Jakarta masih
setia dalam diamnya ketika aku pergi pagi itu; dalam kabutnya ia berdiri
tertegun – abu-abu.
Diam, ketika
ia kembali melihat geliatan pagi kota tua ini yang semraut dengan segala
polusinya dan segala negativitas yang terkandung.
Kemudian
pikiranku menjelajah lebih jauh. Terpikir olehku: bagaimanakah potret bangsaku
ini bertahun-tahun yang lalu? Bagaimana keadaan Indonesia kala itu? Coba
anggaplah kita mengambil sembarang angka – seperti apakah Indonesiaku tahun
’75? Apakah moral bangsaku dahulu lebih baik, ataukah kini lebih baik? Dulu
lebih parah, atau sekarang lebih parah?
Namun ah,
siapakah aku ini – aku sendiri tidak layak untuk berbicara mengenai moral
bangsa ketika selama ini aku sendiri hanya menjadi wajah lainnya pada bumi pertiwi
Indonesia. Aku tidak cukup mengetahui Indonesiaku secara keseluruhan untuk
mengatakan stereotipe “lebih baik” atau “lebih buruk”. Aku tidak cukup peduli
untuk mereka. Dan atas dasar apa pula aku haruskan mereka untuk dengarkanku
padahal mereka lebih mengerti tentang apa yang sedang terjadi pada negriku ini?
Lagipula, aku
benci ke-“kuat”-an itu.
Aku benci
dianggap “sudah besar”.
Aku benci
mendapat perhatian utama ketika sebenarnya aku sedang tidak menginginkannya –
ketika sebenarnya aku merasa sedang melakukan apa yang seharusnya aku lakukan;
bukan sesuatu yang sungguh berharga untuk mendapatkan perhatian sebesar itu.
Aku benci
“terlalu memperhatikan”; benci mengetahui terlalu banyak.
Aku benci
dituntut sudah harus mengetahui, menyadari, serta menyelesaikan tanggung
jawabku sesuai stadar orang lain.
Aku benci
diharapkan terlalu banyak.
Aku benci
ketika ekspektasi mereka terhadapku meningkat drastis hanya karna aku sudah
menunjukkan sisi kuat ini.
Aku benci
ketika aku tidak bisa lagi se-“lemah” itu untuk kembali ke pelukan ayah
kapanpun aku mau ketika aku sedang merasa sedih dan lemah.
Aku benci
dengan kesederhanaan masa kecil yang harus direnggut secepat itu dariku.
...
Aku lelah
harus selalu terlihat kuat didepan semua orang.
Aku lelah
dianggap selalu kuat seakan aku tak bisa hancur berkeping jika aku sudah lelah.
Aku lelah
dicekoki nilai orang lain. Kapan nilaiku sebagai manusia dewasa dapat terpakai
jika mereka terus menginginkanku untuk tunduk?
Aku lelah
merasa tidak dianggap penting oleh masyarakat; seolah pembuktian apapun dalam
diriku tidak akan pernah cukup untuk
membuat mereka percaya bahwa aku mampu.
Aku lelah
dianggap ‘anak kecil yang tidak mampu’ tapi belum ‘cukup dewasa untuk mengerti
semuanya’.
Aku lelah harus
selalu menjadi manusia “sempurna” yang diharapkan orang lain ketika yang aku
bisa adalah menjadi manusia tidak sempurnaku ini.
Aku lelah
karna aku merasa berjuang sendiri; berjuang tanpa kawan sepadan.
Aku lelah
ketika hidup sudah terlalu rumit dibandingkan dengan “ya dan tidak”; ketika
mereka selalu mengharuskanku untuk selalu “jelaskan” soal-soal yang ada.
Tapi Jakarta,
kau belum lelah, bukan?
Tolong beri
tahu aku bahwa kau belum lelah.
Jakarta, aku
mungkin tidak memiliki moral sebaik pendahuluku; tapi aku juga lebih baik
daripada mereka.
Kata bang
Pandji, ada kebaikan tersendiri ketika kita hidup dalam pembodohan ketika
bangsa yang besar ini belum mengerti kata “merdeka”; baik dalam arti sebenarnya
dan tidak – karna kemudian kita akan rela mati demi pembebasan bangsa. Tapi
pembodohan pun tidak baik pada masaku kini karna pembodohan hanya akan berarti
kematian tanpa tujuan yang jelas; bahwa hidup kita terlalu berharga untuk
dibuang begitu saja.
Aku tidak akan
menjanjikanmu apa-apa kecuali mata yang akan selalu memandang lebih lama, tangan
yang akan bekerja lebih banyak daripada mulut, dan mental yang dua kali lebih
kuat daripada baja, oh Jakarta.
Dan kau-pun
takkan perlu menjadi lelah terlalu lama jua. –red
“Sumpah, kalo
anak kecil mah emang beneran hidupnya “yes or no” question doang dan sama kita
yang udah gede malah dibikin ribet; pertanyaannya selalu ditambahin “EXPLAIN”.
KAN KAMPRET.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar