Jumat, 14 November 2014

KETEK PANTAT RENDANG HATIKU SENANG Variabel Pantat Yang Berbeda


“Eh, Brandon?”
“Eh, Selin?! Hai, Hai! Apa kabar? Gila sori nih ngga bisa salaman; tangan gue kotor!” Gue dengar antusiasme dalam suara khas miliknya.
“HEEEYY! Gila baik baik! Lu gimaana? Eh gue duduk sama lu ya! Penuh nih”
“Iya sini aja! Kita ngobrol! Udah lama banget ya ga ketemu... Gimana lu sekarang? Masih kuliah?”
Akhirnya dua minggu yang lalu gue bertemu lagi dengannya secara tiba-tiba. Kita bertemu disebuah restoran cepat saji pada pusat perbelanjaan dekat rumah. Iya dia, dia yang dulu adalah salah seorang teman dekat gue semasa SMA namun kehilangan kontak sejak dia melanjutkan kuliahnya di universitas negri ternama Indonesia sementara gue hanya melanjutkan pendidikan disebuah universitas swasta dekat rumah. Kami ngobrol sejuta satu hal dan kemudian berlanjut pada chatting yang cukup sering sehingga gue merasa bahwa bahkan hanya dalam 2 minggu gue sudah mengenal lagi dirinya yang sudah lama terhilang. Ternyata tabiat-tabiatnya tidak banyak yang berubah kecuali menjadi kamus kedokteran berjalan karena keinginannya yang begitu mendalam untuk menjadi seorang dokter bedah ternama.
Namanya Brandon; teman SMA gue yang dulu sering berbagi suka duka bersama gue. Ia adalah salah satu dari segelintir sahabat yang bisa begitu menyenangkan buat gue bahkan diwaktu diam gue sekalipun. Lagipula, tiap kali kita berbicara gue akan merasa sangat nyaman tanpa harus berusaha terlalu sulit. Brandon sebenarnya tidak terlalu berubah – beberapa hal masih sama seperti dulu: tinggi, berkacamata, cerdas nan mempesona. Sekarang dia sudah lebih berisi dan tampan, sih. Pemikirannya kini yang begitu matang dalam menghadapi masalah karna sudah terbiasa dengan pekerjaannya sekarang makin membuat gue merasa sebuah kebahagiaan lain yang belum pernah gue rasakan sebelumnya.
Inti dari pembicaraan kita siang itu adalah bahwa menurut riset, cowok kalo udah suka sama satu cewek itu bakal merelakan pemikiran mereka yang sangat keras kepala – seakan lemak yang terdapat pada pantat mereka tiba-tiba melebur begitu saja. Kalaupun tidak pernah saling menatap, pada hakikatnya pantat mengetahui permainannya secara taktis. Entah sisi kebenarannya sisi sebelah mana sehingga gue langsung menceritakan tentang pertemuan gue ini kepada sahabat setia gue Vicky yang sudah memiliki pacar esok paginya. Vikcy tiba-tiba ngajak gue ketemuan dan ngobrolin secara langsung mengenai pertemuan gue dan Brandon. Ngga asik kalo cuman lewat sosmed, dia bilang.
Sore itu, gue kemudian dijadikan istilah ‘nyamuk’ bagi para kaum pacaran sialan di Indonesia yang melibatkan sahabat gue yang masih setia Vicky Adelin dan pacar barunya yang ganteng-ganteng  buaya itu. Eh, pacarnya Vicky masih orang deng – bukan buaya.
“Nih ya Sel ya, gue kasi tau lo”
“Yah jangan mulai lagi dong, please” celetuk gue kepada cowonya si Vicky yang selalu ceramahin gue tiap kali kita ngobrol serius tentang gebet-menggebet.
 “Lo kalo dianya udah ngasi kode ngajak ngobrol gini terus lo harus catch the moment dong trus ngomong heart to heart. Kan udah jaman banget nih cewek nembak cowok”
“IH! Emang lu masih mau sama dia Sel?!?! HAHAHHA” selak Vicky.
“Heh sial lo. Ya tapi kalo dia emang the one ya mau gimana? Toh kenyamanan itu kan yang kita kejar as jomblos pursuing love?” Kata gue sok teoritis.
“Iya dong; kaya kita kan ya beb?” Kata cowonya Vicky, sengaja manas-manasin gue.
“Kampret. Third wheel banget gue” dengus gue.
“IH JEJE” balas Vicky kesal.
“Lagian apa gunanya sih lo udah searching susah-susah tentang ketek pantat rendang kalo lo ga aplikasiin dalam kehidupan cinta lo? Takut gagal lagi? EH COY, gue kasi tau lo ya kenapa orang yang start dari miskin ketika dia udah kaya ngga takut miskin lagi: karna dia udah tau rasanya miskin dan miskin ngga bikin dia mati!”
Dan alur obrolan gue sama Vicky dan pacarnya di kafe dapat ditebak oleh siapapun: isinya hanya antara mereka ngeledekin gue yang jomblo ato makin bikin gue ngerasa inferior jadi nyamuk diantara mereka. Ato ngga ya, ceramahan si pacarnya Vicky buat gue ngejar cowok yang lagi deket sama gue ini.
Sore itu disela-sela obrolan kita yang ngga jelas dan bikin gue miris, gue sempet bengong. Bukan, bukan bengong jorok kok. Tapi beneran mind blown mengenai ketek pantat rendang – sebuah variabel yang semenjak gue masuk kuliah perketek-terong-duren-rendang hatiku senang menjadi sebuah sesuatu yang sangat tidak masuk akal. Dulu, Ketek adalah seseorang yang membentuk variabel siku-siku ketek imajiner yang entah pembuktiannya apa. Dulu, pantat dan pantat beradu dan membentuk kegagalan hubungan cinta ketek gue.
Namun variabel ketek kini berubah sejak gue melanjutkan kuliah lagi karena ketek – pada hakikat kemanusiaannya – ternyata memiliki kesamaan absolut dengan pantat – yang dahulu gue anggap sangat berbeda – yakni “rambut” yang tumbuh pada bagiannya. Pantat juga berubah karena sekarang, gue begitu nyaman berada dekat dengan pantatnya.
Dia, dia yang akhir-akhir ini banyak bertukar cerita dengan gue dalam balutan kata-kata tulang, syaraf, dan organ tubuh manusia lainnya malah menjadi dunia gue sebulan terakhir ini. Kita berdua emang udah temenan dari SMA, tapi kita malah baru beneran deket selepas masa itu dan kita saling sama-sama perlu seseorang untuk menjadi teman dalam diam. Betul, gue tidak memiliki kompetensi apapun untuk mengerti dunianya maupun dia untuk mengerti bidang yang sedang gue tekuni, tapi kita berdua selalu mendapat tempat dan waktu untuk berbagi.
Tapi tetap aja – gue memerlukan sebuah rumus absolut tentang bagaimana ketek, pantat, dan rendang memenuhi fungsi persamaan hatiku senang itu. Lagipula, bagaimana gue mengetahui pantat yang ini adalah pantat yang benar untuk gue habiskan sisa hidup gue?
“This is how we doctors break it down for patients tho: kita suntik dipantat karna pantat itu macem bampernya manusia. Kenapa lu bisa nahan duduk lama, kenapa lu ngga berasa terlalu sakit kalo disuntik dipantat, kenapa kalo jatoh pantat duluan itu cenderung lebih aman? Ya karna lemak sebagian besar disimpen dipantat. Kalo secara bego-begoan sih, pantat itu macem defense terakhir lu kalo udah diputusin pacar. Enak, ngga perlu ngerasain sakit; terus bisa didudukin sampe engap pula” –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar