Jumat, 13 November 2015

Perubahan Dunia



Ada begitu banyak hal yang berubah dalam peradaban manusia sejak Darwin yang bodoh mencetuskan ide bahwa kita manusia adalah evolusi dari monyet. Iya lah bodoh – kalo kita adalah evolusi monyet, kenapa sekarang masih ada monyet? Kalo kita adalah monyet, monyet pilihan macam apa yang bisa bermutasi jadi manusia? Berdasarkan logika apa kalo ada manusia yang gigantic dan mereka adalah monyet? Gila.
Oke, tapi hari ini gue ngga bakal mempermalukan Darwin lebih jauh daripada logika cetek gue barusan. Gue hanya akan membicarakan hal-hal yang gue sadari berubah banget kalo mau gue bandingin sama masa gue SD dulu.
Yang pertama adalah telepon genggam. Dulu kayanya punya nokia N73 itu rasanya udah luarbiasa keren. Sekarang punya Xiaomi aja berasa dikucilin banget. Iya sih, udah berubah banget juga keypadnya dari yang satu kotak itu ada 3 huruf terus ke qwerty keypad trus sekarang malah ngga ada tombol sama sekali – tapi gue ngga sadar bahwa status sosial seseorang akan terpengaruh sebesar itu sama hape yang mereka pake. Ada sih, orang yang ga peduli merek hape mereka apa (yang penting kan punya); tapi banyak juga yang ngerasa minder karna hapenya kurang up to date.
Kedua. Masih seputar gadget. Dulu, waktu kosong gue ketika SD adalah bermain sepeda keliling kompleks atau les berenang dicomberan terdekat. Sekarang, anak kelas 3 SD semuanya udah main angry birds sendiri – ikutan angry kalo burung mereka ngga berhasil mencapai target yang dituju. Toko-toko mainan semacem kids station dan toys kingdom kehilangan pembeli yang seharusnya menjadi pangsa pasar terbesar mereka; apalagi ditambah fakta bahwa Indonesia masih termasuk negara yang pertumbuhan penduduk usia 0-15 tahunnya cukup tinggi. Toko-toko mainan anak ini bukan hanya kehilangan pembelinya – mereka juga merugi. Selain karena gadget memberikan begitu banyak aplikasi menarik dalam satu sentuhan, namun juga karena masalah ekonomi rakyat kita. Kebanyakan kelas menengah kebawah Indonesia tidak mampu menjangkau harga yang ditawarkan oleh toko-toko tersebut dan kelas menengah keatas Indonesia lebih memilih membelikan anak mereka gadget agar anaknya lebih mudah disuruh diam dan bermain – berbeda sekali dengan ketika zaman gue SD yang main masak-masakan kompor minyak adalah hal terkeren yang pernah ada.
Ketiga adalah tentang mall. Dulu rasanya ke mall itu keren banget: rasanya ke mall sudah seperti pergi ke dufan yang ada banyak banget atraksi yang menghibur. Tapi semenjak pusat-pusat perbelanjaan menjamur, pergi ke tempat semacam itu rasanya sudah tidak semegah dulu lagi – tempat hiburan yang udah tidak menghibur. Sekarang malah tolok ukur ke-kece-an seseorang dilihat dari seberapa banyak cafe yang mereka kunjungi dalam seminggu dan berapa besar uang yang mereka habiskan untuk makan cantik di kafe-kafe yang megah itu. Liat dari mana banyaknya kafe itu? Liat aja dari feed instagram mereka atau dari media sosial lain yang mereka pakai – pasti mereka akan sering meng-update. Belakangan, persepsi semua orang mengenai hiburan adalah ketika mereka bisa memiliki waktu untuk melihat-lihat hal yang mereka sukai yang tentu saja diluar pekerjaan mereka dengan gadget yang mereka miliki sembari duduk-duduk dicafe. Youtube menjadi salah satu sarana terbaik yang dunia pernah miliki untuk “beristirahat”.
Keempat adalah mengenai bagaimana artis-artis luar negri tidak memberikan lagu-lagu sebaik yang pernah ada dahulu. Mungkin ada, namun kompetisi dunia musik masa kini sudah begitu ketat sehingga lagu yang tercipta kemarin hanya akan tinggal pada masa itu – tenggelam dalam lagu baru yang muncul esoknya. Kalau ada yang muncul pun, lagu mereka hanya akan seputar putus cinta yang tidak bermakna.
Namun yang lebih parah daripada semua perubahan fisik yang mampu kita lihat secara nyata adalah perubahan peradaban manusia yang semakin jahat dan terasa begitu kosong. Kita ngga akan pernah percaya bahwa apa yang kita tulis kemarin adalah bagian dari kita karna tulisan tersebut terasa sudah begitu jauh dengan kita – padahal tulisan tersebut hanya kita tulis 24 jam yang lalu. Banyak sekali moralitas kita sebagai manusia berubah menjadi lebih buruk dan konsumeris demi mencapai status yang tidak hanya akan bertahan sepersekian detik dalam perjalanan kosmis yang panjang. Kita berusaha untuk mendidik anak kita dengan bijak dengan memberikan mereka permainan edukatif pada gadget kita, namun apakah itu benar-benar mendidik? Kita berusaha untuk tidak terlalu termakan dengan perubahan zaman dengan mengikuti tren perubahan elektronika yang berkembang begitu pesat, namun apakah pada kenyataannya kita mampu menahan segala gejolak untuk ingin terlihat setara dengan yang lainnya?
Ditengah semua perubahan yang terjadi ini, gue hanya mampu berdoa agar setiap orang mampu mengawasi diri mereka sendiri agar tidak terlalu terlarut dalam segala ingar bingar perubahan dunia yang membuat mereka kacau dan tidak tahu arah kehidupan mereka yang pada akhirnya akan menuju kematian juga. –red

Tidak ada komentar:

Posting Komentar