Sabtu, 20 September 2014

Anonim



“Tapi gue bingung deh sama cewe Kyu.” Kata gue ngga nyambung ketika gue sedang dalam perjalanan pulang dengan dia, salah satu teman yang paling gue segani untuk urusan bertukar pikiran.
“Ya, maksud gue, gue masih cewe sih, tapi gimana sih. Kenapa cewe-cewe kita tuh masih harus risih banget bawa pembalut doang dari kelas ke kamar mandi. Takut banget ketawan bawa pembalut kaya pembalut tuh apaan aja. Kan lu pada juga udah tau lah masalah menstruasi gitu-gitu, ga bakalan kaya diledekin ato diapain aja kan kalo ketawan bawa.” Lanjut gue nyerocos.
Dia cuman nanggepin dengan cerita waktu dia ke gunung dan salah satu cewe yang ikut lagi ‘dapet’ trus yang lain disuruh keluar pas dia ganti dan mereka juga ngga masalah sama itu.
Ya gitu deh. Manusia emang suka aneh. Dan sebagai salah satu bagian dari kata “manusia” itu gue harus mengakui bahwa gue juga memiliki keanehan gue sendiri – sebagaimana gue merasa paling nyaman kalo lagi belajar dikamar gue sendiri dan bukan ditempat lain, ato gimana gue berpikir bahwa seseorang itu terlalu risihan sama sesuatu yang emang semua orang udah tau tentang perbedaan antara cewe sama cowo. Coba gini deh: apa bedanya lu di kelas bawa-bawa pembalut sama lu bilang ke salah satu cowo kalo dia lagi dapet? Messagenya sama aja kan? Bedanya cuman tersurat sama tersirat. Yaudah, terus? Kenapa harus risih?
Itu adalah salah satu kegelisahan ngga penting yang gue pengen bahas karna gue temukan aneh aja.
Next on topic was life purpose. Well, bukan life purpose juga sih. Tapi gue memiliki satu keanehan ini dimana gue suka banget mengetahui definisi kehidupan seseorang – faedah kehidupan masing-masing orang yang berbeda. Cara mereka mandang gaya hidup yang harus mereka jalani saat ini sebagai anak muda maupun orang tua, sih lebih tepatnya.
Ada temen gue yang nganggap bahwa semuanya itu possible sampe tempurung lulut dia geser dan dia ngga bisa pursue cita-cita dia sebagai pemain bola profesional.
Ada temen gue yang mau cepet-cepet dewasa supaya bisa kawin dan punya keluarga bahagianya sendiri.
Ada temen gue yang mau memaksimalkan masa muda dia dengan yang rusak-rusaknya supaya nanti kalo dia ngga jatoh separah itu lagi ketika dia udah punya keluarga.
Ada yang pasrah aja sama kehidupan ini karna ya emang cara berpikir dia begitu – ngga perlulah masa depan dipikirin jauh-jauh toh yang harus dihidupi juga masa sekarang.
Ada temen gue yang yang sankingan udah menagalami the thinnest thin of life jadi ngga merasa bahwa dalam hidup ini ada yang perlu dijaga terlalu over lagi jadi ya kalo bukan karna bokap dan sahabatnya mungkin dia bakal udah free sex dan attempt buat bunuh diri. Dan dia sendiri ngga nutupin fakta itu mengenai dia.
Gue ngga bisa bilang bener atau salah tentang cara pandang temen-temen gue ini mengenai hidup. Mereka berhak atas hidup mereka dan gue juga bukan yang paling bener – malah gue harus mengakui bahwa guelah yang paling masih labil diantara mereka semua. Gue belom nemuin apa yang menjadi pandangan tentang apa yang gue ingin lakukan. Nantinya semua akan balik lagi kepada soal sudut pandang orang lain terhadap hidup kita – mau searah atau engga. Gue masih belajar dari mereka-mereka ini dan ngambil alternatif terbaik dari setiap jawaban mereka.
Tapi inilah gue. Gue yang cinta banget sama Indonesia karna ditularin oleh Bang Pandji Pragiwaksono melalui buku dan lagunya; yang pernah ngerasain sakitnya ngeliat anak muda bangsa ngga kasih yang terbaik ketika pujian penyembahan di gereja; yang pengen ngerusakin diri sendiri tapi masih lebih menjunjung tinggi aturan dan norma; yang mikirin secara berlebihan apa pandangan orang lain tentang gue; yang pengen jadi orang yang membawa perubahan tapi entah perubahan apa yang harus dijalani; yang sebenernya takut ngeliat perubahan zaman yang terlalu jahat tapi selalu merencanakan masa depan seakan dunia ini bertambah baik. It’s weird that I can see through people’s mask so easily but I had a hard time discovering myself. Dan kalo bukan waktu itu salah satu mami angkat gue yang bilang bahwa gue punya satu hal ini, gue ngga akan sadar bahwa gue memiliki karisma yang seringkali gue agung-agungkan dari sosok seorang Soekarno. Ternyata gue memiliki salah satu pembuluh darah yang mengalir dalam tubuhnya. Gue memang bukan orang yang seberani ataupun sesosialis itu – tapi gue pengen mencoba.
Ketika orang lain menimpali kisah teman-teman gue dengan kalimat-kalimat himbauan, gue hanya akan mendengarkan dahulu sampai kisah mereka selesai dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan selipan diantara kisah mereka. Gue lebih tertarik ketika mereka dapat mendapatkan sendiri jawaban mereka dari bercerita dengan gue. Gue senang mendengarkan kisah mereka – karena kisah mereka berarti sebuah pengorbanan yang harus mereka lakukan untuk terus bernafas. Gue senang mendengarkan mereka, karena gue merasa bisa percaya bahwa keberadaan gue diperhitungkan. Gue senang mendengarkan kisah mereka karna gue yakin bahwa suatu hari nanti mereka dapat membaca kembali kisah dalam entri ini dan mengetahui betapa kisah mereka telah membawa dampak bagi gue dan dampak tersebut adalah dampak yang patut gue perhitungkan sebagai pembawa perubahan signifikan ketika gue menemukan tujuan masa muda gue. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar