Rabu, 14 Mei 2014

Pressure


Mungkin this was how Ella felt when she had to finally announce the day for the new chairman’s council. This is how doubtful and stressful it gets.
What if no one will come up to you and say “Hey, I will do it!”?
What if those people who came up to you weren’t the ones you expected to be?
Karena gue dan Gwen cuman setengah taun menjabat, mungkin itu menjadi sebuah plus buat pelajaran kita, jadi kita bisa lebih fokus kepada hal-hal selain OSIS. Dan setengah tahun dimana kita menjabat adalah setengah tahun mepet, jadi ngga banyak hal juga yang bisa dilakuin.
Sementara kalo naik semester depan? Semuanya bener-bener dimulai dari nol, dari angka 17 bulan 8, kegilaan pertama yang mengawali semuanya – apalagi kalo ketua OSIS berikutnya anak IPA pula. Selamat aja deh dari gue.
I feel like, this is so unfair. How the crowd just want to be the spectator crowd tapi mereka juga mau kepo semuanya without having to work harder and sacrifice bigger than those people who have commited to the team. Parasit banget, jrit. Kalo pepatah bilang mah, habis manis sepah dibuang. Mau tau acara-acaranya sampe ke detailnya tapi disuruh kerja ogah. Yah, palsu lah.
And when no one came to you at the end of the day, how are you supposed to feel about the future of the organization?
Clueless, hopless, cursing, and wishing that something from heaven will actually open their eyes to make them understand that this is a heavenly call to actually take the previlege to be the chairman – even though being a chairman means extra hardwork and determination. EXACTLY. Those are the things I felt. I don’t see how they can’t think for the future of the school because at one point, thinking about your future also means thinking about the school’s future as well.
Gue inget banget pas kita (gue sama Gwen) lapor ke pembina kita soal ini dan dia dengan kalem cuman bilang “ya tapi OSIS mau nggak mau harus tetep jalan, kan? Kalo nggak ada OSI,S mau dicap apa sekolah kita?” Whoa. It made the pressure so much higher without the last defense holding us back. I was really REALLY devastated at that point. Kalo gue bisa acting lebay di sekolah saat itu juga mungkin gue udah nangis guling-guling kayak orang gila kali.
Ya gimana sih ya, kalo pertahanan terakhir lo yang adalah pembina lo sendiri yang lo harapin bakal say something to encourage lo tentang cara cari anggota Ketos yang prospek malah cuman ngomong begitu? Sometimes guru pembina ini minta gue hajar juga. Palingan akhirnya cuman slow motion mau nonjok dari belakang orangnya trus pas dia nengok lu pura-pura mau ngomong “Hai”. Iya, sepalsu itu sering kali.
Tekanan pas awal jadi OSIS dateng lagi untuk yang kedua kalinya buat gue – walaupun tekanan itu bukan lagi mengenai siapa yang jadi ketua OSIS. Ngerjain acara udah berasa biasa karena udah tau bakal gimana; kita sendiri-sendiri udah punya bayangan atas apa yang akan terjadi. Tapi untuk hal ini, ada perasaan baru lagi yang menyerbu masuk. Gue rasa kita bener-bener harus put our heads and hearts in it. Kalo ngga bener-bener didoain, rasanya orang jeniusannya macem Josephine sama Timmy pun kalo ngga beneran terpanggil ngga bakalan berani maju (except atas desakan pembina kayak waktu MinKyu masuk OSIS kita). Jangan, jangan sampe karena first bestnya menolak untuk naik maka orang kedua terbaiknya yang malah mau maju dan keterima untuk mewakili suara seluruh SMA Tunas Bangsa.
Jangan sampe kesalahan stereotipe Indonesia kejadian lagi untuk kesekian miliar kalinya. Yang lebih tragisnya, sih, ini terjadi bahkan dari teruna-teruna muda bangsanya. Apa yang mau diharapin lagi coba kalo begini terus yang terjadi? –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar