Kamis, 07 Mei 2015

Teachers, Inpirers



Yo guys whaddup?!
It’s been a while... HAHAHAHA.
Yak betul sekali nak, gue pengen curcol. Entah udah berapa lama yang lalu ya gue mengotori otak kalian dengan curcolan labil anak SMA jaman sekarang. Maaf lah. HAHAHHA. Sekali-sekali juga kan.
So, without further due, let me start the curcol biar kalian ngga bawelin gue.
Hari Jumat minggu lalu (01/05/2015), gue yang lagi penat di rumah akhirnya beranjak buat mojok di Starbucks sebuah pusat perbelanjaan deket rumah (deket rumah emang cuman ada satu, sih, sebenernya. HAHA).
Sebenernya gue ngga tau hari itu mau ngapain. Pilihannya cuman baca, nulis, atau ngetik. Yang gue tau gue bawa buku catetan sebiji beserta seperangkat alat tulis, buku cerita, sama dompet. Inti sebenernya adalah gue pengen nyari inspirasi. Tujuan sederhana nan geblek gue itu kalo cuman ditemenin sama buku kosong dan buku cerita ngga bakal kesampean sih sebenernya kalo mau ngomong jujur. Tapi setelah gue pikir-pikir lagi, toh ngga ada salahnya gue nyari inspirasi ditempat lain; sendirian (baca: sebenernya itu mah gue gabut aja). Yaudah deh, cabut lah gue.
Setelah mesen minuman ukuran XL dengan tujuan supaya betah duduk berjam-jam, gue akhirnya nyari tempat duduk disofa rada pojokan Starbucks biar pewe. Dan eits, jangan salah sangka. Hari itu gue hampir ngga nyentuh apapun yang gue bawa kecuali dompet (buat bayar minuman itu juga) karna inspirasi gue yang secara spesifik datang dari sosok “seseorang” instead of “sesuatu”.
Ngga sampe 2 menit gue duduk, wajah familiar itu menyapa gue.
“Gloria?”
Gue langsung nengok dan langsung mengenali sosok wajah itu dan mengeluarkan suara yang gue harap ngga ngehe padahal rasanya ngehe banget: “eh, mister?”.
YEAH, HAHAHAHA.
Jumat itu gue ketemu sama guru SD gue yang dulu ngajarin gue Bahasa Inggris dari kelas 4 sampai kelas 6. To protect his identity, I won’t name names. But incase he is reading this, he’ll know who he is, I believe.
Seperti semua obrolan normal lainnya, kita memulai obrolan itu dengan basa-basi seperlunya yang ngga perlu gue sebutin karna sebenernya itu geblek banget dan sempet diem-dieman asik sendiri sama dunia masing-masing. Bukan asik gimana juga, sih. Tapi kalo dipost gue yang maren-maren, gue sebutnya begini: he doesn’t feel the need to fill the silence that crept in. EAK. HAHAHA. Gue asik sama kertas gue for a second, dan beliau sendiri asik sama thesis yang diketiknya sampe gue punya pertanyaan lagi.
But I mean gini: gue baru sadar dari beliau bahwa teachers really do affect the eternity. They will never did know where their influence will stop. Especially to this one teacher, he was someone who would inspire me in his silence and sat next to me over the hours. He’s been there along the years – shadowing me eversince I could remember.
Dude... it’s been like what? 9 years already? Gahwd, CEPET AMAT YA BRO.
It’s been a long while, to tell you the truth.
Gilanya adalah gue udah tau guru gue yang satu ini sejak dia single, pacaran, trus nikah sama pacarnya ini, sampe sekarang anaknya udah umur 3,5 tahun. Bahasanya tuh... kayak gue ditakdirkan untuk terus keep in touch sama beliau dan tau kehidupan step by step beliau sampe hari ini. Kita selalu ketemu di occasion-occasion yang kecenya luar biasa. Kita selalu ngga sengaja ketemu – and it’s only been him out of all my elementary teachers. Coincidence? I think not.
And it’s crazy when I put it this way, but I believe that this is the truest out of those theories I’ve thought of: these silent inspirers will stay young in our hearts no matter how old they get. For as long as you can remember, they shall be called in that one name even though they will be forgotten soon: teachers. They’ll keep shining like they’ve always been, even in the older days.
If there is one thing that would be granted for me to keep remembering, I want this one thing for me to remember for the rest of my life (baca: kalo ada satu hal yang boleh gue inget selamanya, gue pengen satu hal ini untuk gue inget terus. AHELAH RIBET AMAT): I want to remember my teachers. Mereka adalah inspirers sejati yang selama ini gue cari, orang-orang yang ngga gue sadari memberi inspirasi – yang nilai-nilainya kita ambil setelah bimbingan orangtua kita di rumah.
Gue mau mencintai dengan berani; dan gue mau mereka menjadi alasan dibalik keberanian gue mencintai itu.
Sekian curcol gue kali ini. Udah, gitu aja. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar