Jumat, 23 Mei 2014

GOODBYES

“Jangan liat cara penyampaian Mr; tapi liat isinya. Kalo kalian liat penyampaiannya pasti kalian sakit hati sama Mr... Tapi yah Mr minta maaf lah untuk kesalahan Mr selama ini, yang apapun yang Mr bliang ato apapun yang menyakiti kalian; yang Mr ga sadar. Seperti yang Ariel bilang tadi, Mr cuman pengen sampein kalo kalian itu udah kelas 12 – anggepannya udah gede – udah harus bisa push diri kalian sendiri. Sekali lagi Mr minta maaf sama kalian”

Today is another sunset to say goodbye to. Because even though the set will not change for another year, the time will be different; the same as those feelings that change. But here is, still just the same old sunset we once knew. Be there for the moment that counts.
Sore hari sudah tiba dan bola besar yang setia menyinari bumi hendak masuk kembali ke ufuk barat. Gue berdiri disitu, memandang kaca persegi yang selalu memberikan gue kesempatan untuk melihat keluar gedung sekolah. Sebuah kaca yang memperlihatkan kepada gue sebuah pemandangan yang sudah sering gue lihat sebelumnya. Di ruang ini, 5 tahun lalu, gue memulai hidup gue sebagai seorang junior bawahan – seseorang yang tidak dianggap berpotensi apapun didunia organisasi. Kini, 5 tahun setelahnya, gue adalah wakil ketua OSIS yang paling berbahagia. Dan untuk saat ini, gue ngga ngerasa sebahagia biasanya ketika keringat yang bercucuran untuk sebuah pengorbanan tidak terasa terlalu menggairahkan. There’s never anything good in goodbyes.
Momen kayak begini sebenernya nyenengin sih; gue ngerjain sesuatu buat kakak kelas yang bisa dibilang paling deket sama angkatan kita – mencurahkan tenaga untuk merayakan kebahagiaan dan keberhasilan mereka. Tapi disisi lain gue juga sadar bahwa ini bisa jadi momen terakhir kita semua ngumpul bareng kayak begini sebagai sebuah sekolah; sebuah tim; sebuah keluarga. Sedih. Gue sedih banget.
Ngeliatin matahari tenggelam biasanya membawa kedamaian tersendiri yang ngga dia bawa buat gue sore hari ini. Ada sebuah perasaan terpaksa ketika gue mengharuskan diri gue mengerti bahwa perpisahan ini hanya untuk sementara saja – suatu hari nanti mereka akan dipersatukan lagi. Dipersatukan lagi apanya sih, orang udah pada punya jalan hidup dan kesibukannya masing-masing begitu. Kalo cuman sekedar reuni mah cuman “pertemuan beberapa jam” daripada “dipersatukan”. Mereka ngga akan pernah bisa kayak begini lagi; semuda dan se-SMA ini. Mereka hanya bisa menjelajah memori itu suatu hari nanti. Ketika semuanya udah berubah, hanya tersisa foto-foto sebagai bukti eksistensi sebuah dimensi yang disebut-sebut ‘waktu’ ini.
Too bad a happy start always have to always end in this kind of mental torture sadness we didn’t ever intend to have. A desperate cry, if I may say the least.
Pemandangan yang sama dari tahun ke tahun ini entah kenapa membawa kesedihan yang berbeda buat gue dalam acara kali ini. Ngga biasanya gue sedih ketika merayakan sebuah kebahagiaan orang lain. Ngga biasanya gue kepengen berlama-lama didunia SMA. Ngga biasanya gue melupakan penderitaan gue sesaat sekaligus mendapat kesedihan lain dihati ini. I guess I have just realize the pain of moving on of high school – having to leave the most well known grey moments of life.
Biasanya kalo diadain acara perpisahan kecil-kecilan begini yang sedih adalah peserta acaranya. Bingung juga gue kalo gue sebagai panitia malah yang sedih. Gue sadar bahwa cepat atau lambat, setidak siap apapun gue, gue akan harus tetap berada diposisi mereka tahun depan; bahwa gue akan segera lulus juga, segera menghadapi perpisahan dan dunia perkuliahan yang baru. Gue cuman pengen diri gue yakin aja sih sebenernya apa yang gue lakukan saat ini udah cukup untuk memberikan gue kredit yang gue butuhkan untuk kedepannya.
But then again, there was nothing good in goodbyes for me. –red
“You might not be able to control who to meet in your life. But what you can do is to control how you will feel about the moments you had with the people you meet to either be happy or be sad. It’s all in your control” –GE

Rabu, 21 Mei 2014

The Journalism Galauness


I am pretty much concerned about what I am going to broadcast to the world as soon as I had my hands on intenrship on college. I’m thinking of the television industry, honestly. And in Indonesia, we get used to too much bad news and regular good news that aren’t wrapped so good.
When all I know now about journalism is that I, as how I was supposed to be called as a “reporter” should give people stories about other things/people that should’ve been heard, for better or worse. They need to see that these are the things that are happening in their neighborhood.
All I want to do may not be much, but I just don’t have any idea of how I’m gonna package the information. Yet. I wanna make it go big and remembered. But what... or how... can I do that and make it that good. I want it to go as big and as original as I am; but because I’m not so much of that creative balloon person, I’d rather ask for someone else’s big thing and work together as a team.
I would just hope for some good ideas to come and float in fireworks when the time comes. I can sure use them for some good scores as well as the start of the life-long career I would live for the rest of my age. -red

The INFJ



What if we know how it felt to be different but we can’t do anything about it when some other friend is going through the same experience? I feel helpless; I can’t help them and I can’t help myself. To me, this kind of pain is so much the same way of pain I felt for Indonesia. I know there are a lot of things to do for my country but I don’t know how to start. I feel useless; I feel helpless. I can’t do anything because in all my life, I’ve never felt so much accepted by my surrounding community myself (even if my community says the whole different kind of shit). And to tell you the truth, really really honestly, I’m not feeling too well with myself lately. I don’t know why this happens this way though; the fact that I had’t been forcing myself too much on anything in the past few weeks made me feel bizzare why it made me like this.
I’ve experienced this kind of thing a few times almost at every year, but it is as heavy as it once looked.
As for an INFJ, these kinds of feelings are one of the worst feelings I would have to posess for sometime besides being neglected and appriciated.
 It’s hard to be an INFJ to be honestly. INFJs make up only 1%-3% of the population, the rarest of the personality types. We tend to be perfectionists who fear we aren’t living up to our potential. INFJ’s can always list the things they’ve left undone but have a hard time counting their accomplishments.
INFJs hold strong convictions and are deeply affected by the suffering of others. However, because they are introverted, they prefer thinking about weighty issues to talking about them. Those who are activists – a role toward which they gravitate – take up causes for moral reasons, not for personal glory political power. Although INFJs are gentle by nature, they are formidable in battle. The highly developed intuition of INFJ warns them when trouble lies ahead – for themselves or the world. Some people find INFJs pessimistic or even a little paranoid. However, INFJs are more often right than wrong because their intuition is so accurate. This ability makes them effective problem solvers with the ability to act insightfully and spontaneously.
INFJ alone stands for Introversion, iNtuition, Feeling, and Judging personality type. The Introvert needs privacy and solitude, generally avoids large social gatherings and is happiest either alone or in the company of one or two good friends. Intuitive people tend to act on their hunches, which are usually sound. They’re skilled at sizing up others and knowing when situations are risky. The feeling person is more likely to be swayed by sentimental considerations and has a softer heart and the Judging type is more focused and comfortable with closure than the Perceiving type. People with a dominant judging function rarely miss deadlines or are tardy for appointments.
And by how that is supposed to explain to me of what made up my personality, you can check the rest of the article about my personality type at wikipedia by typing in the keyword “INFJ personality types”. These 4 combinations are founded by Myers-Briggs, and I did just retype them from wikipedia for my own cause.
I hope by the way you know me more can make us better as humans and you can also take your own personality test at 16personalities.com . That website helped me a lot to understand how I really am today. I’ll see you very soon. Ciao! –red

Jumat, 16 Mei 2014

Passion



Bagi gue, passion seseorang dalam satu bidang pekerjaan itu bener-bener penting. Menurut gue, bukan cuman  gue sebenernya yang perlu menemukan dalam bidang apa gue akan bener-bener niatin kerja nantinya dan to actually enjoying the work itself; but also to every people out there yang masih seumuran sama gue ato lebih muda dari gue, yang sooner or later are heading to college. Guys, I’m truly sending you all a message to actually find and your passion and work alongside it. Because without this ‘Passion’, you will not enjoy what you do. And what is the purpose of working some job that doesn’t make you believe you’re living your life the fullest? Nothing. It all ends in death anyway.
Ada seorang kakak gue yang satu komsel bareng beberapa waktu lalu (udah sekitar 4 ato 5 taun lebih tua sih makanya dia udah mulai college waktu itu) baru 2 semester ngambil dekave di salah satu uni deket rumah tapi dia malah ganti jurusan gara-gara katanya gakuat. Banyak tugas lah, capek lah, harus lembur lah apa lah. Seneng gambar sih dia, tapi kalo emang ngga bener-bener minat (maksudnya kalo yang gambar-gambar begitu bisa dijadiin kerjaan sampingan aja) ya jadi begitu hasilnya. Untung dia dateng dari keluarga yang bisa dibilang kelas atas sih, makanya soal ganti jurusan uang bukan masalah. Tapi sayang aja kan ya waktu sama biaya peralatan bla bla bla yang udah diabisin buat 2 semester itu. Sekarang dia malah mendarat dijurusan perhotelan di universitas yang sama. Lucu sih gimana passion yang beneran membuahkan hasil yang berbeda. Dia ngga pernah ngeluh capek lagi tuh walapun sama lembur dan sama capek. Kalo yang bener-bener passion tuh enjoy gitu loh ngerjainnya, ngerti gak sih. Walaupun ngga salah juga sih kalo kita salah ngambil jurusan. Toh, kita sering kali masih ngga yakin kan sama apa yang bener-bener mau lakuin kedepannya. Ngga semua orang bisa segampang gue untuk bilang gue pengen ngambil jurusan ini ato jurusan itu juga lagian kan.
Beda lagi sama nyokap gue yang ngaku sejak SMA pengen jadi dokter (makanya masuk IPA dan nilainya emang ngga kalah cakep). Tapi waktu apply kuliah kedokteran disebuah uni incerannya nyokap malah ngga keterima sendiri. Aneh juga sih. Tapi akhirnya nyokap ngambil kuliah sekretaris yang sampe sekarang udah ngebawa nyokap pada begitu banyak hal yang sebenernya dia impikan sejak masa SMA itu kayak contohnya punya mobil sendiri dan bisa nyetir. Iya, nyokap gue dan jamannya emang sangat-sangat sederhana. Cita-citanya cuman gitu doang. Tapi nyokap ngaku juga ngga nyesel ngga keterima di kedokteran dulu soalnya biaya kuliahnya yang mahal bikin nyokap mungkin banget ngga bisa lanjutin kuliah ditengah jalan dengan keadaan ekonomi yang kurang. Lagian, kuliah sekretaris juga enjoyable. Seems a bit membingungkan already? Haha I know right. Tapi nyokap bilang bahwa ternyata emang kerjaan yang cocok buat dia sebenernya sekretaris and passion dia disitu juga. Tuhan tau yang terbaik, nyokap selalu bilang.
Kalo buat gue sendiri, gue dulu waktu SMP yakin banget kalo kuliah nanti pengen ngambil psikologi entah kenapa. Penjelasannya cuman mentok di “ya kayaknya asik aja gitu bisa counsel banyak orang. Bodo deh orang Indo ngga terlalu percaya sama psikolog. Yang penting kuliah dulu aja!”. Sekarang sih, mikir 200 kali lagi mau ngambil psikologi. Jujur aja sih bukan gara-gara alasan counsel banyak orangnya, tapi gara-gara males ngafalin teori-teorinya! I mean like, please deh. Masa SMA aja udah dicekokin hafalan buku mulu masa ntar kuliah juga? Udah ah. I consider it as enough. I need something to do with more of field work rather than the theories walaupun gue harus akui bahwa gue juga punya interests on theories itself. Ngga mungkin aja kayaknya sesuatu terjadi tanpa sebuah teori. Kalo ngga ada penjelasannya pun, at least Tuhan punya landasan teorinya kan.
Sekarang, I found out that my real passion is broadcasting journalism. Kenapa? Bukan, bukan gara-gara cowok prospeknya. Tapi karena gue truly want to inspire the world – I want to give others the chance to be heard when they can’t. Gue mau jadi ambassador dalam pemberitaan kabar baik yang lebih luas daripada cuman sekedar blog dan pengetahuan yang gue miliki saat ini. I can finally work for the world; share them the values they needed. That’s it. Gak lebay, gak ngada-ngada.
Jadi, gue cuman bisa saranin kalian semua yang baca blog gue to really think and find your passion. Walaupun bisa berubah, sooner or later you will find them. I know that somehow my soul just knows what it really wanted. All we need is just to be ready to understand which to live. Without your passion, you can’t think about how you will live tomorrow karena lu bakal ngga enjoy hidup dan ngerasa tertekan banget. Don’t try to even think about it deh. –red

Kamis, 15 Mei 2014

Pertemanan Sebatas Kerupuk Goceng



I went through a lot of emotions yesterday mulai dari kuas gue ilang, forex kelompok gue rugi, gue kehabisan duit alias bokek tudemeks sampe akhir bulan, joomla gue gagal, botol ijo bulet gede kesayangan gue ilang, sampe sepatu item biasa gue harus nginep di rumahnya salah satu temen basket gara-gara Selasa kemaren udah capek banget dan males naik keatas buat ngambil (baca: ketinggalan).
There was a lot of regression I feel I was going through this past week – especially because I finally get the word form of why and what I’m going through tonight. Yes, I am indeed experiencing that “lazy for no reason” feeling. It wasn’t a good time for me going through it in this kind of moment, but I guess that it was the best thing for some of the following reasons.
One. My coke can creation was a blast. Gue suka gaya coke can gue kali ini. It came from hard work and passion #eak
Two. Basketball practices were actually over and I will finish sophomore year soon as this final test ends. 2 weeks of holiday, I am here for you.
Three. I had like one of the best clique moment with Faggs just a day before our ‘sitting next to each other’ ends.
It was at the library when it happened; pelajarannya Reading Writingnya Mihan yang udah cuman sisa free time jadi kita disuruh ke library buat baca ngisi waktu – sama aja ngga terlalu efektif untuk bikin anak-anak IPS shut up sebenernya. Gue duduk semeja sama Mei & Justin diseberang gue dan Cindy sama Mbing di sebelah gue. Awalnya gue ngga nyangka (dan emang ngga nyangka banget masih sampe sekarang) that this shit happened and that it actually did happen too.
FK: *kucuk-kucuk dadakan nyamperin meja yang ada gue + Cindy + Mbing + Mei + Justin sambil bawa buku cara bikin kue imut* Cin, gua liat foto lo di year book loh. Muka lo difoto jelek banget!
Cindy: heh! Apah?!?! Foto apaan? Dimana? HAH! *muka Cindy udah kayak serial killer siap ngegolok lawannya*
FK: culun banget lo
Cindy: Eh sial. *shriek* *teringat bayang-bayang masa lalu* Glor! Tendang dia Glor! Tendangin! Wakilin gue tendangin dia!
Gue: *cengo sambil mikir beneran mau mukul dia apa engga*
Cindy: GLOR! TENDANG GLOOORRR!!! *dengan sepenuh jiwa berteriak* karena ada space between gue dan dia!!
Gue: *mukul lengan dia juga akhirnya*
FK: hah? Kenapa? *bingung kenapa gue pukul dia*
Gue: Tuh Cindy yang suruh!
Cindy: Lu ada dendam pribadi sama gue yah FK?? Oh jadi gitu lu sama gue??
FK: ngga kok. Gue kan sekarang sama Glori udah partneran~
Gue: *BAHAHHAHAHAHA I WIN BEACH I WIN*
Mei & Cindy: *Evil laugh look*
Cindy: OH jadi gitu Glor sekarang? Elu lebih memilih dia daripada gue? GITUH??
Gue: ENGGAK KOK! *padahal dalem hati sih bilang “Iya Cindy, maafkan aku! Aku terserang epilipsi dan gue mau tularin dia!”* ENGGAK!!!
Cindy: OH OKEH *sambil ketawa-ketawa kecil*
FK: kan Glori sering bagi kerupuk gocengnya tante Santi
Cindy: hahh??
Meilissa: itu mah semacem pangsit-pangsit kecil gitu kaaan bukan kerupuk?? *muka rada cengo*
Cindy: oh jadi partneran kalian cuman sebatas kerupuk??
Gue & FK berbarengan: IYA!!
Gue, Mei, Cindy: *ngakak*

Uwoh. Betapa menariknya sebuah pengalaman bisa bikin gue kesengsem senyum-senyum sendiri for the rest of the day walaupun that day was relatively heavy for me. But because of this one shit, I’d likely reconsider the meaning of the whole day to myself. Thankyou, Wednesday the 14th! –red

Rabu, 14 Mei 2014

Pressure


Mungkin this was how Ella felt when she had to finally announce the day for the new chairman’s council. This is how doubtful and stressful it gets.
What if no one will come up to you and say “Hey, I will do it!”?
What if those people who came up to you weren’t the ones you expected to be?
Karena gue dan Gwen cuman setengah taun menjabat, mungkin itu menjadi sebuah plus buat pelajaran kita, jadi kita bisa lebih fokus kepada hal-hal selain OSIS. Dan setengah tahun dimana kita menjabat adalah setengah tahun mepet, jadi ngga banyak hal juga yang bisa dilakuin.
Sementara kalo naik semester depan? Semuanya bener-bener dimulai dari nol, dari angka 17 bulan 8, kegilaan pertama yang mengawali semuanya – apalagi kalo ketua OSIS berikutnya anak IPA pula. Selamat aja deh dari gue.
I feel like, this is so unfair. How the crowd just want to be the spectator crowd tapi mereka juga mau kepo semuanya without having to work harder and sacrifice bigger than those people who have commited to the team. Parasit banget, jrit. Kalo pepatah bilang mah, habis manis sepah dibuang. Mau tau acara-acaranya sampe ke detailnya tapi disuruh kerja ogah. Yah, palsu lah.
And when no one came to you at the end of the day, how are you supposed to feel about the future of the organization?
Clueless, hopless, cursing, and wishing that something from heaven will actually open their eyes to make them understand that this is a heavenly call to actually take the previlege to be the chairman – even though being a chairman means extra hardwork and determination. EXACTLY. Those are the things I felt. I don’t see how they can’t think for the future of the school because at one point, thinking about your future also means thinking about the school’s future as well.
Gue inget banget pas kita (gue sama Gwen) lapor ke pembina kita soal ini dan dia dengan kalem cuman bilang “ya tapi OSIS mau nggak mau harus tetep jalan, kan? Kalo nggak ada OSI,S mau dicap apa sekolah kita?” Whoa. It made the pressure so much higher without the last defense holding us back. I was really REALLY devastated at that point. Kalo gue bisa acting lebay di sekolah saat itu juga mungkin gue udah nangis guling-guling kayak orang gila kali.
Ya gimana sih ya, kalo pertahanan terakhir lo yang adalah pembina lo sendiri yang lo harapin bakal say something to encourage lo tentang cara cari anggota Ketos yang prospek malah cuman ngomong begitu? Sometimes guru pembina ini minta gue hajar juga. Palingan akhirnya cuman slow motion mau nonjok dari belakang orangnya trus pas dia nengok lu pura-pura mau ngomong “Hai”. Iya, sepalsu itu sering kali.
Tekanan pas awal jadi OSIS dateng lagi untuk yang kedua kalinya buat gue – walaupun tekanan itu bukan lagi mengenai siapa yang jadi ketua OSIS. Ngerjain acara udah berasa biasa karena udah tau bakal gimana; kita sendiri-sendiri udah punya bayangan atas apa yang akan terjadi. Tapi untuk hal ini, ada perasaan baru lagi yang menyerbu masuk. Gue rasa kita bener-bener harus put our heads and hearts in it. Kalo ngga bener-bener didoain, rasanya orang jeniusannya macem Josephine sama Timmy pun kalo ngga beneran terpanggil ngga bakalan berani maju (except atas desakan pembina kayak waktu MinKyu masuk OSIS kita). Jangan, jangan sampe karena first bestnya menolak untuk naik maka orang kedua terbaiknya yang malah mau maju dan keterima untuk mewakili suara seluruh SMA Tunas Bangsa.
Jangan sampe kesalahan stereotipe Indonesia kejadian lagi untuk kesekian miliar kalinya. Yang lebih tragisnya, sih, ini terjadi bahkan dari teruna-teruna muda bangsanya. Apa yang mau diharapin lagi coba kalo begini terus yang terjadi? –red