Udah
lama banget gue ngga merasakan sebuah senyum tulus tersungging dari bibir
seseorang buat gue. Seriusan deh; apalagi karna gue jomblo begini (ketawa deh
kalian sana yang udah punya pacar. Ketawa).
Sebenernya
kerinduan gue barusan bukan tanpa alasan. Setelah gue putus sama Ketek 7 tahun
lalu, gue berniat untuk nyari cowok yang pada akhirnya bisa gue ajak komitmen
ke jenjang pernikahan. Udah lama juga, ya 7 tahun? Ga berasa loh kebablasan
gini (Ketawa lagi aja sana. Seneng amat gue menderita).
Ngomong-ngomong,
masih inget sama gue, kan? Joselin Mariska SJJ MPJS dari teori Cinta Segi Ketek?
Eh, apa? Kalian belom tau teori itu? Produser skripsi gue mana sih, kok bisa
sampe kalian belom tau gitu?
Okelah
sini gue kenalin diri gue sendiri lagi ke kalian plus kenalin sama teori sejuta
kembang gue ini.
Seperti
yang kalian tahu, nama gue Joselin Mariska SJJ MPJS. “SJJ” sebenernya ngga
bakalan masuk dalam deretan nama gue kalo bukan karna gue menyelesaikan tingkat
sarjana jomblo miris disebuah institusi yang gue jamin kalian belom pernah
denger dimanapun (well, kecuali gue dan sahabat gue Vicky yang sudah terlebih
dulu meraih gelar martabaknya sankingan jomblo). Cinta Segi Ketek adalah teori
macem gaul dimana ketek, jika tidak diartikan secara harafiah adalah sebuah
siku-siku yang membangun ruang segitiga tangan ini. Setelah lulus S1 dulu, gue
sempet kerja beberapa tahun dalam ke-jomblo-an sebagai pengamat kaum jomblo.
Honornya sih lumayan loh. Ya lumayan buat bangun comberan depan rumah lah ya.
Seharusnya
tahun ini gue akan mendapat gelar baru yakni “MPJS” (walopun belom dapet tapi
gue masukin dulu lah ya biar keren dikit) yang merupakan magister dari jurusan “Para
Jomblo Sedih” karna setelah pacaran yang terakhir belom ada yang minat lagi.
Nah, teori ketek pantat rendang hatiku senang adalah thesis S2 yang sedang gue
kerjakan mengenai bagaimana ketek, pantat, dan rendang jika digunakan dengan
baik dalam sebuah persamaan akan somehow dapat memenuhi hasil kali dan hasil
tambah sebuah persamaan dan berujung pada hati bahagia. Masalahnya sekarang
adalah sebenernya gue bingung mau masukin rumus itu ke persamaan yang mana.
Semua persamaan matematis cinta seakan ngga kepengen ngeliat gue berhasil
setelah lima setengah tahun yang lalu lulus dari S1 Cinta Segi Ketek. Ngga ada
yang masuk akal ketek. Miris? You can totally say that again.
Tapi
serius. Let me ask you these questions:
Inget
ga sih gimana dulu waktu kecil kita pengen semua orang senyum dan main sama
kita?
Inget
ga sih gimana rasanya semua senyum yang orang lain berikan itu setulus yang
senyuman kita?
Inget
ga gimana rasanya menemukan seseorang lain itu yang bisa kita ajak ngobrol
serius dan bercanda pada waktunya?
Inget
ga dengan malam-malam sendiri menunggu kepastian dari hatinya?
Atau
ketika kalian berantem dan ngga berhasil melewati malam sulit itu?
Pernah
ada ga sih sebenernya senyuman tulus dari seseorang buat kita?
Iya,
gue inget semuanya. Rasanya itu udah bertahun-tahun yang lalu ketika gue
terakhir mendapatkan senyum yang setidaknya gue anggap tulus dari Ketek – sebuah
variabel yang kini telah hilang dan variabel yang tidak pernah gue temukan lagi
dalam diri orang lain semenjak kepergiannya; sejak gue terakhir memegang
tangannya dan meminta dia untuk tetap tinggal. Gue merasa gue jahat, sedih, dan
tidak pernah mendapat senyum tulus dari siapapun lagi sejak malam itu. Dan tahu
apa? Waktu sudah berjalan 84 bulan penuh setelahnya.
Selain
ingatan itu, timbul perasaan miris. Miris, karena temen gue yang dulu selalu
gue ledekin jomblo berkepanjagan aja udah memiliki cowo dalam 7 tahun penantian
gue. Iya, temen gue Vicky yang kalian kenal dari Cinta Segi Ketek. Miris juga
karena sekarang dia udah memiliki kuasa itu untuk ngolok-olok gue in return of
what I’ve done of not being there with her in the long jomblo run.
And as
I’ve said sahabat-sahabat gue yang jomblo dimanapun kalian bersedih, bahwa
waktu sudah berjalan jauh sejak hari itu. Gue masih gue yang sama, Joselin
Mariska SJJ walaupun seharusnya sudah sedari tahun lalu gelar dibelakang nama
gue bertambah variabel “MPJS” dari jurusan yang gue pilih. Gue juga mungkin
masih pengamat jomblo yang sama, tapi kesibukan gue sekarang bukan berfokus
pada lulus S2 gue lagi, tapi bekerja dan mencari senyuman itu yang sudah lama
gue nantikan. Pokoknya udah banyak banget yang berubah, deh. Senyum gue aja
udah ngga secemerlang gigi pepsoden dulu.
Gue
jadi ngga tahu apa itu ketek jika tidak diartikan secara harafiah.
Gue jadi
ngga bersemangat menyelasikan thesis gue karna pada dasarnya walaupun ketek dan
pantat ternyata tidak sebeda itu tidak dapat gue temukan korelasinya untuk
sebuah persamaan.
Lagian,
kapan sih kita bisa bahagia dengan cuman ngeliat sebuah senyuman? Gila aja ya
gue. “Ngimpi kamu nak” kalo kata nenek gue sedari lama menganggap gue gila. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar