Senin, 12 Mei 2014

The Next 25 Year’s list



The first “Gloria’s 25 years timeline” was when I was in elementary school; kelas 4 SD kalo ga salah. Waktu gue SD dulu, I made this with no pain at all. Karena gue tau gue masih punya kewajiban untuk belajar selama at least 7 taun kedepan belom ditambahin kuliah, gue ngga takut bermimpi. Gue ngga ngasal juga bikinnya: gue niat pas gue bilang dulu gue kepengen jadi guru.
After that day, gue ngga pernah bikin hal semacam itu sampe gue nemu portfolio that contains that timeline when I was in year 9. So there that was: I made another one that day. Hari itu pembuatan timeline juga masih gampang karena gue belom penjurusan IPA ato IPS disekolah – gue UN kelulusan SMP aja belom – jauh banget rasanya. Makanya cita-cita gue juga masih bisa gue bikin unrealistic even though I feel like it is so close to me that I can reach it with my hand.
This morning I made my third timeline. Setelah 4 taun, ternyata banyak yang berubah. When I thought nothing changed, a lot did. Hell damn a lot of sheez changed. Isi timeline gue yang dulu bisa sangat-sangat sesuai keinginan gue sekarang terpaksa gue paksa masuk kedalam sebuah “kotak” yang menurut gue mampu menampung semua kemampuan dan kreativitas gue. As I grew to discover myself beberapa taun terakhir ini, gue merasa harus terpaksa mengkotakkan apa yang pernah gue impikan dan menganggapnya ngga mungkin terjadi. Lebih tragisnya lagi, gue harus memaksa diri gue menganggap bahkan seperti cita-cita itu ngga pernah ada
My future seems worse than what it was in the few years back.
Gue dulu bisa cita-cita masuk UI. Sekarang realitanya UPH adalah pilihan terjauh sekaligus terdekat gue. Dulu gue yakin banget kalo psikologi adalah passion dan tujuan pekerjaan gue dimasa depan. Sekarang, jurnalistik menjadi pilihan nomer 1 gue, “terpaksa” mengikuti saran yang teman-teman gue dari SMP anjurkan untuk gue ambil. Dulu gue kira mungkin ngelewatin segala hal yang adalah ‘batasan’ bagi gue. Sekarang, walaupun gue masih muda, gue merasa ngga seberani itu melewati batas mimpi gue. Gue masi punya cita-cita – tapi gue sekarang ngga yakin bahwa cita-cita gue bakal kesampean. Mimpi gue juga masih ada; tapi saat ini ia harus hanya diam dialam bawah sadar gue dan menanti sampai saat yang tepat untuk keluar – entah kapan waktu itu sebenernya bakal dateng.
What made me feel so crappy and useless bikin timeline bukan bahwa cita-cita dan mimpi gue harus ‘masuk kotak’, tapi adalah fakta bahwa hidup gue 25 tahun dari sekarang kok ngga seberbobot ketika gue bikin timeline ini 7 tahun lalu. Kok gue ngga ngerasa sepuas itu ketika gue nulis apa yang akan gue capai dalam kurun waktu 25 tahun; semuanya sekarang cuman diisi sama kuliah – 5 taun sekolah lagi terus sisanya diisi dengan kerja kerja dan kerja. Kenapa rasanya hidup ini bener-bener jadi ngga berbobot lagi. I somehow feel useless as a human being: I want to do so much more both for God and my country. But what, why, and how? It’s just my deepest grief when I can’t fix something I can’t see or fixing something I get used to living everyday that I didn’t even realize it was more than just a scar.
It is too painful.
I don’t know if I ever want to make another timeline if this desperation feeling is what it brought me. But if I didn’t make it, 4 years has been quite sometime to say that nothing much has happened either. Gue masih ngga yakin pengen menjalani hidup “sana sini kerja” – even if it means living my ultimate passion in journalism life. I don’t honestly know. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar