Kemarin ketika
akhirnya gue masuk kedalam ruangan itu, gue sedang ditanyakan pertanyaan kedua
gue. Gue ditanyain oleh penguji kira-kira konsentrasi gue di ilkom nanti mau
apa dari antara IMC, PR, atau broadcast; apakah gue sudah memiliki bayangan atau
belum mengenai hal tersebut. Yang keluar dari bahasa tubuh dan mulut gue adalah
sebuah anggukan cepat dan senyuman yang disertai kalimat yang cukup formal dari
“iya, udah tau kok. Pengen konsentrasi di bidang broadcasting journalism”
padahal dalam hati gue udah teriak kesenengan karena gue lagi-lagi bisa
ngejawab pertanyaan yang dilemparkan oleh penguji.
Namanya entah
kak Dian atau Diana gue lupa; seorang wanita usia 30an dengan make up natural
dan kostum lazim penginterview dengan atasan putih formal dan rok span pendek.
Rambutnya ikal pertanda dirinya menyiapkan diri hampir sekitar satu jam setiap
pagi – entah kategori ‘pagi’ itu pukul berapa baginya.
Dapat gue
pastikan sekarang bahwa semua anak yang diinterview akan memiliki jawaban
berbeda sebagaimana penguji yang berbeda memberikan pertanyaan berbeda walaupun
outline pertanyaan mereka mungkin sama sebagian besar waktu. Dan bahkan dengan
penguji yang sama pun ia dapat memberikan pertanyaan yang bebeda untuk tiap
siswa berbeda. Sebagaimana untuk gue, pertanyaan-pertanyaan dari penguji gue
adalah pertanyaan-pertanyaan yang menurut gue dapat gue jawab dengan sangat
percaya diri dan nyaman karena gue mengetahui seluruh jawaban dari
pertanyaannya dengan hati gue.
Jika kalian
menanyakan mengenai adakah penyesalan dari jawaban-jawaban yang gue berikan
ketika interview tersebut berjalan, gue akan menjawab ya karena ada 2 jawaban
yang menurut gue gue kurang berhasil dalam segi penyampaian maupun jawaban dari
pertanyaan itu sendiri. Pertanyaan tersebut adalah mengenai mengapa gue memilih
untuk masuk jurusan ilkom (motivasi dasar gue sebagai mahasiswi prospektif) dan
juga apakah gue merasa nyaman dan percaya diri dengan bahasa Inggris gue jika
gue harus menggunakannya untuk berbicara. Namun jikalau harus, gue mungkin akan
meminta perputaran waktu agar gue dapat mengulang interview gue kembali. Namun
jika tidak, yah, gue dapat mengatakan bahwa sebenarnya gue sudah puas dengan
hasil wawancara gue sendiri. Gue bisa cukup berbangga menjadi salah satu
earliest prospective students yang dipanggil untuk interview.
Sekarang hal
harus gue lakukan hanyalah menunggu lagi hingga waktu pengumuman kelulusan
interview gue dan awal karier gue didunia perkuliahan nanti. Tau kapan? Oktober
2014. 1 bulan dari sekarang. Yah, gue rasa dunia ini memang senang membuat yang
hidup didalamnya menunggu sesuatu yang sebenarnya tidak pasti. Yah, apalah yang
dapat gue lakukan juga kan selain menunggu, berdoa, dan melakukan kehidupan
sehari-hari sembari mengisi waktu. Sama seperti ketika gue masih harus menunggu
satu bulan untuk keterlibatan gue pada camp dan bertemu dengan dirinya adalah
sama dengan penantian ini yang mengharuskan gue mengalihkan pikiran kepada hal-hal
lain.
Gue memiliki
sedikit keuntungan dengan personality gue yang mudah untuk memberikan impresi
yang baik pada awal setiap tahapan perkenalan gue dengan orang lain disekitar
komunitas gue serta fakta bahwa nyokap bokap gue bisa membantu gue banyak
karena komunitas gereja keluarga gue serta pengalaman kerja nyokap gue 20 tahun
di grup. Namun untuk urusan interview ini, gue rasa bagian terbaik gue adalah
hanya untuk menyebutkan sebagian dari keseluruhan fakta yang ada seperti nama
sebuah majas dengan arti yang sama: pars pro toto.
Gue berharap
hari kemarin akan membawa faedah yang baik untuk penerimaan beasiswa gue
sementara gue hanya dapat menunggu dengan kegelisahan yang tidak dapat gue
pungkiri gue rasakan. Dan untuk itu, sampai menunggu hasilnya bulan depan. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar