Selamat datang
di kota Padang! Sebagai tempat persinggahan gue yang pertama, ini adalah “first
pict” gue terhadap pemandangan kota Padang yang katanya sih panas. Beruntung ketika gue berlibur kesana musim
hujan sedang singgah, maka awan-awan tebal setia menggantung rendah dilangit
SumBar, siap runtuh dengan tangisnya kalo ada yang butuh backingan air mata
gegara diputusin pacar.
Satu hal yang
banyak orang pasti datang untuk lihat dari kota Padang adalah Jam Gadang yang sudah
ada disini sejak zaman Belanda. Terletak dijantung kota Padang, jam gadang yang
masih berfungsi sampai hari ini adalah seperti sebuah taman kota yang kemudian
banyak orang jualan, berkumpul, dan pacaran diarea yang disediakan.
Karna kota
Padang tidak begitu besar, tidak banyak hal menarik yang dapat dikunjungi
selain jam gadang (disana juga tidak ada mall kecuali Ramayana). Namun jika
sedang ke Padang dan sedang musim durian, sangat dianjurkan mencoba buah ini
karna rasanya yang pahit-pahit namun tetap legit. Biasanya durian ini akan
disajikan dipinggir jalan mulai pukul 3 sore sampai tengah malam seharga
30.000. Biasanya durian ini akan disajikan beserta dengan ketan yang dimasak
dan dicampur kelapa parut.
Dan jangan lupa juga makan kapau yang menjual masakan Padang pinggir jalan (kalo di Jakarta kita menyebutnya ‘warteg’, tapi tetap menjual masakan padang) dengan harga hanya 30.000 seperti jatah makan kuli.
Perjalanan gue dilanjutkan ke Bukit Tinggi melalui Padang Pariaman yang sekaligus melalui Danau Maninjau. Sebenarnya ada 2 danau di SumBar yang menghubungkan Padang dan Bukit Tinggi. Namun atas saran beberapa orang hotel, maka kami memilih melihat Danau Maninjau yang walaupun secara ukuran lebih kecil Danau Singkarak, namun bisa sekaligus melihat Perbukitan Barisan dan dapat dilihat dari ketinggian kelok 44, salah satu jalan yang menyenangkan untuk dilalui dari Padang menuju Bukit Tinggi.
Sembari dijalan, kami juga santap siang dengan latar belakang perbukitan Barisan disebuah restoran Padang yang menurut kami enak bernama Batu Lambuik. Walaupun sebenarnya restoran padang pada umumnya sama dimana-mana, namun batu lambuik menjual pepes ikan yang nikmat dan juga sambal yang tidak terlalu pedas namun melengkapi rasa masakan yang lain.
Bukit Tinggi,
walaupun merupakan kota tidak besar juga memiliki lebih banyak wisata alam yang
dapat dikunjungi wisatawan dalam negri. Beberapa diantaranya adalah Lubang
Jepang dan rumah kelahiran Bung Hatta. Lubang Jepang adalah salah satu peninggalan
masa penjajahan Jepang di Indonesia yang dibangun oleh tangan rakyat Indonesia
sendiri karena kerja paksa. Sementara rumah kelahiran Bung Hatta adalah rumah
asli milik keluarga Bung Hatta semasa beliau bertumbuh di Bukit Tinggi.
Restoran
family di Bukit Tinggi (didekat benteng Fort de Kock) juga boleh dikunjungi.
Ayam pop dan ikan gurami bakar restoran ini sangat direkomendasikan.
2 destinasi terakhir gue di Bukit Tinggi yang menurut gue juga patut dikunjungi wisatawan Indonesia adalah Lembah Harau dan kelok 9. Kelok 9 adalah infrastruktur seperti jalan tol ditengah-tengah bukit yang dibuat oleh anak Indonesia sendiri. Dan Lembah Harau... aduh gue gabisa jelasin. Gue selalu speechless kalo disuruh jelasin keindahan alam yang satu ini. Liat aja fotonya sendiri.
Dengan
demikian, berakhirlah travel guide gue kali ini di Kota Padang dan Bukit
Tinggi. Semoga travel guide ini membantu. Ciao! –red















Tidak ada komentar:
Posting Komentar