“Hey.” Sapa
gue ketika dia akhirnya muncul diambang kursi seberang meja yang gue duduki
untuk 2.
“Hey. Udah
pesen?”
“Udah. Pilih
dulu gih” Kata gue sembari menyodorkan menu.
Selang
beberapa waktu, akhirnya makanan kita datang dan gue akhirnya harus
memberitahukan jawaban gue.
“Um, Bot”
“Ya?”
“Jadi... gue
cuman mau bilang... Iya Bot. Kamu, aku, maksud aku, kita” Balas gue
terbata-bata.
Seulas senyum
lebar menenangkan yang sudah lama aku kenal itu terpampang lebar darinya seolah
senyum itu hanya bagiku untuk nikmati sepanjang malam.
“Tapi Bot, entah
kenapa gue ga bisa yakin kita bisa langgeng Bot...”
“Gapapa kok
Sel, kita coba dulu aja ya?” Sebuah tangan hangat tiba-tiba mendarat diatas
tangan gue yang kaku.
“Aku punya
rencana yang panjang buat kita berdua kalo kita sampe sejauh itu.” Lanjutnya.
Aku luluh
seketika itu juga dibuatnya.
Oh, inikah
rasanya cinta? Sejuta bunga seakan berterbangan diatas awan-awan langit ini.
Seiring dengan
berjalannya detik, hari, minggu dan bulan, gue dan Bot menjalani hari-hari LDR
layaknya pasangan-pasangan lain. Harus bisa bertahan tidak bertemu atau
mendengar kabar satu sama lain selama hari-hari kerja, menulis semacam buku
harian untuk saling bertukar kata dalam balutan cinta, Sibuk dengan tugas,
sibuk dengan halaman lembar-lembar buku, dan sibuk dengan pekerjaan. Kita
berdua menjadi terbiasa dengan hari-hari tanpa hubungan. Seringkali gue datang
ke rumahnya dan menyempatkan diri untuk ngobrol ringan dengan orangtua Bot dan
adik-adiknya – berusaha mendekatkan diri dengan anggota keluarganya sembari
menanti kepulangannya.
Hari Jumat itu
ketika gue sedang berada di rumah Bot dan bermain PS4 dengan adiknya yang sulung,
tiba-tiba gue ingin bertanya sesuatu yang telah lama ingin gue tanyakan.
“Eh Dek. Koko
lu tuh kaya apa sih kalo udah ngambek?”
“Dia? HAHAHHA.
Dia lagi lu tanya Kak. Pokoknya dia orang yang paling keras kepala setelah si
Nathan. Lu ngga bakal mau punya 3 bocah di rumah kalo bikin anak nanti”
“Heh sial.
Emang jenis kelamin anak gue nanti gue yang nentuin? Serius tapi, sekeras
apaan? Kan selama gue jalan sama dia kaga ada pernah berantem”
“Si Koko tuh
kalo udah ngga mau dengerin ya ngga mau dengerin. Asal lewat doang. Tapi ada
juga sih kadang dibales sampe si mami nangis”
“Mami? Nangis?
Gila dia”
“Ya gitu lah.”
“Terus? Pernah
ada cewe lain?”
“Hahaha, ngga
ada sih setau gue Kak. Dia setia nungguin orang yang dia dapetin sekarang”
Jawaban dia
sanggup membungkam gue sepanjang sisa permainan kecuali teriakan-teriakan
kekalahan yang gue katakan ketika dia berhasil mengalahkan gue pada hampir tiap
permainan.
Tiba-tiba
pintu kamar adik Brandon terbuka tanpa didahului ketukan. Disitulah berdiri
sosok Brandon yang kusut dan berantakan. Gue sebenarnya sudah bisa membaca
gelagatnya yang berantakan hari itu – namun gue mengabaikan hati nurani gue
untuk hanya diam dan bukan melawan.
Hari itu
adalah kali pertama gue dan Brandon bersitegang di kamar tidurnya. Gue menangis
– satu sisi karena gue tidak pernah bisa melawan siapapun ketika bertengar
serta sisi lain karena gue benci harus dipersalahkan dalam kasus-kasus tinggi
seperti itu. Bertengkar karna alasan bodoh yang semua bullshitnya diketahui pasangan LDR manapun. Bertengkar, karena
sikap bersikukuhnya yang terlalu dipaksakan walaupun gue mengalah. Bertengkar,
karena dia menganggap gue ngga setia ketika kita berdua sedang tidak bersama.
Ya, kami bertengkar.
‘P à Q // ~P ʌ Q’ itulah bunyi persamaan gue yang baru.
Variabel P
melambangkan masa sulit dan Q melambangkan pertengkaran kita.
Jika masa
sulit maka bertengkar, atau tidak bertengkar dan masa sulit.
Gue sejujurnya
lebih menginginkan tidak bertengkar walaupun harus ada masa sulit – tapi plis
deh – siapa juga sih yang mau harus ada pertengkaran? Gue ngga bisa memilih
hidup gue seperti apa ketika bersama dia ataupun orang lain. Lagipula jika kita hendak serius untuk masa
depan, kita toh harus diperlengkapi dengan persiapan seperti ini juga kan?
Kata Brandon,
dia lelah dengan semua drama percintaan ini. Tapi kemarin siapa yang bilang
bahwa semuanya akan baik-baik saja dan diusahakan? Dia.
Kata Brandon,
dia tak tahu lagi bagaimana cara menghadapi gue ketika sudah melihat dia dalam
situasi buruk seperti ini. Kalau baru bertemu setiap akhir pekan saja dia sudah
begini, bagaimana dengan bertemu setiap hari dan harus mengurus anak nanti?
Siapa yang hendak bertanggung jawab? Tentu, dia.
Kata Brandon,
gue terlalu protektif dan mencari muka terhadap keluarganya. Kalau nanti gue
harus menghadapi perseteruan dengan orangtuanya, orangtua siapa itu juga? Dia,
tentu saja.
Tapi ah masa bodohlah.
Mungkin hari
itu dia lelah dan hanya membutuhkan gue untuk mendengar, mengerti, dan
bersimpati.
Mungkin hari
itu dia mendapatkan nilai yang kurang baik sehingga ketika dia pulang kebetulan
ada gue dan gue menjadi pelampiasannya.
Mungkin hari
itu bukanlah hari terbaiknya.
Setelah
pertengkaran itu, gue ngga berhubungan dengan Brandon selama 1 minggu penuh.
Semua jurus pendekatannya gue abaikan – termasuk ketika ia datang ke rumah
untuk meminta maaf. Seminggu itu gue sering pergi ke daerah Kemang bersama
Vicky dan membahas permasalahan pertengkaran ini seperti tiada ujungnya. Iya, kali
ini gue ngambek seperti anak kecil. Tetapi tidak, gue tidak akan mengakhirinya
secepat itu.
“Halo?”
“Halo?! Selin!
Jangan matiin telepon aku, please”
“Ada apa?”
“Aku mau minta
maaf, Sel... Kita bisa ketemuan ga? Aku mau ngomong langsung aja seperti
gentleman. Sumpah Sel, you got me worried all week long”
“Siapa suruh
ngajak berantem banget. Tau aku ngga suka kan?”
“Iya, iya.
Maaf ya Sel. Maafin ga nih?”
“Maafin kok.
Tapi besok malem dateng dong ke rumah bawa es krim mint chocolate chip 2 liter
buat tebusan”
“Ih kayak anak
kecil banget sih ngambeknya minta dibayar pake eskrim”
“MAU AKU
NGAMBEK LAGI NIH?” Canda gue.
“Eits eits,
iya besok ya. Jam brapa di rumah?”
“Jam 3 aja
oke?”
“Oke. Bye
bocah”
“FINE YA BYE.”
“HEHEHEHE.”
Ternyata
penyelesaian dari masalah pertengkaran penting maupun yang tidak penting itu
hanya membutuhkan satu jalan keluar: jawaban telepon gue untuk berunding. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar