Jumat, 04 Desember 2015

Dalam Rangka Sembilan Belas



Sembilan belas.
Gila.
Demi apa beberapa hari lalu usia gue berubah ke angka sembilan belas tahun?
Cepet banget ya waktu berjalan?
Cepet banget lah, buktinya sampe sekarang masih jomblo akut begini gue.
Hm.
Gue ngga tau kapan terakhir kali gue ngerasa waktu berjalan secepat ini, tapi yang jelas gue ngga pernah minta Tuhan untuk membuat gue menua dengan secepat (atau sebaik) ini.
...
Tiga tahun lalu, ketika gue hendak berubah usia menjadi 17, gue inget banget gue nge-post sesuatu diblog gue mengenai hari terakhir menjadi “anak-anak”. Waktu itu, gue inget banget gue punya ekspektasi terhadap diri gue yang begitu tinggi terhadap angka 17. 17 adalah usia dimana menurut gue orang akan banyak berharap gue udah ngga kayak monyet-monyetan karet lagi seiring dengan kepemilikan KTP, SIM, dan hak suara. 17 membuat gue merasa sedih malam itu – karna gue ngga akan pernah bisa kembali ke memori yang pernah gue buat; kecuali dengan membaca kisah yang selama ini gue rutin simpan dalam diary gue dan foto-foto yang mengingatkan gue akan kenangan.
Nope, gue ngga akan pernah dapet apa-apa balik – termasuk kisah cinta pertama gue dan kisah persahabatan yang maunya sih ngga pernah berhenti seusai SMA selesai.
Jujur, 2 tahun setelah 17 ngga berasa apa-apa – rasanya baru kemaren gue baru mau masuk SMA. Rasanya baru kemaren gue kenalan sama orang-orang yang meninggalkan jejak mendalam dihati gue. Rasanya baru kemaren gue bilang gue harus siap dipermalukan. Rasanya baru kemaren gue lulus. Tapi hari ini, kenyataannya, sudah hampir satu minggu lagi gue menjejaki hidup sebagai manusia yang tahun depan akan berusia 20 – ekspektasi bertambah lagi seiring dengan perubahan angka depan.
Kenyataannya, masih ada sisa sedikit monyet-monyetan karet dalam diri gue.
Dan kenyataannya, gue  udah cukup sering dipermalukan sejak gue menulisnya dengan tangan gue sendiri dilaptop ini.
...
Beneran, gila.
Gila rasanya kalo lo ada diposisi gue yang selalu reflektif ini dan mengingat hari ulangtahun bukan sebagai sesuatu yang menyenangkan seperti ketika kecil dulu; namun membuat pedih.
Gila rasanya kalo lo tau betapa besar perjuangan gue untuk menginginkan hari yang berjalan lambat tapi nyatanya satu tahun terasa seperti hanya satu hari saja.
Gila, karna mulai tahun depan, gue ngga akan pernah bisa kembali ke area yang sudah gue jalani selama satu dekade terakhir.
Gila, karna gue tetap merasa gue belum melakukan yang terbaik dengan waktu yang diberikan kepada gue ketika kenyataannya orang akan berkata gue sudah berkontribusi begitu banyak untuk perubahan sekolah SMA gue dan terlebih untuk hidup gue sendiri. Gue merasa masih ngga puas dengan pencapaian gue.
Iya, gue sesedih itu.
...
Tapi gue juga udah berubah.
Sekarang gue lebih menghargai waktu yang gue miliki dan berusaha untuk mengisi waktu-waktu itu dengan kegiatan yang lebih positif.
Sekarang, gue menghargai kesendirian dan keberadaan gue dengan orang lain. Gue tau ngga semua orang bisa bertahan semuda dan seperti ini bersama gue.
Sekarang gue mampu menentukan prioritas gue sendiri sedikit demi sedikit – dan gue tetap menghargai panggung penulisan ini sebagai sakral untuk gue.

Sebesar apapun ketidak inginan gue untuk berubah 19 Senin kemarin, gue harus tetap menjalani angka kehidupan yang sudah ditetapkan untuk gue. Gue harus belajar merelakan angka-angka yang akan lalu dan menyimpannya rapih diingatan gue yang semakin rapuh ini.
Gue cuman bisa berharap, bahwa dengan kehadiran gue orang lain bisa bernafas lebih lega.
Gue cuman berharap, gue ngga pernah take things for granted lagi – karna sekarang gue udah ngerti kenapa Peter Pan ngga pernah mau beranjak dewasa.
Gue cuman berharap, gue yang sekarang adalah gue yang mampu memilah diantara kebenaran yang harus gue berikan kepada dunia. Karna toh, sisa monyet-monyetan karet itu ngga akan pernah bisa gue hilangkan dari dalam diri gue – gue akan selalu berpegang pada resep “sedikit gila dan dipermalukan” yang pernah gue cetuskan 2 tahun lalu; tepat dimalam sebelum semuanya dimulai lagi. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar