We are always
talking about weird shits. Entah gimana caranya ataupun situasinya,
ujung-ujungnya pasti ada sesuatu yang ajaib yang bikin otak kita berdua tertiup
(woy elah bahasa Indonesianya jelek amat sih gue mau bilang mind blown doang
jadi otak tertiup. Butiran debu kali ye). Ya siapa lagi kalo bukan gue sama
Cindy? Kita berdua emang pakarnya absurd. Semalem pas di kosan Keran entah
kenapa kita jadi ngebahas hal-hal yang bersangkutan dengan SHAH yang
ditambahkan dengan kata dasar lainnya (rumus: shah+kata dasar). Eg Shahrini,
Shahketek, Shahbunder, Shahapalagiterserah, Shah(enter word), dan SHAHriroti.
Hahahah, iya. Sejayus itu emang.
Eh. OH GUE
INGET DENG. Awalnya gara-gara digrup 12 IPS si Novi ngirimin foto “Sharingan”
deh. LOLOLOLOL. Lanjutannya jadi ide abstrak gue jadi shahri rhoti gitu.
Shahrini.
Perbincangan
aneh semacem ini bukan tanpa awalan dan akhiran sih sebenernya. And the only
alibi I had myself think of is that we – and I mean like all of us in 12 IPS –
have had a hard week (every week is a hard one tho. Haha). And the only way to evaporate
those stresses are having breaks or free times, which are really rare of time
and/or laughing it out while dealing with the hard life itself. 12 IPS chose
the second way: laughing AND having breaks.
One of the
other stories you’d hear of crazy is probably the fact that both Cindy and I
made a new version of our “Indonesia Raya” (our national anthem) and replace
the title to “le ketek raya”. This song is highly inspired by our juniors at
freshman and sophomore when they were practicing for the weekly assembly the
school held every Monday morning downstairs and we were wathcing them dengan
khidmat dari lantai 6. Iya, lantai 6 yang ngga pake lift ato eskalator itu.
Iya, yang sekolahnya dipinggir tol itu.
Awalnya sih
cuman nyesek-nyesek ngedengerin mereka nyanyi fales – akhirnya otak kita yang
emang udah korslet entah karna apa jadi mulai mengalami kepulan asap sampe
sankingan desperatenya lagu “Indonesia Raya” mengalami distori jangka panjang
pada bagian reff seperti demikian:
INDONESIA RAYA
KETEKKU KETEMU
BANGSAKU
NEGRIKU YANG KUCINTA
INDONESIA RAYA
KETEKKU KETEKMU
HIDUPLAH KETEK
KITA BERSAMA!
Entah apa yang
terjadi pada bagian verse lagu tersebut – tapi gue sudah mulai merasa cukup
terkutuk udah main seenaknya ngganti-ganti lagu sakral orang even though cuman
pake sesuatu yang “kita banget” di SMA. Pertama: lutut gue jadi ikut-ikutan
bengkak macem lutut Cindy gitu tapi masih lebih mendingan. Kedua: otak gue
brainfreeze jadi pas pelajaran terakhir gue agak-agak pusing kayak nenek-nenek
kemasukan angin malem gitu: langsung sakit.
Tapi ah,
terkadang hidup SMA ini memang terlalu menyenangkan untuk dilupakan. Nanti di
kuliahan mana ada ekstrimis model Minkyu Hans Lius Joha yang berani-beraninya
ke gudang sekolah dan ngobrak-abrik properti. Mana ada dosen seperhatian dan
sepenyayang guru-guru kita di SMA ini. Mana bakal ada lagi kelas yang saling
peduli. Toh, dunia kuliah terkenal dengan semua yang merupakan kebalikan dari
apa yang baru saja gue sebutkan. Nyesek harus ninggalin SMA secepet itu. Tapi
kalo ga, kapan kita bisa dewasa?
Hoewer, here’s
a toast to life and to having the best days of your lives – hopefully living
with no regrets. Thursday was a big dig and Hans will always be the most
authentic distibutor of m8, berhenti grak thingy, ‘eiy bows’ phrase, ninja,
naruto, and so many other stuffs only he can do. He’ll always be our bows
wherever he go (maaf berubah fokus saudara-saudarah. Ailapyugorengtepung). –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar