Jumat, 21 Agustus 2015

Kado Untukmu

Inilah Indonesia.
Tanah, tanah yang dalam diamnya menyaksikan seluruh perjalanan sebuah bangsa. Ia terdiam sepanjang perjuangan – badai maupun terik matahari – menyimpan seluruh sukacita dan duka lara dalam perbendaharaannya sendiri.
Podium, podium yang telah menyaksikan setiap rezim pemerintahan yang baru naik maupun yang terlalu cepat turun. Mendengar, memahami, turut dalam senyuman serta sorakan; pula dalam kesedihan mendalam. Ia juga tak pernah sedikitpun membuka pintu rahasianya.
Kedua hal tersebut bagaikan air didalam botol yang selalu dialiri air agar penuh namun tidak pernah mengaliri substansi lain. Sejarah yang tersimpan didalamnya akan berbaur dengan sejarah baru yang ditoreh maka dari itu sejarah yang lampau akan terlupakan begitu saja jika tidak dikumandangkan.
Masih bendera yang sama yang berkibar dibawah langit yang sama
Masih jalanan yang sama yang membawa yang terdahulu pada tujuan Indonesia bersatu
Masih tanah yang meresapi darah para pahlawannya
Tapi kenapa anak-anak bangsanya masih saja melupakan begitu banyak yang telah diberikan bangsanya – seakan itu sudah menjadi hak lahir?
Banyak orang bilang tanah ini adalah tanah tumpah darah yang satu – tumpah darah Indonesia ketika kenyataan yang ada sekarang hanyalah pertumpahan makian antar pelajar dan sedotan kekayaan Indonesia. Lantas, apakah tanah ini masih layak disebut tanah tumpah darah?
Banyak orang bilang tanah ini adalah tanah persatuan, tanah Indonesia. Apakah masih tanah yang satu, jika kita sudah tidak seutuh dulu?
Memang, sejarah dapat terdistorsi menurut siapa ia diceritakan – namun lantas apakah anak muda menjadi tidak ingin menyentuhnya karena hal itu? Betul, semua orang ingin diingat oleh sejarah seiring waktu berlalu. Namun jika semua orang terlalu sibuk berbuat dan tidak ada yang memperhatikan dan mencatat, semua usaha itu juga akan berujung pada kesia-siaan.
Inilah tanah Indonesia, tanah yang sudah memberikan begitu banyak manfaatnya bagi kehidupan. Setelah 70 tahun kemerdekaannya, ia masih setia terhadap pemberiannya.
Ketuhanan yang masih dikandung tanahnya; kerakyatan yang adil dan beradab yang masih terus disorakkan dan diusahakan manusianya agar sesempurna keinginan awal; keadilan sosial yang diperjuangkan bagi setiap kalangan; dan dua sila dasar lain yang masih terus bergerak maju ditengah gegap gempita duniawi.
Walaupun dimakan usia, Indonesia tidak pernah sedikitpun menyesali pemberiannya yang dari tahun ke tahun selalu terkuras. Indonesia tidak pernah menyerah terhadap kita sebagai anak bangsanya. Indonesia terus mencurahkan air mata dan panas mentarinya untuk kita, para pengharum namanya.
Sudah waktunya Indonesia melihat serang balik yang ia pernah lihat sebelum masa ulangtahunnya yang pertama. Serang balik bukan dengan senjata fisik – namun dengan senjata pengetahuan.
Selamat ulangtahun, Indonesia.
Kado ini untukmu. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar