi lomba nari tango disebuah ruangan mahal: nari dulu sampe engap baru nyatain cinta. Keburu capek duluan, kan? Udah gitu ruangannya isinya cuman mereka berdua lagi #sepi
5.      Siapa kaum yang lebih bertanggung jawab atas banyaknya kasus PHP terhadap lawan jenis? Jomblo ato Single?
Untuk pertanyaan yang satu ini, sob, itu adalah urusan diluar jomblo dan single. Mari gue kasih tau. Didunia ini ada 3 macam kelompok manusia: yang udah jadian tapi ngakunya belom nemu jodoh, jomblo, dan single. Jomblo dan single udah ngga mungkin masuk urutan Pelaksana Tindak PHP atau yang lebih dikenal sebagai PTPHP. Jadi udah ketawan siapa, kan? Yak betul sekali. Merekalah yang bertanggung jawab atas semua hal ini karena mereka ngga ngaku mereka udah punya pacar. Gue turut berduka.
Okelah kalo begitu! Sampe disini dulu aja deh ya sesi tanya jawab tentang bedanya jomblo dan single. Semoga kalian berada pada pihak aliansi yang benar dan sesuai dengan hati kalian masing-masing. Sampai bertemu dikesempatan lainnya dan SALAM JOMBLO #X –red