I am
currently in the middle of a mental disarray. But I cannot tell myself to stop,
even if I wanted it to be.
...
Hari-hari
itu selalu muncul
Hari
dimana gue ngerasa gue tersakiti dengan bahkan omongan terkecil tentang diri
gue; bahkan jika perkataan itu seharusnya membuat gue merasa lebih baik.
Hari
dimana gue merasa tidak mengenal siapa diri gue; ketika gue merasa bahwa gue
seharusnya belum mengerti apa yang gue sudah mengerti.
Hari
dimana gue harus membaca lagi tentang kepribadian gue untuk meyakinkan bahwa
gue pantas berada dimana gue berada sekarang – dan masih banyak lagi.
Gue
hampir selalu membenci hari-hari itu sejauh yang gue ingat.
Gue
benci merasa tidak pernah mengenal diri gue atau siapa gue sebenarnya didalam
ketika sebenarnya gue telah membaca paragraf yang sama berulang-ulang kali
bulan sebelumnya.
Gue
benci harus merasa lelah setelah berinteraksi dengan orang-orang yang mengenal
gue dengan baik. Walaupun sudah berulang kali gue berkata pada diri gue sendiri
bahwa mereka tidak akan menghakimi gue dan mereka akan santai aja dengan
pilihan apapun yang gue buat, gue masih merasa takut salah memilih dan
mengecewakan mereka; bahwa mereka akan menghakimi gue; bahwa gue ini sebenarnya
dibenci; tidak disukai. Betapapun gue memaksa untuk berusaha untuk tidak merasa
demikian, usaha tersebut berulang kali gagal.
Gue
benci harus “ngga bisa ngelucu dan ngga mau ikutan nimbrung dari dulu sama
temen-temen gue sehingga sejarang gue terkesan selalu serius, misterius, dan
penyendiri. Benci, karna sebenarnya gue bingung. Bingung harus memilih yang
mana yang lebih buruk antara “harus memulai pembicaraan darimana”, “biasanya
ketika gue ikutan mereka akan langsung diam dan perlahan membubarkan diri”,
atau “tidak memiliki landasan pengetahuan yang kuat untuk menyatakan ide itu”.
Gue
benci harus memberikan alibi yang sama berulang kali padahal tujuannya hanya
untuk memberikan gue lebih banyak waktu sendiri. Gue benci harus menjadi tipe
orang seperti gue. Gue benci harus jadi introvert. Gue benci harus ngaku bahwa
kalo gue berada terlalu lama didekat mereka, gue akan cepat lelah secara emosi
dan gue ngga mau mengekspos bagian diri gue yang itu – karna bagian gue yang
itu adalah yang paling gue hindari juga. Gue tidak suka merasa “overly irritated,
depressed or stressed” sehingga gue jadi bertindak terlalu eksplosif dan tanpa
pikir panjang.
Gue
kesepian, tapi gue juga tidak mau ditemani orang yang membuat gue cepat lelah
secara emosional.
...
Gue
ngga tau apa yang salah dengan kepribadian gue, tapi hari-hari itu sering
datang. Terkadang mereka datang dalam waktu 2 bulan sekali, kadang-kadang
mereka datang setahun sekali. Bahkan kadang, gue tidak sadar mereka sudah datang
sampai gue merasa begitu tersakiti dengan bahkan perkataan orang yang terkecil.
Dan sesering mereka datang itu pula gue selalu lupa bagaimana cara menghadapi
mereka. Gue selalu merasa tidak bersenjata dan gagal memperlengkapi diri untuk
melawan. Gue selalu merasa gue ingin memencet tombol “restart” dan memulai lagi
dari awal.
Masalahnya,
tombol restart tidak akan membantu apapun kecuali menambah banyak tekanan yang
gue rasakan; berulang-ulang dan begitu terus adanya.
Gue
benci ketika feeling gue selalu berkata “lo ngga tau diri lo sendiri siapa,
bodoh! Lo takut sama dunia ini dan apa yang akan terjadi kalo lo gagal! Lo
takut disakiti, lo takut sama fakta bahwa lo sebenarnya adalah anomali – bahwa
populasi orang dengan kepribadian lo itu cuman 2% dari seluruh populasi dunia!”
Seberapapun
perkataan perasaan gue tidak benar, gue tidak pernah bisa lepas dari itu
sepenuhnya. Percayalah pada gue ketika gue mengatakan bahwa gue juga membenci
mereka; semua pikiran itu.
Gue
seringkali benci ketika gue adalah sejuta hal lainnya ketika gue sebenarnya
ingin dikategorikan sebagai satu.
Gue
kepengen bisa mengerti perasaan gue sendiri
Gue
pengen bisa merasa puas yang cukup panjang dengan pencapaian gue ketika gue
ngga bakal pernah bisa puas lebih dari satu minggu. Gue merasa selalu harus
mencari tingkatan pencapaian yang baru, merasa apa yang sudah ada bukanlah
sebuah tujuan berarti.
Ketika
hari-hari itu datang, gue mungkin ngga tau apa yang harus gue lakukan – apalagi
untuk hal ini membaik dalam waktu dekat. Walaupun perasaan ini selalu membuat
gue hancur berantakan, gue ingin kalian tahu bahwa gue juga tidak berencana
untuk berhenti berjuang dalam waktu dekat. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar