Sahabat yang gue kira
hanya akan menjadi sekedar sahabat yang lewat ternyata dapat berubah menjadi
lovers for life.
Sahabat yang awalnya pula
gue kira sudah gue perlakukan secara jahat dengan menempatkannya pada lingkaran
“Best Friend – Zone” malah kini menjadi orang yang ga bisa gue pungkiri adalah
teman terbaik yang gue akan selalu dambakan seumur hidup gue.
Akhirnya sore itu didepan
papan pengumuman kelulusan mahasiswa Magister Para Jomblo Sedih gue berdiri
sebagai lulusan non-beasiswa terbaik seangkatan. Walaupun lulus dengan tambahan
predikat MPJS dibelakang nama gue, gue rasa 2 kata terakhir dalam predikat itu
sudah tidak berlaku untuk gue yang ketika wisuda nanti akan disambut oleh peluk
hangat papa, mama, dan dia – dia yang sudah menemaniku selama beberapa bulan
terakhir ini.
“Kak, kak. Maaf kak,
boleh minta waktunya sebentar gak?”
Tiba-tiba saja datang
sapaan itu disertai dengan sebuah colekan halus dari belakang gue.
“Iya? Siapa ya?” Tanya
gue.
“Um, saya Jessica dari
jurusan tempe bacem abcz. Saya adik kelas kakak. Uh, saya cuman mau ngasih
kakak ini sih...” Kata-katanya sedikit terbata namun begitu jelas.
“Wah, ada apa nih kok
tiba-tiba ngasih gue beginian?” Tanya gue sembari tersenyum salah tingkah.
“Uh, itu kak. Saya mau
bilang terima kasih aja sih sama kakak. Waktu itu ujan deras dan udah malem
banget. Pas itu kakak ketemu saya luar udah pingsan. Trus setelah itu kakak
sama pacar kakak bawa saya ke rumah sakit dan nungguin saya sampe saya siuman.
Saya inget banget senyumnya kakak yang sejak hari itu menginsipirasi saya untuk
tetep hidup...”
“OOOH iya iya gue inget!
Eh, sambil nongkrong dimana yuk! Gue pengen denger cerita lu lebih banyak. Lagi
ngga keburu-buru, kan?” Desak gue.
Tidak, sebenernya gue
ngga pernah ingat pernah membantu seorang perempuan cilik bernama Jessica. Ya,
dia udah ngga cilik-cilik amat sih. Ya tapi cilik lah untuk ukuran wanita Asia
yang berpenerawakkan medium. Gue juga ngga inget, kalo ketika itu gue udah
jadian sama Brandon ketika ini terjadi. Yang gue tahu ketika itu adalah bahwa
Brandon dan gue pernah tidak pulang semalam entah melakukan apa seakan ingatan
itu terhapuskan dalam memori gue.
Sore itu, gue mengajak
Jessica untuk duduk minum secangkir kopi disebuah kedai yang cukup bergengsi
didekat rumah Jessica yang gue tahu tak akan dia sanggup bayar. Brandon udah
ngajarin gue cukup banyak untuk tidak mengharapkan kebaikan dari orang lain
ketika kita sudah rela berkorban untuknya. Kenangan mereka akan kita sudah
cukup, Brandon selalu bilang. Jessica awalnya menolak; tetapi setelah beberapa
saat dia langsung setuju dan kemudian kisah hidupnya kembali dibagikannya hanya
dan hanya untuk gue seorang. Semua cerita kehidupannya sebenarnya menggetarkan
hati gue karna Jessica ternyata hidup lebih pahit daripada yang dapat gue
bayangkan.
Gue semakin kaget
dibuatnya ketika berkata bahwa sebenarnya malam ketika gue dan Brandon
‘menyelamatkannya’ itu, ia sedang mengalami stress berat dan akhirnya
memutuskan untuk kembali menyuntikkan cairan narkoba yang selama 2 bulan sudah
ia tinggalkan. Namun malang tak bisa ditolak, ia OD dan tiba-tiba saja
menggelepar dijalanan. Betul sekali – gue dan Brandon baru saja menyelamatkan
sebuah jiwa yang tidak ingin diselamatkan – jiwa yang ditinggalakan dalam
derasnya tangisan air mata bumi dan gelapnya malam. Dan engga, gue ngga
berharap untuk satu kisahpun ia percayakan kepada gue.
Akhir pekannya ketika gue
ceritakan kisah Jessica kepada Brandon dan membagi dua hadiah yang diberikan
Jessica, gue tak sengaja menangkap air mata yang dititikkan Brandon dari ujung
matanya. Selang satu menit kemudian, Brandon mengajak gue berdoa dan bersyukur
bahwa satu jiwa lagi sudah menyampaikan dendangan bahagianya kepada Yang Maha
Kuasa. Betul, di kedai kopi itulah Jessica menyerahkan dirinya sebagai seorang
percaya.
Waktu awal kisah ini ditulis, gue bilang
bahwa gue begitu merindukan sebuah senyuman tulus dari seseorang buat gue.
Kalian mau jawaban jujur dari gue? Gue sebenernya belum mendapatkan apa yang
gue inginkan itu ketika kisah ini
berakhir. Setelah gue pikir-pikir, semakin gue menginginkan sesuatu maka
semakin jauh pula kenyataan dari terjadinya keinginan itu dalam hidup gue. Toh
setidaknya ketika gue selesai bercerita gue sudah memiliki Brandon disisi gue
sebagai pelengkap.
Untuk menutup kisah, sekali lagi Brandon
menyadarkan gue malam itu bahwa senyuman tulus dari seseorang bukanlah sesuatu
yang paten sehingga harus gue miliki
agar bisa hidup bahagia. Namun senyum tulus itu, jika diberikan kepada orang
yang tepat seperti Jessica, akan berdampak lebih besar kebanding dengan jika
senyum itu harus diberikan kepada gue. Malam itu gue membuat janji lagi dengan
kekasih gue bahwa kita berdua akan memberikan senyuman tulus bagi siapapun
orang disekeliling kita.
Oh iya, satu lagi.
Ternyata rumus hati bahagia bukanlah
sekedar rumus yang terjadi ketika seseorang memiliki pacar. Ternyata kalian
kaum jomblo juga dapat menikmati rumus P à Q / ~P ʌ Q.
Variabel P berarti menolong dan variabel Q tetap masa
sulit.
Kalian memiliki hak untuk memilih untuk menolong atau
tidak ketika kalian memiliki kesempatan untuk menolong. Siku-siku ketek,
benturan pantat dan pedasnya rendang kehidupan akan membentuk sebuah gugusan
sempurna ketika kita, sebagai manusia, memilih untuk peduli serta memperhatikan.
Ya, seorang pacar telah membuat gue semakin sadar akan
makna yang gue tinggalkan bagi dunia dibelakang gue. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar