Alkisah Malin Kundang sebelum dikutuk emaknya menjadi
batu sedang merantau ke negri antah berantah; mencari apapun yang bisa dicari
untuk menghasilkan uang. Tentu saja, si emak belum mengetahui apa yang terjadi
selama anaknya pergi hingga menjadi secongkak itu, tapi inilah kisah yang
sebenarnya terjadi pada si bocah Malin.
Ada suatu ketika sebuah senja tiba, Malin yang sudah
tinggal dikapal selama 3 minggu akhirnya mendarat ditanah Jawa. Ia menemukan
sebuah tanaman emas dipekarangan rumah reyot seorang ibu penyakitan dengan 2
gadis cantiknya yang bernama bawang merah dan bawang putih. Karena terkesima
dengan keangkuhan bawang merah – walaupun tidak berhasil mencabut tanaman
tersebut – akhirnya Malin menikahi Merah dan mengajaknya merantau pula. Nasib
tanaman itu tidak tersentuh tangan Malin sankingan jatuh cintanya ia pada Merah.
Waktu itu si putih sedang pergi mencuci baju untuk menghilangkan rasa sedihnya
akibat si ikan yang mati namun belum menjelma menjadi Chris Hemsworth.
Kedua sejoli yang sedang jatuh cinta itu – Malin dan
Merah langsung pergi tanpa basa-basi menuju sebuah daerah ditanah Jawa yang
banyak dibicarakan orang sangat makmur dan kaya akan hasil tanahnya. Disana,
Malin dan Merah akhirnya menetap tanpa memiliki seorangpun anak selama
bertahun-tahun sampai akhirnya mereka berdoa pada buto ijo untuk memberi mereka
anak. Namun ternyata buto ijo yang sudah tua dan lelah sedang datang bulan
makanya pasangan tersebut tidak diberikan anak, melainkan disuruh menumbuhkan
anaknya diladang. Setelah 10 bulan rajin menanam timun, lahirlah Timun Emas
yang sudah remaja – ga jelas gimana pokoknya pas keluar dari timun yang cuman seukuran
jerawat itu remaja yang unyu-unyu nyebelin.
Karna sudah kaya raya dan merasa cukup dari hasil
menyuruh-nyuruh orang diladang, Malin mengajak Merah untuk kembali ketanah
kelahirannya. Rencananya adalah untuk memperkenalkan istri dan anaknya kepada
sang ibu dan kerabat yang tersisa disana. Namun karena Ari Untung belum hidup
pada jaman Malin Kundang, maka mereka tertimpa sial karena Timun Mas malah
kabur ke rumah tantenya di Bandung. Akhirnya dengan berat hati Malin dan Merah harus kembali hanya disertai oleh hasil-hasil
tangan anak buah mereka diladang.
Sementara Malin dan Merah sedang dalam perjalanan kembali
ke tanah Sumatera, Timun Emas yang kesepian di rumah tantenya itu kemudian
mencari jodoh melalui acara “Take Me Out” yang dibawakan oleh Choky Sitohang.
Pada acara itulah Timun Emas yang seharusnya main kejar-kejaran sama si Buto
Ijo yang lagi dapet malah jatuh cinta sama seorang pria usia 50-an bernama
Sangkuriang. Sangkuriang sebenarnya agak salah kaprah karna keburu diendrose
secara berlebihan oleh Choky dengan tagline “pria dengan banyak kebolehan, yang
salah satunya adalah jago di-PHP-in cewe setelah susah-susah bikin 99 stupa
sepanjang satu malam”.
Sementara
itu, Malin dan Merah sudah sampai ke tanah Sumatra dan Malin sedang
sibuk-sibuknya dikutuk oleh nyokap yang nyangka anaknya sudah tumbuh sangat
congkak padahal dia mau memberikan semua hasil tanah itu kepada nyokap dan
saudara-saudaranya. Karna sudah terlanjur dikutuk, Merah akhirnya berusaha
mencari cara untuk mengembalikan Malinnya yang sangat dikasihi. Ibunya, sih,
sangat menyesal karena keburu ngebacot duluan seperti ibu-ibu muda jaman
sekarang yang kebanyakan kerja tapi ngga pernah ngurusin anaknya di rumah.
Merah kembali ke kampung halamannya menggunakan kapal
yang membawanya ketanah Sumatra, mencari si Putih – satu-satunya saudari yang
ia miliki, yang mampu menarik tanaman emas yang ternyata selama ini dibiarkan
bertumbuh besar dipekarangan belakang rumah mereka – demi keselamatan
pangerannya tercinta. Sekali lagi, Arie Untung belum lahir dijaman mereka
sehingga walaupun tanaman itu bertumbuh besar dipekarangan belakang rumah reyot
mereka, rumah itu sudah tidak dihuni selama 2 tahun terakhir karna Putih pergi
ke Phillip Island dan menikahi adiknya Chris Hemsworth karna pada dasarnya
Chrisnya emang udah berkeluarga.
Jadi yah, mau gimana lagi kan. Si Merah kembali ke tanah
Jawa dan mengutuk hidup; karna semua bintang yang ada pada jagad raya ini tidak
berbaris untuk keberuntungannya. Suaminya yang ia begitu kasihi telah menjadi
batu untuk selama-lamanya dan Merah tidak mampu kembali ke Sumatera karena ia
sangat membenci ibu mertuanya, saudari perempuan satu-satunya sudah hidup
bahagia selama-lamanya, dan yang terparah adalah fakta bahwa anak satu-satunya
yang terahir dari timun itu juga sudah entah kemana dengan pria paruh baya itu.
Demikianlah kisah tragis yang sebenernya terjadi pada
kisah rakyat kita tercinta; bahwa semua kisah antar pulau yang kita kira
berbeda pengarang dan berbeda nasib ternyata sebenarnya memiliki tali hubungan
yang kuat satu dengan yang lain – terutama dengan Choky Sitohang dan the
Hemsworth brothers, entah gimana caranya kalo bukan dari imajinasi gue yang
agak terlalu ekstrim. Tapi asyudahlah, sudah terjadi juga.
Percayalah ketika gue bilang bahwa semua kisah ini
sebenarnya fiksi belaka dan hanya terjadi dalam pemikiran gue sang penulis.
–red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar