Jumat, 12 September 2014

le ketek raya



We are always talking about weird shits. Entah gimana caranya ataupun situasinya, ujung-ujungnya pasti ada sesuatu yang ajaib yang bikin otak kita berdua tertiup (woy elah bahasa Indonesianya jelek amat sih gue mau bilang mind blown doang jadi otak tertiup. Butiran debu kali ye). Ya siapa lagi kalo bukan gue sama Cindy? Kita berdua emang pakarnya absurd. Semalem pas di kosan Keran entah kenapa kita jadi ngebahas hal-hal yang bersangkutan dengan SHAH yang ditambahkan dengan kata dasar lainnya (rumus: shah+kata dasar). Eg Shahrini, Shahketek, Shahbunder, Shahapalagiterserah, Shah(enter word), dan SHAHriroti. Hahahah, iya. Sejayus itu emang.
Eh. OH GUE INGET DENG. Awalnya gara-gara digrup 12 IPS si Novi ngirimin foto “Sharingan” deh. LOLOLOLOL. Lanjutannya jadi ide abstrak gue jadi shahri rhoti gitu. Shahrini.
Perbincangan aneh semacem ini bukan tanpa awalan dan akhiran sih sebenernya. And the only alibi I had myself think of is that we – and I mean like all of us in 12 IPS – have had a hard week (every week is a hard one tho. Haha). And the only way to evaporate those stresses are having breaks or free times, which are really rare of time and/or laughing it out while dealing with the hard life itself. 12 IPS chose the second way: laughing AND having breaks.
One of the other stories you’d hear of crazy is probably the fact that both Cindy and I made a new version of our “Indonesia Raya” (our national anthem) and replace the title to “le ketek raya”. This song is highly inspired by our juniors at freshman and sophomore when they were practicing for the weekly assembly the school held every Monday morning downstairs and we were wathcing them dengan khidmat dari lantai 6. Iya, lantai 6 yang ngga pake lift ato eskalator itu. Iya, yang sekolahnya dipinggir tol itu.
Awalnya sih cuman nyesek-nyesek ngedengerin mereka nyanyi fales – akhirnya otak kita yang emang udah korslet entah karna apa jadi mulai mengalami kepulan asap sampe sankingan desperatenya lagu “Indonesia Raya” mengalami distori jangka panjang pada bagian reff seperti demikian:
INDONESIA RAYA KETEKKU KETEMU
BANGSAKU NEGRIKU YANG KUCINTA
INDONESIA RAYA KETEKKU KETEKMU
HIDUPLAH KETEK KITA BERSAMA!
Entah apa yang terjadi pada bagian verse lagu tersebut – tapi gue sudah mulai merasa cukup terkutuk udah main seenaknya ngganti-ganti lagu sakral orang even though cuman pake sesuatu yang “kita banget” di SMA. Pertama: lutut gue jadi ikut-ikutan bengkak macem lutut Cindy gitu tapi masih lebih mendingan. Kedua: otak gue brainfreeze jadi pas pelajaran terakhir gue agak-agak pusing kayak nenek-nenek kemasukan angin malem gitu: langsung sakit.
Tapi ah, terkadang hidup SMA ini memang terlalu menyenangkan untuk dilupakan. Nanti di kuliahan mana ada ekstrimis model Minkyu Hans Lius Joha yang berani-beraninya ke gudang sekolah dan ngobrak-abrik properti. Mana ada dosen seperhatian dan sepenyayang guru-guru kita di SMA ini. Mana bakal ada lagi kelas yang saling peduli. Toh, dunia kuliah terkenal dengan semua yang merupakan kebalikan dari apa yang baru saja gue sebutkan. Nyesek harus ninggalin SMA secepet itu. Tapi kalo ga, kapan kita bisa dewasa?
Hoewer, here’s a toast to life and to having the best days of your lives – hopefully living with no regrets. Thursday was a big dig and Hans will always be the most authentic distibutor of m8, berhenti grak thingy, ‘eiy bows’ phrase, ninja, naruto, and so many other stuffs only he can do. He’ll always be our bows wherever he go (maaf berubah fokus saudara-saudarah. Ailapyugorengtepung). –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar