Jumat, 14 November 2014

PANTAT KETEK RENDANG HATIKU SENANG Variabel Rendang Dimata Dekat Dihati

Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya Brandon dan gue nyambung lebih klop daripada gue pernah klop sama pria manapun. Dengan segala kesibukan dia dan kesibukan gue, gue rasa kita berdua sama-sama udah ngerti bahwa ngga bisa kita terlalu saling mengharapkan satu sama lain untuk terlalu sering kontak. Pokoknya setiap kali dia lagi ngga disibukin segala macem tugas suntikan anehnya dan pulang ke Jakarta dia pasti langsung ngehubungin gue dan kita berdua saling sediain waktu untuk ngobrol.
Semua itu berlangsung selama 6 bulan sampe akhirnya sampe suatu hari, Brandon ngajak gue ke sebuah restoran Padang andalan keluarganya didaerah Gading Serpong. Kita berdua ngobrol panjang lebar, seperti biasa. Anehnya, gue ngga bisa dikatakan jatuh cinta pada Brandon – seakan hati gue cukup nyaman dengan status ‘bersahabat kental’ dengannya. Gue tau perasaan macem ini pernah gue rasain ketika ada seorang sahabat pria lain semasa SMA dulu berhubungan juga dengan gue. Walaupun gue udah tau busuk-busuknya dia sampai ke tulang, kita ngga kepengen aja dipaksa untuk pacaran.
Entah deh, yang ini sepertinya beda entah dari sisi mana. Sepertinya sesuatu mungkin terjadi.
“Bot” Panggil gue ke Brandon.
“Hm?” Jawabnya singkat sambil terus asik mengunyah rendangnya.
“Reaksi tubuh kita kalo lagi oksitoksinnya tinggi gimana sih? Penyebabnya apaan?”
“Ya gejolak sih. Ngga ada obvious physical changes ato apa kecuali dia kayak reaksinya jadi makin bahagia macem dicekokin kebanyakan permen karet gitu”
“Anjrit. Keselek mati dong dicekokin permen karet” jawab gue asal.
“Kan ibarat. Penyebabnya karna orang yang dia suka lagi ada sama dia; itu sih yang paling menonjol. Ato kalo buat yang berkeluarga ya anaknya kali. Belom pernah research sampe spesifik sih” balas dia lagi.
“Ooh. Kalo meningkat gara-gara makanan bisa ga? Err, semacem lu kalo udah ketemu rendang gitu” Gue lanjut nyerocos.
“Bisa. Kenapa engga juga? Bentar lagi muka gue jadi kayak rendang nih... pedes-pedes ngangenin. HAHA”
“Apaandeh Bot. Ada juga rendang dimata dekat dihati”
Jleb. Tiba-tiba teori itu begitu dekat dengan diri gue. Dengan tangan kotor, gue ambil buku dan segera mencoret-coret sebaris kertas kosong dihadapan gue.
“Apaan tuh?” tanya Brandon penasaran.
“Ini, gue lagi nyari persamaan buat thesis gue. P x rendang = Q. P = oksitoksin dan Q = elu. Tapi gue kayanya ngga bisa masukkin teori ini. Gue masih harus nambahin variabel ‘hati bahagia’ kedalamnya soalnya oksitoksin cuman hormon, bukan sesuatu yang riil. Trus juga kan harus universal – ga bisa cuman buat elu doang berlakunya”
“Mm! Gue tau. Kenapa ga P + rendang x Q = hati bahagia? Gue ngga selalu perlu variabel rendang untuk ningkatin okstitoksin sih sebenernya. Bisa belajar, bisa bola... bisa elu *batuk* ngomong-ngomong, itu dia alasan gue kemari, sih. I actually want to ask you to go on a date” Lanjut Brandon.
“Hah? Gimana-gimana? P + rendang x Q = hati bahagia?” Otak gue tiba-tiba kalut.
Akhirnya Brandon ngaku. Dia emang selama ini nyimpen perasaan suka terhadap gue. Senyum gue adalah senyum tulus yang ia cari tahun-tahun belakangan ini. Beberapa bulan lalu ketika ia mendatangi rumah gue untuk ngomong, dia ngga memiliki keberanian itu untuk jujur sampai detik ini. Menurut dia semuanya terlalu cepet sampe hari ini, direstoran padang  kesukaannya. Restoran padang dan gue adalah 2 hal favoritnya diluar kecintaannya terhadap kariernya dan sepak bola. Dan dia rela nunggu jawaban gue walaupun membutuhkan bertahun-tahun karna gue bagaikan rendang yang walaupun jauh dimata, namun selalu dekat dihati. Eh ngga juga sih. Dia bilang deket kampus ada restoran padang; tapi katanya aja rendangnya yang ngga seenak disini. Bah.
Gue hanya terdiam sesisa waktu menunggu dia menghabiskan potongan rendang terakhirnya sembari memikirkan apa yang betul-betul gue inginkan untuk hubungan gue dan dia kedepannya. Dia juga hanya terdiam dan meminta bon sembari mengajak gue keluar dari restoran padang tersebut.
“VIK. Anjir” Kata gue setengah berteriak ditelepon genggam gue ketika gue sampai du=i rumah.
“Eh, why?” Sahut Vicky.
Vicky sudah hafal dengan gelagat gue yang kalo nelfon dimulai dengan frasa kasar berarti antara ada sesuatu yang sangat menarik terjadi atau sesuatu yang sangat kacau.
“Barusan si Brandon nembak gue.” Napas gue mulai tersengal.
“Terus?”
“Ya, gue belom kasih jawaban”
“Eh gila lo! Lo gantung dia disitu?! Rule nomer 1 ya Sel, dilarang keras nggantung cowo (TERUTAMA YANG UDAH DEKET DAN PASTI SAYANG BANGET SAMA LO) begitu aja. Apalagi abis ditraktir makan padang kesukaan dia. 2, lu ngerasa nyaman kan sama dia? Yaudah, GO FOR IT BEIBEH!” Teriak Vicky dispeaker handphone.
“Ya, well. Gimana abisnya dong Viik... Gue ngga mau pacaran sama cowo yang adalah sahabat juga buat gue. Lu tau kan, macem kita berdua sama si Kambing? Biar kata dia tau persis busuknya kita kan ya lu tau laah: terlalu nyaman!”
“Senyum dia memenuhi hasrat senyuman seseorang itu ngga Sel?”
“Uh, iya sih. Tiap gue liat dia gue tenang. Gue tau dia bakal jaga. Dia bilang gue juga adalah senyum yang memenuhi persamaan senyuman tulus dia” Jawab gue jujur namun agak ragu.
“EUREKA. Tuh kan! You had what you want. Every incy wincy bit of it. All you need to do now is just go for it!” kata Vicky makin semangat.
“Tapi kalo mas kawin gue dia tuker sama rendang gimanaa?!?!”
“ITU GA PENTING! Terima aja dulu! Call me when you had him. Kita double date ke Bandung to celebrate. PJ ditanggung yang baru jadian. BYE”
Setelah itu hening; tidak ada suara.
Malam itu, gue menanyakan Brandon sebuah pertanyaan melalui pesan singkat. Dari jawabannya, gue merasa makin yakin akan keputusan yang gue ambil saat ini. Gue janji Bot, gue kasih tau lu jawabannya ketika kita bertemu dititik yang kita berdua janjikan lusa. Datang tepat waktu, ya?  –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar