Jumat, 28 Agustus 2015

Pertemuan Gue dan Dia



Gue masih sering bertanya mengapa begitu banyak hal bisa terjadi didalam kehidupan seseorang; mulai dari hal-hal sederhana seperti mengapa hujan turun dan mengapa matahari bersinar sampai kepada hal-hal rumit mengenai bagaimana seseorang jatuh cinta dan apa yang melandasi cinta yang dirasakan setiap orang. Ada begitu banyak hal yang gue sadari mampu dijelaskan manusia secara rasional dan terjadi secara siklis; seperti hujan dan bernapas. Namun ada juga banyak hal supra-natural yang hanya dapat ditafsirkan oleh logika sederhana manusia; seperti jatuh cinta dan cinta yang ideal.
Ada beberapa yang berkata bahwa suatu hal terjadi karena kebetulan.
Ada beberapa lainnya yang berkata bahwa sesuatu terjadi karena Tuhan menghendaki.
Ada lagi yang mengatakan bahwa sesuatu memang terjadi karena mereka seharusnya terjadi.
Namun gue tidak hendak percaya bahwa semua alasan diatas adalah sebuah alasan valid yang harus gue percayai jika gue tidak menginginkannya. Gue lebih menyukai jika harus mengatakan pertemuan kita adalah sebuah anugerah.
Ya, anugerah.
Karna jika bukan 2 tahun yang lalu gue putus dengan orang yang salah gue pilih, hari ini mungkin gue jauh lebih terpuruk daripada yang gue bayangkan.
Jika bukan orangtua gue memaksakan gue untuk masuk ke universitas ini, mungkin kita tidak akan pernah bertatap muka dan mungkin gue akan berakhir dengan orang lain dan bernasib beda jika pada penghujung kisah ini gue tidak berakhir dengan dia yang ada dikisah ini.
Jika bukan pengalaman gue dimasa lampau yang menghargai orang dengan segala latar belakang mereka, mungkin gue ngga akan pernah menganggap dia sebagai lebih daripada sebuah wajah lain dalam masyarakat.
Tapi toh gue sadar bahwa dia bukanlah hanya sebuah wajah dalam masyarakat. Gue benar-benar tertarik dengan setiap keanehan dirinya yang tidak bisa gue temui dalam diri orang lain. Every weird feature of yours attracks mine for no particular reasons.
...
Tubuh tinggi berisinya berdiri dengan tegap disalah satu barisan lapangan dimana kita berkumpul. Gue ngga tau apa yang sedang ia perhatikan, namun matanya melihat sekitar dengan sebuah tatapan tajam yang menunjukkan keseriusannya dalam memperhatikan. Ia masih disana dan seakan tidak peduli ketika akhirnya gue mengedarkan pandangan gue kesekeliling gue. Gue sendiri ngga sadar bahwa ada seseorang yang sudah meneliti jauh sebelum gue memperhatikan keberadaannya pagi itu – namun sepertinya mata gue tidak lepas pandang dari keunikan yang setiap orang keluarkan. Dan sepertinya demikianlah yang terjadi ketika pagi itu; bahwa dia juga sudah memperhatikan gue.
Awalnya, yang gue sadari hanyalah fakta bahwa “every weird features of someone makes them more attractive to my eyes”. Ya, seperti dagu, letak mata, bentuk kuping, postur, semuanya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, keanehan fitur-fitur tubuhnya semakin membuat gue tertarik untuk terus memandanginya – dimana hal tersebut gue rasakan pada hari terakhir ospek yang diadakan oleh kampus. Hari itu, hati gue sudah menetapkan bahwa melihat dia adalah sesuatu yang menyenangkan; sesuatu yang nyaris adiktif. Hari itu gue akhirnya mengerti bagaimana ada beberapa orang di dunia ini yang are just beautiful to look at. And yes, he is one of those people I would really love looking at any time of day.  Gue demen banget ngeliatin dia dengan segala ke-cuek-an dia; like there’s something so interesting even just about that cuek-ness – something that is worth to fight for. Cueknya dia yang setengah mati bikin seseorang macem gue penasaran – penasaran in a good way, tentu.
Pada penghujung acara ospek, gue diajakin kenalan sama dia oleh salah seorang teman yang sekelompok sama gue, teman yang mengetahui rasa suka gue terhadap dia yang segala fiturnya yang gue ceritakan.
Gue mungkin tidak ingat bagaimana intonasi yang digunakannya ketika ia memperkenalkan namanya; namun ketika tangan kita bersalaman, gue tau ada sesuatu yang berbeda dari caranya memberikan sambutan tersebut. Gue bisa merasakan sedikit keraguannya tentang bagaimana ia harus menangani jabat tangan dengan seorang lawan jenis; seberapa keras atau seberapa lama tangan kami harus bersentuhan. Andaikan perkenalan ini adalah sebuah sinetron, mungkin semua akan berawal dengan gue menjatuhkan buku yang gue bawa daripada sebuah perkenalan formal seperti ini.
Akhir kata, setelah sekian lama mencari lagi, akhirnya gue tau gue menemukan seseorang. Mungkin kita tidak akan pernah bersatu jika bukan karna anugerah untuk menjalankan sebuah hubungan yang mampu bertahan sepanjang hidup; namun untuk menjadi seorang teman dalam waktu terburuk boleh menjadi sesuatu yang menarik yang gue inginkan kita berdua jalani. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar