“Lu yakin,
Sel, sama ni cowo? Udah yakin ngga bakal ganti-ganti lagi? Sumpah lo, demi apa
udah dilamar sementara gue masih jomblo ria...” Bawel Vicky.
“Ya siap lah.
Bilang aja lo ngiri nyeet. HAHAHAHAHA. Gue dapet bebeb gue setelah akhirnya
melawan segala tipu daya gravitasi... Halah apaan sih gue.”
“Susah ya yang
lagi jatuh cinta”
“HEH. SAMPE LO
NGGA BEGINI PAS PUNYA PACAR GUE KETAWAIN LO!” Bales gue ketus sambil ngelempar
kertas kecil yang gue bentuk jadi bola.
...
Ya, akhirnya
hari itu sebentar lagi tiba; hari yang sudah gue dan dia rencanakan satu tahun
belakangan ini. Akhirnya kita mau sepakat sama komitmen yang kita akan ambil –
akhirnya kita memulai sebuah bab baru kehidupan anak manusia; kita akan menuju
pelaminan.
Selain dari kedewasaan,
penghargaan, dan apapun hal lainnya yang sudah kita berdua lewati bersama
belakangan ini masih ada satu detil lain yang membuat gue begitu “mendewakan”
sosoknya. Sederhana, tapi begitu berarti buat gue yang doyan banget mendapatkan
kenyamanan dari kehadiran seseorang yang kadang bahkan ngga banyak ngomong ke
gue.
“Kenapa emang
pundaknya? Seksi yah? Berotot-berotot licin berbulu gimana gitu?” Kata Vicky
sekenanya setelah gue menyebutkan bagian tubuh dia yang paling gue suka
templokin akhir-akhir ini.
“HEH. Itu
namanya ketek yang ada bulunya bego. Lagian, dia kan darisononya
berisi-dan-agak-atletis sejak ikutan militer”
“Oh itu ketek
ya... oh iya lupa”
“MONYONGG.
Eniweis, balik lagi soal itu pundak...”
Sebenernya
semua fetish gue terhadap pundak ini dimulai ketika SMA; ketika gue lagi berada
dalam sebuah momen yang membuat gue sadar bahwa gue menemukan rasa aman,
nyaman, dan sekaligus memberi dia tahu bahwa gue akan selalu mendukung dia
adalah dari bahunya. Yah – waktu itu sih sosok cowonya bukan dia – tapi lu
ngerti lah intinya. Gue demen aja senderan dibahu orang yang gue sayang ini –
entah dari belakang ato dari samping – gue selalu dapet inspirasi baru tiap
kali gue menempelkan hidung gue diatas bahu dia; bahkan hanya untuk mencium
wangi khasnya selama beberapa detik. Sejak saat itu, gue nyaris ngga pernah
minta pacar gue untuk pegangan tangan karna dari tangan semuanya bisa menjalar
kemana-mana; kalo dari pundak ya paling cuman kesodok doang sampe idung gue
peang.
Sebenernya
cuman itu doang dasar logika gue terhadap “kenapa pundak” dan “ada apa dengan
pundak” – serial yang bisa dibikin 7 season sama stasiun televisi yang kita
semua tau jago bikin begituan. Tapi darisitu, tiap kali gue kebayang pundaknya
yang pernah gue jadiin sandaran pada masa sedih dan bahagia gue itu, gue jadi
inget betapa gue sayang banget dan bersyukur banget gue memiliki dia. Gue jadi
selalu mendoakan supaya semua cewe di dunia ini mendapatkan apa yang gue
dapatkan: seseorang yang bisa mereka andalkan – baik secara harafiah maupun
secara sebenarnya. Seseorang yang, pundaknya bisa menjadi tempat tangisan dan
tawa orang yang dikasihinya. Supaya semua cewe mendapatkan seorang cowo yang
bisa membuat mereka lupa bahwa mereka pernah dibuat sakit hati sebelumnya.
“Jadi semacem
‘you’ve got a friend in me’ gitu ya; tapi ‘friend’nya diganti ‘shoulder’.”
“Hmmh.
Suka-suka lu deh. Gue ngga siap diancurin sama teori baru lu lagi.”
“Eits, teori
gue yang cinta segi ketek kan proven ya! Ketek lo balik lagi kan tuh??”
“EH SIAL LO.
Udah, jangan bawa-bawa ketek. Ntar baper lagi gue!” Sela gue cepat.
Ya, Vicky tau
semuanya. Dia tau masa kegelapan itu dan masa kembalinya. Vicky tau gue ngga
bakal betah ngga bikin puisi geblek kalo udah lagi jatuh cinta. Vicky tau gue
ngga bakalan ngga curhat kalo udah nyangkut lagi soal materi Ketek yang telah
hilang dan kini ditemukan lagi sebagai “pundak” buat gue. Dia tau, yang muncul
setelah ini adalah sebuah puisi yang menggambarkan semuanya...
...
I finally find
someone whose gonna look out after me
Someone whose
warmth is a refuge
Someone who is
just strong enough to bear with me through the pain
Someone, whose
presence is such a delight
It’s “a place”
you carry everywhere we go
With you
It’s you
A shoulder I
can approach from different perspectives of a moment
I find refuge
when I look o’er your shoulder
I find comfort
when I smell the same smell I always knew
I feel home
whenever you’re with me – with the shoulder I knew I could rely on
On your
shoulder I’d rerun a prayer I always did
On your
shoulder I’d always lay a kiss
A kiss to tell
you that my strength will always accompany you even though I didn’t always say
it
A kiss, to let
you know that I’ve got your back
But most
importantly,
Over your
shoulder I find a future for us to be together
United;
Loved.
–red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar