Kamis, 04 Juni 2015

Berubah, Perubahan, Ubahnya


“Aku ingin mengingat semuanya – masa SMA kita bareng-bareng begini”, katanya.
“Aku tidak ingin pergi dari masa SMA ini – udah nyaman banget”, bisiknya.
“Aku ingin kita semua tetap sama seperti ini”, ujarnya.
Tapi ah, sobat, maafkan aku jika aku harus berkata bahwa aku lelah dengan semua ucapan seperti itu. Bagiku semuanya kosong; tanpa makna; takkan bisa bertahan sampai kapanpun yang kita inginkan; takkan mungkin pernah bisa kita pertahankan. Nanti ketika semuanya sudah sibuk sendiri dengan urusan kuliah kita juga akan lupa dengan yang di SMA ini – ini hanya sebuah euforia yang akan segera berlalu, kok. Percayalah.
Aku sendiri harus tetap bergerak untuk menemukan posisi nyamanku. Kalau sudah pegel dan panas, ya aku harus adjust lagi; berubah posisi lagi. Ketika aku sudah tumbuh melebihi cangkang yang tersedia, aku harus cari cangkang baru lagi – pindah rumah lagi.
Aku juga tetap menyesuaikan gaya berpikirku untuk memenuhi kelajuan daya pikir diri ini. Aku harus mampu memenuhi target dan ekspektasi mereka karena kini aku sudah lebih dewasa – sudah berhasil menyelesaikan standarisasi negara agar aku dapat dianggap sah lulus SMA.
Aku harus tetap menarik dan menghembuskan udara untuk melanjutkan hidup. Aku masih berjuang untuk hari-hariku sepertimu; walaupun berat.
Aku harus selalu meredefinisikan siapa diriku sebenarnya untuk dapat terus merasa mengenali siapa aku, tujuan hidupku, dan melanjutkan perjuangan apapun yang sedang aku lakukan.
Pertanyaanku kemudian adalah, apa yang kau harapkan dari hanya sebuah “jangan pernah berganti”?
Sahabat, biar kuberi tahu kau: itu – tidak – mungkin – terjadi; untuk selalu bertahan sama seperti sedia kala. Seberapapun kau berusaha menolak fakta yang kukatakan ini, toh, tidak akan berguna. Kau tidak akan bisa bertahan dengan keinginanmu karna terkadang fakta berdiri diatas keinginan kita; terutama jika waktu seturut dengan aliran fakta tersebut.
Kita sudah lulus sekarang. Dunia kita sudah bukan lagi dunia nyaman yang telah kita kenal selama 3 tahun terakhir ini. Kini, kita harus menemukan lagi kenyamanan kita yang baru pada radar yang lebih luas. Ruang bermain kita menjadi jauh lebih luas dan lebih mengerikan daripada masa SMA dulu.
Sobat, salah satu tanda manusia yang “hidup” adalah untuk selalu bergerak, bertumbuh, dan berpindah. Aku mengerti, kok, kalau kita akan rindu pada suasana ini. Aku juga akan merindukannya; percayalah. Tapi menurutku, aku tidak bisa bersedih terlalu lama karna aku mengemban tugas yang lebih besar daripada sekedar “menangisi” yang sudah berlalu. Aku perlu melanjutkan hidup dan mempersiapkan diri terhadap apa yang akan aku hadapi setelah ini.
Mungkin apa yang aku katakan ini tidak akan kau dengarkan atau akan berarti apapun bagimu. Tapi sobat, aku tidak akan pernah bosan mengingatkanmu bahwa ada bagian terkecil dari kita yang tidak akan berubah – kita tidak bisa seutuhnya berubah menjadi seseorang yang lain. Kita akan tetap menjadi diri SMA kita – there is a child inside of everyone – namun kita akan lebih baik dengan kehidupan kita yang baru nanti. Kehidupan SMA kita telah membentuk diri kita kedepannya; sama seperti masa kecil kita membentuk siapa diri kita sekarang.
Beberapa hal yang akan tetap aku lakukan adalah aku tidak akan berhenti mencari artinya menjadi diriku sendiri sembari melakukan perubahan konkritku.
Aku tidak akan pernah berhenti menelurkan karya-karya besarku dalam dunia tulisan, puisi, dan entah apalagi yang akan datang.
Aku akan terus berjuang menghadapi badai opini demi menyatakan kebenaran.
Aku akan terus hidup; biar peluru menembus kulitku aku tetap meradang menerjang seperti yang disebutkan Chairil Anwar.
Jangan pernah bilang kita hendak berhenti, sobat, dari kancah perjuangan kita itu karna apapun yang berhenti adalah sesuatu yang mati. Dan aku akan tetap menggantungkan harapanku untuk bertemu dirimu setinggi langit itu. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar