Minggu, 04 Mei 2014

Kebebasan & Pacaran



Lambat laun waktu itu akan datang – waktu yang kurang lebih satu setengah tahun dari sekarang akan tiba. Waktu itu adalah kesempatan baru lagi untuk gue mulai mengenal sesosok pria sedikit lebih jauh; waktu ‘kebebasan’ gue; waktu dimana gue akan tetap harus bisa menyeimbangkan antara perguruan tinggi, magang, dan keluarga. Ngga ngga, sebenernya inti dari semua ini adalah kesempatan untuk lebih ngga dikejer-kejer waktu ngafalin buku cetak dari a-z otak nemplok ke panggangan gitu lagi. Nanti semuanya itu akan didasari oleh gabungan pengetahuan, pengalaman, dan murni ilmu kesotoyan yang gue miliki. Cukup segitu aja.
Gue menyadari bahwa pilihan gue untuk jomblo selama sisa masa SMA gue adalah pilihan terbaik yang pernah gue ambil (walaupun gue juga ngga nyesel dulu pernah pacaran. Kan gue jadi tau apa yang gue bisa harapkan dari dunia percintaan serta resiko-resiko keretakannya). Saran yang banyak orangtua bilang kalo anaknya baru diputusin pacarnya adalah prinsip pacaran yang gue pegang teguh sampe hari masuk kuliah tiba nanti: masih ada banyak ikan di laut. Iya, prospek gue akan sangat besar dibawah jurusan yang gue ambil nanti. Jurusan gue adalah jaminan yang sangat bagus. Yes. Gue bahagia.
“Kebebasan” juga menjadi hal yang krusial bagi gue - walaupun “kebebasan” yang gue maksudkan bukanlah kebebasan untuk merusak hidup gue yang sudah terlampau indah ini menjadi labil-labil menggalaukan. Gimana mau rusak coba, orang belom rusak aja udah labil-labil gini kok. Bedanya adalah, gue ngga suka bikin orang galau. Bercanda ah. “Kebebasan” bagi gue adalah pilihan yang bisa gue ambil sendiri tanpa ambil pusing komentar orangtua gue untuk pacaran, pilihan makan siang yang luas, main hape dikelas kalo udah lagi males dengerin dosen, kalo nongkrong kaki kanan yang naik ato kaki kiri yang naik ke atas bangku, maupun kebebasan untuk mau pake atasan yang sama setiap 2 hari sekali ngga bakalan ada yang perduliin. Kebebasan yang, walaupun ngga terlihat besar mampu membuat gue ngerasa lebih “hidup” kebanding jaman gue SMA sekarang yang semua-muanya masih dibatasi oleh 2 instansi krusial dalam setiap anak remaja: keluarga dan sekolah.
Gue juga setidaknya jadi punya waktu yang lebih benyak untuk magang, pelayanan, dan makan es krim banyak-banyak karena anak kuliahan ngeles pelajaran itu terlalu cupu. Gue jadi bisa terpaksa belajar bahasa asing dan magang di Jakarta, deh. Macet sih, tapi demi cita-cita mah apapun juga jadi. Gue jadi bisa lebih banyak menyibukkan diri untuk memperlengkapi rohani gue selain daripada pengetahuan umum.
Mulai saat itu gue akan memiliki kesempatan yang harus dimulai dari nol lagi sama lebar sama luas dengan 19 manusia lain yang secara acak mendarat di kelas 11 IPS– segelap ketika harus milih mau masuk SMA mana dan penjurusan apa di kelas 2. Kita semua bakal punya pilihan lautan sejagad untuk universitas mana yang ingin kita taklukkan serta dengan jurusan apapun yang setiap kita minati. Dunia yang lebih luas, spesifik, nan sadis namun penuh petualangan akhirnya harus siap kita tempuh dalam waktu beberapa saat. Semuanya terasa seperti berada dalam film Divergent dimana kita harus menunggu usia 18 tahun tersebut untuk memilih faksi mana yang akan menjadi “rumah” kita kemudian. Jika tidak bisa bertahan, pilihan terahir hanyalah menjadi “gelandangan”. Atau seperti pada film Hunger Games, ketika kita sudah terpilih untuk mewakili distrik kita dan kita terpaksa harus mengambil resiko hidup atau mati demi sebutir apel. Semuanya pertaruhan.
Namun AKHIRNYA, saudara-saudara, Gloria Ernita mau tidak mau akan menapak langkah pertama kedalam dunia yang pahit dan gelap itu – apalagi kalo ada Stefan sama Jacob disebelah kanan kirinya: pasti jadi lebih pekat gelapnya. HAHAHAHAHA gue ngga setega itu, ah.
Sebelum waktu itu datang, gue berjanji akan menikmati setiap detik waktu yang tersisa didunia abu-abu ini. Ngga bisa lagi gue kembali ke dunia abu-abu ketika pilihan gue sudah jatuh terlalu dalam pada pusaran yang salah. Dan nanti ketika sudah waktunya, gue berjanji akan menjadi manusia yang paling bertanggung jawab atas pilihan-pilihan gue. Nanti, masa-masa monyet-monyetan karet akan sudah berkurang jauh walapun tidak akan pernah bisa hilang sampai memutih rambut gue. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar