Lambat laun waktu itu akan datang –
waktu yang kurang lebih satu setengah tahun dari sekarang akan tiba. Waktu itu
adalah kesempatan baru lagi untuk gue mulai mengenal sesosok pria sedikit lebih
jauh; waktu ‘kebebasan’ gue; waktu dimana gue akan tetap harus bisa
menyeimbangkan antara perguruan tinggi, magang, dan keluarga. Ngga ngga,
sebenernya inti dari semua ini adalah kesempatan untuk lebih ngga dikejer-kejer
waktu ngafalin buku cetak dari a-z otak nemplok ke panggangan gitu lagi. Nanti
semuanya itu akan didasari oleh gabungan pengetahuan, pengalaman, dan murni
ilmu kesotoyan yang gue miliki. Cukup segitu aja.
Gue menyadari bahwa pilihan gue
untuk jomblo selama sisa masa SMA gue adalah pilihan terbaik yang pernah gue
ambil (walaupun gue juga ngga nyesel dulu pernah pacaran. Kan gue jadi tau apa
yang gue bisa harapkan dari dunia percintaan serta resiko-resiko keretakannya).
Saran yang banyak orangtua bilang kalo anaknya baru diputusin pacarnya adalah
prinsip pacaran yang gue pegang teguh sampe hari masuk kuliah tiba nanti: masih
ada banyak ikan di laut. Iya, prospek gue akan sangat besar dibawah jurusan
yang gue ambil nanti. Jurusan gue adalah jaminan yang sangat bagus. Yes. Gue
bahagia.
“Kebebasan” juga menjadi hal yang
krusial bagi gue - walaupun “kebebasan” yang gue maksudkan bukanlah kebebasan
untuk merusak hidup gue yang sudah terlampau indah ini menjadi labil-labil
menggalaukan. Gimana mau rusak coba, orang belom rusak aja udah labil-labil
gini kok. Bedanya adalah, gue ngga suka bikin orang galau. Bercanda ah. “Kebebasan”
bagi gue adalah pilihan yang bisa gue ambil sendiri tanpa ambil pusing komentar
orangtua gue untuk pacaran, pilihan makan siang yang luas, main hape dikelas
kalo udah lagi males dengerin dosen, kalo nongkrong kaki kanan yang naik ato
kaki kiri yang naik ke atas bangku, maupun kebebasan untuk mau pake atasan yang
sama setiap 2 hari sekali ngga bakalan ada yang perduliin. Kebebasan yang,
walaupun ngga terlihat besar mampu membuat gue ngerasa lebih “hidup” kebanding
jaman gue SMA sekarang yang semua-muanya masih dibatasi oleh 2 instansi krusial
dalam setiap anak remaja: keluarga dan sekolah.
Gue juga setidaknya jadi punya
waktu yang lebih benyak untuk magang, pelayanan, dan makan es krim
banyak-banyak karena anak kuliahan ngeles pelajaran itu terlalu cupu. Gue jadi
bisa terpaksa belajar bahasa asing dan magang di Jakarta, deh. Macet sih, tapi
demi cita-cita mah apapun juga jadi. Gue jadi bisa lebih banyak menyibukkan
diri untuk memperlengkapi rohani gue selain daripada pengetahuan umum.
Mulai saat itu gue akan memiliki
kesempatan yang harus dimulai dari nol lagi sama lebar sama luas dengan 19
manusia lain yang secara acak mendarat di kelas 11 IPS– segelap ketika harus
milih mau masuk SMA mana dan penjurusan apa di kelas 2. Kita semua bakal punya
pilihan lautan sejagad untuk universitas mana yang ingin kita taklukkan serta
dengan jurusan apapun yang setiap kita minati. Dunia yang lebih luas, spesifik,
nan sadis namun penuh petualangan akhirnya harus siap kita tempuh dalam waktu
beberapa saat. Semuanya terasa seperti berada dalam film Divergent dimana kita
harus menunggu usia 18 tahun tersebut untuk memilih faksi mana yang akan
menjadi “rumah” kita kemudian. Jika tidak bisa bertahan, pilihan terahir
hanyalah menjadi “gelandangan”. Atau seperti pada film Hunger Games, ketika
kita sudah terpilih untuk mewakili distrik kita dan kita terpaksa harus
mengambil resiko hidup atau mati demi sebutir apel. Semuanya pertaruhan.
Namun AKHIRNYA, saudara-saudara,
Gloria Ernita mau tidak mau akan menapak langkah pertama kedalam dunia yang
pahit dan gelap itu – apalagi kalo ada Stefan sama Jacob disebelah kanan
kirinya: pasti jadi lebih pekat gelapnya. HAHAHAHAHA gue ngga setega itu, ah.
Sebelum waktu itu datang, gue
berjanji akan menikmati setiap detik waktu yang tersisa didunia abu-abu ini.
Ngga bisa lagi gue kembali ke dunia abu-abu ketika pilihan gue sudah jatuh
terlalu dalam pada pusaran yang salah. Dan nanti ketika sudah waktunya, gue
berjanji akan menjadi manusia yang paling bertanggung jawab atas
pilihan-pilihan gue. Nanti, masa-masa monyet-monyetan karet akan sudah
berkurang jauh walapun tidak akan pernah bisa hilang sampai memutih rambut gue.
–red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar