Post ini bakal jadi kritik paling kasar yang pernah lu baca diblog gue.
Tapi yah, gimana lagi kalo gue ngerasa bener-bener tersedak dengan keadaan yang
terjadi didepan mata gue? I have to let it out somehow.
Gue ceritain dulu deh gimana awalnya post ini bisa kejadian.
Ceritanya Selasa minggu lalu ketika gue dan temen-temen 12IPS sampe di
Surabaya buat perpisahan, kita pertama diajak ke sitenya lumpur lapindo. Sekitar 6 bulan sebelumnya ketika gue ke
Surabaya juga gue ngga sempet dateng kemari; jadi ini adalah kali pertama gue
dan gue sama sekali ngga tau bakal ngeliat apa atau harus mengharapkan apa dari
tempat itu.
Hari kira-kira udah jam 17.30 ketika kita sampe dan langit udah mulai
redup.
Lapindo itu dibikinin tanggul disekitarnya supaya ngga turun kejalan raya –
memperlambat persebaran mereka ke lahan penduduk luas – tapi suatu hari nanti,
kata mereka, ya, lumpur itu akan harus nutupin seluruh permukaan tanah Jawa
kalo ngga berhenti.
Yang sore itu gue lihat adalah seperti padang pasir – lahan pasir tanpa
ujung. Itu adalah bentuk dari bekuan pasir lapindo yang selama 9 tahun ini
bertumpuk. Ada aliran air didekat tempat gue berdiri; yang ternyata adalah
bentuk lapindo cair yang mengalir dari pusatnya menuju entah kemana. Gila.
Bukan air coy, bukan air. It is a freaking lumpur berwarna bening. Setelah skitar
5 menit berdiri disana, dikejauhan tiba-tiba ada asep putih mengepul. Ketika
kita tanya ke pemandu kita yang nemenin, ternyata itu adalah pusat lapindonya –
masih aktif – no sign of stopping.
Kata mereka, lapindo ini udah bikin sekitar 6 kecamatan harus pindah. Gila,
itu berarti ribuan jiwa udah jadi korban. Ratusan lahan; rumah; pekerjaan mapan
hilang ditelan lumpur yang semuanya berawal dari politik yang haus uang.
Gue jadi nyesek sendiri dan berujung pada menulis apa yang gue tulis
dibawah ini.
...
Tuesday, May 12th 2015.
Ketika gue ngeliat lumpur lapindo itu kembali meluap, gue ngga bisa ngomong
apa-apa. Gue makin terpuruk; gue ngerasa makin ciut. Gue pengen marah. Ya marah
- sama siapa aja yang bisa gue marahin. Gue kepengen marah. Banget.
Gue pengen marah sama siapapun pihak yang ngelakuin ini.
Gue pengen nanya sama mereka: WOY ANJING OTAK LO DIMANA SIH? SERAKAH BANGET
JADI ORANG.
Gue mau nanya sama yang tanggung jawab atas proyek ini: MANA ATASAN LO?!
Kenapa dia ngga ngapa-ngapain?
Gue pengen marah sama atasan mereka.
Gue pengen tau apa dia ngga mikirin resiko jangka panjangnya dan kalo udah
tau begitu kenapa masih dikerjain juga. BEGO KAN.
Gue pengen tau apakah resiko yang menghancurkan rumah ribuan orang ini
lebih baik daripada tidak mendapat uang sama sekali.
Gue pengen marah sama orang-orang yang ngga berusaha mencegah demi apapun
yang fana didunia ini.
Gue pengen marah sama diri gue sendiri yang ngga bisa ngelakuin apa-apa;
yang ngga tau apa-apa; yang selama ini tutup kuping aja bisanya. Apa gunanya
kehadiran gue kalo pada kenyataannya gue ngga bisa ngelakuin apa-apa juga buat
mereka disana?
Oh iya, gue lupa.
“Kedaulatan rakyat” hanyalah slogan kosong jika hanya beberapa orang yang
berteriak;
Jika tidak dibarengi dengan uang;
Jika kepentingan mereka untuk mendapatkan uang dan mengeksploitasi bumi
Indonesia “lebih penting” daripada kesejahteraan hidup masyarakatnya.
Sekarang, bukan cuman mereka yang terancam mati - bahkan punah.
Gue juga.
Lu juga.
Kita semua jadi taruhannya.
Anjing kan.
Walaupun oke, fine, mereka yang bikin ini bilang kalo ini bukan salah lo
maka ini adalah garis yang ditakdirkan Tuhan untuk terjadi pada kehidupan
manusia. TAPI APA NGGA SETIDAKNYA LO YANG MEMULAI INI BISA MENGURANGI
KEMUNGKINAN KEMATIAN ITU DATANG LEBIH CEPAT DAN MENAMBAH USIA KITA UNTUK MELANJUTKAN
HIDUP?
Engga? Oke, fine.
Kayaknya ini cuman gue doang yang pengen hidup kali ya.
Bangsat banget emang. Serakah.
Mungkin nanti, ketika mereka udah benar-benar lelah baru mereka akan
mendengar dan berpikir.
Mungkin nanti, ketika keadaannya udah mepet baru mereka bakal nyesel sama
kesalahan yang mereka bikin 9 tahun yang lalu.
Nanti nanti nanti – semuanya aja nanti. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar