Sabtu, 03 Mei 2014

ANONYMOUS



Ada suatu ketika gue jatuh cinta kepada seorang pria yang entah hati ini kenal darimana. Hari itu gue tak sengaja bertemu dengannya yang kemudian menjadi inisiatif awal perkenalan lama gue terhadap kata ‘cinta’. Gue ngga pernah lupa rasanya dicintai seseorang yang juga mencintai gue begitu dalam. Tapi yang justru gue lupakan adalah betapa sakit yang rasa cinta itu timbulkan ketika luka lama yang gue kira sudah sembuh ternyata masih menganga lebar dan tergores lagi.
Langit oranye kelabu menghiasi luar kaca kamar gue; membuat gue yang belakangan ini sering termenung menjadi makin jauh jatuh dalam lamunan. Dipemikirian gue masih terbesit mengenai dia: apa yang dia lakukan, mengapa ini terjadi, apa yang seharusnya bisa gue lakukan untuk memperbaiki hubungan kita, mengapa cinta bisa begitu tega meninggalkan gue dengan luka yang kembali menoda. Bukan cuman gue gue rasa yang memiliki pemikiran bahwa pacar kita yang sekarang adalah pacar terbaik yang pernah kita milki dan kita berikan harapan tulus untuk dijadikan pendamping hidup masa depan. Seiring berjalannya waktu dan terlukanya kembali hati ini barulah kita merasa bahwa sepertinya bukan dia. Pemikiran “ah kayaknya bukan dia deh. Eh, atau apa memang dia, ya?” membuat kita terus berusaha berpegang pada jangkar yang sudah nyaris naik kembali ke permukaan pasir; sesuatu yang seharusnya tertanam lebih dalam dan berakar daripada hanya sekedar gundukan “pasir”.
Dulu waktu gue masih lebih muda nyokap gue sering ngomong bahwa ketika rasa cinta itu udah hilang, yang dapat mempertahankan hubungan kita dengan pasangan hanyalah komitmen dan rasa kasih sayang – yang sayangnya harus kandas bahkan sebelum masuk ke jenjang pernikahan itu sendiri. Gue ngerti sih omongan nyokap bertahun-tahun lalu ini; tapi baru sekarang gue menjalaninya sendiri. Gue jadi ngga yakin bahwa suatu hari nanti gue bakalan bisa menemukan seorang manusia lain yang bisa menjadi pelengkap dan pendamping seumur hidup gue kalo kenyataannya sebagian besar manusia-setengah-setan ini semuanya seperti dia: bagaikan kacang lupa kulit.
Apa ini salah gue yang kurang mengapresiasi dia, gue ngga tau. Gue udah nunjukkin ke dia bahwa dia berharga buat gue. Gue udah bilang bahwa gue bakal nunggu lama buat resiko yang melebihi bayangan masa depan yang akan gue jalani. Dia juga udah selalu nunjukkin ke gue bahwa gue emang sepatutnya dihargai sebagai wanita yang memiliki harga diri dan harkat martabat seorang Kartini. Gue percaya sama dia. Kita udah bertahan sejauh ini, terus apa lagi yang kurang sih? Waktu dan jarak ngga sepatutnya menjadi kandasnya semua hubungan yang udah susah-susah kita bangun. Alasan yang kita tau udah basi banget masih aja ditawarin ke calon mantan. Betapa jahat.
Perlahan-lahan, gue memutar kepala gue kesamping – diam-diam menghapus linangan air mata yang jatuh perlahan dari sudut mata. Gue kangen sama masa-masa menyenangkan yang kita udah lalu berdua; gimana pasti selalu ada orang ketiga yang ikut kalo kita lagi nge-date, gimana dia selalu nanyain gue mau es krim atau engga sederhananya karena dia tau gue lebih seneng dibeliin es krim daripada baju-baju mahal, gimana tempat nongkrong kita yang paling asik adalah McDonalds 24-jam deket rumah, dan terutama gimana kalo emang kita bener-bener ngga mau ada yang tau kita pergi kemana adalah rumah dia yang lama yang memiliki atap yang bisa kita naiki dengan aman dan kita akan duduk berduaan disana. Semuanya rasanya indah banget. Sejujurnya baru kali ini gue berani menjelajahi kembali masa-masa dalam sebuah hubungan bersama seorang pria. Untuk waktu-waktu sebelumnya yang menyakitkan, gue bukanlah seorang petualang yang pemberani.
Sekarang dia udah jalan sama cewek lain – seorang cewek yang gue kenal karena dia adalah teman lama satu sekolah gue. Dia ngga pernah bilang apa-apa ke gue soal hubungannya ini. Wajar, bukan salah dia kalo dia mau merahasiakan hubungannya yang sekarang kepada dunia. Mungkin ini bukan kesalahan gue ataupun kesalahan dia kita putus. Kita udah berusaha keras untuk bertahan tapi gagal. Mungkin seharusnya emang dia jodoh gue. Tapi emang kita aja yang kebelet buat pacaran duluan – melangkahi rencana sang empunya waktu untuk menjalin hubungan. Cangkang kita udah ngga nyaman untuk satu sama lain – semuanya sesederhana itu.
Gue menyadari bahwa pacaran sama gue selalu memiliki motif yang sama. Dan sebagaimanapun gue berusaha untuk membangun percaya diri gue karena kehadirannya, gue ngga akan bisa begitu didepan teman-teman gue sendiri. Gue tau ngga semua orang yang pacaran itu bahagia dan ngga selamanya nge-jomblo itu sedih. Gue pernah tanya sama temen gue gimana rasanya jadi dia kalo lagi pacaran – tapi dia selalu menjawab bahwa jangan pernah gue sampe mau jadi dia – pacarannya cuman kulitnya aja yang keliatan bahagia. Isinya ngga sebahagia kulitnya yang halus.
Seiring dengan turunnya malam, gue mulai kembali menyibukkan pemikiran gue dengan sesuatu yang lebih berarti – berusaha menepis pemikiran gue mengenai dia, walaupun adalah hal yang manis. Gue harus bisa membuat diri gue mengerti bahwa sudah cukup jauh gue melangkah ditemani bersamanya – bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk gue kembali berjalan sendiri dan mengembalikan kekuatan diri seorang gue. Sekarang setelah ia tiada gue mengerti bahwa ternyata gue ngga harus kembali lagi dari nol untuk mengerti keberadaan teman-teman terbaik gue yang sudah setia terhadap semua pilihan yang gue ambil. Gue mengerti bahwa mereka akan menerima gue dengan atau tidak dengan kehadiran sesosok pangeran tampan seperti di kisah-kisah pengantar tidur. Walaupun hati gue masih berdarah akibat tersangkut duri setangkai mawar yang gue inginkan keberadaannya, gue akan selalu mengenali dia. Karena sesungguhnya, hati ini tidak pernah melupakan satu detik pun pengalaman indah yang gue lalui bersama dengan dirinya. –red

Ketika dia cuman bisa bilang “tapi.. tapi.. tapi”, itu adalah waktu dimana kita harus bisa mulai memaksakan diri kita untuk mengerti bahwa kita telah memilih hati yang salah untuk dijadikan “rumah”

Footnote: Gue ngga tau tiba-tiba kesamber ide beginian darimana. Mungkin sankingan gue udah stress sama Jerman kali ya makanya idenya beginian yang muncul. Bwahahahha mblo, mblo. Tapi asli loh, gue berasa ini adalah essay yang paling galau yang pernah bikin seumur hidup jerawat gue. Mungkin emang takdir gue suatu hari nanti adalah seorang jurnalis galau. AHAHAHA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar