Sembilan
belas.
Gila.
Demi apa
beberapa hari lalu usia gue berubah ke angka sembilan belas tahun?
Cepet banget
ya waktu berjalan?
Cepet banget
lah, buktinya sampe sekarang masih jomblo akut begini gue.
Hm.
Gue ngga tau
kapan terakhir kali gue ngerasa waktu berjalan secepat ini, tapi yang jelas gue
ngga pernah minta Tuhan untuk membuat gue menua dengan secepat (atau sebaik)
ini.
...
Tiga tahun
lalu, ketika gue hendak berubah usia menjadi 17, gue inget banget gue nge-post
sesuatu diblog gue mengenai hari terakhir menjadi “anak-anak”. Waktu itu, gue
inget banget gue punya ekspektasi terhadap diri gue yang begitu tinggi terhadap
angka 17. 17 adalah usia dimana menurut gue orang akan banyak berharap gue udah
ngga kayak monyet-monyetan karet lagi seiring dengan kepemilikan KTP, SIM, dan
hak suara. 17 membuat gue merasa sedih malam itu – karna gue ngga akan pernah
bisa kembali ke memori yang pernah gue buat; kecuali dengan membaca kisah yang
selama ini gue rutin simpan dalam diary gue dan foto-foto yang mengingatkan gue
akan kenangan.
Nope, gue ngga
akan pernah dapet apa-apa balik – termasuk kisah cinta pertama gue dan kisah
persahabatan yang maunya sih ngga pernah berhenti seusai SMA selesai.
Jujur, 2 tahun
setelah 17 ngga berasa apa-apa – rasanya baru kemaren gue baru mau masuk SMA.
Rasanya baru kemaren gue kenalan sama orang-orang yang meninggalkan jejak
mendalam dihati gue. Rasanya baru kemaren gue bilang gue harus siap
dipermalukan. Rasanya baru kemaren gue lulus. Tapi hari ini, kenyataannya,
sudah hampir satu minggu lagi gue menjejaki hidup sebagai manusia yang tahun
depan akan berusia 20 – ekspektasi bertambah lagi seiring dengan perubahan
angka depan.
Kenyataannya,
masih ada sisa sedikit monyet-monyetan karet dalam diri gue.
Dan kenyataannya,
gue udah cukup sering dipermalukan sejak
gue menulisnya dengan tangan gue sendiri dilaptop ini.
...
Beneran, gila.
Gila rasanya
kalo lo ada diposisi gue yang selalu reflektif ini dan mengingat hari
ulangtahun bukan sebagai sesuatu yang menyenangkan seperti ketika kecil dulu;
namun membuat pedih.
Gila rasanya
kalo lo tau betapa besar perjuangan gue untuk menginginkan hari yang berjalan
lambat tapi nyatanya satu tahun terasa seperti hanya satu hari saja.
Gila, karna
mulai tahun depan, gue ngga akan pernah bisa kembali ke area yang sudah gue
jalani selama satu dekade terakhir.
Gila, karna
gue tetap merasa gue belum melakukan yang terbaik dengan waktu yang diberikan
kepada gue ketika kenyataannya orang akan berkata gue sudah berkontribusi
begitu banyak untuk perubahan sekolah SMA gue dan terlebih untuk hidup gue
sendiri. Gue merasa masih ngga puas dengan pencapaian gue.
Iya, gue
sesedih itu.
...
Tapi gue juga
udah berubah.
Sekarang gue
lebih menghargai waktu yang gue miliki dan berusaha untuk mengisi waktu-waktu
itu dengan kegiatan yang lebih positif.
Sekarang, gue
menghargai kesendirian dan keberadaan gue dengan orang lain. Gue tau ngga semua
orang bisa bertahan semuda dan seperti ini bersama gue.
Sekarang gue
mampu menentukan prioritas gue sendiri sedikit demi sedikit – dan gue tetap
menghargai panggung penulisan ini sebagai sakral untuk gue.
Sebesar apapun
ketidak inginan gue untuk berubah 19 Senin kemarin, gue harus tetap menjalani
angka kehidupan yang sudah ditetapkan untuk gue. Gue harus belajar merelakan
angka-angka yang akan lalu dan menyimpannya rapih diingatan gue yang semakin
rapuh ini.
Gue cuman bisa
berharap, bahwa dengan kehadiran gue orang lain bisa bernafas lebih lega.
Gue cuman
berharap, gue ngga pernah take things for
granted lagi – karna sekarang gue udah ngerti kenapa Peter Pan ngga pernah
mau beranjak dewasa.
Gue cuman
berharap, gue yang sekarang adalah gue yang mampu memilah diantara kebenaran
yang harus gue berikan kepada dunia. Karna toh, sisa monyet-monyetan karet itu
ngga akan pernah bisa gue hilangkan dari dalam diri gue – gue akan selalu
berpegang pada resep “sedikit gila dan dipermalukan” yang pernah gue cetuskan 2
tahun lalu; tepat dimalam sebelum semuanya dimulai lagi. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar