Inilah
Indonesia.
Tanah, tanah
yang dalam diamnya menyaksikan seluruh perjalanan sebuah bangsa. Ia terdiam
sepanjang perjuangan – badai maupun terik matahari – menyimpan seluruh sukacita
dan duka lara dalam perbendaharaannya sendiri.
Podium, podium
yang telah menyaksikan setiap rezim pemerintahan yang baru naik maupun yang
terlalu cepat turun. Mendengar, memahami, turut dalam senyuman serta sorakan;
pula dalam kesedihan mendalam. Ia juga tak pernah sedikitpun membuka pintu
rahasianya.
Kedua hal
tersebut bagaikan air didalam botol yang selalu dialiri air agar penuh namun
tidak pernah mengaliri substansi lain. Sejarah yang tersimpan didalamnya akan
berbaur dengan sejarah baru yang ditoreh maka dari itu sejarah yang lampau akan
terlupakan begitu saja jika tidak dikumandangkan.
Masih bendera
yang sama yang berkibar dibawah langit yang sama
Masih jalanan
yang sama yang membawa yang terdahulu pada tujuan Indonesia bersatu
Masih tanah
yang meresapi darah para pahlawannya
Tapi kenapa
anak-anak bangsanya masih saja melupakan begitu banyak yang telah diberikan
bangsanya – seakan itu sudah menjadi hak lahir?
Banyak orang
bilang tanah ini adalah tanah tumpah darah yang satu – tumpah darah Indonesia
ketika kenyataan yang ada sekarang hanyalah pertumpahan makian antar pelajar dan
sedotan kekayaan Indonesia. Lantas, apakah tanah ini masih layak disebut tanah
tumpah darah?
Banyak orang
bilang tanah ini adalah tanah persatuan, tanah Indonesia. Apakah masih tanah
yang satu, jika kita sudah tidak seutuh dulu?
Memang,
sejarah dapat terdistorsi menurut siapa ia diceritakan – namun lantas apakah
anak muda menjadi tidak ingin menyentuhnya karena hal itu? Betul, semua orang
ingin diingat oleh sejarah seiring waktu berlalu. Namun jika semua orang
terlalu sibuk berbuat dan tidak ada yang memperhatikan dan mencatat, semua
usaha itu juga akan berujung pada kesia-siaan.
Inilah tanah
Indonesia, tanah yang sudah memberikan begitu banyak manfaatnya bagi kehidupan.
Setelah 70 tahun kemerdekaannya, ia masih setia terhadap pemberiannya.
Ketuhanan yang
masih dikandung tanahnya; kerakyatan yang adil dan beradab yang masih terus
disorakkan dan diusahakan manusianya agar sesempurna keinginan awal; keadilan
sosial yang diperjuangkan bagi setiap kalangan; dan dua sila dasar lain yang
masih terus bergerak maju ditengah gegap gempita duniawi.
Walaupun
dimakan usia, Indonesia tidak pernah sedikitpun menyesali pemberiannya yang
dari tahun ke tahun selalu terkuras. Indonesia tidak pernah menyerah terhadap
kita sebagai anak bangsanya. Indonesia terus mencurahkan air mata dan panas
mentarinya untuk kita, para pengharum namanya.
Sudah waktunya
Indonesia melihat serang balik yang ia pernah lihat sebelum masa ulangtahunnya
yang pertama. Serang balik bukan dengan senjata fisik – namun dengan senjata
pengetahuan.
Selamat
ulangtahun, Indonesia.
Kado ini
untukmu. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar