Senin, 18 Mei 2015

Kisah Cinta yang Gue Inginkan



Gue cukup beruntung ketika gue bisa mengatakan gue menemukan cinta yang gue inginkan pada usia yang sudah cukup matang. Dan walaupun terpaut perbedaan usia sejauh 6 tahun, gue tidak peduli. Toh, kita sama-sama mengetahui keinginan kita dalam memperjuangkan sebuah hubungan.
“Gue kalo jadian kali ini nyari yang serius Nek. Gue udah capek sama yang jiji-jiji begituan” Katanya, membuka pembicaraan. Dia membahasakan gue sebagai nenek, karna dia ngga ngerti lagi gimana gue bisa setengah mati bawel tapi tetep bersikap hati-hati seperti biasanya.
“Lah ya lu kira gue ngga nyari yang begitu. Gue bukan kebelet, tapi emang udah mikir mau punya keluarga sendiri lah yang cowonya juga mateng” Bales gue.
“Tapi kalo lu jadi sama gue, gue expect lu untuk ngga clingy ya sama gue”
“Clingy as in?”
“Ya jangan manja. Boleh lah manja on the time you needed it most – gue masi tolerir. Tapi kalo manja yang alay kaya bocah gitu mending ngga usah. Anyways, ini gue set dari awal biar kita sama-sama tau dikit dulu lah nantinya mau kaya apa”
“Okelah. Gue ngerti. Tapi emang kenapa? I need reasons”
“Gue ngga mau kita terlalu sakit. Kalo manja-manjaan gitu kan terlalu banyak nguras emosi jadi pas putus juga sakitnya males banget. Kalo ngga biasa dari awal kan jadi biasa aja.”
“Lah trus kalo tar nikah gimana?”
“Ya nanti pas nikah suka-suka lu deh mau siang malem manja. Kan udah jadi satu – udah ngga boleh pisah lagi jadi ngga masalah. Masalahnya kalo masih pacaran kan kemungkinan ‘ngga pisah’nya kan gede”
Selama kita berkisah mengenai harapan masing-masing, gue tidak akan pernah lelah mengatakan kepada dunia bahwa hubungan yang akan gue jalani ini memang berbeda. Antik, namun menyenangkan. Kita berdua benci kebiasaan pacaran yang “aku kamu-an”, harus menunjukkan kemesraan didepan publik, pegangan tangan dan lain-lain. Sebutlah kami berdua aneh, namun ingat: dia sudah dewasa 6 tahun lebih lama daripada gue. Ini membuat semua permainan kita lebih mudah.
Ketika kita pacaran, memang betul semua kebiasaan yang sudah gue sebutkan diatas kami usahakan hindari. Malah pernah ketika gue makan malam di rumahnya suatu kali setelah cukup lama menjalin hubungan, papanya malah bingung sebenarnya status kita berdua ini apa karna kita berdua sudah terlalu sering berdua untuk menjadi ‘hanya teman’ namun terlalu ‘kaku’ untuk disebut pacaran. Akhirnya dia angkat bicara “iya pi, gue seriusin yang ini kok. Kita udah jadian lama”. Bukan cuman bokap yang bingung, temen-temen kita juga semua bingung kok sama ‘lu berdua ini udah jadian apa belom sih’.
Dikamus kita berdua, ngga ada tuh “kamu mau makan apa, sayang?” dan “ngga tau, terserah kamu aja beb”. Kita memiliki prinsip bahwa kalau dia memilih sesuatu dan gue ngga suka, gue harus punya alternatif lain sebagai pilihan. Kalau ngga punya pilihan lain, ya, ikut aja deh suka ngga suka. Mau soal makanan, film, tempat tongkrongan, apapun lah. Walopun begitu, kita udah tau bahwa kalo udah capek sama masing-masing tapi masih mau berduaan, kita akan harus saling bilang dan langsung menuju kedai kopi favorit untuk sibuk aja sama pekerjaan masing-masing – begitu terus berjam-jam lamanya – yang penting berduaan dan ngga nyari ribut.
Dan yang biasanya paling ngga pernah kita berdua ceritain ke siapapun termasuk sahabat adalah bahwa tiap malam, mau sibuk banget ataupun sibuk aja, kita berdua harus ketemu di apartemen dia diatas sebuah pusat perbelanjaan pukul 9 hingga 12 malam. Ngapain? Tidur. Yak, tidur. Ini semua sebenernya berawal gara-gara gue yang perhatian sama dia yang sering kurang tidur tapi juga ngga bisa memaksakan dia dengan gaya anak kecil lagi supaya instirahat. Akhirnya ya, yasudah. Jalan keluarnya kita harus berdua dikasur yang sama, dan tidur bareng. Ngga kok, ngga pernah berhubungan. Kita berdua udah tau resikonya dan ngga mau main-main. Setelah 3 jam itu ya mau lanjutkan kerjaan lagi silahkan. Salahkan “ketuaan”nya dia, tapi menurut gue selama kita tau batas dan kita bisa jaga diri, ngga akan ada masalah sama hal “istirahat bareng” ini. Kita sepakat ngga mau munafik dan menyalahkan “kebelet”.

 “Lu tuh sadar ngga sih kalo lu tuh orangnya cuek setengah mati?” Kata dia suatu kali ketika kita berdua lagi dalam perjalanan pulang dari Bandung.
“Sadar lah. Gue adalah orang yang paling cuek yang gue kenal. But see if you can change me, though”
“Aah, bullshit. Ngapain. Love does the changing. Gue ikut aja”

Diatas segala alasan mengapa seseorang mampu mencintai manusia lain, inilah alasan utama mengapa gue mencintai dia; dia yang mengetahui siapa gue sebenarnya; dia yang mengetahui value gue sebagai manusia yang menganggap semua hal itu bullshit; dia yang tidak berusaha mengubah apapun yang gue percayai:
Dia lebih mengerti akan kekuatan siapa yang mampu mengubah gue. ‘Perubahan’ bukan secara fisik, namun perubahan sikap buruk gue. Bukan dia, bukan uangnya, bukan pula harapan kosong mengenai masa depan yang tidak seorangpun ketahui; tetapi sebuah elemen yang kita sebut sebagai CINTA yang perjalanannya diiringi oleh waktu.
Dia cukup dewasa untuk mengetahui prioritas hidupnya; dia mampu mencintai sisi gue yang masih utuh. Dan gue mencintai manusia gue ini. –red

“It’s not that I won’t try, but I know my backup will do it better”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar