“Aku ingin mengingat semuanya – masa SMA kita bareng-bareng begini”, katanya.
“Aku tidak
ingin pergi dari masa SMA ini – udah nyaman banget”, bisiknya.
“Aku ingin
kita semua tetap sama seperti ini”, ujarnya.
Tapi ah,
sobat, maafkan aku jika aku harus berkata bahwa aku lelah dengan semua ucapan
seperti itu. Bagiku semuanya kosong; tanpa makna; takkan bisa bertahan sampai
kapanpun yang kita inginkan; takkan mungkin pernah bisa kita pertahankan. Nanti
ketika semuanya sudah sibuk sendiri dengan urusan kuliah kita juga akan lupa
dengan yang di SMA ini – ini hanya sebuah euforia yang akan segera berlalu, kok.
Percayalah.
Aku sendiri harus
tetap bergerak untuk menemukan posisi nyamanku. Kalau sudah pegel dan panas, ya
aku harus adjust lagi; berubah posisi
lagi. Ketika aku sudah tumbuh melebihi cangkang yang tersedia, aku harus cari
cangkang baru lagi – pindah rumah lagi.
Aku juga tetap
menyesuaikan gaya berpikirku untuk memenuhi kelajuan daya pikir diri ini. Aku
harus mampu memenuhi target dan ekspektasi mereka karena kini aku sudah lebih
dewasa – sudah berhasil menyelesaikan standarisasi negara agar aku dapat
dianggap sah lulus SMA.
Aku harus tetap
menarik dan menghembuskan udara untuk melanjutkan hidup. Aku masih berjuang
untuk hari-hariku sepertimu; walaupun berat.
Aku harus
selalu meredefinisikan siapa diriku sebenarnya untuk dapat terus merasa mengenali
siapa aku, tujuan hidupku, dan melanjutkan perjuangan apapun yang sedang aku
lakukan.
Pertanyaanku
kemudian adalah, apa yang kau harapkan dari hanya sebuah “jangan pernah berganti”?
Sahabat, biar
kuberi tahu kau: itu – tidak – mungkin – terjadi; untuk selalu bertahan sama
seperti sedia kala. Seberapapun kau berusaha menolak fakta yang kukatakan ini,
toh, tidak akan berguna. Kau tidak akan bisa bertahan dengan keinginanmu karna
terkadang fakta berdiri diatas keinginan kita; terutama jika waktu seturut
dengan aliran fakta tersebut.
Kita sudah
lulus sekarang. Dunia kita sudah bukan lagi dunia nyaman yang telah kita kenal
selama 3 tahun terakhir ini. Kini, kita harus menemukan lagi kenyamanan kita
yang baru pada radar yang lebih luas. Ruang bermain kita menjadi jauh lebih
luas dan lebih mengerikan daripada masa SMA dulu.
Sobat, salah
satu tanda manusia yang “hidup” adalah untuk selalu bergerak, bertumbuh, dan
berpindah. Aku mengerti, kok, kalau kita akan rindu pada suasana ini. Aku juga
akan merindukannya; percayalah. Tapi menurutku, aku tidak bisa bersedih terlalu
lama karna aku mengemban tugas yang lebih besar daripada sekedar “menangisi”
yang sudah berlalu. Aku perlu melanjutkan hidup dan mempersiapkan diri terhadap
apa yang akan aku hadapi setelah ini.
Mungkin apa
yang aku katakan ini tidak akan kau dengarkan atau akan berarti apapun bagimu.
Tapi sobat, aku tidak akan pernah bosan mengingatkanmu bahwa ada bagian
terkecil dari kita yang tidak akan berubah – kita tidak bisa seutuhnya berubah
menjadi seseorang yang lain. Kita akan tetap menjadi diri SMA kita – there is a child inside of everyone –
namun kita akan lebih baik dengan kehidupan kita yang baru nanti. Kehidupan SMA kita telah membentuk diri kita
kedepannya; sama seperti masa kecil kita membentuk siapa diri kita sekarang.
Beberapa hal
yang akan tetap aku lakukan adalah aku tidak akan berhenti mencari artinya
menjadi diriku sendiri sembari melakukan perubahan konkritku.
Aku tidak akan
pernah berhenti menelurkan karya-karya besarku dalam dunia tulisan, puisi, dan
entah apalagi yang akan datang.
Aku akan terus
berjuang menghadapi badai opini demi menyatakan kebenaran.
Aku akan terus
hidup; biar peluru menembus kulitku aku tetap meradang menerjang seperti yang
disebutkan Chairil Anwar.
Jangan pernah
bilang kita hendak berhenti, sobat, dari kancah perjuangan kita itu karna
apapun yang berhenti adalah sesuatu yang mati. Dan aku akan tetap
menggantungkan harapanku untuk bertemu dirimu setinggi langit itu. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar