Sabtu, 08 November 2014

PANTAT KETEK RENDANG HATIKU SENANG: Variabel Ketek Yang Telah Hilang

Udah lama banget gue ngga merasakan sebuah senyum tulus tersungging dari bibir seseorang buat gue. Seriusan deh; apalagi karna gue jomblo begini (ketawa deh kalian sana yang udah punya pacar. Ketawa).
Sebenernya kerinduan gue barusan bukan tanpa alasan. Setelah gue putus sama Ketek 7 tahun lalu, gue berniat untuk nyari cowok yang pada akhirnya bisa gue ajak komitmen ke jenjang pernikahan. Udah lama juga, ya 7 tahun? Ga berasa loh kebablasan gini (Ketawa lagi aja sana. Seneng amat gue menderita).
Ngomong-ngomong, masih inget sama gue, kan? Joselin Mariska SJJ MPJS dari teori Cinta Segi Ketek? Eh, apa? Kalian belom tau teori itu? Produser skripsi gue mana sih, kok bisa sampe kalian belom tau gitu?
Okelah sini gue kenalin diri gue sendiri lagi ke kalian plus kenalin sama teori sejuta kembang gue ini.
Seperti yang kalian tahu, nama gue Joselin Mariska SJJ MPJS. “SJJ” sebenernya ngga bakalan masuk dalam deretan nama gue kalo bukan karna gue menyelesaikan tingkat sarjana jomblo miris disebuah institusi yang gue jamin kalian belom pernah denger dimanapun (well, kecuali gue dan sahabat gue Vicky yang sudah terlebih dulu meraih gelar martabaknya sankingan jomblo). Cinta Segi Ketek adalah teori macem gaul dimana ketek, jika tidak diartikan secara harafiah adalah sebuah siku-siku yang membangun ruang segitiga tangan ini. Setelah lulus S1 dulu, gue sempet kerja beberapa tahun dalam ke-jomblo-an sebagai pengamat kaum jomblo. Honornya sih lumayan loh. Ya lumayan buat bangun comberan depan rumah lah ya.
Seharusnya tahun ini gue akan mendapat gelar baru yakni “MPJS” (walopun belom dapet tapi gue masukin dulu lah ya biar keren dikit) yang merupakan magister dari jurusan “Para Jomblo Sedih” karna setelah pacaran yang terakhir belom ada yang minat lagi. Nah, teori ketek pantat rendang hatiku senang adalah thesis S2 yang sedang gue kerjakan mengenai bagaimana ketek, pantat, dan rendang jika digunakan dengan baik dalam sebuah persamaan akan somehow dapat memenuhi hasil kali dan hasil tambah sebuah persamaan dan berujung pada hati bahagia. Masalahnya sekarang adalah sebenernya gue bingung mau masukin rumus itu ke persamaan yang mana. Semua persamaan matematis cinta seakan ngga kepengen ngeliat gue berhasil setelah lima setengah tahun yang lalu lulus dari S1 Cinta Segi Ketek. Ngga ada yang masuk akal ketek. Miris? You can totally say that again.
Tapi serius. Let me ask you these questions:
Inget ga sih gimana dulu waktu kecil kita pengen semua orang senyum dan main sama kita?
Inget ga sih gimana rasanya semua senyum yang orang lain berikan itu setulus yang senyuman kita?
Inget ga gimana rasanya menemukan seseorang lain itu yang bisa kita ajak ngobrol serius dan bercanda pada waktunya?
Inget ga dengan malam-malam sendiri menunggu kepastian dari hatinya?
Atau ketika kalian berantem dan ngga berhasil melewati malam sulit itu?
Pernah ada ga sih sebenernya senyuman tulus dari seseorang buat kita?
Iya, gue inget semuanya. Rasanya itu udah bertahun-tahun yang lalu ketika gue terakhir mendapatkan senyum yang setidaknya gue anggap tulus dari Ketek – sebuah variabel yang kini telah hilang dan variabel yang tidak pernah gue temukan lagi dalam diri orang lain semenjak kepergiannya; sejak gue terakhir memegang tangannya dan meminta dia untuk tetap tinggal. Gue merasa gue jahat, sedih, dan tidak pernah mendapat senyum tulus dari siapapun lagi sejak malam itu. Dan tahu apa? Waktu sudah berjalan 84 bulan penuh setelahnya.
Selain ingatan itu, timbul perasaan miris. Miris, karena temen gue yang dulu selalu gue ledekin jomblo berkepanjagan aja udah memiliki cowo dalam 7 tahun penantian gue. Iya, temen gue Vicky yang kalian kenal dari Cinta Segi Ketek. Miris juga karena sekarang dia udah memiliki kuasa itu untuk ngolok-olok gue in return of what I’ve done of not being there with her in the long jomblo run.
And as I’ve said sahabat-sahabat gue yang jomblo dimanapun kalian bersedih, bahwa waktu sudah berjalan jauh sejak hari itu. Gue masih gue yang sama, Joselin Mariska SJJ walaupun seharusnya sudah sedari tahun lalu gelar dibelakang nama gue bertambah variabel “MPJS” dari jurusan yang gue pilih. Gue juga mungkin masih pengamat jomblo yang sama, tapi kesibukan gue sekarang bukan berfokus pada lulus S2 gue lagi, tapi bekerja dan mencari senyuman itu yang sudah lama gue nantikan. Pokoknya udah banyak banget yang berubah, deh. Senyum gue aja udah ngga secemerlang gigi pepsoden dulu.
Gue jadi ngga tahu apa itu ketek jika tidak diartikan secara harafiah.
Gue jadi ngga bersemangat menyelasikan thesis gue karna pada dasarnya walaupun ketek dan pantat ternyata tidak sebeda itu tidak dapat gue temukan korelasinya untuk sebuah persamaan.
Lagian, kapan sih kita bisa bahagia dengan cuman ngeliat sebuah senyuman? Gila aja ya gue. “Ngimpi kamu nak” kalo kata nenek gue sedari lama menganggap gue gila. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar