Gue masih
sering bertanya mengapa begitu banyak hal bisa terjadi didalam kehidupan
seseorang; mulai dari hal-hal sederhana seperti mengapa hujan turun dan mengapa
matahari bersinar sampai kepada hal-hal rumit mengenai bagaimana seseorang
jatuh cinta dan apa yang melandasi cinta yang dirasakan setiap orang. Ada
begitu banyak hal yang gue sadari mampu dijelaskan manusia secara rasional dan
terjadi secara siklis; seperti hujan dan bernapas. Namun ada juga banyak hal
supra-natural yang hanya dapat ditafsirkan oleh logika sederhana manusia;
seperti jatuh cinta dan cinta yang ideal.
Ada beberapa
yang berkata bahwa suatu hal terjadi karena kebetulan.
Ada beberapa lainnya
yang berkata bahwa sesuatu terjadi karena Tuhan menghendaki.
Ada lagi yang
mengatakan bahwa sesuatu memang terjadi karena mereka seharusnya terjadi.
Namun gue
tidak hendak percaya bahwa semua alasan diatas adalah sebuah alasan valid yang
harus gue percayai jika gue tidak menginginkannya. Gue lebih menyukai jika
harus mengatakan pertemuan kita adalah sebuah anugerah.
Ya, anugerah.
Karna jika
bukan 2 tahun yang lalu gue putus dengan orang yang salah gue pilih, hari ini
mungkin gue jauh lebih terpuruk daripada yang gue bayangkan.
Jika bukan
orangtua gue memaksakan gue untuk masuk ke universitas ini, mungkin kita tidak
akan pernah bertatap muka dan mungkin gue akan berakhir dengan orang lain dan
bernasib beda jika pada penghujung kisah ini gue tidak berakhir dengan dia yang
ada dikisah ini.
Jika bukan
pengalaman gue dimasa lampau yang menghargai orang dengan segala latar belakang
mereka, mungkin gue ngga akan pernah menganggap dia sebagai lebih daripada sebuah
wajah lain dalam masyarakat.
Tapi toh gue
sadar bahwa dia bukanlah hanya sebuah wajah dalam masyarakat. Gue benar-benar
tertarik dengan setiap keanehan dirinya yang tidak bisa gue temui dalam diri
orang lain. Every weird feature of yours
attracks mine for no particular reasons.
...
Tubuh tinggi
berisinya berdiri dengan tegap disalah satu barisan lapangan dimana kita
berkumpul. Gue ngga tau apa yang sedang ia perhatikan, namun matanya melihat
sekitar dengan sebuah tatapan tajam yang menunjukkan keseriusannya dalam
memperhatikan. Ia masih disana dan seakan tidak peduli ketika akhirnya gue
mengedarkan pandangan gue kesekeliling gue. Gue sendiri ngga sadar bahwa ada
seseorang yang sudah meneliti jauh sebelum gue memperhatikan keberadaannya pagi
itu – namun sepertinya mata gue tidak lepas pandang dari keunikan yang setiap
orang keluarkan. Dan sepertinya demikianlah yang terjadi ketika pagi itu; bahwa
dia juga sudah memperhatikan gue.
Awalnya, yang
gue sadari hanyalah fakta bahwa “every
weird features of someone makes them more attractive to my eyes”. Ya,
seperti dagu, letak mata, bentuk kuping, postur, semuanya. Namun seiring dengan
berjalannya waktu, keanehan fitur-fitur tubuhnya semakin membuat gue tertarik
untuk terus memandanginya – dimana hal tersebut gue rasakan pada hari terakhir ospek
yang diadakan oleh kampus. Hari itu, hati gue sudah menetapkan bahwa melihat
dia adalah sesuatu yang menyenangkan; sesuatu yang nyaris adiktif. Hari itu gue
akhirnya mengerti bagaimana ada beberapa orang di dunia ini yang are just beautiful to look at. And yes, he is one of those people I would
really love looking at any time of day. Gue demen banget ngeliatin dia dengan segala
ke-cuek-an dia; like there’s something so
interesting even just about that cuek-ness – something that is worth to fight
for. Cueknya dia yang setengah mati bikin seseorang macem gue penasaran –
penasaran in a good way, tentu.
Pada
penghujung acara ospek, gue diajakin kenalan sama dia oleh salah seorang teman
yang sekelompok sama gue, teman yang mengetahui rasa suka gue terhadap dia yang
segala fiturnya yang gue ceritakan.
Gue mungkin
tidak ingat bagaimana intonasi yang digunakannya ketika ia memperkenalkan
namanya; namun ketika tangan kita bersalaman, gue tau ada sesuatu yang berbeda
dari caranya memberikan sambutan tersebut. Gue bisa merasakan sedikit
keraguannya tentang bagaimana ia harus menangani jabat tangan dengan seorang
lawan jenis; seberapa keras atau seberapa lama tangan kami harus bersentuhan.
Andaikan perkenalan ini adalah sebuah sinetron, mungkin semua akan berawal
dengan gue menjatuhkan buku yang gue bawa daripada sebuah perkenalan formal
seperti ini.
Akhir kata, setelah
sekian lama mencari lagi, akhirnya gue tau gue menemukan seseorang. Mungkin
kita tidak akan pernah bersatu jika bukan karna anugerah untuk menjalankan sebuah
hubungan yang mampu bertahan sepanjang hidup; namun untuk menjadi seorang teman
dalam waktu terburuk boleh menjadi sesuatu yang menarik yang gue inginkan kita
berdua jalani. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar