Jumat, 21 Agustus 2015

Bayangan, Pencahayaan, Cahaya



Lucu bagaimana, permainan lampu akan mempengaruhi segala sesuatu yang ada dipermukaan bumi ini. Bagaimana bayangan kita akan muncul ditempat yang berbeda jika disorot dari posisi sinar yang berbeda; bagaimana bayangan kita akan terlihat sangat jelas seiring dengan sekeliling kita yang menggelap; atau bagaimana kecilnya sebuah sinar tidak mengubah apapun mengenai bayangan kita: bahwa bayangan kita akan selalu ada disana – walaupun harus memudar.
Bayangan, gue temukan, memiliki banyak kesamaan dengan ingatan.
...
“Lo lagi mikirin apaan sih? Kayanya daritadi sibuk amat” Sapa suara yang daritadi matanya setia mengikuti langkah kaki gue
“Sibuk nenek lo? Biasa lah, orang sibuk macem gue walopun lagi santai juga pasti sibuk mikir sendiri” Sahut gue, tidak menjawab pertanyaan
“Jangan yang galau-galau ya, mak. Riset membuktikan orang galau tuh lebih susah dapet pacar loh” Jawab dia lagi, sepertinya masih asyik meledek gue
“Diem ah lo bawel”
Sore itu, gue sedang berjalan menyusuri taman yang semasa gue bertumbuh memegang begitu banyak ingatan. Seperti ingatan bahagia ketika gue bermain kejar-kejaran bersama teman-teman SD, atau ketika gue sudah terlalu besar dan berujung pada bermain jungkat-jungkit bersama teman-teman SMA; ingatan lucu ketika ada seorang anak yang berusia lebih kecil dari gue saat itu ngompol diatas perosotan dan kami jadi enggan naik; atau ingatan menyebalkan seperti ketika gue menginjak kotoran anjing ketika bermain disana. Ya, entah kenapa semua ingatan itu berkecamuk bersamaan ketika sore ini gue berjalan mengelilinginya.
Mungkin semua ingatan ini tiba-tiba menusuk karna gue sadar bahwa waktu sudah membawa sebuah perubahan yang begitu besar dalam diri gue baik secara fisik maupun nonfisik. Mungkin, ingatan ini adalah satu-satunya cara gue untuk merasa lebih dekat dengan masa-masa yang gue habiskan ditempat ini.
...
“Kepikir ngga sih Dan, gimana semua ingatan itu kayak bayangan kita?” kata gue
“Lo ngomongin apaan sih?” tanyanya
“Yaa, ingatan. Ketika lo bikin sebuah memori diotak lo, secara ngga sadar ingatan itu bakalan jadi bagian dari diri lo sesisa hidup lo. Dan sama kayak bayangan, seberapapun usaha lo untuk melupakan atau menghapusnya, ingatan itu akan selalu ada disana – tinggal tergantung pencahayaannya doang”
Ketika gue sedang mengajukan teori gue, Daniel sudah duduk di rerumputan samping gue. Dekat, namun tetap menjaga jarak.
“Hm. Menarik. Contoh?”
“Dulu gue pernah ngapel sama mantan gue disini. Pas gue masih jadian sama dia, tiap kali kita jalan ke taman ini gue berasa pengen tinggal disini sama dia selamanya. Itu ingatan yang gue bikin dan bakalan gue inget terus sampe gue tua”
“Terus?”
“Setelah gue putus sama dia, pas masih galau-galaunya, gue ngga pengen dateng kesini karna terlalu membuat gue sedih sama kenyataan bahwa masa depan yang gue mimpiin sama dia ngga bakal pernah jadi kenyataan; tempat ini menjadi terlalu penuh kenangan buat gue. Bahkan gue bisa bilang gue sempet benci tempat ini gara-gara dia... Akhirnya, sih gue mutusin untuk dateng lagi kesini dan make peace sama masa lalu itu. Sejak itu, memori yang timbul tentang tempat ini bisa beda-beda walopun kenangannya cuman tentang itu. Gitu”
“Hubungannya sama bayangan dan pencahayaan?”
“Memori itu seolah bayangan kita sementara mood kita itu adalah pengatur pencahayaan dan otak kita adalah sinarnya. Kalo misalnya mood gue lagi ngegalau, otak gue akan bersinar terang dalam kegelapan dan membawa ingatan terkuat gue pas gue sedih setelah putus. Tapi kalo mood gue lagi seneng, maka sinar si otak ngga akan keliatan sama sekali seolah ngga pernah terjadi apa-apa disini; dan sejuta hal lainnya”
“Oh, gue ngerti. Jadi intinya mood kita mempengaruhi apa yang kita ingat tentang sebuah tempat. Sekarang, ingatan yang mana yang lagi lo rasain?” tanyanya sembari melirik kearah gue.
“Gila Dan, kode gue kok bisa nyampe gitu sih ke lo? Dasar peka”
Sebuah tawa renyah keluar dari sepasang bibirnya.
“Ingatan diantara gue seneng banget ada ditempat ini tapi gue udah ngga sama dia lagi. Aneh banget sudut sorotan lampunya”
Gue membiarkan sepersekian detik lewat sebelum akhirnya gue menjawab dengan nada yang lebih pelan:
“Gue belom pernah ngeliat sorot lampu ini sebelomnya, Dan. Dan sejujurnya gue suka banget momen ‘ingatan’ yang gue lagi buat sama lo ini”
“Gue juga,” gumamnya. “tapi ada bagusnya juga kita biarin kenangan ini sebagaimana baiknya dia saat ini. I don’t want to grow distant like the memories you’ve had with him. I want to be forever. I’m so selfish, aren’t I?”
Ngga kok, everything makes perfect sense; because I want it too –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar