Gue cukup
beruntung ketika gue bisa mengatakan gue menemukan cinta yang gue inginkan pada
usia yang sudah cukup matang. Dan walaupun terpaut perbedaan usia sejauh 6
tahun, gue tidak peduli. Toh, kita sama-sama mengetahui keinginan kita dalam
memperjuangkan sebuah hubungan.
“Gue kalo
jadian kali ini nyari yang serius Nek. Gue udah capek sama yang jiji-jiji
begituan” Katanya, membuka pembicaraan. Dia membahasakan gue sebagai nenek,
karna dia ngga ngerti lagi gimana gue bisa setengah mati bawel tapi tetep
bersikap hati-hati seperti biasanya.
“Lah ya lu
kira gue ngga nyari yang begitu. Gue bukan kebelet, tapi emang udah mikir mau
punya keluarga sendiri lah yang cowonya juga mateng” Bales gue.
“Tapi kalo lu
jadi sama gue, gue expect lu untuk ngga clingy ya sama gue”
“Clingy as
in?”
“Ya jangan
manja. Boleh lah manja on the time you needed it most – gue masi tolerir. Tapi
kalo manja yang alay kaya bocah gitu mending ngga usah. Anyways, ini gue set
dari awal biar kita sama-sama tau dikit dulu lah nantinya mau kaya apa”
“Okelah. Gue
ngerti. Tapi emang kenapa? I need reasons”
“Gue ngga mau
kita terlalu sakit. Kalo manja-manjaan gitu kan terlalu banyak nguras emosi
jadi pas putus juga sakitnya males banget. Kalo ngga biasa dari awal kan jadi
biasa aja.”
“Lah trus kalo
tar nikah gimana?”
“Ya nanti pas
nikah suka-suka lu deh mau siang malem manja. Kan udah jadi satu – udah ngga
boleh pisah lagi jadi ngga masalah. Masalahnya kalo masih pacaran kan
kemungkinan ‘ngga pisah’nya kan gede”
Selama kita
berkisah mengenai harapan masing-masing, gue tidak akan pernah lelah mengatakan
kepada dunia bahwa hubungan yang akan gue jalani ini memang berbeda. Antik,
namun menyenangkan. Kita berdua benci kebiasaan pacaran yang “aku kamu-an”,
harus menunjukkan kemesraan didepan publik, pegangan tangan dan lain-lain.
Sebutlah kami berdua aneh, namun ingat: dia sudah dewasa 6 tahun lebih lama
daripada gue. Ini membuat semua permainan kita lebih mudah.
Ketika kita
pacaran, memang betul semua kebiasaan yang sudah gue sebutkan diatas kami
usahakan hindari. Malah pernah ketika gue makan malam di rumahnya suatu kali
setelah cukup lama menjalin hubungan, papanya malah bingung sebenarnya status
kita berdua ini apa karna kita berdua sudah terlalu sering berdua untuk menjadi
‘hanya teman’ namun terlalu ‘kaku’ untuk disebut pacaran. Akhirnya dia angkat
bicara “iya pi, gue seriusin yang ini kok. Kita udah jadian lama”. Bukan cuman
bokap yang bingung, temen-temen kita juga semua bingung kok sama ‘lu berdua ini
udah jadian apa belom sih’.
Dikamus kita
berdua, ngga ada tuh “kamu mau makan apa, sayang?” dan “ngga tau, terserah kamu
aja beb”. Kita memiliki prinsip bahwa kalau dia memilih sesuatu dan gue ngga
suka, gue harus punya alternatif lain sebagai pilihan. Kalau ngga punya pilihan
lain, ya, ikut aja deh suka ngga suka. Mau soal makanan, film, tempat
tongkrongan, apapun lah. Walopun begitu, kita udah tau bahwa kalo udah capek
sama masing-masing tapi masih mau berduaan, kita akan harus saling bilang dan
langsung menuju kedai kopi favorit untuk sibuk aja sama pekerjaan masing-masing
– begitu terus berjam-jam lamanya – yang penting berduaan dan ngga nyari ribut.
Dan yang
biasanya paling ngga pernah kita berdua ceritain ke siapapun termasuk sahabat
adalah bahwa tiap malam, mau sibuk banget ataupun sibuk aja, kita berdua harus
ketemu di apartemen dia diatas sebuah pusat perbelanjaan pukul 9 hingga 12
malam. Ngapain? Tidur. Yak, tidur. Ini semua sebenernya berawal gara-gara gue
yang perhatian sama dia yang sering kurang tidur tapi juga ngga bisa memaksakan
dia dengan gaya anak kecil lagi supaya instirahat. Akhirnya ya, yasudah. Jalan
keluarnya kita harus berdua dikasur yang sama, dan tidur bareng. Ngga kok, ngga
pernah berhubungan. Kita berdua udah tau resikonya dan ngga mau main-main. Setelah
3 jam itu ya mau lanjutkan kerjaan lagi silahkan. Salahkan “ketuaan”nya dia,
tapi menurut gue selama kita tau batas dan kita bisa jaga diri, ngga akan ada
masalah sama hal “istirahat bareng” ini. Kita sepakat ngga mau munafik dan
menyalahkan “kebelet”.
“Lu tuh sadar ngga sih kalo lu tuh orangnya
cuek setengah mati?” Kata dia suatu kali ketika kita berdua lagi dalam
perjalanan pulang dari Bandung.
“Sadar lah. Gue
adalah orang yang paling cuek yang gue kenal. But see if you can change me,
though”
“Aah,
bullshit. Ngapain. Love does the changing. Gue ikut aja”
Diatas segala
alasan mengapa seseorang mampu mencintai manusia lain, inilah alasan utama mengapa
gue mencintai dia; dia yang mengetahui siapa gue sebenarnya; dia yang
mengetahui value gue sebagai manusia yang menganggap semua hal itu bullshit; dia
yang tidak berusaha mengubah apapun yang gue percayai:
Dia lebih
mengerti akan kekuatan siapa yang
mampu mengubah gue. ‘Perubahan’ bukan secara fisik, namun perubahan sikap buruk
gue. Bukan dia, bukan uangnya, bukan pula harapan kosong mengenai masa depan
yang tidak seorangpun ketahui; tetapi sebuah elemen yang kita sebut sebagai
CINTA yang perjalanannya diiringi oleh waktu.
Dia cukup
dewasa untuk mengetahui prioritas hidupnya; dia mampu mencintai sisi gue yang
masih utuh. Dan gue mencintai manusia gue ini. –red
“It’s not that I won’t try, but I know my backup will do it better”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar