"What do you expect, an exploding pen?" -Q (assistant agent)
Baru kemaren gue nonton Skyfall sama nyokap gue, film terbarunya James Bond yang katanya specially made untuk memperbaiki citra James Bond yang selama ini "playboy". Tapi karena gue gak pernah nonton film Jems Bond sama nyokap sebelomnya karena banyak "adegan yang tidak cocok" untuk anak kecil (kata nyokap), jelas lah gue ngga tau apa-apa. Jadi buat gue tetep aja ada beberapa adegannya yang parah.
Jelas, alasan utama gue adalah karena temen-temen gue 95% nonton skyfall semua, dan sebagian besar mereka bilang ke gue kalo film skyfall itu keren (efek hasutan temen yang bikin gue penasaran plus ngiri). Pahahal ratenya buat dewasa sih hehhee (XD). Yaudahlah, udah gue tonton yang penting. Alasan kedua adalah karena lagu utamanya skyfall ini adalah ciptaannya si Adele which usually appears to be bagus. Jadi itu membuat consideration gue naik untuk nonton skyfall secara langsung dengan mata kepala gue sendiri. Jujur aja, gue belom pernah baca reviewnya sebelom gue nonton film ini sebagaimana biasanya gue lakuin kalo gue mau nonton film-film lain; tapi ga berarti gue ngga bisa enjoy filmnya secara langsung.
Secara spesifik, note gue hari ini mau nge-bahas soal review atas film James Bond pertama yang gue bisa gue inget gue tonton. Satu kata: KEREN. Sebagai pencinta film yang jarang nonton film action ato detektif-detektifan kecuali film kungfunya Jackie Chan kesukaan bokap, gue suka mulai ngerasa cocok sama film kayak beginian (kecuali waktu itu gue ditraktir temen SMP gue nonton SherlockHolmes yang si Robert Downey Jr main? Nah itu gue ngga ngerti apa-apa deh sampe hari ini).
Gue kemudian baru ngerti bahwa emang film se-epic Skyfall sekalipun pasti ada message yang mau disampein. Pada dasarnya, semakin kemari, gue semakin menghargai karya orang-orang yang bisa bikin sesuatu seperti ini karena jujur, bikin ceritanya trus dijadiin script aja bukan sebuah proses non-idiotik yang semacem orang biasa bisa kerjain. Terus budgeting-nya, pemilihan pemainnya, terus juga gurantee terakhir bahwa film ini akan sukses? Bro, kalo boleh jujur mana ada gurantee akhir atas kesuksesan sebuah film? Resiko aja sih kalo gue boleh bilang; resiko yang seharusnya diambil sama manusia kalo salah satu tuntutannya adalah mencoba sesuatu yang baru.
Sebagai sebuah film peradaban di era globalisasi, gue sangat menghargai setiap ide kreatif penulis dan aktor serta trik komputer yang mereka tawarkan. Di sektor perfilman layar lebar industri besar apalagi kayak Amerika, perjuangan (struggle) pihak produser juga pasti keren karena ngga mungkin bisa dapet license untuk produksi sebesar filmnya James Bond tanpa diketahui kualitasnya yang bener-bener. Nah, salah satu kelebihan film ini adalah quotesnya yang banyak ngena buat gue. Dari semua yang ditawarkan, gue punya 3 personal favourites: satu yang diawal tadi, kedua adalah "If the modern way didn't work, it's good to do the old fashion way" -Kincade (penjaga rumah tua-nya James Bond). Yang ketiga... Kasih tau ga yaaa? Hahaha.
Move on. Skyfall. Kalo yang udah nonton pasti ngerti kenapa judulnya skyfall: rumah masa kecilnya Bond. Sebagai natural oberserving lover, gue bisa nangkep sesuatu diluar apa yang mereka tend to tell the audience. Bahwa Bond kecil yang bertumbuh sebagai yatim piatu kabur dari rumahnya melalui tunnel yang ada di rumah tua itu dan bertumbuh sebagai Bond yang kita kenal: Bond yang adalah detektif nomor 1 England masanya (ceritanya). He chooses his destiny to change: bukan cuman jadi orang pemberontak dan bertumbuh tanpa mimpi, tapi beliau bekerja keras untuk hidup dan menjadi yang terbaik. Gue inget, salah satu quotenya dia bilang: "everyone have got to have a hobby" dan hobbynya adalah "ressurection". Dia bangkit dari keterpurukkan, berusaha lagi; coba lagi; jadi yang lebih baik lagi. Bisa dibilang, ngga ada kata nyerah dalam kamus seorang Bond di film yang gue tonton ini. Salut gue. Walaupun dia benci masa kecilnya atas fakta beliau kehilangan orangtuanya, gue masih salut. Kemungkinan Bond untuk jadi rusak dan malah ngga bikin apa-apa buat bangsanya itu mungkin banget, malah lebih mungkin rusak daripada membuat perubahan. Tapi beliau "memilih" panggilannya. Keren kan. ("When he went in there he was a boy. When he came back, he was not a boy anymore -Kincade).
Sama seperti banyak film lainnya, sebuah film bagus bukan di-rate "bagus" dari banyaknya orang yang menonton, tapi dari seberapa banyak esensi yang bisa ditangkep oleh yang nonton. Kesalahan banyak masyarakat yang gue observe adalah mereka ngga menggali makna sebuah film sampe ke akarnya -- mereka cuman nonton, bilang keren, rekomen orang lain untuk nonton juga tanpa bisa kasih masukkan, trus udah. Lupa. Selesai. Filmnya ga beresensi apa-apa seperti seharusnya. Gue gak kayak gitu; gue milih untuk "membedah" sedikit apa yang pengen gue "lihat", apa yang pengen gue "pelajari" lebih and this is the result. I've learnt more than something :) -red
•glowßproductions•
"The two survivors. This is what she made us." -Raoul Silva
Cinta Segi Ketek - the series
Kamis, 27 Desember 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Arsip Blog
-
▼
2012
(110)
-
▼
Desember
(18)
- A Man of Hope is A Man Of Dreams.....
- Mind To Read?
- Hap Happy Mother's Day!!
- To be, or not to be!
- Hope
- Futsal Putri Makin Bergengsi
- 5cm. The Movie
- Life of Pi
- Bear of Color: 15 May
- Batman: The Dark Knight Rises
- The Galau Day
- Mein Descendants
- "What do you expect, an exploding pen?" -Q (assist...
- Another time
- The Difference Between
- The 10a
- A Passion, A Favor
- Big Brand Evolution
-
▼
Desember
(18)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar