Jumat, 21 November 2014

Pantat Ketek Rendang Hatiku Senang P Implikasi Q, Tidak P dan Q



“Hey.” Sapa gue ketika dia akhirnya muncul diambang kursi seberang meja yang gue duduki untuk 2.
“Hey. Udah pesen?”
“Udah. Pilih dulu gih” Kata gue sembari menyodorkan menu.
Selang beberapa waktu, akhirnya makanan kita datang dan gue akhirnya harus memberitahukan jawaban gue.
“Um, Bot”
“Ya?”
“Jadi... gue cuman mau bilang... Iya Bot. Kamu, aku, maksud aku, kita” Balas gue terbata-bata.
Seulas senyum lebar menenangkan yang sudah lama aku kenal itu terpampang lebar darinya seolah senyum itu hanya bagiku untuk nikmati sepanjang malam.
“Tapi Bot, entah kenapa gue ga bisa yakin kita bisa langgeng Bot...”
“Gapapa kok Sel, kita coba dulu aja ya?” Sebuah tangan hangat tiba-tiba mendarat diatas tangan gue yang kaku.
“Aku punya rencana yang panjang buat kita berdua kalo kita sampe sejauh itu.” Lanjutnya.
Aku luluh seketika itu juga dibuatnya.
Oh, inikah rasanya cinta? Sejuta bunga seakan berterbangan diatas awan-awan langit ini.
Seiring dengan berjalannya detik, hari, minggu dan bulan, gue dan Bot menjalani hari-hari LDR layaknya pasangan-pasangan lain. Harus bisa bertahan tidak bertemu atau mendengar kabar satu sama lain selama hari-hari kerja, menulis semacam buku harian untuk saling bertukar kata dalam balutan cinta, Sibuk dengan tugas, sibuk dengan halaman lembar-lembar buku, dan sibuk dengan pekerjaan. Kita berdua menjadi terbiasa dengan hari-hari tanpa hubungan. Seringkali gue datang ke rumahnya dan menyempatkan diri untuk ngobrol ringan dengan orangtua Bot dan adik-adiknya – berusaha mendekatkan diri dengan anggota keluarganya sembari menanti kepulangannya.
Hari Jumat itu ketika gue sedang berada di rumah Bot dan bermain PS4 dengan adiknya yang sulung, tiba-tiba gue ingin bertanya sesuatu yang telah lama ingin gue tanyakan.
“Eh Dek. Koko lu tuh kaya apa sih kalo udah ngambek?”
“Dia? HAHAHHA. Dia lagi lu tanya Kak. Pokoknya dia orang yang paling keras kepala setelah si Nathan. Lu ngga bakal mau punya 3 bocah di rumah kalo bikin anak nanti”
“Heh sial. Emang jenis kelamin anak gue nanti gue yang nentuin? Serius tapi, sekeras apaan? Kan selama gue jalan sama dia kaga ada pernah berantem”
“Si Koko tuh kalo udah ngga mau dengerin ya ngga mau dengerin. Asal lewat doang. Tapi ada juga sih kadang dibales sampe si mami nangis”
“Mami? Nangis? Gila dia”
“Ya gitu lah.”
“Terus? Pernah ada cewe lain?”
“Hahaha, ngga ada sih setau gue Kak. Dia setia nungguin orang yang dia dapetin sekarang”
Jawaban dia sanggup membungkam gue sepanjang sisa permainan kecuali teriakan-teriakan kekalahan yang gue katakan ketika dia berhasil mengalahkan gue pada hampir tiap permainan.
Tiba-tiba pintu kamar adik Brandon terbuka tanpa didahului ketukan. Disitulah berdiri sosok Brandon yang kusut dan berantakan. Gue sebenarnya sudah bisa membaca gelagatnya yang berantakan hari itu – namun gue mengabaikan hati nurani gue untuk hanya diam dan bukan melawan.
Hari itu adalah kali pertama gue dan Brandon bersitegang di kamar tidurnya. Gue menangis – satu sisi karena gue tidak pernah bisa melawan siapapun ketika bertengar serta sisi lain karena gue benci harus dipersalahkan dalam kasus-kasus tinggi seperti itu. Bertengkar karna alasan bodoh yang semua bullshitnya diketahui pasangan LDR manapun. Bertengkar, karena sikap bersikukuhnya yang terlalu dipaksakan walaupun gue mengalah. Bertengkar, karena dia menganggap gue ngga setia ketika kita berdua sedang tidak bersama. Ya, kami bertengkar.
‘P à Q  // ~P ʌ Q’ itulah bunyi persamaan gue yang baru.
Variabel P melambangkan masa sulit dan Q melambangkan pertengkaran kita.
Jika masa sulit maka bertengkar, atau tidak bertengkar dan masa sulit.
Gue sejujurnya lebih menginginkan tidak bertengkar walaupun harus ada masa sulit – tapi plis deh – siapa juga sih yang mau harus ada pertengkaran? Gue ngga bisa memilih hidup gue seperti apa ketika bersama dia ataupun orang lain.  Lagipula jika kita hendak serius untuk masa depan, kita toh harus diperlengkapi dengan persiapan seperti ini juga kan?
Kata Brandon, dia lelah dengan semua drama percintaan ini. Tapi kemarin siapa yang bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja dan diusahakan? Dia.
Kata Brandon, dia tak tahu lagi bagaimana cara menghadapi gue ketika sudah melihat dia dalam situasi buruk seperti ini. Kalau baru bertemu setiap akhir pekan saja dia sudah begini, bagaimana dengan bertemu setiap hari dan harus mengurus anak nanti? Siapa yang hendak bertanggung jawab? Tentu, dia.
Kata Brandon, gue terlalu protektif dan mencari muka terhadap keluarganya. Kalau nanti gue harus menghadapi perseteruan dengan orangtuanya, orangtua siapa itu juga? Dia, tentu saja.
Tapi ah masa bodohlah.
Mungkin hari itu dia lelah dan hanya membutuhkan gue untuk mendengar, mengerti, dan bersimpati.
Mungkin hari itu dia mendapatkan nilai yang kurang baik sehingga ketika dia pulang kebetulan ada gue dan gue menjadi pelampiasannya.
Mungkin hari itu bukanlah hari terbaiknya.
Setelah pertengkaran itu, gue ngga berhubungan dengan Brandon selama 1 minggu penuh. Semua jurus pendekatannya gue abaikan – termasuk ketika ia datang ke rumah untuk meminta maaf. Seminggu itu gue sering pergi ke daerah Kemang bersama Vicky dan membahas permasalahan pertengkaran ini seperti tiada ujungnya. Iya, kali ini gue ngambek seperti anak kecil. Tetapi tidak, gue tidak akan mengakhirinya secepat itu.
“Halo?”
“Halo?! Selin! Jangan matiin telepon aku, please”
“Ada apa?”
“Aku mau minta maaf, Sel... Kita bisa ketemuan ga? Aku mau ngomong langsung aja seperti gentleman. Sumpah Sel, you got me worried all week long”
“Siapa suruh ngajak berantem banget. Tau aku ngga suka kan?”
“Iya, iya. Maaf ya Sel. Maafin ga nih?”
“Maafin kok. Tapi besok malem dateng dong ke rumah bawa es krim mint chocolate chip 2 liter buat tebusan”
“Ih kayak anak kecil banget sih ngambeknya minta dibayar pake eskrim”
“MAU AKU NGAMBEK LAGI NIH?” Canda gue.
“Eits eits, iya besok ya. Jam brapa di rumah?”
“Jam 3 aja oke?”
“Oke. Bye bocah”
“FINE YA BYE.”
“HEHEHEHE.”
Ternyata penyelesaian dari masalah pertengkaran penting maupun yang tidak penting itu hanya membutuhkan satu jalan keluar: jawaban telepon gue untuk berunding. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar