Ada suatu ketika gue jatuh cinta
kepada seorang pria yang entah hati ini kenal darimana. Hari itu gue tak
sengaja bertemu dengannya yang kemudian menjadi inisiatif awal perkenalan lama
gue terhadap kata ‘cinta’. Gue ngga pernah lupa rasanya dicintai seseorang yang
juga mencintai gue begitu dalam. Tapi yang justru gue lupakan adalah betapa
sakit yang rasa cinta itu timbulkan ketika luka lama yang gue kira sudah sembuh
ternyata masih menganga lebar dan tergores lagi.
Langit oranye kelabu menghiasi luar
kaca kamar gue; membuat gue yang belakangan ini sering termenung menjadi makin
jauh jatuh dalam lamunan. Dipemikirian gue masih terbesit mengenai dia: apa
yang dia lakukan, mengapa ini terjadi, apa yang seharusnya bisa gue lakukan
untuk memperbaiki hubungan kita, mengapa cinta bisa begitu tega meninggalkan
gue dengan luka yang kembali menoda. Bukan cuman gue gue rasa yang memiliki
pemikiran bahwa pacar kita yang sekarang adalah pacar terbaik yang pernah kita
milki dan kita berikan harapan tulus untuk dijadikan pendamping hidup masa
depan. Seiring berjalannya waktu dan terlukanya kembali hati ini barulah kita
merasa bahwa sepertinya bukan dia. Pemikiran “ah kayaknya bukan dia deh. Eh,
atau apa memang dia, ya?” membuat kita terus berusaha berpegang pada jangkar
yang sudah nyaris naik kembali ke permukaan pasir; sesuatu yang seharusnya
tertanam lebih dalam dan berakar daripada hanya sekedar gundukan “pasir”.
Dulu waktu gue masih lebih muda
nyokap gue sering ngomong bahwa ketika rasa cinta itu udah hilang, yang dapat
mempertahankan hubungan kita dengan pasangan hanyalah komitmen dan rasa kasih
sayang – yang sayangnya harus kandas bahkan sebelum masuk ke jenjang pernikahan
itu sendiri. Gue ngerti sih omongan nyokap bertahun-tahun lalu ini; tapi baru
sekarang gue menjalaninya sendiri. Gue jadi ngga yakin bahwa suatu hari nanti
gue bakalan bisa menemukan seorang manusia lain yang bisa menjadi pelengkap dan
pendamping seumur hidup gue kalo kenyataannya sebagian besar
manusia-setengah-setan ini semuanya seperti dia: bagaikan kacang lupa kulit.
Apa ini salah gue yang kurang
mengapresiasi dia, gue ngga tau. Gue udah nunjukkin ke dia bahwa dia berharga
buat gue. Gue udah bilang bahwa gue bakal nunggu lama buat resiko yang melebihi
bayangan masa depan yang akan gue jalani. Dia juga udah selalu nunjukkin ke gue
bahwa gue emang sepatutnya dihargai sebagai wanita yang memiliki harga diri dan
harkat martabat seorang Kartini. Gue percaya sama dia. Kita udah bertahan
sejauh ini, terus apa lagi yang kurang sih? Waktu dan jarak ngga sepatutnya menjadi
kandasnya semua hubungan yang udah susah-susah kita bangun. Alasan yang kita
tau udah basi banget masih aja ditawarin ke calon mantan. Betapa jahat.
Perlahan-lahan, gue memutar kepala
gue kesamping – diam-diam menghapus linangan air mata yang jatuh perlahan dari
sudut mata. Gue kangen sama masa-masa menyenangkan yang kita udah lalu berdua;
gimana pasti selalu ada orang ketiga yang ikut kalo kita lagi nge-date, gimana
dia selalu nanyain gue mau es krim atau engga sederhananya karena dia tau gue
lebih seneng dibeliin es krim daripada baju-baju mahal, gimana tempat nongkrong
kita yang paling asik adalah McDonalds 24-jam deket rumah, dan terutama gimana
kalo emang kita bener-bener ngga mau ada yang tau kita pergi kemana adalah
rumah dia yang lama yang memiliki atap yang bisa kita naiki dengan aman dan kita
akan duduk berduaan disana. Semuanya rasanya indah banget. Sejujurnya baru kali
ini gue berani menjelajahi kembali masa-masa dalam sebuah hubungan bersama
seorang pria. Untuk waktu-waktu sebelumnya yang menyakitkan, gue bukanlah seorang
petualang yang pemberani.
Sekarang dia udah jalan sama cewek
lain – seorang cewek yang gue kenal karena dia adalah teman lama satu sekolah
gue. Dia ngga pernah bilang apa-apa ke gue soal hubungannya ini. Wajar, bukan
salah dia kalo dia mau merahasiakan hubungannya yang sekarang kepada dunia. Mungkin
ini bukan kesalahan gue ataupun kesalahan dia kita putus. Kita udah berusaha
keras untuk bertahan tapi gagal. Mungkin seharusnya emang dia jodoh gue. Tapi
emang kita aja yang kebelet buat pacaran duluan – melangkahi rencana sang
empunya waktu untuk menjalin hubungan. Cangkang kita udah ngga nyaman untuk
satu sama lain – semuanya sesederhana itu.
Gue menyadari bahwa pacaran sama
gue selalu memiliki motif yang sama. Dan sebagaimanapun gue berusaha untuk
membangun percaya diri gue karena kehadirannya, gue ngga akan bisa begitu
didepan teman-teman gue sendiri. Gue tau ngga semua orang yang pacaran itu
bahagia dan ngga selamanya nge-jomblo itu sedih. Gue pernah tanya sama temen
gue gimana rasanya jadi dia kalo lagi pacaran – tapi dia selalu menjawab bahwa
jangan pernah gue sampe mau jadi dia – pacarannya cuman kulitnya aja yang
keliatan bahagia. Isinya ngga sebahagia kulitnya yang halus.
Seiring dengan turunnya malam, gue
mulai kembali menyibukkan pemikiran gue dengan sesuatu yang lebih berarti – berusaha
menepis pemikiran gue mengenai dia, walaupun adalah hal yang manis. Gue harus
bisa membuat diri gue mengerti bahwa sudah cukup jauh gue melangkah ditemani
bersamanya – bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk gue kembali berjalan
sendiri dan mengembalikan kekuatan diri seorang gue. Sekarang setelah ia tiada
gue mengerti bahwa ternyata gue ngga harus kembali lagi dari nol untuk mengerti
keberadaan teman-teman terbaik gue yang sudah setia terhadap semua pilihan yang
gue ambil. Gue mengerti bahwa mereka akan menerima gue dengan atau tidak dengan
kehadiran sesosok pangeran tampan seperti di kisah-kisah pengantar tidur. Walaupun
hati gue masih berdarah akibat tersangkut duri setangkai mawar yang gue
inginkan keberadaannya, gue akan selalu mengenali dia. Karena sesungguhnya,
hati ini tidak pernah melupakan satu detik pun pengalaman indah yang gue lalui
bersama dengan dirinya. –red
“Ketika dia cuman bisa bilang
“tapi.. tapi.. tapi”, itu adalah waktu dimana kita harus bisa mulai memaksakan
diri kita untuk mengerti bahwa kita telah memilih hati yang salah untuk
dijadikan “rumah””
Footnote: Gue ngga tau tiba-tiba
kesamber ide beginian darimana. Mungkin sankingan gue udah stress sama Jerman
kali ya makanya idenya beginian yang muncul. Bwahahahha mblo, mblo. Tapi asli
loh, gue berasa ini adalah essay yang paling galau yang pernah bikin seumur
hidup jerawat gue. Mungkin emang takdir gue suatu hari nanti adalah seorang
jurnalis galau. AHAHAHA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar