Gue barusan sore dari UPH; nanya-nanya soal dual-degree program yang rencananya bakal gue ikuti karna jurusan gue kebetulan dikasih privilege itu selain jurusan bisnis (akuntansi dan menejemen). Tapi eh malang tak bisa ditolak dan untung tak dapat diraih – ternyata buat tahun ajaran depan dual-degree program ato yang kita sebut-sebut RMIT program itu dicabut buat anak komunikasi. Yah, gagal deh.
Secara singkat, RMIT program ini
bisa gue jelaskan seperti ini:
Gue bakal lulus dengan 2 gelar
dalam waktu 3 tahun. 1 gelar dari UPH (S.I Kom), dan 1 gelar dari RMIT
University (Bachelor of Communication).
Sayang juga sih gue ngga dapet
kesempatannya. Gue ngga jadi ngegebet bule kece deh.
Disisi lain, gue sebenernya cukup
bersyukur bahwa program ini dicabut buat anak ilkom. HEHEHE. Bukan gimana juga;
tapi biaya SKS kalo gue ambil program ini bakalan lebih mahal sekitar 3-4 kali
lipet dan gue ternyata harus nambah sekitar setengah tahun lagi buat kelarin
skripshit gue disini. Udah gitu biaya per semesternya ujung-ujungnya lebih
mahal deh. Kan duitnya bisa gue pake buat beli cinta lu untuk alternatif
(EAAAAK). Ngga lah! Cinta sejati itu ngga bakal bisa dibeli – cuman bisa
diusahain (IHIY). ANYWAAYSSS, karna ketiadaannya program RMIT ini, gue jadi
bisa fokusin diri kepada urusan beasiswa deh – karna bea menjadi fokus
terpenting gue setelah konfirmasi ini. Sepertinya Tuhan memang punya rencana
lain buat gue dari segi studi akademis.
Kemudian tanpa banyak bacot emak
gue tiba-tiba nyelosor dan bilang begini ke gue setelah gue cerita bahwa UPH
nyediain kelas internasional yang sebenernya bakalan gue harus ikuti jikalau
gue jadi join ke RMIT {which I have failed karna udah dicabut thingy}. Kelas
internasional, as I’ve explained to my mum adalah semua pelajaran lu basisnya akan
jadi bahasa Inggris. Ditengah-tengah UPH yang Indonesianese begini, gue akan
harus belajar full English classes sampe gue muntah darah. Oke itu lebay.
Tapi iya pengantarnya, iya
tugasnya, iya penjelasannya, iya skripsinya; semua akan diconduct dalam bahasa
inggris. Matilah.
Dan diluar program RMIT-pun,
siswa/i prospektif yang berminat untuk ngambil international class ini boleh
gabung. And then what makes the difference between jurusan internasional class
and regular classes adalah bahwa international classes ini hanya terbuka untuk
beberapa jurusan sebagai berikut:
Management, Accounting, Applied
Communication Sciences, Government and Global Affairs, Law, Interior Design,
Food Technology, dan Hospitality Management.
Jadi ya ngga semua jurusan UPH bisa
ambil international classes juga. With this choice, comes a greater
responsibility which includes:
-
GPA gue harus >=3,75 by the end of the first year
in order to continue to be given the scholarship by UPH
-
Gue harus aktif di keorganisasian mereka karna gue
ikut bea
-
Gue terancam ikatan dinas 2 taun sama UPH kalo mereka
lagi perlu orang ilkom untuk ngisi spot di yayasan
-
IELTS gue harus diatas 5,0; atau TOEFL IBT diatas 60;
atau TOEFL PBT diatas 500
Ujung-ujungnya gue cuman bisa
berdoa supaya IELTS/TOEFL gue lulus sih sebenernya; kalo ga waste of time
banget gue ikut tes mereka selama 3 ato 4 jem seharian itu dan masih harus
masuk kelas reguler juga. Makan tuh nyombong kemaren-kemaren. Serta berdoa juga
supaya ada 1 cowok ganteng berotak monyet yang bisa gue babuin selama gue 3
tahun kuliah sih. Kalo ga jomblo amat gue sendirian mulu kemana-mana pas
dikampus. MUAHAHA. Okelah. Akan gue lanjutkan cerita perencanaan kuliah ini
ketika gue menemukan titik cerah lainnya. AI LAF YU TU. BYE. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar