*mk makan lidi pedes* “Aaaaahhhhhh dingiinnn! Eh,
apa shi, pedeeess!”
There's always something at every year's makrab. Makrab pertama sama Stephen gue inget malem terakhir gue sama JA dan malem gombal sama Ian. Kali pertama kita nyoba bakar-bakaran diluar daaann… gagal. Seiring dengan larutnya malam, langitpun kian meredup.
Malam tahun berikutnya gue ngobrol sama temen2 deket gue di ramp & ends up doa persiapan buat chapel. Yang gue inget, hari itu makanannya nggak enak soalnya nunggu bakar-bakaran lagi didalem hall dan… gagal. Lagi.
Ketika kini gue sadari, ternyata waktu sudah berjalan jauh sejak malam itu. Kini tiba kenyataan ini dimana gue kembali duduk di ramp… sendirian, masih kesepian seperti malam-malam yang lalu. Angin sepoi-sepoi menemani gue yang duduk lesehan sekenanya tanpa sepengetahuan siapapun tapi ternyata masih mengawasi dari kejauhan seluruh aktivitas sekolah yang mulai melemah. Specifically, kali ini gue merasa sedih. Bukan karna capek fisik sejujurnya - gue harus biasa dengan toleransi kelelahan jenis ini. Namun kesedihan itu terus menerpa karena sebuah perenungan mendalam menusuk hati yang gak bisa gue tolak. Kali ini, gue pengen berlama-lama sendirian diramp sekolah, menatap kejauhan gedung 6 lantai dengan lapangan tidak proporsional dibawah gue. Ngga tau kenapa gue sedih karena ga berasa taun depan udah bakal lulus aja ato bakal ngelewatin sisa hidup gue ini tanpa dia. Makrab ini beda sama makrab-makrab sebelumnya karena gue lebih memilih untuk menyingkir dan menyendiri. Makrab ini beda karena Mr Lucas ngga melakukan supervisi langsung atas kita. Makrab ini beda karna tim gue yang mengatur acaranya langsung. Makrab ini beda, karna gue bertindak bukan sebagai peserta seperti tahun-tahun kemarin. Makrab ini beda karna gue wakil ketua osis.
1,5 tahun dari sekarang gue udah akan lulus dari tempat ini: entah apa yang akan gue capai dalam waktu selanjutnya atau apa yang akan terjadi dengan lingkungan sekeliling gue. Biasanya taburan bintang membuat gue merasa lebih nyaman karena gue merindukan sebuah langit seperti ini di kota pemboros listrik. Namun kali ini taburan bintang justru membuatku lebih sedih daripada biasanya. Entah, mungkin aku hanya harus sedih.
Meninggalkan sekolah ini 1,5 tahun dari sekarang, kuliah, kehidupan yang lebih buruk diluar sana, tidak ada wajah2 yang selama ini berada disana, gedung yang tidak pernah berkata sepatahpun tapi begitu banyak menyisakan kisah, gue ga siap meninggalkan zona nyaman gue. Gue gatau mau kemana, kerja gimana, gaji gimana, hidup percintaan gimana… Rasanya semua ini berjalan terlalu cepat. Ya berjalan begitu aja, seakan berlari di aspal kering: meninggalkan gue yang masih ingin berlambat-lambat menikmati masa hitam putih. Dan engga biasanya gue ga menikmati kesendirian gue. Baru kali ini gue ngga menyukainya sama sekali. Perasaan lain yang hinggap itu mengganggu gue berlebihan. Kayaknya hampir setiap tahun angin yang sama berhembus pada bagian bumi yang sama. Bintang dan hujan yang sama jatuh di sekolah ini juga berulang kali sepanjang tahun ini. Hanya saja, kali ini gue lebih merasa lebih kesepian dari biasanya. Gue lelah.
Ngga ada yang tau gue berada dimana ketika gue sedang menulis hal ini. Yang mereka tau hanyalah bahwa mereka tidak peduli terhadap apapun yang berada dijalannya.
Setelah satu jam lebih berlalu, gue sudah berhasil menyediakan waktu kesedihan di ramp sekolah, waktu meditasi di ruang kelas IPS (ga ada ruangan lain yang bisa bikin gue ngerasa lebih nyaman di sekolah ini selain ruang IPS), dan jendela lantai enam sebagai pusat kebahagiaan tertunda gue dari Tuhan yang berupa bulan besar merah bulat. Apakah seharusnya bulan itu adalah bulan baru atau bulan darah - gue hanya terusik. Yang jelas gue merasa bahagia ketika bulan itu muncul. Ngga semua orang bisa menangkap dan menghargai semua keindahan itu dengan hatinya, kan? Gue beruntung menjadi salah satu yang bisa melakukannya.
Terlepas dari seluruh ketidaknyamanan yang gue rasakan, gue yakin temen-temen gue memiliki momentumnya masing-masing. Baik bersama sahabatnya sendiri saat berolahraga, berjualan sambil bersosialisasi, maupun perenungannya sendiri - kayak gue gue gitu. Gue ngga percaya kalo seandainya mereka ngeliat ke arah bulan itu tapi hati mereka ngga berbisik apa-apa.
Teriakan jaxxel, benturan ring basket dan bola, ocehan anak-anak wirausaha, 2 anak manusia yang berlalu, semua hanya akan tetap menjadi saksi bisu gedung ini tahun-tahun mendatang. Apakah guru-guru kita pernah berpikir untuk pergi, gue nggak akan pernah tau. Yang jelas, gue tau bahwa udah lama gue ngga duduk disini & menikmati waktu yang begitu panjang berbincang dengan bintang menyalurkan kesedihan gue yang berlarut. 2 tahun lagi dari sekarang atau bahkan besok gue ngga akan pernah memiliki kesempatan yang sama untuk berkeluh kesah diruang waktu yang sama dan gue akan berusaha untuk menikmatinya selagi gue bisa. -red
There's always something at every year's makrab. Makrab pertama sama Stephen gue inget malem terakhir gue sama JA dan malem gombal sama Ian. Kali pertama kita nyoba bakar-bakaran diluar daaann… gagal. Seiring dengan larutnya malam, langitpun kian meredup.
Malam tahun berikutnya gue ngobrol sama temen2 deket gue di ramp & ends up doa persiapan buat chapel. Yang gue inget, hari itu makanannya nggak enak soalnya nunggu bakar-bakaran lagi didalem hall dan… gagal. Lagi.
Ketika kini gue sadari, ternyata waktu sudah berjalan jauh sejak malam itu. Kini tiba kenyataan ini dimana gue kembali duduk di ramp… sendirian, masih kesepian seperti malam-malam yang lalu. Angin sepoi-sepoi menemani gue yang duduk lesehan sekenanya tanpa sepengetahuan siapapun tapi ternyata masih mengawasi dari kejauhan seluruh aktivitas sekolah yang mulai melemah. Specifically, kali ini gue merasa sedih. Bukan karna capek fisik sejujurnya - gue harus biasa dengan toleransi kelelahan jenis ini. Namun kesedihan itu terus menerpa karena sebuah perenungan mendalam menusuk hati yang gak bisa gue tolak. Kali ini, gue pengen berlama-lama sendirian diramp sekolah, menatap kejauhan gedung 6 lantai dengan lapangan tidak proporsional dibawah gue. Ngga tau kenapa gue sedih karena ga berasa taun depan udah bakal lulus aja ato bakal ngelewatin sisa hidup gue ini tanpa dia. Makrab ini beda sama makrab-makrab sebelumnya karena gue lebih memilih untuk menyingkir dan menyendiri. Makrab ini beda karena Mr Lucas ngga melakukan supervisi langsung atas kita. Makrab ini beda karna tim gue yang mengatur acaranya langsung. Makrab ini beda, karna gue bertindak bukan sebagai peserta seperti tahun-tahun kemarin. Makrab ini beda karna gue wakil ketua osis.
1,5 tahun dari sekarang gue udah akan lulus dari tempat ini: entah apa yang akan gue capai dalam waktu selanjutnya atau apa yang akan terjadi dengan lingkungan sekeliling gue. Biasanya taburan bintang membuat gue merasa lebih nyaman karena gue merindukan sebuah langit seperti ini di kota pemboros listrik. Namun kali ini taburan bintang justru membuatku lebih sedih daripada biasanya. Entah, mungkin aku hanya harus sedih.
Meninggalkan sekolah ini 1,5 tahun dari sekarang, kuliah, kehidupan yang lebih buruk diluar sana, tidak ada wajah2 yang selama ini berada disana, gedung yang tidak pernah berkata sepatahpun tapi begitu banyak menyisakan kisah, gue ga siap meninggalkan zona nyaman gue. Gue gatau mau kemana, kerja gimana, gaji gimana, hidup percintaan gimana… Rasanya semua ini berjalan terlalu cepat. Ya berjalan begitu aja, seakan berlari di aspal kering: meninggalkan gue yang masih ingin berlambat-lambat menikmati masa hitam putih. Dan engga biasanya gue ga menikmati kesendirian gue. Baru kali ini gue ngga menyukainya sama sekali. Perasaan lain yang hinggap itu mengganggu gue berlebihan. Kayaknya hampir setiap tahun angin yang sama berhembus pada bagian bumi yang sama. Bintang dan hujan yang sama jatuh di sekolah ini juga berulang kali sepanjang tahun ini. Hanya saja, kali ini gue lebih merasa lebih kesepian dari biasanya. Gue lelah.
Ngga ada yang tau gue berada dimana ketika gue sedang menulis hal ini. Yang mereka tau hanyalah bahwa mereka tidak peduli terhadap apapun yang berada dijalannya.
Setelah satu jam lebih berlalu, gue sudah berhasil menyediakan waktu kesedihan di ramp sekolah, waktu meditasi di ruang kelas IPS (ga ada ruangan lain yang bisa bikin gue ngerasa lebih nyaman di sekolah ini selain ruang IPS), dan jendela lantai enam sebagai pusat kebahagiaan tertunda gue dari Tuhan yang berupa bulan besar merah bulat. Apakah seharusnya bulan itu adalah bulan baru atau bulan darah - gue hanya terusik. Yang jelas gue merasa bahagia ketika bulan itu muncul. Ngga semua orang bisa menangkap dan menghargai semua keindahan itu dengan hatinya, kan? Gue beruntung menjadi salah satu yang bisa melakukannya.
Terlepas dari seluruh ketidaknyamanan yang gue rasakan, gue yakin temen-temen gue memiliki momentumnya masing-masing. Baik bersama sahabatnya sendiri saat berolahraga, berjualan sambil bersosialisasi, maupun perenungannya sendiri - kayak gue gue gitu. Gue ngga percaya kalo seandainya mereka ngeliat ke arah bulan itu tapi hati mereka ngga berbisik apa-apa.
Teriakan jaxxel, benturan ring basket dan bola, ocehan anak-anak wirausaha, 2 anak manusia yang berlalu, semua hanya akan tetap menjadi saksi bisu gedung ini tahun-tahun mendatang. Apakah guru-guru kita pernah berpikir untuk pergi, gue nggak akan pernah tau. Yang jelas, gue tau bahwa udah lama gue ngga duduk disini & menikmati waktu yang begitu panjang berbincang dengan bintang menyalurkan kesedihan gue yang berlarut. 2 tahun lagi dari sekarang atau bahkan besok gue ngga akan pernah memiliki kesempatan yang sama untuk berkeluh kesah diruang waktu yang sama dan gue akan berusaha untuk menikmatinya selagi gue bisa. -red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar