Kamis, 07 Agustus 2014

Just Friends



Malam itu adalah seperti malam-malam lainnya ketika gue lagi bete dan berujung pada mencari tempat pelarian dari seluruh kepenatan itu. Dan seperti biasa, dia adalah teman ngabur gue. Teman sesama berandalan diprogram beasiswa kuliah yang emang dari pertama kali ketemu udah nyambung sama gue.
Beruntung, malam itu adalah Jumat malam sehingga kami tidak harus memikirkan kelas esok hari. Dan kami pun ngabur ke villa miliknya didaerah Puncak.
Waktu menunjukkan pukul 7 malam ketika kami berdua sudah duduk nyaman diteras belakang villanya sembari duduk dalam diam dan menerawang jauh kearah lembah dibawahnya. Walaupun camilan terduduk manis dimeja kecil didepan kami, mereka masih terbungkus rapih tak bergerak.
“Sumpah gue males banget. Apa-apaan coba ada beginian nih kampus. Mati aja”
“Lu pernah ga sih berada dimomen kaya gini, momen yang kayanya lu pengen lompat aja dari teras terus tau-tau nyanpe diperumahan sono?” Jawab gue ngga nyambung
Tatapan sebelnya mendarat diwajah gue.
“Gue males berurusan sama dunia kalo lagi gini. Bawaannya pengen ngasing aja”
Gue cuman ngangguk dalam diam.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Kita berdua beradu mata lagi; seolah bertanya siapa diantara kita yang akan membuka pintu. Dan kami setuju bahwa kami berdua tidak ingin melakukannya.
“Yaudahlah yuk. Berdua ajalah ngadepin dunianya.” Ajak gue enggan
“Hai. Gue nyari... um... Glorianya aja?” Seulas senyum jenaka hinggap dibibir pria yang baru saja menyebutkan nama gue. “Dan ini, uh... ada yang nyari temennya Gloria juga” Sambungnya
“Emang lu temen gue?” Tanya gue kepada sahabat gue ini sementara balasannya hanyalah tatapan malesnya kepada gue.
Ngga lama setelah itu, yang gue inget hanyalah malam gue bersama dia – pria yang selama ini memang ternyata sudah menunggu.
“Temenin aku jalan-jalan yuk” Pintanya
“Kemana?”
“Ada lah, aku lebih tau tempat ini daripada kamu, kan?”
Aku tidak membalas. Hanya terdiam dan berjalan disampingnya – berusaha menyamakan irama langkah kakiku dengan kakinya
“Maaf ya aku bersikap gitu ke kamu tadi. Aku ngga sadar aku salah”
“Kamu nyebelin”
“Yaah, gitu banget sih. Ngga mau dimaafin nih?”
“Ngga ah. Masa gombalannya cuman secetek itu?”
“Hahahaha iya deh. Lagian sih ya, kalo bukan karna dia yang desek aku kemari juga aku ga bakalan berani ketemu kamu kali”
“Ah udah ah. Aku lagi gak mau bahas soal hal itu”
Lalu hening.
“Eh, aneh ga sih kalo si cewek yang aku suka ini ngga pernah ceritain ke aku tentang gebetannya ato tentang temennya gitu. Menurut kamu aku harus gimana?”
“Ya tanya aja lagi!” Jawabku ringan sembari melihat kearahnya
“Tapi asik juga sih, jadinya misterius-misterius gitu. Tapi udah sejak setaun pertama aku suka sama dia dia ngga pernah sama sekali cerita tentang gituan. What if...”
“Tau ngga sih kamu kalo kita ngomong ‘what if’ berarti kita lagi mengharapkan yang terburuk dari sebuah kejadian?” Serobot gue gemes.
Hening
“Jadi harus gimana nanyanya?”
“Say... Would you tell me her name eh?”
“Hahaha cerdas. Dia ngga pernah cerita tentang macem-macem. Waktu itu pertama kali ketemu dia pas lagi les fisika di sinotif. Dia kelas 10, I was in my first senior semester”
*malingin wajah*
“Tapi kamu tuh single and available kan ya?”
“AHAHAHAH aku mah kelamaan jomblo”
“Kalo temen?”
“Tau ngga sih, Mon? Aku kalo boleh jujur juga ngga pernah pindah dari dia sejak hari itu. Udah taunan lebih aku suka sama dia. Bukan sama artis gitu ya. Aku mah ngga pernah bisa gila banget over artis gitu. Kenapa aku ngga pernah ceritain ke dia tentang crush aku adalah karena crush aku itu adalah kamu. Gimana caranya aku bisa ceritain tentang kamu didepan kamu sendiri? Ya aku ceritainnya dibelakang kamu lah, ke temen-temen aku. Dan aku ngga ceritain tentang temen aku karena, aku ngga mau kamu tanya ke temen aku tentang gimana aku didepan mereka. Aku mau kamu jatuh cinta sama aku yang ini – aku yang didepan kamu dan bukan aku yang didepan mereka. Aku ngga mau kamu ngiri sama mereka ketika aku jadi ‘aku’ yang beda didepan kamu sama mereka”
Dia tiba-tiba memegang kedua telapak tangan gue untuk beberapa saat sembari melihat jauh kedalam mata gue. Abis itu dia meluk gue selama beberapa saat yang terasa seperti selamanya.
“Wow. Kalo gini harusnya jadi moment bomb gue buat ask you out ya” katanya setengah berbisik.
“Naay, you don’t have to. I enjoyed being just friends for now”
–red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog