Ada begitu
banyak hal yang berubah dalam peradaban manusia sejak Darwin yang bodoh
mencetuskan ide bahwa kita manusia adalah evolusi dari monyet. Iya lah bodoh –
kalo kita adalah evolusi monyet, kenapa sekarang masih ada monyet? Kalo kita adalah
monyet, monyet pilihan macam apa yang bisa bermutasi jadi manusia? Berdasarkan
logika apa kalo ada manusia yang gigantic dan mereka adalah monyet? Gila.
Oke, tapi hari
ini gue ngga bakal mempermalukan Darwin lebih jauh daripada logika cetek gue
barusan. Gue hanya akan membicarakan hal-hal yang gue sadari berubah banget
kalo mau gue bandingin sama masa gue SD dulu.
Yang pertama
adalah telepon genggam. Dulu kayanya punya nokia N73 itu rasanya udah luarbiasa
keren. Sekarang punya Xiaomi aja berasa dikucilin banget. Iya sih, udah berubah
banget juga keypadnya dari yang satu kotak itu ada 3 huruf terus ke qwerty
keypad trus sekarang malah ngga ada tombol sama sekali – tapi gue ngga sadar
bahwa status sosial seseorang akan terpengaruh sebesar itu sama hape yang
mereka pake. Ada sih, orang yang ga peduli merek hape mereka apa (yang penting
kan punya); tapi banyak juga yang ngerasa minder karna hapenya kurang up to
date.
Kedua. Masih
seputar gadget. Dulu, waktu kosong gue ketika SD adalah bermain sepeda keliling
kompleks atau les berenang dicomberan terdekat. Sekarang, anak kelas 3 SD
semuanya udah main angry birds sendiri – ikutan angry kalo burung mereka ngga berhasil mencapai target yang dituju.
Toko-toko mainan semacem kids station dan toys kingdom kehilangan pembeli yang
seharusnya menjadi pangsa pasar terbesar mereka; apalagi ditambah fakta bahwa
Indonesia masih termasuk negara yang pertumbuhan penduduk usia 0-15 tahunnya
cukup tinggi. Toko-toko mainan anak ini bukan hanya kehilangan pembelinya –
mereka juga merugi. Selain karena gadget memberikan begitu banyak aplikasi
menarik dalam satu sentuhan, namun juga karena masalah ekonomi rakyat kita.
Kebanyakan kelas menengah kebawah Indonesia tidak mampu menjangkau harga yang
ditawarkan oleh toko-toko tersebut dan kelas menengah keatas Indonesia lebih
memilih membelikan anak mereka gadget agar anaknya lebih mudah disuruh diam dan
bermain – berbeda sekali dengan ketika zaman gue SD yang main masak-masakan
kompor minyak adalah hal terkeren yang pernah ada.
Ketiga adalah tentang
mall. Dulu rasanya ke mall itu keren banget: rasanya ke mall sudah seperti
pergi ke dufan yang ada banyak banget atraksi yang menghibur. Tapi semenjak
pusat-pusat perbelanjaan menjamur, pergi ke tempat semacam itu rasanya sudah tidak
semegah dulu lagi – tempat hiburan yang udah tidak menghibur. Sekarang malah
tolok ukur ke-kece-an seseorang dilihat dari seberapa banyak cafe yang mereka
kunjungi dalam seminggu dan berapa besar uang yang mereka habiskan untuk makan
cantik di kafe-kafe yang megah itu. Liat dari mana banyaknya kafe itu? Liat aja
dari feed instagram mereka atau dari media sosial lain yang mereka pakai –
pasti mereka akan sering meng-update. Belakangan, persepsi semua orang mengenai
hiburan adalah ketika mereka bisa memiliki waktu untuk melihat-lihat hal yang
mereka sukai yang tentu saja diluar pekerjaan mereka dengan gadget yang mereka
miliki sembari duduk-duduk dicafe. Youtube menjadi salah satu sarana terbaik
yang dunia pernah miliki untuk “beristirahat”.
Keempat adalah
mengenai bagaimana artis-artis luar negri tidak memberikan lagu-lagu sebaik
yang pernah ada dahulu. Mungkin ada, namun kompetisi dunia musik masa kini
sudah begitu ketat sehingga lagu yang tercipta kemarin hanya akan tinggal pada
masa itu – tenggelam dalam lagu baru yang muncul esoknya. Kalau ada yang muncul
pun, lagu mereka hanya akan seputar putus cinta yang tidak bermakna.
Namun yang
lebih parah daripada semua perubahan fisik yang mampu kita lihat secara nyata
adalah perubahan peradaban manusia yang semakin jahat dan terasa begitu kosong.
Kita ngga akan pernah percaya bahwa apa yang kita tulis kemarin adalah bagian
dari kita karna tulisan tersebut terasa sudah begitu jauh dengan kita – padahal
tulisan tersebut hanya kita tulis 24 jam yang lalu. Banyak sekali moralitas
kita sebagai manusia berubah menjadi lebih buruk dan konsumeris demi mencapai
status yang tidak hanya akan bertahan sepersekian detik dalam perjalanan kosmis
yang panjang. Kita berusaha untuk mendidik anak kita dengan bijak dengan
memberikan mereka permainan edukatif pada gadget kita, namun apakah itu
benar-benar mendidik? Kita berusaha untuk tidak terlalu termakan dengan
perubahan zaman dengan mengikuti tren perubahan elektronika yang berkembang
begitu pesat, namun apakah pada kenyataannya kita mampu menahan segala gejolak
untuk ingin terlihat setara dengan yang lainnya?
Ditengah semua
perubahan yang terjadi ini, gue hanya mampu berdoa agar setiap orang mampu
mengawasi diri mereka sendiri agar tidak terlalu terlarut dalam segala ingar
bingar perubahan dunia yang membuat mereka kacau dan tidak tahu arah kehidupan
mereka yang pada akhirnya akan menuju kematian juga. –red
Tidak ada komentar:
Posting Komentar