Kamis, 27 Oktober 2011

The Future Psychologist of Hope


Kalo gede nanti, gue kepengen jadi seorang psikolog. Menurut gue keren gitu bisa mengetahui hidup orang lain dan belajar dari hidup mereka juga selain pengalaman hidup gue pribadi.
Hidup gue sehari-hari pun ga selalu mulus seperti yang pernah orang pikirin. Salah satunya adalah hari ini. This just isn’t my day, kalo temen gue ngomong (salah satu slogan favoritnya, hehehe). Gara-gara gue salah ngerjain kuiz fisika gue dari kertas yang ditentukan, masa gue jadi dikasih telor bebek sama guru fisika gue. Ya jelas lah ya gue jadi kecewa, kesel, sedih takut. Namanya juga masih anak SMP yang labil. Dan inilah sekali-sekalinya gue dapet telor bebek; ya sekarang ini. Kelas 3 SMP. Untuk PERTAMA KALINYA dalam hidup gue. Minta gue caplok tuh guru. Ngeselin, devastating. However, gue bisa milih kan, namanya ini hidup gue. Gue mau keep my mind happy and try harder next time ato malah jatohin harga diri gue dan gila sendirian. Yeap, it’s truly psychology lesson.
Sebenernya sejak kelas duduk di bangku kelas 3 SD, gue kepengen banget jadi guru. Menurut gue, dulu jadi guru tuh suatu kehormatan banget. Walaupun akhirnya gue ngerti bahwa gaji seorang guru tuh boro-boro banyak. Belom pupus cita-cita gue. Naik SMP kelas 1, namanya anak baru muda masih labil, gue gonta-ganti cita-cita. Selama satu setengah tahun gue mencari cita-cita yang tepat. Jadi banyak gitu cita-cita gue. Pengen jadi musisi, jadi ahli hokum yang sekolah di Universitas Padjajaran Bandung, psikolog yang ngambil kuliah di UI, pengen jadi guru yang ngambil Uni di UPH, jadi juru masak, jadi anak pariwisata, banyak banget deh! Sampe akhirnya gue ketemu seorang hamba Tuhan yang kebetulan adalah temennya nyokap. Disitu gue dapet konfirmasi bahwa gue cocok entah jadi psikolog ato jadi pengacara (ahli hukum). Hore, ada beberapa lah yang masuk dalam tipe gue.
Sekarang, gue telah mentapkan hati gue untuk jadi seorang psikolog dan guru. Misi gue tuh ngajar di pedesaan yang belom ada sekolah ato yang masih minim banget tenaga pengajarnya. Gue gak perduli sepertinya sama pendapatan minim yang bakal gue dapet. Asal cita-cita gue tercapai, gue ga akan mempermasalahkan itu.
Psikolog harapan di judul gue itu bermaksud dengan gue jadi guru dan seorang psikolog di tempat terpencil gitu, gue berharap anak-anak yang akan gue ajarin disana bisa gue bantu bukan cuman secara fisik buat pinter, tapi juga secara mental; jadi harapan, motivasi mereka setiap hari untuk bangkit dan melanjutkan hidup mereka seperti sedia kala. Ga mudah nyerah kalo nemuin rintangan. Menurut gue, pelajaran gue hari ini yang mendapatkan telor bebek dapat menjadi awal serta titik balik gue supaya bisa belajar lebih banyak dan berjuang lebih keras untuk sebuah nilai. Harus gue akuin bahwa gue bukanlah tipe seorang anak yang jenius. Pas-pasan banget gue. nilai nge-pas. Tapi gue punya cita-cita. Gue rasa itu yang membedakan gue sama temen-temen gue.
Waktu itu gue pernah bikin lagu sama beberapa orang temen gue di kelas 9 Paul buat tugas Bahasa Indonesia (lebih tepatnya ber4 sama Chika, Winson & Michelle yang nama keompoknya 4i). Judul lagu yang kita bikin adalah MIMPI. Cocok sama tema kali ini. Di bawah ini lagunya:
MIMPI
ANGAN DAN CITA-CITA
HARAPAN DAN MIMPIMU
JANGAN TINGGALKAN DAN BANGUNLAH
JANGANLAH MENYERAH SAHABAT

SUATU HARI KALA AWAN GLAP MENGHAMPIRI HIDUPMU
DAN MIMPI-MIMPIMU PUPUS HILANG DIBAWA ANGIN
KEJARLAH MIMPIMU
SBAB KUPERCAYA MIMPI ITU NYATA

MIMPI, SAHABATKU
TAKKAN KU KECEWAKANMU
HIDUP MEMANG PENUH OMBAK, ANGIN BADAI
TAKKAN KUBIARKAN MIMPIKU KANDAS
MASIH ADA HARI ESOK MENUNGGU

Lagu ini awalnya emang cuman buat tugas tujuannya. Tapi buat gue, lagu ini punya makna khusus. Apalagi, banyak kata-katanya itu adalah gue yang bikin. Lagu ini secara khusus ngajarin gue untuk terus bermimpi, mendukung sahabat-sahabat gue juga dalam setiap langkah mereka. Sahabat ga harus cuman orang itu doang yang sering ngobrol sama kita, sahabat itu bisa siapa aja yang kita kenal dan ada di sekitar kita. Bahasanya, kita mau mengkategorikan semua orang itu adalah temen deket kita yang kita sayang banget, ga cuman beberapa orang secara spesifik. Jadi siapa pun yang baca dan dengerin lagu ini ga merasa tersisih karena kita menggunakan kata lain.
Nah, kalo dihubungin sama psikologi harapan, gue ga pernah berharap dapet penghargaan ato apa sebagainya kalo udah gede nanti. Karena motivasi awal gue adalah gue kepengen membawa perubahan buat bangsa gue. Gue berniat membuat bangsa gue cerdas, baik secara psikomotor maupun secara mental. Gue sadar bahwa dunia luar juga pasti ga akan semudah hari ini. Malah, gue tertantang untuk mencoba. Gue terlalu cinta sama bangsa ini, seperti yang pernah gue omongin di salah satu note gue di blog.
Akhir kata, kita ga pernah boleh menyerah buat cita-cita, mimpi dan harapan kita kedepan untuk apapun yang kita mau. Mungkin nanti bisa berubah lagi, tapi untuk saat ini, satu hal gue yakin. Kalo Tuhan ga merubah cita-cita dan fate gue kedepannya, nama gue akan bertuliskan seperti ini nanti, di depan buku yang gue tulis untuk Indonesia mengenai pengajaran gue: GLORIA ERNITA, M.PSI, M.Pd
Amiiiin!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog