Oke before we
start, gue akan strongly state bahwa ini adalah mengenai kepercayaan
masing-masing orang dan bagaimana mereka nyamannya sama apa yang sudah selama
ini mereka jalani. This post will only serve as a place to shout my opinions,
point of view, and what I am comfortable with. Even though sesungguhnya gue
agak takut untuk menyatakan pendapat gue ini, gue lebih mentingin ngeluarin apa
yang ada di otak gue daripada meledak sendiri dalam keheningannya.
Kita mulai dari
sini: gue takut.
Iya,
jarang-jarang kan gue jujur out front bahwa gue takut? Nih gue lagi takut
sekarang.
Inget ga
berita tentang pernikahan LGBT disahin diseluruh negara bagian AS?
Iya, itu
pemicunya.
Awalnya, gue
biasa aja. Malah gue sempet kepikiran bahwa gue seneng akhirnya pernikahan LGBT
disahin. Artinya semua orang – apapun status mereka – bisa seimbang dimata
hukum. Gue awalnya manggut-manggut doang kalo mereka udah nyinggung soal ini
karna gue ngga tau apa-apa.
Gue bukan takut
sama orang-orangnya yang mengakui bahwa diri mereka salah satu dari LGBT itu;
malah gue terserah aja mereka mau jadi siapa. Menurut gue bagus kalo mereka
berani ngakuin dan masyarakat sekarang pemikirannya udah lebih terbuka untuk
menerima perbedaan kita. Gue sendiri juga ngga bisa salahin mereka kalo mereka
jadi siapa diri mereka sekarang karna kebanyakan juga bukan salahnya mereka.
Gue terserah juga karna gue kenal sama beberapa orang dari bagian LGBT ini dan
mereka adalah some of the best people I have ever known in my entire life.
Yang bikin gue
takut adalah dampak dari pengesahan ini; which are triggering a lot of people di
negara gue untuk meminta juga pengesahan yang sama.
GILA NGGA LO.
Gini aja deh.
Buat cowo yang
straight, mereka jadi takut ada yang demen sama mereka dan yang demen ini bukan
cewek.
Buat cewe yang
straight, kita jadi kekurangan cowo cakep yang berpotensi dijadiin pacar karna
mereka ngga suka cewe.
ITU MAH ALASAN
GEBLEKNYA. Seriusan, gue takut lebih daripada itu. Tapi kalo pemikiran pembaca
gue lagi mumet, that’s the easiest way I would put it.
Gue sebenernya
takut urusan nyangkut surganya.
Kalo soal
agama, gue ngga debat lagi deh karna gue ngga berani todong orang dan bilang
“HEH. Lo mau percaya Yesus ga?!”. Hidup Kristiani gue aja masi sering ngga
bener gini kok, demi apa gue nyuruh-nyuruh orang ikut Tuhan gue kalo gue belom
berhasil mencerminkan apa yang disebut sebagai ‘kebaikan’ itu sendiri? Tapi
kalo udah soal lo straight apa engga dan kenapa gue ngga ngomong apa-apa
tentang hal itu... gue serem sendiri.
Gue ngga
ngomong alkitabnya deh. Tapi intinya kita semua ini diciptakan straight dan
atas dasar pengalaman apapun dimasa kecil ngga akan boleh menjadi alasan kita
menyukai sesama jenis – atau merubah bagian tubuh menjadi jenis yang lain. You
may not agree with this, but this is what I’m comfortable with. Kita bisa
bilang “gue ngga nyaman dengan diri gue” atau “gue ngga ngerasa sparknya kalo
pacaran sama lawan jenis”. Tapi bro, don’t we all struggle with our own
insecurities? Don’t we all feel “oh I’m so fat I need to be slimmer!” or “oh my
eyebrows aren’t good I need to do an operation for it!”. Bro, bukan cuman lu
doang yang insecure. Gue juga – orang yang duduk sebelah lu juga – tetangga lu
juga. We are designed to be insecure so we can never feel fulfilled easily; so
we would work for the betterment of ourselves. Jangan nerima terlalu apa adanya
juga dong – jangan terlalu skeptis sama “ngga bisa berubah”.
Dan soal ngga
ada sparknya, guys, being in a relationship isn’t always about the spark. In
the end ketika lu berkomitmen untuk menjadi pasangan seumur hidup, it’s going
to be about berjuang sama-sama mempersatukan dua manusia yang dibesarkan dengan
cara yang berbeda. Spark itu akan hilang
dan yang tersisa hanyalah komitmen dan usaha. Logically, masa kalo gue udah
nikah baru 2 tahun dan sparknya udah ilang trus gue bakal minta cerai sama
suami gue cuman gegara “sparknya udah ilang. Gue mau cari yang lain ajah”?
If I were to
speak really honest with you, I am happy that everybody have equality now; the
way men and women are equal in terms of jobs. But this happiness doesn’t fit me
– it felt too strange, too surreal, too bewildering as if it wasn’t meant to be
this way. And if there were anything I can do to change the situation and help
in any way, I would – hoping that it is for the best. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar