Mungkin this was how Ella felt when she had to finally announce the day for the new chairman’s council. This is how doubtful and stressful it gets.
What if no one will come up to you
and say “Hey, I will do it!”?
What if those people who came up to
you weren’t the ones you expected to be?
Karena gue dan Gwen cuman setengah
taun menjabat, mungkin itu menjadi sebuah plus buat pelajaran kita, jadi kita
bisa lebih fokus kepada hal-hal selain OSIS. Dan setengah tahun dimana kita
menjabat adalah setengah tahun mepet, jadi ngga banyak hal juga yang bisa
dilakuin.
Sementara kalo naik semester depan?
Semuanya bener-bener dimulai dari nol, dari angka 17 bulan 8, kegilaan pertama
yang mengawali semuanya – apalagi kalo ketua OSIS berikutnya anak IPA pula. Selamat
aja deh dari gue.
I feel like, this is so unfair. How
the crowd just want to be the spectator crowd tapi mereka juga mau kepo
semuanya without having to work harder and sacrifice bigger than those people
who have commited to the team. Parasit banget, jrit. Kalo pepatah bilang mah,
habis manis sepah dibuang. Mau tau acara-acaranya sampe ke detailnya tapi
disuruh kerja ogah. Yah, palsu lah.
And when no one came to you at the
end of the day, how are you supposed to feel about the future of the organization?
Clueless, hopless, cursing, and
wishing that something from heaven will actually open their eyes to make them
understand that this is a heavenly call to actually take the previlege to be
the chairman – even though being a chairman means extra hardwork and
determination. EXACTLY. Those are the things I felt. I don’t see how they can’t
think for the future of the school because at one point, thinking about your
future also means thinking about the school’s future as well.
Gue inget banget pas kita (gue sama
Gwen) lapor ke pembina kita soal ini dan dia dengan kalem cuman bilang “ya tapi
OSIS mau nggak mau harus tetep jalan, kan? Kalo nggak ada OSI,S mau dicap apa sekolah
kita?” Whoa. It made the pressure so much higher without the last defense
holding us back. I was really REALLY devastated at that point. Kalo gue bisa
acting lebay di sekolah saat itu juga mungkin gue udah nangis guling-guling
kayak orang gila kali.
Ya gimana sih ya, kalo pertahanan
terakhir lo yang adalah pembina lo sendiri yang lo harapin bakal say something to
encourage lo tentang cara cari anggota Ketos yang prospek malah cuman ngomong
begitu? Sometimes guru pembina ini minta gue hajar juga. Palingan akhirnya cuman slow motion
mau nonjok dari belakang orangnya trus pas dia nengok lu pura-pura mau ngomong
“Hai”. Iya, sepalsu itu sering kali.
Tekanan pas awal jadi OSIS dateng
lagi untuk yang kedua kalinya buat gue – walaupun tekanan itu bukan lagi
mengenai siapa yang jadi ketua OSIS. Ngerjain acara udah berasa biasa karena
udah tau bakal gimana; kita sendiri-sendiri udah punya bayangan atas apa yang
akan terjadi. Tapi untuk hal ini, ada perasaan baru lagi yang menyerbu masuk.
Gue rasa kita bener-bener harus put our heads and hearts in it. Kalo ngga bener-bener
didoain, rasanya orang jeniusannya macem Josephine sama Timmy pun kalo ngga
beneran terpanggil ngga bakalan berani maju (except atas desakan pembina kayak
waktu MinKyu masuk OSIS kita). Jangan, jangan sampe karena first bestnya
menolak untuk naik maka orang kedua terbaiknya yang malah mau maju dan keterima
untuk mewakili suara seluruh SMA Tunas Bangsa.
Jangan sampe kesalahan stereotipe
Indonesia kejadian lagi untuk kesekian miliar kalinya. Yang lebih tragisnya,
sih, ini terjadi bahkan dari teruna-teruna muda bangsanya. Apa yang mau
diharapin lagi coba kalo begini terus yang terjadi? –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar