Jumat, 14 Agustus 2015

The Thing About LGBT



Oke before we start, gue akan strongly state bahwa ini adalah mengenai kepercayaan masing-masing orang dan bagaimana mereka nyamannya sama apa yang sudah selama ini mereka jalani. This post will only serve as a place to shout my opinions, point of view, and what I am comfortable with. Even though sesungguhnya gue agak takut untuk menyatakan pendapat gue ini, gue lebih mentingin ngeluarin apa yang ada di otak gue daripada meledak sendiri dalam keheningannya.
Kita mulai dari sini: gue takut.
Iya, jarang-jarang kan gue jujur out front bahwa gue takut? Nih gue lagi takut sekarang.
Inget ga berita tentang pernikahan LGBT disahin diseluruh negara bagian AS?
Iya, itu pemicunya.
Awalnya, gue biasa aja. Malah gue sempet kepikiran bahwa gue seneng akhirnya pernikahan LGBT disahin. Artinya semua orang – apapun status mereka – bisa seimbang dimata hukum. Gue awalnya manggut-manggut doang kalo mereka udah nyinggung soal ini karna gue ngga tau apa-apa.
Gue bukan takut sama orang-orangnya yang mengakui bahwa diri mereka salah satu dari LGBT itu; malah gue terserah aja mereka mau jadi siapa. Menurut gue bagus kalo mereka berani ngakuin dan masyarakat sekarang pemikirannya udah lebih terbuka untuk menerima perbedaan kita. Gue sendiri juga ngga bisa salahin mereka kalo mereka jadi siapa diri mereka sekarang karna kebanyakan juga bukan salahnya mereka. Gue terserah juga karna gue kenal sama beberapa orang dari bagian LGBT ini dan mereka adalah some of the best people I have ever known in my entire life.
Yang bikin gue takut adalah dampak dari pengesahan ini; which are triggering a lot of people di negara gue untuk meminta juga pengesahan yang sama.
GILA NGGA LO.
Gini aja deh.
Buat cowo yang straight, mereka jadi takut ada yang demen sama mereka dan yang demen ini bukan cewek.
Buat cewe yang straight, kita jadi kekurangan cowo cakep yang berpotensi dijadiin pacar karna mereka ngga suka cewe.
ITU MAH ALASAN GEBLEKNYA. Seriusan, gue takut lebih daripada itu. Tapi kalo pemikiran pembaca gue lagi mumet, that’s the easiest way I would put it.
Gue sebenernya takut urusan nyangkut surganya.
Kalo soal agama, gue ngga debat lagi deh karna gue ngga berani todong orang dan bilang “HEH. Lo mau percaya Yesus ga?!”. Hidup Kristiani gue aja masi sering ngga bener gini kok, demi apa gue nyuruh-nyuruh orang ikut Tuhan gue kalo gue belom berhasil mencerminkan apa yang disebut sebagai ‘kebaikan’ itu sendiri? Tapi kalo udah soal lo straight apa engga dan kenapa gue ngga ngomong apa-apa tentang hal itu... gue serem sendiri.
Gue ngga ngomong alkitabnya deh. Tapi intinya kita semua ini diciptakan straight dan atas dasar pengalaman apapun dimasa kecil ngga akan boleh menjadi alasan kita menyukai sesama jenis – atau merubah bagian tubuh menjadi jenis yang lain. You may not agree with this, but this is what I’m comfortable with. Kita bisa bilang “gue ngga nyaman dengan diri gue” atau “gue ngga ngerasa sparknya kalo pacaran sama lawan jenis”. Tapi bro, don’t we all struggle with our own insecurities? Don’t we all feel “oh I’m so fat I need to be slimmer!” or “oh my eyebrows aren’t good I need to do an operation for it!”. Bro, bukan cuman lu doang yang insecure. Gue juga – orang yang duduk sebelah lu juga – tetangga lu juga. We are designed to be insecure so we can never feel fulfilled easily; so we would work for the betterment of ourselves. Jangan nerima terlalu apa adanya juga dong – jangan terlalu skeptis sama “ngga bisa berubah”.
Dan soal ngga ada sparknya, guys, being in a relationship isn’t always about the spark. In the end ketika lu berkomitmen untuk menjadi pasangan seumur hidup, it’s going to be about berjuang sama-sama mempersatukan dua manusia yang dibesarkan dengan cara yang  berbeda. Spark itu akan hilang dan yang tersisa hanyalah komitmen dan usaha. Logically, masa kalo gue udah nikah baru 2 tahun dan sparknya udah ilang trus gue bakal minta cerai sama suami gue cuman gegara “sparknya udah ilang. Gue mau cari yang lain ajah”?
If I were to speak really honest with you, I am happy that everybody have equality now; the way men and women are equal in terms of jobs. But this happiness doesn’t fit me – it felt too strange, too surreal, too bewildering as if it wasn’t meant to be this way. And if there were anything I can do to change the situation and help in any way, I would – hoping that it is for the best. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar