Jumat, 21 November 2014

KETEK PANTAT RENDANG HATIKU SENANG Hatiku Senang



Sahabat yang gue kira hanya akan menjadi sekedar sahabat yang lewat ternyata dapat berubah menjadi lovers for life.
Sahabat yang awalnya pula gue kira sudah gue perlakukan secara jahat dengan menempatkannya pada lingkaran “Best Friend – Zone” malah kini menjadi orang yang ga bisa gue pungkiri adalah teman terbaik yang gue akan selalu dambakan seumur hidup gue.
Akhirnya sore itu didepan papan pengumuman kelulusan mahasiswa Magister Para Jomblo Sedih gue berdiri sebagai lulusan non-beasiswa terbaik seangkatan. Walaupun lulus dengan tambahan predikat MPJS dibelakang nama gue, gue rasa 2 kata terakhir dalam predikat itu sudah tidak berlaku untuk gue yang ketika wisuda nanti akan disambut oleh peluk hangat papa, mama, dan dia – dia yang sudah menemaniku selama beberapa bulan terakhir ini.
“Kak, kak. Maaf kak, boleh minta waktunya sebentar gak?”
Tiba-tiba saja datang sapaan itu disertai dengan sebuah colekan halus dari belakang gue.
“Iya? Siapa ya?” Tanya gue.
“Um, saya Jessica dari jurusan tempe bacem abcz. Saya adik kelas kakak. Uh, saya cuman mau ngasih kakak ini sih...” Kata-katanya sedikit terbata namun begitu jelas.
“Wah, ada apa nih kok tiba-tiba ngasih gue beginian?” Tanya gue sembari tersenyum salah tingkah.
“Uh, itu kak. Saya mau bilang terima kasih aja sih sama kakak. Waktu itu ujan deras dan udah malem banget. Pas itu kakak ketemu saya luar udah pingsan. Trus setelah itu kakak sama pacar kakak bawa saya ke rumah sakit dan nungguin saya sampe saya siuman. Saya inget banget senyumnya kakak yang sejak hari itu menginsipirasi saya untuk tetep hidup...”
“OOOH iya iya gue inget! Eh, sambil nongkrong dimana yuk! Gue pengen denger cerita lu lebih banyak. Lagi ngga keburu-buru, kan?” Desak gue.
Tidak, sebenernya gue ngga pernah ingat pernah membantu seorang perempuan cilik bernama Jessica. Ya, dia udah ngga cilik-cilik amat sih. Ya tapi cilik lah untuk ukuran wanita Asia yang berpenerawakkan medium. Gue juga ngga inget, kalo ketika itu gue udah jadian sama Brandon ketika ini terjadi. Yang gue tahu ketika itu adalah bahwa Brandon dan gue pernah tidak pulang semalam entah melakukan apa seakan ingatan itu terhapuskan dalam memori gue.
Sore itu, gue mengajak Jessica untuk duduk minum secangkir kopi disebuah kedai yang cukup bergengsi didekat rumah Jessica yang gue tahu tak akan dia sanggup bayar. Brandon udah ngajarin gue cukup banyak untuk tidak mengharapkan kebaikan dari orang lain ketika kita sudah rela berkorban untuknya. Kenangan mereka akan kita sudah cukup, Brandon selalu bilang. Jessica awalnya menolak; tetapi setelah beberapa saat dia langsung setuju dan kemudian kisah hidupnya kembali dibagikannya hanya dan hanya untuk gue seorang. Semua cerita kehidupannya sebenarnya menggetarkan hati gue karna Jessica ternyata hidup lebih pahit daripada yang dapat gue bayangkan.
Gue semakin kaget dibuatnya ketika berkata bahwa sebenarnya malam ketika gue dan Brandon ‘menyelamatkannya’ itu, ia sedang mengalami stress berat dan akhirnya memutuskan untuk kembali menyuntikkan cairan narkoba yang selama 2 bulan sudah ia tinggalkan. Namun malang tak bisa ditolak, ia OD dan tiba-tiba saja menggelepar dijalanan. Betul sekali – gue dan Brandon baru saja menyelamatkan sebuah jiwa yang tidak ingin diselamatkan – jiwa yang ditinggalakan dalam derasnya tangisan air mata bumi dan gelapnya malam. Dan engga, gue ngga berharap untuk satu kisahpun ia percayakan kepada gue.
Akhir pekannya ketika gue ceritakan kisah Jessica kepada Brandon dan membagi dua hadiah yang diberikan Jessica, gue tak sengaja menangkap air mata yang dititikkan Brandon dari ujung matanya. Selang satu menit kemudian, Brandon mengajak gue berdoa dan bersyukur bahwa satu jiwa lagi sudah menyampaikan dendangan bahagianya kepada Yang Maha Kuasa. Betul, di kedai kopi itulah Jessica menyerahkan dirinya sebagai seorang percaya.
Waktu awal kisah ini ditulis, gue bilang bahwa gue begitu merindukan sebuah senyuman tulus dari seseorang buat gue. Kalian mau jawaban jujur dari gue? Gue sebenernya belum mendapatkan apa yang gue inginkan itu ketika kisah ini  berakhir. Setelah gue pikir-pikir, semakin gue menginginkan sesuatu maka semakin jauh pula kenyataan dari terjadinya keinginan itu dalam hidup gue. Toh setidaknya ketika gue selesai bercerita gue sudah memiliki Brandon disisi gue sebagai pelengkap.
Untuk menutup kisah, sekali lagi Brandon menyadarkan gue malam itu bahwa senyuman tulus dari seseorang bukanlah sesuatu yang paten sehingga  harus gue miliki agar bisa hidup bahagia. Namun senyum tulus itu, jika diberikan kepada orang yang tepat seperti Jessica, akan berdampak lebih besar kebanding dengan jika senyum itu harus diberikan kepada gue. Malam itu gue membuat janji lagi dengan kekasih gue bahwa kita berdua akan memberikan senyuman tulus bagi siapapun orang disekeliling kita.
Oh iya, satu lagi.
Ternyata rumus hati bahagia bukanlah sekedar rumus yang terjadi ketika seseorang memiliki pacar. Ternyata kalian kaum jomblo juga dapat menikmati rumus P à Q / ~P ʌ Q.
Variabel P berarti menolong dan variabel Q tetap masa sulit.
Kalian memiliki hak untuk memilih untuk menolong atau tidak ketika kalian memiliki kesempatan untuk menolong. Siku-siku ketek, benturan pantat dan pedasnya rendang kehidupan akan membentuk sebuah gugusan sempurna ketika kita, sebagai manusia, memilih untuk peduli serta memperhatikan.
Ya, seorang pacar telah membuat gue semakin sadar akan makna yang gue tinggalkan bagi dunia dibelakang gue. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar