Sabtu, 13 September 2014

Intahviewh Pt.2

Kemarin ketika akhirnya gue masuk kedalam ruangan itu, gue sedang ditanyakan pertanyaan kedua gue. Gue ditanyain oleh penguji kira-kira konsentrasi gue di ilkom nanti mau apa dari antara IMC, PR, atau broadcast; apakah gue sudah memiliki bayangan atau belum mengenai hal tersebut. Yang keluar dari bahasa tubuh dan mulut gue adalah sebuah anggukan cepat dan senyuman yang disertai kalimat yang cukup formal dari “iya, udah tau kok. Pengen konsentrasi di bidang broadcasting journalism” padahal dalam hati gue udah teriak kesenengan karena gue lagi-lagi bisa ngejawab pertanyaan yang dilemparkan oleh penguji.
Namanya entah kak Dian atau Diana gue lupa; seorang wanita usia 30an dengan make up natural dan kostum lazim penginterview dengan atasan putih formal dan rok span pendek. Rambutnya ikal pertanda dirinya menyiapkan diri hampir sekitar satu jam setiap pagi – entah kategori ‘pagi’ itu pukul berapa baginya.
Dapat gue pastikan sekarang bahwa semua anak yang diinterview akan memiliki jawaban berbeda sebagaimana penguji yang berbeda memberikan pertanyaan berbeda walaupun outline pertanyaan mereka mungkin sama sebagian besar waktu. Dan bahkan dengan penguji yang sama pun ia dapat memberikan pertanyaan yang bebeda untuk tiap siswa berbeda. Sebagaimana untuk gue, pertanyaan-pertanyaan dari penguji gue adalah pertanyaan-pertanyaan yang menurut gue dapat gue jawab dengan sangat percaya diri dan nyaman karena gue mengetahui seluruh jawaban dari pertanyaannya dengan hati gue.
Jika kalian menanyakan mengenai adakah penyesalan dari jawaban-jawaban yang gue berikan ketika interview tersebut berjalan, gue akan menjawab ya karena ada 2 jawaban yang menurut gue gue kurang berhasil dalam segi penyampaian maupun jawaban dari pertanyaan itu sendiri. Pertanyaan tersebut adalah mengenai mengapa gue memilih untuk masuk jurusan ilkom (motivasi dasar gue sebagai mahasiswi prospektif) dan juga apakah gue merasa nyaman dan percaya diri dengan bahasa Inggris gue jika gue harus menggunakannya untuk berbicara. Namun jikalau harus, gue mungkin akan meminta perputaran waktu agar gue dapat mengulang interview gue kembali. Namun jika tidak, yah, gue dapat mengatakan bahwa sebenarnya gue sudah puas dengan hasil wawancara gue sendiri. Gue bisa cukup berbangga menjadi salah satu earliest prospective students yang dipanggil untuk interview.
Sekarang hal harus gue lakukan hanyalah menunggu lagi hingga waktu pengumuman kelulusan interview gue dan awal karier gue didunia perkuliahan nanti. Tau kapan? Oktober 2014. 1 bulan dari sekarang. Yah, gue rasa dunia ini memang senang membuat yang hidup didalamnya menunggu sesuatu yang sebenarnya tidak pasti. Yah, apalah yang dapat gue lakukan juga kan selain menunggu, berdoa, dan melakukan kehidupan sehari-hari sembari mengisi waktu. Sama seperti ketika gue masih harus menunggu satu bulan untuk keterlibatan gue pada camp dan bertemu dengan dirinya adalah sama dengan penantian ini yang mengharuskan gue mengalihkan pikiran kepada hal-hal lain.
Gue memiliki sedikit keuntungan dengan personality gue yang mudah untuk memberikan impresi yang baik pada awal setiap tahapan perkenalan gue dengan orang lain disekitar komunitas gue serta fakta bahwa nyokap bokap gue bisa membantu gue banyak karena komunitas gereja keluarga gue serta pengalaman kerja nyokap gue 20 tahun di grup. Namun untuk urusan interview ini, gue rasa bagian terbaik gue adalah hanya untuk menyebutkan sebagian dari keseluruhan fakta yang ada seperti nama sebuah majas dengan arti yang sama: pars pro toto.
Gue berharap hari kemarin akan membawa faedah yang baik untuk penerimaan beasiswa gue sementara gue hanya dapat menunggu dengan kegelisahan yang tidak dapat gue pungkiri gue rasakan. Dan untuk itu, sampai menunggu hasilnya bulan depan. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar