Malam itu adalah seperti
malam-malam lainnya ketika gue lagi bete dan berujung pada mencari tempat
pelarian dari seluruh kepenatan itu. Dan seperti biasa, dia adalah teman ngabur
gue. Teman sesama berandalan diprogram beasiswa kuliah yang emang dari pertama
kali ketemu udah nyambung sama gue.
Beruntung, malam itu adalah Jumat
malam sehingga kami tidak harus memikirkan kelas esok hari. Dan kami pun ngabur
ke villa miliknya didaerah Puncak.
Waktu menunjukkan pukul 7 malam
ketika kami berdua sudah duduk nyaman diteras belakang villanya sembari duduk
dalam diam dan menerawang jauh kearah lembah dibawahnya. Walaupun camilan
terduduk manis dimeja kecil didepan kami, mereka masih terbungkus rapih tak
bergerak.
“Sumpah gue males banget. Apa-apaan
coba ada beginian nih kampus. Mati aja”
“Lu pernah ga sih berada dimomen
kaya gini, momen yang kayanya lu pengen lompat aja dari teras terus tau-tau
nyanpe diperumahan sono?” Jawab gue ngga nyambung
Tatapan sebelnya mendarat diwajah
gue.
“Gue males berurusan sama dunia
kalo lagi gini. Bawaannya pengen ngasing aja”
Gue cuman ngangguk dalam diam.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Kita
berdua beradu mata lagi; seolah bertanya siapa diantara kita yang akan membuka
pintu. Dan kami setuju bahwa kami berdua tidak ingin melakukannya.
“Yaudahlah yuk. Berdua ajalah
ngadepin dunianya.” Ajak gue enggan
“Hai. Gue nyari... um... Glorianya
aja?” Seulas senyum jenaka hinggap dibibir pria yang baru saja menyebutkan nama
gue. “Dan ini, uh... ada yang nyari temennya Gloria juga” Sambungnya
“Emang lu temen gue?” Tanya gue
kepada sahabat gue ini sementara balasannya hanyalah tatapan malesnya kepada
gue.
Ngga lama setelah itu, yang gue
inget hanyalah malam gue bersama dia – pria yang selama ini memang ternyata
sudah menunggu.
“Temenin aku jalan-jalan yuk”
Pintanya
“Kemana?”
“Ada lah, aku lebih tau tempat ini
daripada kamu, kan?”
Aku tidak membalas. Hanya terdiam
dan berjalan disampingnya – berusaha menyamakan irama langkah kakiku dengan
kakinya
“Maaf ya aku bersikap gitu ke kamu
tadi. Aku ngga sadar aku salah”
“Kamu nyebelin”
“Yaah, gitu banget sih. Ngga mau
dimaafin nih?”
“Ngga ah. Masa gombalannya cuman
secetek itu?”
“Hahahaha iya deh. Lagian sih ya,
kalo bukan karna dia yang desek aku kemari juga aku ga bakalan berani ketemu
kamu kali”
“Ah udah ah. Aku lagi gak mau bahas
soal hal itu”
Lalu hening.
“Eh, aneh ga sih kalo si cewek yang
aku suka ini ngga pernah ceritain ke aku tentang gebetannya ato tentang
temennya gitu. Menurut kamu aku harus gimana?”
“Ya tanya aja lagi!” Jawabku ringan
sembari melihat kearahnya
“Tapi asik juga sih, jadinya
misterius-misterius gitu. Tapi udah sejak setaun pertama aku suka sama dia dia
ngga pernah sama sekali cerita tentang gituan. What if...”
“Tau ngga sih kamu kalo kita
ngomong ‘what if’ berarti kita lagi mengharapkan yang terburuk dari sebuah
kejadian?” Serobot gue gemes.
Hening
“Jadi harus gimana nanyanya?”
“Say... Would you tell me her name
eh?”
“Hahaha cerdas. Dia ngga pernah
cerita tentang macem-macem. Waktu itu pertama kali ketemu dia pas lagi les
fisika di sinotif. Dia kelas 10, I was in my first senior semester”
*malingin wajah*
“Tapi kamu tuh single and available
kan ya?”
“AHAHAHAH aku mah kelamaan jomblo”
“Kalo temen?”
“Tau ngga sih, Mon? Aku kalo boleh
jujur juga ngga pernah pindah dari dia sejak hari itu. Udah taunan lebih aku
suka sama dia. Bukan sama artis gitu ya. Aku mah ngga pernah bisa gila banget
over artis gitu. Kenapa aku ngga pernah ceritain ke dia tentang crush aku
adalah karena crush aku itu adalah kamu. Gimana caranya aku bisa ceritain
tentang kamu didepan kamu sendiri? Ya aku ceritainnya dibelakang kamu lah, ke
temen-temen aku. Dan aku ngga ceritain tentang temen aku karena, aku ngga mau
kamu tanya ke temen aku tentang gimana aku didepan mereka. Aku mau kamu jatuh
cinta sama aku yang ini – aku yang didepan kamu dan bukan aku yang didepan
mereka. Aku ngga mau kamu ngiri sama mereka ketika aku jadi ‘aku’ yang beda
didepan kamu sama mereka”
Dia tiba-tiba memegang kedua
telapak tangan gue untuk beberapa saat sembari melihat jauh kedalam mata gue.
Abis itu dia meluk gue selama beberapa saat yang terasa seperti selamanya.
“Wow. Kalo gini harusnya jadi
moment bomb gue buat ask you out ya” katanya setengah berbisik.
“Naay, you don’t have to. I enjoyed
being just friends for now”
–red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar