This past day
or two I have been forcing myself to think harder than usual to actually come
up with this one particular post for you to read. Gue lagi ngga tau mau cekokin
kalian apaan karna gue lagi ngga mikir banyak, ngga banyak kejadian, dan lagi
ngga se-baper biasanya. Beneran, rasanya lagi as entek (“entek” is a Javanese
word for “habis” or legit “gue mentok”) as it once was before UN strikes. And
to tell you the truth, though, I am still as entek as I were when you came in
reading. We might be heading to a curcol, with that being said.
Minggu ini, as
I’ve stated, gue lagi ngga banyak ngapa-ngapain. Dan demi nyari ide, gue baca
lagi buku favorit gue sepanjang 2 tahun terakhir ini, The Fault In Our Stars
plus streaming podcastnya TEDx dari hape tercinta. I am one of those kinds yang
ngga bisa hidup tanpa sentuhan inspirasi dari orang lain, to tell you something
about myeself – a part of my typical self I would blame on my rare personality
type.
Kita semua tau
kita udah denger banyak mengenai banyak hidup orang lain yang bermakna buat
sekitarnya sampe-sampe kita bisa cerita pake bahasa tarzan. Ho-oh, orang kanker
yang bikin organisasi non-profit buat bantu orang kanker lainnya lah; orang bikin
penemuan-penemuan baru yang ngebantu orang disabled lah; research orang
dibidang yang bener-bener out of mind lah; segala macem deh. And to be honest,
one fourth of my 18 years of life I have been trying to devout myself to such “inspiring
others” kind of stuff ad to “work more” instead of just “talking slash
observing much” – something so easy for some people to do naturally but hard as
fuck for me to move for even just one inch.
I’ve been
dying to find out something big I can do to help others and realizing how
bullshit that was when I realized bahwa kalo ada anak kecil jatoh dari sepeda
didepan mata gue gue bisa pura-pura ngga ngeliat dan langsung jalan menjauh.
Kurang jago
bullshit apa gue?
Salahin era
lahir gue, tapi gue rasa gue ngga bisa menyalahkan era ini kalo emang gue
dilahirkan pada zaman yang tepat untuk suatu tujuan lain yang lebih ‘tepat’ –
entah apa tepatnya.
Tapi gue jujur
deh, gue sendiri benci gue yang begini. SUMPAH. Gue jago ngomong, tapi I did
little to actually help. Bukannya ngga mau bantuin sih sebenernya – mau – tapi
ngga tau harus ngapain untuk menenangkan anak yang jatoh ini dan gimana
membersihkan luka mereka kalo gue sendiri udah lupa namanya luka gimana dan
udah lama banget sejak ada orang lain yang ngebantuin gue untuk memperbaiki
luka-luka gue sendiri. Kalo akhirnya ngebantu-pun, gue pake acara maki-maki
orang lain juga dalam hati for being blind to the society. Damn man, I am good
at “omdo”.
I could be
worse, you know.
As much as you
hated me for what facts I have just present to you, you can believe me when I
say that I hated it more than you do – because I observe naturally; and that
means observing myself as well. Paradigma gue adalah “apa hak gue untuk
mengharapkan orang lain untuk membantu gue kalo gue sendiri ngga membantu orang
lain?”. Guess what, it applies to every aspect of my life: mulai dari hal besar
seperti “berpakaian rapih” sampai hal kecil mengenai “tepat waktu”.
I would’ve
want to punish myself really badly for “kebanyakan mikir doang sih lo, kapan
geraknya”. But some punishments, it occur, won’t do much good to me if I do not
find any good alternatives to help me “move”. Because in the end, I would’ve
easily said “ah yaudah lah. Gabisa diapa-apain lagi” – a bad part to Cindy’s
“terima dengan lapang dada” sentence. Screw that, really.
Gue sendiri
ngga bakal bisa conclude apapun yang baik setelah curcol gue kali ini karna gue
masih as desperate as when I get my head to write. I wouldn’t want to hope to
“get better” because the fact says that there is no “better”. There is only
“work your damn ass to hardships. Learn it the hard way or die”. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar