Yo guys
whaddup?!
It’s been a
while... HAHAHAHA.
Yak betul
sekali nak, gue pengen curcol. Entah udah berapa lama yang lalu ya gue
mengotori otak kalian dengan curcolan labil anak SMA jaman sekarang. Maaf lah.
HAHAHHA. Sekali-sekali juga kan.
So, without
further due, let me start the curcol biar kalian ngga bawelin gue.
Hari Jumat
minggu lalu (01/05/2015), gue yang lagi penat di rumah akhirnya beranjak buat
mojok di Starbucks sebuah pusat perbelanjaan deket rumah (deket rumah emang
cuman ada satu, sih, sebenernya. HAHA).
Sebenernya gue
ngga tau hari itu mau ngapain. Pilihannya cuman baca, nulis, atau ngetik. Yang
gue tau gue bawa buku catetan sebiji beserta seperangkat alat tulis, buku
cerita, sama dompet. Inti sebenernya adalah gue pengen nyari inspirasi. Tujuan
sederhana nan geblek gue itu kalo cuman ditemenin sama buku kosong dan buku
cerita ngga bakal kesampean sih sebenernya kalo mau ngomong jujur. Tapi setelah
gue pikir-pikir lagi, toh ngga ada salahnya gue nyari inspirasi ditempat lain;
sendirian (baca: sebenernya itu mah gue gabut aja). Yaudah deh, cabut lah gue.
Setelah mesen
minuman ukuran XL dengan tujuan supaya betah duduk berjam-jam, gue akhirnya
nyari tempat duduk disofa rada pojokan Starbucks biar pewe. Dan eits, jangan
salah sangka. Hari itu gue hampir ngga nyentuh apapun yang gue bawa kecuali
dompet (buat bayar minuman itu juga) karna inspirasi gue yang secara spesifik datang
dari sosok “seseorang” instead of
“sesuatu”.
Ngga sampe 2
menit gue duduk, wajah familiar itu
menyapa gue.
“Gloria?”
Gue langsung
nengok dan langsung mengenali sosok wajah itu dan mengeluarkan suara yang gue
harap ngga ngehe padahal rasanya ngehe banget: “eh, mister?”.
YEAH,
HAHAHAHA.
Jumat itu gue
ketemu sama guru SD gue yang dulu ngajarin gue Bahasa Inggris dari kelas 4
sampai kelas 6. To protect his identity, I won’t name names. But incase he is
reading this, he’ll know who he is, I believe.
Seperti semua
obrolan normal lainnya, kita memulai obrolan itu dengan basa-basi seperlunya
yang ngga perlu gue sebutin karna sebenernya itu geblek banget dan sempet
diem-dieman asik sendiri sama dunia masing-masing. Bukan asik gimana juga, sih.
Tapi kalo dipost gue yang maren-maren, gue sebutnya begini: he doesn’t feel the
need to fill the silence that crept in. EAK. HAHAHA. Gue asik sama kertas gue
for a second, dan beliau sendiri asik sama thesis yang diketiknya sampe gue punya
pertanyaan lagi.
But I mean
gini: gue baru sadar dari beliau bahwa teachers really do affect the eternity.
They will never did know where their influence will stop. Especially to this
one teacher, he was someone who would inspire me in his silence and sat next to
me over the hours. He’s been there along the years – shadowing me eversince I
could remember.
Dude... it’s
been like what? 9 years already? Gahwd, CEPET AMAT YA BRO.
It’s been a
long while, to tell you the truth.
Gilanya adalah
gue udah tau guru gue yang satu ini sejak dia single, pacaran, trus nikah sama
pacarnya ini, sampe sekarang anaknya udah umur 3,5 tahun. Bahasanya tuh...
kayak gue ditakdirkan untuk terus keep in
touch sama beliau dan tau kehidupan step by step beliau sampe hari ini.
Kita selalu ketemu di occasion-occasion
yang kecenya luar biasa. Kita selalu ngga sengaja ketemu – and it’s only been him out of all my elementary teachers. Coincidence? I think not.
And it’s crazy
when I put it this way, but I believe that this is the truest out of those
theories I’ve thought of: these silent inspirers will stay young in our hearts
no matter how old they get. For as long as you can remember, they shall be
called in that one name even though they will be forgotten soon: teachers.
They’ll keep shining like they’ve always been, even in the older days.
If there is
one thing that would be granted for me to keep remembering, I want this one
thing for me to remember for the rest of my life (baca: kalo ada satu hal yang
boleh gue inget selamanya, gue pengen satu hal ini untuk gue inget terus.
AHELAH RIBET AMAT): I want to remember my teachers. Mereka adalah inspirers sejati yang selama ini gue
cari, orang-orang yang ngga gue sadari memberi inspirasi – yang nilai-nilainya
kita ambil setelah bimbingan orangtua kita di rumah.
Gue mau
mencintai dengan berani; dan gue mau mereka menjadi alasan dibalik keberanian
gue mencintai itu.
Sekian curcol
gue kali ini. Udah, gitu aja. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar