Sabtu, 19 Desember 2015

Kisah Malin yang Sebenarnya



Alkisah Malin Kundang sebelum dikutuk emaknya menjadi batu sedang merantau ke negri antah berantah; mencari apapun yang bisa dicari untuk menghasilkan uang. Tentu saja, si emak belum mengetahui apa yang terjadi selama anaknya pergi hingga menjadi secongkak itu, tapi inilah kisah yang sebenarnya terjadi pada si bocah Malin.
Ada suatu ketika sebuah senja tiba, Malin yang sudah tinggal dikapal selama 3 minggu akhirnya mendarat ditanah Jawa. Ia menemukan sebuah tanaman emas dipekarangan rumah reyot seorang ibu penyakitan dengan 2 gadis cantiknya yang bernama bawang merah dan bawang putih. Karena terkesima dengan keangkuhan bawang merah – walaupun tidak berhasil mencabut tanaman tersebut – akhirnya Malin menikahi Merah dan mengajaknya merantau pula. Nasib tanaman itu tidak tersentuh tangan Malin sankingan jatuh cintanya ia pada Merah. Waktu itu si putih sedang pergi mencuci baju untuk menghilangkan rasa sedihnya akibat si ikan yang mati namun belum menjelma menjadi Chris Hemsworth.
Kedua sejoli yang sedang jatuh cinta itu – Malin dan Merah langsung pergi tanpa basa-basi menuju sebuah daerah ditanah Jawa yang banyak dibicarakan orang sangat makmur dan kaya akan hasil tanahnya. Disana, Malin dan Merah akhirnya menetap tanpa memiliki seorangpun anak selama bertahun-tahun sampai akhirnya mereka berdoa pada buto ijo untuk memberi mereka anak. Namun ternyata buto ijo yang sudah tua dan lelah sedang datang bulan makanya pasangan tersebut tidak diberikan anak, melainkan disuruh menumbuhkan anaknya diladang. Setelah 10 bulan rajin menanam timun, lahirlah Timun Emas yang sudah remaja – ga jelas gimana pokoknya pas keluar dari timun yang cuman seukuran jerawat itu remaja yang unyu-unyu nyebelin.
Karna sudah kaya raya dan merasa cukup dari hasil menyuruh-nyuruh orang diladang, Malin mengajak Merah untuk kembali ketanah kelahirannya. Rencananya adalah untuk memperkenalkan istri dan anaknya kepada sang ibu dan kerabat yang tersisa disana. Namun karena Ari Untung belum hidup pada jaman Malin Kundang, maka mereka tertimpa sial karena Timun Mas malah kabur ke rumah tantenya di Bandung. Akhirnya dengan berat hati Malin dan Merah  harus kembali hanya disertai oleh hasil-hasil tangan anak buah mereka diladang.
Sementara Malin dan Merah sedang dalam perjalanan kembali ke tanah Sumatera, Timun Emas yang kesepian di rumah tantenya itu kemudian mencari jodoh melalui acara “Take Me Out” yang dibawakan oleh Choky Sitohang. Pada acara itulah Timun Emas yang seharusnya main kejar-kejaran sama si Buto Ijo yang lagi dapet malah jatuh cinta sama seorang pria usia 50-an bernama Sangkuriang. Sangkuriang sebenarnya agak salah kaprah karna keburu diendrose secara berlebihan oleh Choky dengan tagline “pria dengan banyak kebolehan, yang salah satunya adalah jago di-PHP-in cewe setelah susah-susah bikin 99 stupa sepanjang satu malam”.
Sementara itu, Malin dan Merah sudah sampai ke tanah Sumatra dan Malin sedang sibuk-sibuknya dikutuk oleh nyokap yang nyangka anaknya sudah tumbuh sangat congkak padahal dia mau memberikan semua hasil tanah itu kepada nyokap dan saudara-saudaranya. Karna sudah terlanjur dikutuk, Merah akhirnya berusaha mencari cara untuk mengembalikan Malinnya yang sangat dikasihi. Ibunya, sih, sangat menyesal karena keburu ngebacot duluan seperti ibu-ibu muda jaman sekarang yang kebanyakan kerja tapi ngga pernah ngurusin anaknya di rumah.
Merah kembali ke kampung halamannya menggunakan kapal yang membawanya ketanah Sumatra, mencari si Putih – satu-satunya saudari yang ia miliki, yang mampu menarik tanaman emas yang ternyata selama ini dibiarkan bertumbuh besar dipekarangan belakang rumah mereka – demi keselamatan pangerannya tercinta. Sekali lagi, Arie Untung belum lahir dijaman mereka sehingga walaupun tanaman itu bertumbuh besar dipekarangan belakang rumah reyot mereka, rumah itu sudah tidak dihuni selama 2 tahun terakhir karna Putih pergi ke Phillip Island dan menikahi adiknya Chris Hemsworth karna pada dasarnya Chrisnya emang udah berkeluarga.
Jadi yah, mau gimana lagi kan. Si Merah kembali ke tanah Jawa dan mengutuk hidup; karna semua bintang yang ada pada jagad raya ini tidak berbaris untuk keberuntungannya. Suaminya yang ia begitu kasihi telah menjadi batu untuk selama-lamanya dan Merah tidak mampu kembali ke Sumatera karena ia sangat membenci ibu mertuanya, saudari perempuan satu-satunya sudah hidup bahagia selama-lamanya, dan yang terparah adalah fakta bahwa anak satu-satunya yang terahir dari timun itu juga sudah entah kemana dengan pria paruh baya itu.
Demikianlah kisah tragis yang sebenernya terjadi pada kisah rakyat kita tercinta; bahwa semua kisah antar pulau yang kita kira berbeda pengarang dan berbeda nasib ternyata sebenarnya memiliki tali hubungan yang kuat satu dengan yang lain – terutama dengan Choky Sitohang dan the Hemsworth brothers, entah gimana caranya kalo bukan dari imajinasi gue yang agak terlalu ekstrim. Tapi asyudahlah, sudah terjadi juga.
Percayalah ketika gue bilang bahwa semua kisah ini sebenarnya fiksi belaka dan hanya terjadi dalam pemikiran gue sang penulis. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar