Sabtu, 13 Juni 2015

Over Your Shoulder

“Lu yakin, Sel, sama ni cowo? Udah yakin ngga bakal ganti-ganti lagi? Sumpah lo, demi apa udah dilamar sementara gue masih jomblo ria...” Bawel Vicky.
“Ya siap lah. Bilang aja lo ngiri nyeet. HAHAHAHAHA. Gue dapet bebeb gue setelah akhirnya melawan segala tipu daya gravitasi... Halah apaan sih gue.”
“Susah ya yang lagi jatuh cinta”
“HEH. SAMPE LO NGGA BEGINI PAS PUNYA PACAR GUE KETAWAIN LO!” Bales gue ketus sambil ngelempar kertas kecil yang gue bentuk jadi bola.
...
Ya, akhirnya hari itu sebentar lagi tiba; hari yang sudah gue dan dia rencanakan satu tahun belakangan ini. Akhirnya kita mau sepakat sama komitmen yang kita akan ambil – akhirnya kita memulai sebuah bab baru kehidupan anak manusia; kita akan menuju pelaminan.
Selain dari kedewasaan, penghargaan, dan apapun hal lainnya yang sudah kita berdua lewati bersama belakangan ini masih ada satu detil lain yang membuat gue begitu “mendewakan” sosoknya. Sederhana, tapi begitu berarti buat gue yang doyan banget mendapatkan kenyamanan dari kehadiran seseorang yang kadang bahkan ngga banyak ngomong ke gue.
“Kenapa emang pundaknya? Seksi yah? Berotot-berotot licin berbulu gimana gitu?” Kata Vicky sekenanya setelah gue menyebutkan bagian tubuh dia yang paling gue suka templokin akhir-akhir ini.
“HEH. Itu namanya ketek yang ada bulunya bego. Lagian, dia kan darisononya berisi-dan-agak-atletis sejak ikutan militer”
“Oh itu ketek ya... oh iya lupa”
“MONYONGG. Eniweis, balik lagi soal itu pundak...”
Sebenernya semua fetish gue terhadap pundak ini dimulai ketika SMA; ketika gue lagi berada dalam sebuah momen yang membuat gue sadar bahwa gue menemukan rasa aman, nyaman, dan sekaligus memberi dia tahu bahwa gue akan selalu mendukung dia adalah dari bahunya. Yah – waktu itu sih sosok cowonya bukan dia – tapi lu ngerti lah intinya. Gue demen aja senderan dibahu orang yang gue sayang ini – entah dari belakang ato dari samping – gue selalu dapet inspirasi baru tiap kali gue menempelkan hidung gue diatas bahu dia; bahkan hanya untuk mencium wangi khasnya selama beberapa detik. Sejak saat itu, gue nyaris ngga pernah minta pacar gue untuk pegangan tangan karna dari tangan semuanya bisa menjalar kemana-mana; kalo dari pundak ya paling cuman kesodok doang sampe idung gue peang.
Sebenernya cuman itu doang dasar logika gue terhadap “kenapa pundak” dan “ada apa dengan pundak” – serial yang bisa dibikin 7 season sama stasiun televisi yang kita semua tau jago bikin begituan. Tapi darisitu, tiap kali gue kebayang pundaknya yang pernah gue jadiin sandaran pada masa sedih dan bahagia gue itu, gue jadi inget betapa gue sayang banget dan bersyukur banget gue memiliki dia. Gue jadi selalu mendoakan supaya semua cewe di dunia ini mendapatkan apa yang gue dapatkan: seseorang yang bisa mereka andalkan – baik secara harafiah maupun secara sebenarnya. Seseorang yang, pundaknya bisa menjadi tempat tangisan dan tawa orang yang dikasihinya. Supaya semua cewe mendapatkan seorang cowo yang bisa membuat mereka lupa bahwa mereka pernah dibuat sakit hati sebelumnya.
“Jadi semacem ‘you’ve got a friend in me’ gitu ya; tapi ‘friend’nya diganti ‘shoulder’.”
“Hmmh. Suka-suka lu deh. Gue ngga siap diancurin sama teori baru lu lagi.”
“Eits, teori gue yang cinta segi ketek kan proven ya! Ketek lo balik lagi kan tuh??”
“EH SIAL LO. Udah, jangan bawa-bawa ketek. Ntar baper lagi gue!” Sela gue cepat.
Ya, Vicky tau semuanya. Dia tau masa kegelapan itu dan masa kembalinya. Vicky tau gue ngga bakal betah ngga bikin puisi geblek kalo udah lagi jatuh cinta. Vicky tau gue ngga bakalan ngga curhat kalo udah nyangkut lagi soal materi Ketek yang telah hilang dan kini ditemukan lagi sebagai “pundak” buat gue. Dia tau, yang muncul setelah ini adalah sebuah puisi yang menggambarkan semuanya...
...
I finally find someone whose gonna look out after me
Someone whose warmth is a refuge
Someone who is just strong enough to bear with me through the pain
Someone, whose presence is such a delight

It’s “a place” you carry everywhere we go
With you
It’s you
A shoulder I can approach from different perspectives of a moment

I find refuge when I look o’er your shoulder
I find comfort when I smell the same smell I always knew
I feel home whenever you’re with me – with the shoulder I knew I could rely on

On your shoulder I’d rerun a prayer I always did
On your shoulder I’d always lay a kiss
A kiss to tell you that my strength will always accompany you even though I didn’t always say it
A kiss, to let you know that I’ve got your back

But most importantly,
Over your shoulder I find a future for us to be together
United;
Loved.
–red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar