The first “Gloria’s 25 years
timeline” was when I was in elementary school; kelas 4 SD kalo ga salah. Waktu
gue SD dulu, I made this with no pain at all. Karena gue tau gue masih punya
kewajiban untuk belajar selama at least 7 taun kedepan belom ditambahin kuliah,
gue ngga takut bermimpi. Gue ngga ngasal juga bikinnya: gue niat pas gue bilang
dulu gue kepengen jadi guru.
After that day, gue ngga pernah
bikin hal semacam itu sampe gue nemu portfolio that contains that timeline when
I was in year 9. So there that was: I made another one that day. Hari itu
pembuatan timeline juga masih gampang karena gue belom penjurusan IPA ato IPS
disekolah – gue UN kelulusan SMP aja belom – jauh banget rasanya. Makanya
cita-cita gue juga masih bisa gue bikin unrealistic even though I feel like it
is so close to me that I can reach it with my hand.
This morning I made my third
timeline. Setelah 4 taun, ternyata banyak yang berubah. When I thought nothing
changed, a lot did. Hell damn a lot of sheez changed. Isi timeline gue yang dulu bisa
sangat-sangat sesuai keinginan gue sekarang terpaksa gue paksa masuk kedalam
sebuah “kotak” yang menurut gue mampu menampung semua kemampuan dan kreativitas
gue. As I grew to discover myself beberapa taun terakhir ini, gue merasa harus
terpaksa mengkotakkan apa yang pernah gue impikan dan menganggapnya ngga
mungkin terjadi. Lebih tragisnya lagi, gue harus memaksa diri gue menganggap bahkan seperti cita-cita itu ngga pernah
ada
My future seems worse than what it was in the few years back.
Gue dulu bisa cita-cita masuk UI.
Sekarang realitanya UPH adalah pilihan terjauh sekaligus terdekat gue. Dulu gue
yakin banget kalo psikologi adalah passion dan tujuan pekerjaan gue dimasa
depan. Sekarang, jurnalistik menjadi pilihan nomer 1 gue, “terpaksa” mengikuti saran
yang teman-teman gue dari SMP anjurkan untuk gue ambil. Dulu gue kira mungkin
ngelewatin segala hal yang adalah ‘batasan’ bagi gue. Sekarang, walaupun gue
masih muda, gue merasa ngga seberani itu melewati batas mimpi gue. Gue masi
punya cita-cita – tapi gue sekarang ngga yakin bahwa cita-cita gue bakal
kesampean. Mimpi gue juga masih ada; tapi saat ini ia harus hanya diam dialam
bawah sadar gue dan menanti sampai saat yang tepat untuk keluar – entah kapan
waktu itu sebenernya bakal dateng.
What made me feel so crappy and
useless bikin timeline bukan bahwa cita-cita dan mimpi gue harus ‘masuk kotak’,
tapi adalah fakta bahwa hidup gue 25 tahun dari sekarang kok ngga seberbobot
ketika gue bikin timeline ini 7 tahun lalu. Kok gue ngga ngerasa sepuas itu ketika
gue nulis apa yang akan gue capai dalam kurun waktu 25 tahun; semuanya sekarang
cuman diisi sama kuliah – 5 taun sekolah lagi terus sisanya diisi dengan kerja
kerja dan kerja. Kenapa rasanya hidup ini bener-bener jadi ngga berbobot lagi.
I somehow feel useless as a human being: I want to do so much more both for God
and my country. But what, why, and how? It’s just my deepest grief when I can’t
fix something I can’t see or fixing something I get used to living everyday
that I didn’t even realize it was more than just a scar.
It is too painful.
I don’t know if I ever want to make
another timeline if this desperation feeling is what it brought me. But if I
didn’t make it, 4 years has been quite sometime to say that nothing much has
happened either. Gue masih ngga yakin pengen menjalani hidup “sana sini kerja”
– even if it means living my ultimate passion in journalism life. I don’t
honestly know. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar