Lucu
bagaimana, permainan lampu akan mempengaruhi segala sesuatu yang ada
dipermukaan bumi ini. Bagaimana bayangan kita akan muncul ditempat yang berbeda
jika disorot dari posisi sinar yang berbeda; bagaimana bayangan kita akan
terlihat sangat jelas seiring dengan sekeliling kita yang menggelap; atau bagaimana
kecilnya sebuah sinar tidak mengubah apapun mengenai bayangan kita: bahwa bayangan
kita akan selalu ada disana – walaupun harus memudar.
Bayangan, gue
temukan, memiliki banyak kesamaan dengan ingatan.
...
“Lo lagi
mikirin apaan sih? Kayanya daritadi sibuk amat” Sapa suara yang daritadi
matanya setia mengikuti langkah kaki gue
“Sibuk nenek
lo? Biasa lah, orang sibuk macem gue walopun lagi santai juga pasti sibuk mikir
sendiri” Sahut gue, tidak menjawab pertanyaan
“Jangan yang
galau-galau ya, mak. Riset membuktikan orang galau tuh lebih susah dapet pacar
loh” Jawab dia lagi, sepertinya masih asyik meledek gue
“Diem ah lo
bawel”
Sore itu, gue
sedang berjalan menyusuri taman yang semasa gue bertumbuh memegang begitu
banyak ingatan. Seperti ingatan bahagia ketika gue bermain kejar-kejaran
bersama teman-teman SD, atau ketika gue sudah terlalu besar dan berujung pada
bermain jungkat-jungkit bersama teman-teman SMA; ingatan lucu ketika ada
seorang anak yang berusia lebih kecil dari gue saat itu ngompol diatas perosotan dan kami jadi enggan naik; atau ingatan
menyebalkan seperti ketika gue menginjak kotoran anjing ketika bermain disana.
Ya, entah kenapa semua ingatan itu berkecamuk bersamaan ketika sore ini gue
berjalan mengelilinginya.
Mungkin semua ingatan
ini tiba-tiba menusuk karna gue sadar bahwa waktu sudah membawa sebuah
perubahan yang begitu besar dalam diri gue baik secara fisik maupun nonfisik.
Mungkin, ingatan ini adalah satu-satunya cara gue untuk merasa lebih dekat
dengan masa-masa yang gue habiskan ditempat ini.
...
“Kepikir ngga
sih Dan, gimana semua ingatan itu kayak bayangan kita?” kata gue
“Lo ngomongin
apaan sih?” tanyanya
“Yaa, ingatan.
Ketika lo bikin sebuah memori diotak lo, secara ngga sadar ingatan itu bakalan
jadi bagian dari diri lo sesisa hidup lo. Dan sama kayak bayangan, seberapapun
usaha lo untuk melupakan atau menghapusnya, ingatan itu akan selalu ada disana
– tinggal tergantung pencahayaannya doang”
Ketika gue
sedang mengajukan teori gue, Daniel sudah duduk di rerumputan samping gue.
Dekat, namun tetap menjaga jarak.
“Hm. Menarik.
Contoh?”
“Dulu gue
pernah ngapel sama mantan gue disini.
Pas gue masih jadian sama dia, tiap kali kita jalan ke taman ini gue berasa
pengen tinggal disini sama dia selamanya. Itu ingatan yang gue bikin dan
bakalan gue inget terus sampe gue tua”
“Terus?”
“Setelah gue
putus sama dia, pas masih galau-galaunya, gue ngga pengen dateng kesini karna
terlalu membuat gue sedih sama kenyataan bahwa masa depan yang gue mimpiin sama
dia ngga bakal pernah jadi kenyataan; tempat ini menjadi terlalu penuh kenangan
buat gue. Bahkan gue bisa bilang gue sempet benci tempat ini gara-gara dia...
Akhirnya, sih gue mutusin untuk dateng lagi kesini dan make peace sama masa lalu itu. Sejak itu, memori yang timbul
tentang tempat ini bisa beda-beda walopun kenangannya cuman tentang itu. Gitu”
“Hubungannya
sama bayangan dan pencahayaan?”
“Memori itu
seolah bayangan kita sementara mood
kita itu adalah pengatur pencahayaan dan otak kita adalah sinarnya. Kalo
misalnya mood gue lagi ngegalau, otak gue akan bersinar terang dalam kegelapan
dan membawa ingatan terkuat gue pas gue sedih setelah putus. Tapi kalo mood gue
lagi seneng, maka sinar si otak ngga akan keliatan sama sekali seolah ngga
pernah terjadi apa-apa disini; dan sejuta hal lainnya”
“Oh, gue
ngerti. Jadi intinya mood kita mempengaruhi apa yang kita ingat tentang sebuah
tempat. Sekarang, ingatan yang mana yang lagi lo rasain?” tanyanya sembari
melirik kearah gue.
“Gila Dan,
kode gue kok bisa nyampe gitu sih ke lo? Dasar peka”
Sebuah tawa
renyah keluar dari sepasang bibirnya.
“Ingatan
diantara gue seneng banget ada ditempat ini tapi gue udah ngga sama dia lagi.
Aneh banget sudut sorotan lampunya”
Gue membiarkan
sepersekian detik lewat sebelum akhirnya gue menjawab dengan nada yang lebih
pelan:
“Gue belom
pernah ngeliat sorot lampu ini sebelomnya, Dan. Dan sejujurnya gue suka banget
momen ‘ingatan’ yang gue lagi buat sama lo ini”
“Gue juga,”
gumamnya. “tapi ada bagusnya juga kita biarin kenangan ini sebagaimana baiknya
dia saat ini. I don’t want to grow
distant like the memories you’ve had with him. I want to be forever. I’m so
selfish, aren’t I?”
Ngga kok, everything makes perfect sense; because I
want it too –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar