Today is another sunset to say
goodbye to. Because even though the set will not change for another year, the
time will be different; the same as those feelings that change. But here is,
still just the same old sunset we once knew. Be there for the moment that
counts.
Sore hari sudah tiba dan bola besar
yang setia menyinari bumi hendak masuk kembali ke ufuk barat. Gue berdiri
disitu, memandang kaca persegi yang selalu memberikan gue kesempatan untuk
melihat keluar gedung sekolah. Sebuah kaca yang memperlihatkan kepada gue
sebuah pemandangan yang sudah sering gue lihat sebelumnya. Di ruang ini, 5
tahun lalu, gue memulai hidup gue sebagai seorang junior bawahan – seseorang yang
tidak dianggap berpotensi apapun didunia organisasi. Kini, 5 tahun setelahnya,
gue adalah wakil ketua OSIS yang paling berbahagia. Dan untuk saat ini, gue
ngga ngerasa sebahagia biasanya ketika keringat yang bercucuran untuk sebuah
pengorbanan tidak terasa terlalu menggairahkan. There’s never anything good in goodbyes.
Momen kayak begini sebenernya
nyenengin sih; gue ngerjain sesuatu buat kakak kelas yang bisa dibilang paling
deket sama angkatan kita – mencurahkan tenaga untuk merayakan kebahagiaan dan keberhasilan
mereka. Tapi disisi lain gue juga sadar bahwa ini bisa jadi momen terakhir kita semua
ngumpul bareng kayak begini sebagai sebuah sekolah; sebuah tim; sebuah
keluarga. Sedih. Gue sedih banget.
Ngeliatin matahari tenggelam
biasanya membawa kedamaian tersendiri yang ngga dia bawa buat gue sore hari
ini. Ada sebuah perasaan terpaksa ketika gue mengharuskan diri gue mengerti
bahwa perpisahan ini hanya untuk sementara saja – suatu hari nanti mereka akan
dipersatukan lagi. Dipersatukan lagi apanya sih, orang udah pada punya jalan
hidup dan kesibukannya masing-masing begitu. Kalo cuman sekedar reuni mah cuman
“pertemuan beberapa jam” daripada “dipersatukan”. Mereka ngga akan pernah bisa
kayak begini lagi; semuda dan se-SMA ini. Mereka hanya bisa menjelajah memori
itu suatu hari nanti. Ketika semuanya udah berubah, hanya tersisa foto-foto
sebagai bukti eksistensi sebuah dimensi yang disebut-sebut ‘waktu’ ini.
Too bad a happy start always have
to always end in this kind of mental torture sadness we didn’t ever intend to
have. A desperate cry, if I may say the least.
Pemandangan yang sama dari tahun ke
tahun ini entah kenapa membawa kesedihan yang berbeda buat gue dalam acara kali
ini. Ngga biasanya gue sedih ketika merayakan sebuah kebahagiaan orang lain.
Ngga biasanya gue kepengen berlama-lama didunia SMA. Ngga biasanya gue
melupakan penderitaan gue sesaat sekaligus mendapat kesedihan lain dihati ini. I
guess I have just realize the pain of moving on of high school – having to
leave the most well known grey moments of life.
Biasanya kalo diadain acara
perpisahan kecil-kecilan begini yang sedih adalah peserta acaranya. Bingung
juga gue kalo gue sebagai panitia malah yang sedih. Gue sadar bahwa cepat atau
lambat, setidak siap apapun gue, gue akan harus tetap berada diposisi mereka
tahun depan; bahwa gue akan segera lulus juga, segera menghadapi perpisahan dan
dunia perkuliahan yang baru. Gue cuman pengen diri gue yakin aja sih sebenernya
apa yang gue lakukan saat ini udah cukup untuk memberikan gue kredit yang gue
butuhkan untuk kedepannya.
But then again, there was nothing good in goodbyes for me. –red
“You might not be able to control
who to meet in your life. But what you can do is to control how you will feel
about the moments you had with the people you meet to either be happy or be
sad. It’s all in your control” –GE
Tidak ada komentar:
Posting Komentar