Jumat, 22 Mei 2015

Kelelahan



Jakarta masih setia dalam diamnya ketika aku pergi pagi itu; dalam kabutnya ia berdiri tertegun – abu-abu.
Diam, ketika ia kembali melihat geliatan pagi kota tua ini yang semraut dengan segala polusinya dan segala negativitas yang terkandung.
Kemudian pikiranku menjelajah lebih jauh. Terpikir olehku: bagaimanakah potret bangsaku ini bertahun-tahun yang lalu? Bagaimana keadaan Indonesia kala itu? Coba anggaplah kita mengambil sembarang angka – seperti apakah Indonesiaku tahun ’75? Apakah moral bangsaku dahulu lebih baik, ataukah kini lebih baik? Dulu lebih parah, atau sekarang lebih parah?
Namun ah, siapakah aku ini – aku sendiri tidak layak untuk berbicara mengenai moral bangsa ketika selama ini aku sendiri hanya menjadi wajah lainnya pada bumi pertiwi Indonesia. Aku tidak cukup mengetahui Indonesiaku secara keseluruhan untuk mengatakan stereotipe “lebih baik” atau “lebih buruk”. Aku tidak cukup peduli untuk mereka. Dan atas dasar apa pula aku haruskan mereka untuk dengarkanku padahal mereka lebih mengerti tentang apa yang sedang terjadi pada negriku ini?
Lagipula, aku benci ke-“kuat”-an itu.
Aku benci dianggap “sudah besar”.
Aku benci mendapat perhatian utama ketika sebenarnya aku sedang tidak menginginkannya – ketika sebenarnya aku merasa sedang melakukan apa yang seharusnya aku lakukan; bukan sesuatu yang sungguh berharga untuk mendapatkan perhatian sebesar itu.
Aku benci “terlalu memperhatikan”; benci mengetahui terlalu banyak.
Aku benci dituntut sudah harus mengetahui, menyadari, serta menyelesaikan tanggung jawabku sesuai stadar orang lain.
Aku benci diharapkan terlalu banyak.
Aku benci ketika ekspektasi mereka terhadapku meningkat drastis hanya karna aku sudah menunjukkan sisi kuat ini.
Aku benci ketika aku tidak bisa lagi se-“lemah” itu untuk kembali ke pelukan ayah kapanpun aku mau ketika aku sedang merasa sedih dan lemah.
Aku benci dengan kesederhanaan masa kecil yang harus direnggut secepat itu dariku.
...
Aku lelah harus selalu terlihat kuat didepan semua orang.
Aku lelah dianggap selalu kuat seakan aku tak bisa hancur berkeping jika aku sudah lelah.
Aku lelah dicekoki nilai orang lain. Kapan nilaiku sebagai manusia dewasa dapat terpakai jika mereka terus menginginkanku untuk tunduk?
Aku lelah merasa tidak dianggap penting oleh masyarakat; seolah pembuktian apapun dalam diriku tidak akan  pernah cukup untuk membuat mereka percaya bahwa aku mampu.
Aku lelah dianggap ‘anak kecil yang tidak mampu’ tapi belum ‘cukup dewasa untuk mengerti semuanya’.
Aku lelah harus selalu menjadi manusia “sempurna” yang diharapkan orang lain ketika yang aku bisa adalah menjadi manusia tidak sempurnaku ini.
Aku lelah karna aku merasa berjuang sendiri; berjuang tanpa kawan sepadan.
Aku lelah ketika hidup sudah terlalu rumit dibandingkan dengan “ya dan tidak”; ketika mereka selalu mengharuskanku untuk selalu “jelaskan” soal-soal yang ada.
Tapi Jakarta, kau belum lelah, bukan?
Tolong beri tahu aku bahwa kau belum lelah.
Jakarta, aku mungkin tidak memiliki moral sebaik pendahuluku; tapi aku juga lebih baik daripada mereka.
Kata bang Pandji, ada kebaikan tersendiri ketika kita hidup dalam pembodohan ketika bangsa yang besar ini belum mengerti kata “merdeka”; baik dalam arti sebenarnya dan tidak – karna kemudian kita akan rela mati demi pembebasan bangsa. Tapi pembodohan pun tidak baik pada masaku kini karna pembodohan hanya akan berarti kematian tanpa tujuan yang jelas; bahwa hidup kita terlalu berharga untuk dibuang begitu saja.
Aku tidak akan menjanjikanmu apa-apa kecuali mata yang akan selalu memandang lebih lama, tangan yang akan bekerja lebih banyak daripada mulut, dan mental yang dua kali lebih kuat daripada baja, oh Jakarta.
Dan kau-pun takkan perlu menjadi lelah terlalu lama jua. –red

“Sumpah, kalo anak kecil mah emang beneran hidupnya “yes or no” question doang dan sama kita yang udah gede malah dibikin ribet; pertanyaannya selalu ditambahin “EXPLAIN”. KAN KAMPRET.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar